Semua anak buah telah Excel kerahkan, namun mereka belum juga berhasil untuk menemukan keberadaan Daisy.
Kemarahan Excel sudah berada di puncaknya saat anak buahnya tak bisa menangkap tikus kecil.
"Sherly, segera buat perhitungan dengan perusahaan Arathorn! Aku ingin tahu setelah ini apakah tikus itu masih akan tetap bersembunyi," tegas Excel.
Sherly paham apa yang harus dia lakukan. Sambil membungkuk, Sherly meninggalkan kediaman Excel.
Excel yang masih berapi-api segera mengecek cctv di rumahnya untuk melihat darimana Daisy kabur. Namun, tak satupun dari cctv yang bisa menangkap langkah Daisy bergerak. Dari rekaman cctv, hanya terlihat jika Daisy sedang melihat tanaman mawar yang sudah mulai berbunga.
"Sial ...! Tak ada petunjuk selanjutnya," umpat Excel. Dia yakin jika kaburnya Daisy ada campur tangan dari orang dalam. Excel semakin yakin jika ada yang telah membantu Daisy untuk kabur.
Di ruang tengah yang luas Excel sudah duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Sesekali ia menghisap rokok untuk menenangkan pikirannya.
"Katakan, siapa yang sudah berani membantu wanita itu pergi? Apakah kalian sudah bosan hidup?"
Seluruh pelayan hanya terdiam sambil menelan kasar ludahnya. Meskipun tidak merasa bersalah, tubuh mereka turut bergemetar karena merasa ketakutan.
Tak ada yang mau menjawab membuat Excel meneliti satu persatu para pelayan yang hanya menundukkan kepalanya.
"Dimana satu lagi? Kenapa hanya tinggal 19 orang saja?"
Pak Noen selaku kepala pelayan memberikan dirinya untuk berbicara. Dia mengatakan bahwa salah satu dari pelayan telah mengundurkan diri karena ibunya yang di kampung sedang sakit keras.
Mendengar penuturan pak Neon, membuat Adel terkejut. Hanya dengan membantu Daisy kabur dia harus tega mengorbankan salah satu pelayan untuk menutupi kesalahannya. Namun, Adel berharap jika keselamatan temannya baik-baik saja.
"Apakah dia yang sudah membantu wanita itu kabur?"
"Maaf Tuan, saya tidak tahu," pungkas Pak Neon.
Excel masih menatap para pelayan rumah dengan amarah. Ingin melampiaskan kemarahannya kepada mereka yang tidak becus untuk mengawasi satu ekor tikus.
"Kalian tahu kan apa akibatnya jika kalian berani mengkhianati kepercayaan ku? Bukan hanya nasib kalian, tetapi nasib keluarga kalian juga ada di tangan kalian sendiri. Jadi pertimbangan niat kalian jika ingin berkhianat!"
******
Di sisi lain, Daisy harus berusaha mencari angkot untuk bisa ke Bandara. Tujuannya saat ini, dia ingin keluar negeri. Uang yang diberikan oleh Mina tidak seberapa setelah ia tahu harga tiket untuk pesawat ternyata sangat mahal.
Jika dulu uang segitu hanya untuk uang jajannya satu hari, tetapi tidak untuk saat ini. Daisy benar-benar harus bisa mengelolanya dengan baik agar bisa sampai tujuan.
Setelah sampai di Bandara, ternyata Daisy harus menunggu jadwal penerbangan. Dia sudah tidak sabar lagi karena sebentar lagi dia akan terbebas dari tawanan Excel.
Mata Daisy membulat dengan sempurna dengan sebuah berita yang sedang muncul di televisi. Seorang konglomerat Tuan Arathorn telah sedang kritis di rumah sakit, begitu judul dalam siaran televisi tersebut.
Daisy hanya bisa menutup mulut tak percaya. Daisy juga melihat sedikit cuplikan dimana Daddy-nya sudah menggunakan alat bantu untuk berjuang.
"Tidak mungkin Daddy kritis." Daisy menjatuhkan air matanya, sambil menggeleng pelan. Bagaimana ceritanya Daddy-nya bisa tiba-tiba kritis, sementara Daddy-nya tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
Ada rasa sedih dan bersalah, tetapi Daisy masih merasa kecewa kepada Daddy-nya yang tidak mau berusaha untuk membantunya keluar dari masalah ini.
"Maafkan aku Daddy, aku harus pergi."
Daisy membuang kasar nafasnya setelah mendengar pengumuman jika pesawat yang hendak ia tumpangi akan segera terbang.
Meski berat, Daisy harus kuat. Jika dia kembali, itu sama saja dia menyerahkan diri ke kandang singa lagi. Sudah susah payah Daisy keluar dari rumah Excel, dia tidak mau tertangkap lagi. Daisy tidak akan tertipu untuk kedua kalinya. Dulu Daisy pernah tertipu saat sedang melarikan diri dari pernikahan yang pada akhirnya malah mengantarkan dirinya ke kandang singa. Kali ini Daisy yakin jika ini adalah sebuah jebakan saja, sebab media sama sekali tidak meliput bagaimana keadaannya Momy-nya dan hanya sekilas memperlihatkan Daddy-nya dengan alat bantu rumah sakit.
"Jika berita itu benar, maafkan aku Daddy. Tetapi jika berita itu palsu maka aku tidak akan pernah untuk memaafkan Daddy."
Hingga berita itu tersebar luas, tak ada tanda-tanda Daisy mengunjungi Daddy-nya. Excel merasa ide dari Sherly tidak berhasil.
"Ide sampah! Kenapa kamu tidak langsung tarik saja saham kita, biar perusahaan amblas seketika," ujar Excel.
"Maaf Tuan. Mencabut saham tanpa alasan yang tepat terlalu sulit, apalagi pemilik saham terbesar bukan dari pihak kita. Maaf jika ide ini tidak membuahkan hasil. Biasanya jika orang tua sedang kritis sang anak akan segera mendatanginya, tetapi aku heran dengan istri anda. Mungkin hatinya sudah membeku," ucap. Sherly.
Mata elang milik Excel segera menatap Sherly dengan tajam. "Jangan pernah sebut kata istri di depanku! Aku tidak sudi menjadikan dia istriku. Kamu tahu kan alasan aku menikahi dirinya? Lagian aku juga masih berusaha untuk menemukan Sysi."
"Baik Tuan, maafkan atas kelancangan saya," sesal Sherly.
.
.
.
🌼 Bersambung 🌼
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Sheng
Udh lh cerai aja ex sama daisy, d anggp pembantu juga si daisy
2022-07-06
1
Aida Murni
pria berhati batu
2022-06-12
1
Wirda Lubis
cepat berangkat Daisy ntar ketahuan
2022-06-05
1