Daisy tidak tahu siapa wanita itu. Saat ini seperti sedang terhipnotis oleh kata-kata yang menyuruhnya untuk segera turun ke lantai bawah. Daisy dibuat takjub oleh rumah megah layaknya sebuah istana raja.
Dibawah sana juga terlihat sudah ramai orang-orang yang berkumpul. Sekilas dia juga melihat daddy dan maminya sudah berada di sana.
"Daddy," gumam Daisy.
Setelah Daisy sampai di lantai bawah, dirinya menjadi pusat perhatian para tamu yang hadir, mungkin karena kemarin dia gagal menikah.
Mami Michelle segera memeluk putrinya diiringi dengan isak tangis.
"Mami, jelaskan apa yang terjadi? Aku dimana dan aku akan menikah degan siapa, Mi?"
"Sabar sayang. Mami dan Daddy tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu berhasil di temukan oleh anak buah Tuan Excel. Hari ini dia meminta Daddy untuk menikahkan kalian."
Tubuh Daisy membeku dengan mata yang membulat, berharap dia hanya salah dengar atau hanya bermimpi saja.
Tidak mungkin ... ini tidak mungkin. Daisy ingin berlari sejauh mungkin. Ingin menjerit sekuat tenaga, berharap Tuhan mendengarkan jeritannya.
Tubuhnya semakin bergemetar saat derap langkah nyaring terdengar di telinganya. Dari arah samping sosok Excel yang muncul dan mengulurkan tangannya untuk membawa Daisy duduk disebelah meja yang telah disiapkan.
"Mari Sayang. Kasihan pak penghulu sudah menunggu kita."
Daisy menetap maminya seolah ingin mengatakan tidak, tetapi maminya mengangguk pelan.
"Mami."
Tak ada jawaban dari sang mami, hanya sebuah anggukan pelan dari maminya.
Sebuah kenyataan yang tak pernah Daisy harapkan, sebuah ikrar pernikahan yang baru saja keluar dari mulut Excel.
Pengucapan ikrar pernikahan berjalan dengan lancar dengan Arathorn sebagai wali dari Daisy.
Dua jam yang lalu ...
Arathorn yang baru saja mendapatkan telepon dari Daisy segera mengutus sopir untuk menjemput putrinya di sebuah lokasi yang sudah diberi tahu oleh Daisy sebelumnya. Namun, belum lama bisa bernafas lega, Arathorn mendapatkan sebuah panggilan telepon dari Excel yang mengatakan bahwa putrinya saat ini sudah berada di dalam genggamannya dan hari ini juga dia akan menikahi Daisy. Jika Arathorn tidak mau menikahkan putrinya Excel tidak akan memberikan putrinya untuk hidup, selain itu dia juga akan mencabut semua saham yang sudah ia tanam di perusahaan dan akan membuat perusahaan hancur dalam sekejap mata.
Tak ada lagi yang bisa Arathorn lakukan selain pasrah dan mengikuti permainan Excel, dengan rasa penuh keterpaksaan.
***
Berita pernikahan Daisy dan Excel sudah menyebar luar di jagad media. Semua orang memberikan tanggapan beraneka ragam tentang pernikahan yang gagal kemarin. Ada yang merasa bersyukur, ada pula yang merasa iba kepada Daisy atas pernikahan ini. Terlebih para pria yang pernah di tolak oleh Daisy.
Setelah akad selesai, Excel menggenggam tangan Daisy untuk menyalami para tamu undangan yang turut menghadiri pernikahan mereka. Tak ada senyum yang terukir di bibir Daisy. Perempuan itu tidak terima 100% dengan pernikahan ini.
"Kamu sekarang adalah istriku, aku berhak sepenuhnya atas dirimu. Tetapi sepertinya aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Aku hanya tertarik untuk membuatmu menderita." Excel melempar jas ke sebuah sofa yang ada di dalam kamarnya.
"Satu lagi, jangan berharap lebih dari pernikahan ini! Kamu lihat kan itu tempat tidur milikku dan ini ( sofa ) adalah tempat tidurmu. Kamu dilarang keras untuk naik ke ranjang ku tanpa seizin dariku? Mengerti?"
Daisy tidak mengerti akan ucapan yang baru saja Excel keluarkan. Lalu untuk apa Excel menikahi dirinya? Untuk membuatnya menderita? Memangnya apa yang sudah Daisy lakukan kepada hingga Excel membencinya.
"Satu lagi, berhubung kamu tinggal disini gratis dengan segala kemewahan yang ada maka jangan lupakan tugasmu. Kamu tahu tugas pelayanan kan? Jika tidak tahu silahkan tanya kepada kepala pelayan agat bisa dijelaskan secara detail. Untuk hari ini kamu aku beri bonus, beristirahatlah, nikmati hari ini karena besok kamu sudah harus mulai bekerja."
Daisy menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sambil mengatur nafasnya. Ingin rasanya mencakar mulut Excel.
"Jika aku hanya ingin kamu jadikan pelayan di rumahmu, kenapa kamu harus menikahi aku?" teriak Daisy, membuat Excel mengulum senyum di bibirnya.
