Excel membuka pintu kamar. Tatapan langsung tertuju kepada Daisy yang sudah tertidur pulas. Dia juga melihat ada obat-obatan diatas nakas dan sisa susu yang tidak habis.
Setelah membersihkan diri, Excel segera membaringkan tubuhnya di sebelah Daisy dengan pelan, berharap tak membangunkannya.
Hingga pukul 11 malam matanya belum bisa memejamkan. Hatinya gundah tak menentu saat mendengar dengkuran nafas teratur dari Daisy.
"Sial, aku malah tidak bisa tidur," umpatan.
Excel pun memilih bangkit dan menuju lacinya. Disana dia mengambil sebuah jepit rambut yang selama ini ia simpan dan berharap dia bisa segera bertemu dengan sang pemiliknya.
Bayangan 20 tahun yang lalu masih teringat dengan jelas dalam ingat Excel, dimana teman masa kecilnya tertembak demi untuk menyelamatkan dirinya. Satu-satu teman yang dia miliki di sekolah disaat tak ada satupun orang yang mau berteman dengan dirinya karena latar belakang keluarganya.
Terlahir dari keluarga biasa saja. Ayahnya yang saat itu menjadi buronan dan ibu yang bekerja menjadi seorang pelayan di tempat orang kaya membuatnya hidup dalam kesepian. Dan disaat ada yang mau menerima Excel apa adanya, ternyata takdir berkata lain. Sysi yang tertembak ternyata harus di bawa keluar negri untuk segera mendapatkan perawatan yang lebih baik.
"Syi ... kamu dimana? Apakah kamu lupa dengan janji kita? Kita akan selalu bersama dan menua bersama dalam suka dan duka. 20 tahun aku masih disini untuk menunggumu, kembalilah!"
Excel meletakkan jepit kecil itu lagi di dalam kotaknya dengan rapi. Berharap sang pemilik segera kembali, dan jika waktu itu sudah datang, Excel akan segera melepaskan Daisy.
Tak ingin larut dalam memikirkan Sysi, Excel memilih untuk beristirahat di samping Daisy meskipun harus menepis dengan keras desiran di dalam hatinya.
Pagi ini Daisy merasa tangan kekar melingkar di perutnya. Tangan Excel dengan erat memeluk perut Daisy. Rasa mual yang sudah bergejolak membuat Daisy menepis kasar tangan Excel dan segera berlari ke kamar mandi.
Huueekk ... Hueeekk
Daisy mengeluarkan isi dalam perutnya hingga tak tersisa lagi. Tubuhnya melemas ia pun menyandarkan tubuhnya di dinding sambil mengatur nafasnya.
Excel yang terbangun akibat tangannya yang di hempasan segera mencari keberadaan Daisy yang sudah tidak ada di sampingnya.
"Perasaan tadi disini," gumam Excel.
Tak lama Daisy keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Ia melihat diatas nakas ada air putih, Daisy pun segera meminumnya hingga kandas.
"Itu minum ku! Siapa yang menyuruhmu untuk minum?"
Daisy tak menjawab, ia hanya menatap Excel seketika lalu memilih duduk di sofa, dimana dulu pernah menjadi tempatnya untuk tidur.
"Maaf, nanti aku suruh pelayan untuk menggantinya," ucap Daisy, lemah.
"Tak perlu!" ketus Excel.
*****
Excel bergegas keluar kamar saat tak mendapati Daisy di kamarnya. Ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Dimana dia?" tanya Excel pada salah satu pelayan yang ia lihat.
"Maksud Tuan, Nona Daisy ...?"
"Iya, siapa lagi?"
"Oh, Nona baru saja masuk kedalam kamarnya."
Langkah Excel tertahan saat hendak membuka pintu kamar yang berada di lorong khusus untuk pelayanan. Selama dia menempati rumahnya, tak sekalipun dia menginjakkan kaki di lorong tersebut dan inilah kali pertama dia menginjakkan kakinya di sana.
"Untuk apa aku kesini?" Excel bergumam. Karena ingin menepis perasaannya, Excel mengurungkan niatnya dan segera memilih untuk segera berangkat ke kantor.
"Jangan lupa suruh dia makan!" kata Excel saat melihat Mina.
"Baik Tuan."
Sesampainya di kantor, kedatangan Excel sudah di tunggu oleh Sherly. Wanita itu dengan cekatan sudah mendapatkan informasi tentang seseorang yang hendak menculik Daisy. Dan dari informasi yang Sherly dapat dia juga berpengaruh dalam dunia bisnis.
