Tubuh Daisy bergemetar hebat dengan menahan nafas saat sebuah pistol menempel di pelipisnya. Dia hanya bisa pasrah dan memejamkan mata saat tubuhnya diseret paksa untuk keluar. Sang dokter tidak bisa berbuat apa-apa karena pelaku sempat menarik pelatuk senjatanya hingga menembus dinding.
Setelah pelaku berhasil membawa Daisy keluar, sang dokter segera berlari untuk meminta bantuan. Lari dengan kekuatan yang ia miliki, hingga ia menabrak lelaki tegap di depannya.
"Tolong ... pasien ku di bawa naik ke lantai atas," ucap sang Dokter dengan nafas tersengal.
Excel mengangguk tanpa menjawab sang dokter. Beruntung saja kemanapun Excel pergi ia selalu membawa senjatanya, begitu juga dengan Sherly.
"Tuan, sepertinya kita harus menggunakan lift agar bisa segera sampai di lantai atas."
"Bodoh! Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu. Jika naik lift kamu bakalan tahu kemana dia bergerak? Tidak kan?"
Excel dan Sherly segera bergegas untuk menapaki tangga satu persatu. Sementara itu di luar sana sudah berkumpul anggota polisi yang ikut berjaga-jaga. Semua pasien sudah berhamburan keluar hanya tinggal pasien darurat yang masih tinggal di dalam.
Pengawal Excel yang mendapatkan perintah untuk masuk, segera menuju ke dalam. Mereka segera bergegas menuju lantai atas sesuai instruksi.
Sesampainya di rooftop Daisy dibawa ke pinggiran pembatas hingga Daisy bisa melihat dengan jelas alam bawah sana. Sangat tinggi, begitu yang ia lihat saat ini. Jantung Daisy tak hentinya berdetak lebih kencang, mungkin hidupnya akan berakhir hari ini juga mengingat tak ada satu orang pun yang mau menolong dirinya. Saat ini Daisy hanya pasrah saat sang pelaku tertawa kuat melihat wajah Daisy yang sangat ketakutan.
"Kamu dan aku akan sehidup semati." Tawa melengking di telinga Daisy.
"Apa maksudmu kamu? Tolong lepaskan aku," pinta Daisy.
Lagi-lagi pelaku hanya tertawa dan hendak mendorongkan tubuh Daisy ke bawah.
"Jangan, tolong jangan lakukan ini. Kumohon. Aku bukan warga negara sini, jika kamu punya masalah dengan orang lain, tolong jangan libatkan aku. Aku tidak tahu apa-apa." Daisy menahan nafas. Sekali dorong, maka tubuhnya akan segera terjatuh.
"Lepaskan dia!" teriak Excel, saat melihat sang pelaku ingin menjatuhkan diri bersama dengan Daisy.
Dengan cepat pelaku itu menoleh lalu tertawa keras sambil mengarahkan pistolnya kepada Excel.
"Jangan menghalangiku atau peluru ini akan menembus kepalamu!"
Excel mengangkat tangan. "Baik, aku tidak akan ikut campur. Tapi tolong lepaskan wanita itu. Dia tidak tahu apa-apa. Jika kamu ingin mati, silahkan kamu loncat sendiri tak perlu membuat keributan seperti ini dan mengorbankan seseorang yang tidak bersalah."
Dada Daisy bertambah gemuruh saat mendengar suara yang tersebut. "Apakah itu Excel?"
Daisy menoleh, matanya terbelalak ternyata benar Excel saat ini berada di depan matanya. Bukan hanya Daisy saja yang terkejut, Excel pun tak kalah terkejutnya saat wanita yang di sandera itu adalah Daisy, wanita yang sedang ia cari.
Tangannya mengepal erat saat melihat kaki Daisy mengeluarkan darah. Saat itu jaga darahnya mulai mendidih. Ia berjalan pelan menghampiri pelaku tanpa perlawanan.
"Berhenti atau aku pecahkan kepalamu!"
Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Excel. Excel bahkan tidak takut saat sebuah pistol sudah mengarah kepada dirinya. Tinggal pilih bagian mana yang hendak di tembak, Excel sama sekali tidak takut.
Langkahnya semakin mendekat hingga membuat pelaku ingin segera menarik pelatuk senjatanya.
"Excel, apa yang kamu lakukan? Pergi bodoh!" teriak Daisy, yang sudah sangat ketakutan hingga tubuhnya semakin bergemetar.
Daisy menutup matanya saat pelatuk hendak dilepaskan. Namun, belum sempat itu terjadi sebuah letusan senjata api sudah menggema.