"Karena aku ingin mengikatmu dan membuatmu menderita hingga ma-ti secara perlahan." Excel menekan kata mati, membuat Daisy semakin terbelalak.
"Jika kamu ingin aku mati, bunuh saja aku sekarang!"
"Tenang, jangan buru-buru. Permainan baru saja akan dimulai. Oh iya, malam ini aku tidak pulang, tanpa seizin dari ku, kamu dilarang untuk tidur diatas ranjang ku, mengerti?"
***
Daisy tidak bisa tinggal diam. Berada dalam kamar membuat kepala tidak bisa berpikir dengan baik. Ia harus menemui daddy-nya untuk menanyakan alasan dibalik Excel menikahi dirinya. Daisy tidak ingin hidup dalam belenggu pernikahan konyol. Meskipun terbilang manja, Daisy bukanlah wanita lemah. Dia pemberontak keras.
Saat Daisy baru membuka pintu kamar, dia terkejut akan dua orang pelayan yang sudah berdiri di depan pintunya.
"Anda ingin kemana, Nona?" tanya pelayan.
"Aku ingin keluar."
"Apakah anda sudah ijin dengan Tuan Excel, jika belum, mohon maaf anda tidak bisa keluar." Pelayan itu menghadang.
Daisy menautkan alisnya. Keluar saja harus ada persetujuan dengan Tuannya, memangnya dia ini tawanan?
"Aku hanya ingin menemui daddy ku."
"Tetapi anda belum mendapatkan ijin, Nona. Lebih baik silahkan anda ijin terlebih dahulu. Silahkan masuk lagi, Nona." Pelayan itu mendorong tubuh Daisy untuk masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali kamar tersebut sambil mengunci dari luar agar lebih aman. Pelayan itu takut jika Daisy akan kabur seperti di hari pernikahannya kemarin. Akibat kegagalan tersebut, Tuan mereka rugi waktu dan juga rugi biaya.
"Hei ... Buka pintu! Kenapa kalian mengurungku? Buka!" Daisy menggedor pintu dengan keras, namun tak membuahkan hasil akhirnya Daisy menyerah.
Daisy mencari ponselnya, ia tidak tahu dimana ponsel itu berada. Ingin menangis rasanya saat tak menemukan benda tersebut.
"Ponselku? Apakah ponselku disita oleh Excel? Ah ... menyebalkan!"
Sepanjang hari Daisy tidak diijinkan keluar dari kamar karena belum ada ijin dari Tuan mereka. Bahkan makan siangnya juga diantara oleh pelayan.
"Bisakah kamu pinjamkan aku ponsel?" tanya Daisy, pada pelayan yang baru saja masuk.
"Maaf Nona, tidak bisa."
"Belagu," umpat Daisy.
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas." Pelayan itu segera meninggalkan kamar tersebut.
Semua keperluan Daisy akan disiapkan oleh para pelayan di rumah itu. Bahkan Daisy sampai tidak bisa mengenali siapa saja pelayan yang keluar masuk kedalam kamarnya untuk menyiapkan keperluannya. Seperti sore ini saat dua orang pelayan datang untuk membawakan baju ganti untuk Daisy. Kali ini yang datang bukanlah pelayan yang sebelumnya.
"Bisakah kamu meminjam aku ponselmu sebentar? Aku ingin menelpon daddy-ku aku lupa meletakkan dimana ponsel itu?"
Pelayan itu menatap Daisy. Sebenarnya dia juga merasa kasihan kepada Daisy yang harus di jaga ketat kayaknya seorang tawanan.
"Tapi jangan lama-lama."
Kali ini dugaan Daisy salah, ternyata wanita itu meminjamkan ponsel. Tak ingin membuang waktu, Daisy segera menekan nomer telepon dady-nya.
Dari ujung sana Daddy-nya mengangkat panggilan tersebut. Daisy tidak punya waktu dia hanya ingin menanyakan apakah dady-nya pernah membuat masalah dengan Excel, tetapi dady-nya mengatakan sama sekali tidak mempunyai masalah apapun dengan Excel. Dady-nya juga heran mengapa Excel begitu berambisi ingin menikahi putrinya.
"Daddy, dengarkan aku. Cari tahu apa penyebabnya Excel sampai memaksaku untuk menikah. Asal Daddy tau aku disini layaknya seorang tawanan mafia, Dad. Selamat aku. Aku tidak mau terjebak dalam pernikahan ini."
Daisy segera mematikan sambungan teleponnya karena ia sudah berjanji tidak akan lama-lama.
"Terimakasih. Siapa namamu?"
"Nona bisa memanggil saya Adel."
🌹To Be continue 🌹
Hayo mana dukungannya? 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
✧sole_hai✧
sepertinya menarik. lanjut 👉
2022-06-18
0
Haryati Aty
baru nyimak kayanya seru di tunggu next nya thor
2022-06-16
1
Riizma Pesegh
tuna exel tuna mayo lah skalian thor😂😂😂
2022-06-15
1