"Jelaskan mengapa mereka menginginkan wanita itu?"
"Perusahaan kita sudah berseteru lama dengan perusahaan Maxion group. Dan baru-baru ini anak dari pemilik Maxion group baru saja pulang dari Amerika ingin menjatuhkan anda melalui Nona. Nona Daisy adalah jembatan untuk menghancurkan anda, seperti anda menggunakan Nona Daisy untuk menghancurkan Tuan Arathorn," jelas Sherly.
Excel masih terdiam mendengarkan penjelasan Sherly. Jika memang begitu berati Daisy sekarang dalam bahaya. Ternyata bukan dirinya saja yang ingin menyiksanya, tetapi juga ada pihak lain yang ingin menyakiti wanita itu.
"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Aku tidak akan terima jika wanita itu jatuh kedalam genggam orang lain."
"Satu lagi Tuan." Sherly ragu untuk menjelaskan.
"Apa itu?"
"Dibalik semua ini ada campur tangan dari Tuan Arathorn," lanjut Sherly dengan was-was. Sebenarnya ia takut untuk mengatakan hal itu, ia takut jika rasa bencinya kepada Daisy bertambah banyak.
"Dia lagi ...?" sinis Excel.
Siang yang panas tiba-tiba Excel menginginkan makanan yang segar-segar dan Sherly adalah sasaran utamanya untuk mencarikan makanan tersebut.
Seumur Sherly bekerja baru kali ini bos-nya menginginkan sesuatu yang tak jelas. Bahkan saat ditanya ingin dicarikan makanan apa, Excel menjawab terserah, membuat Sherly bingung untuk mengartikan kata tersebut.
"Sepertinya kejadian kemarin membuat Tuan Excel kehilangan selera makan, makanya dia ingin makan yang segar-segar, tetapi makanan yang segar itu makan apa?" gumam Sherly.
Sherly berhasil membawa minuman dingin dan makanan dingin kepada Excel. Sebab, saat Sherly bertanya kepada penjual mereka mengatakan memang kalau cuaca panas seperti ini lebih baik minum es dan makan buah seger.
"Bawa keluar!" ketus Excel.
"Ta-tapi Tuan?"
"Sudahlah aku mau cari sendiri."
Excel melenggang pergi meninggalkan Sherly yang masih membeku, ia tidak mengerti apa sebenarnya yang di inginkan oleh big bosnya.
"Jadi ini siapa yang mau makan?" Sherly menatap batu es dan juga buah semangka yang ada diatas meja.
"Jangan-jangan aku di kibulin sama yang jualan."
Excel terpaksa harus turun tangan sendiri karena Sherly ternyata tak sepandai saat ia berperang. Dia bisa melumpuhkan lawan tetapi tidak bisa untuk melakukan hal sekecil ini, sungguh memalukan. Excel yang merasa kesal terus mengumpat karena tak kunjung juga mendapatkan makanan yang sedang ia inginkan.
Saat ia berhenti di pinggir jalan, matanya menangkap buah mangga yang lebat. Seketika hasratnya untuk menikmati buah mangga muncul secara tiba-tiba. Tanpa membuang waktu lagi dia melemparkan kayu ke buah yang sudah di incar. Sekali lempar langsung berjatuhan karena memang tidak terlalu tinggi. Saat dia sedang asyik mengutip, tiba-tiba sang pemilik rumah datang dan meneriaki Excel maling. Sontak Excel segera bergegas lari dengan beberapa buah mangga yang sudah ada di tangannya.
"Seumur-umur baru kali ini aku diteriakin maling, memang maling sih." Excel menertawakan aksi konyolnya sebelum meninggalkan tempat tersebut untuk melaju ke kantornya lagi.
.
.
.
🌼 Bersambung 🌼
Jangan lupa jejaknya, oke 🥰
Kalo yang ini bijimane ??? Dah cocok jadi babang Excel belum?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Yoan
love2 u thor,,, dpt iklan novel dr emak eh lumayan seru jg ceritanya ditambah cowoknya ..bikin gemes ... brewok2 i am coming
2022-12-29
1
beby
hahahhaa bawaan bayi
2022-12-08
0
kangsemen
yesss thor, akuh oaling suka visual western🤭🔥
2022-11-21
0