Daisy berteriak, ia tidak sanggup untuk membuka matanya. Ia mengira bahwa Excel telah terkena tembakan, nyatanya lelaki di sampingnya menjatuhkan pistol hingga terjatuh di dekat kakinya.
Ternyata Sherly sudah berhasil menembak tangan pelaku itu sebelum peluru memecahkan kepalanya Tuan-nya.
Tidak ingin membuang kesempatan, Excel segera menghajar lelaki itu dengan penuh amarah sampai tak berdaya lagi.
Saat ini pelaku sudah berhasil diamankan oleh beberapa orang dan hanya tinggal Excel dan Daisy yang masih jongkok lemas akibat insiden mencekamnya dalam hidupnya untuk kedua kalinya.
"Bangun!"
Daisy mendongak, ia menatap Excel. Jika dia tahu yang menolongnya adalah Excel lebih baik dia terjatuh dari atas gedung ini dari pada harus kembali ke kandang singa.
"Bangun atau aku yang akan membawa paksa!" tegas Excel.
Daisy membuang muka. Jujur dia tidak mau untuk beranjak dari tempatnya. Dia tidak mau masuk kandang singa lagi.
Melihat tak ada pergerakan dari Daisy, Excel sedang mengambil tubuh Daisy lalu segera membopong layaknya karung beras.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau kembali! Lepaskan aku!" Teriak Daisy sepanjang perjalanan.
*****
Keadaan rumah sakit sudah stabil dengan di bawanya sang pembuat onar. Ada beberapa orang yang terluka akibat insiden tersebut tetapi tidak ada korban yang meninggal.
Daisy segera di bawa Excel ke ruangan dokter untuk mendapatkan perawatan. Dokter merasa salut akan perjuangan Excel yang mampu melumpuhkan lelaki gila itu dan segera membalut luka Daisy.
Terdiam untuk beberapa waktu yang lama antara keduanya, membuat dokter merasa heran.
"Sampai kapan kalian akan tetap disini. Aku sudah selesai mengobatinya."
Tanpa kata, Daisy turun dari pembaringan dan segera meninggalkan Excel. Di luar sudah ada pengawal yang menjaga dirinya. Dalam hati Daisy hanya merutuki nasibnya yang tak pernah memihak kepada dirinya. Pergi sejauh mungkin agar tidak bisa lagi bertemu dengan Excel, namun nyatanya takdir berkata lain. Di sini dia bisa bertemu dengan sosok Excel.
Saat Daisy sudah berada di pintu luar, langkahnya di tahan oleh Sherly.
"Maaf Nona, Tuan tidak mengijinkan anda pergi. Tuan Excel ingin membawa anda pulang."
"Aku tidak peduli. Lagian, begitu banyaknya negara di dunia mengapa kamu harus datang ke negara ini?" tanya Daisy.
Ingin rasanya dia meluapkan amarahnya kepada Sherly tapi percuma saja, dia hanya pengawal pribadi untuk Excel.
"Saya tidak mengizinkan anda untuk pergi sendiri. Tuan Excel sedang mengurus administrasi anda, Nona."
"Tidak peduli. Aku mau pergi," bentak Daisy.
"Jangan sampai saya mengunakan kekerasaan untuk menjinakkan anda, Nona."
Daisy menelan kasar ludahnya. Melihat Sherly mengenakan pakaian serba hitam saja sudah membuat Daisy merinding. Bagaimana jadinya jika Sherly melumpuhkan dirinya? Bisa bisa Janin yang ada di dalam perutnya hancur lebur seketika. Daisy membayangkan sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagus. Jika anda menurut saya tidak akan melakukan kekerasan kepada anda," lanjut Sherly kembali.
Tak ada yang bisa Daisy lakukan saat dirinya sudah tertangkap lagi oleh Excel. Dunia yang sempit, mengapa dia harus bertemu lagi dengan Excel.
"Dimana kamu tinggal sekarang?" tanya Excel dengan ketus.
Daisy masih terdiam dan tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan dari Excel.
"Jika kau tidak mau mengatakan, berati kita langsung pulang saja ke Indonesia. Bagaimana, setuju?" lanjut Excel lagi.
Kesal di abaikan, Excel menyuruh Sherly untuk mempercepat laju mobilnya. Lihat saja bagaimana aku akan memperlakukanmu setelah ini. Jangan harap kamu bisa tidur nyenyak!
.
.
.
🌹 Bersambung 🌹
Jangan lupa jejaknya 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Maureen Togiana Napitupulu
sisy itu Daisy maybe panggilan wkt kcl.
2022-06-06
2
Wirda Lubis
nasib Daisy kasihan
2022-06-05
2
Juwita Hasibuan
yah ko blm ke tshuan sihh
2022-06-04
3