Daisy merasa tidak nyaman ketika harus tidur di sebuah sofa. Seumur-umur dia tidak pernah tidur di atas sofa dan kali ini dia harus tidur di tempat yang sangat keras, entah sampai kapan akan berakhir.
"Tadi dia bilang tidak akan pulang, berarti aku bisa tidur di tempat tidur." Daisy melangkah kearah ranjang milik Excel yang sangat lebar dan tentu saja empuk, tak seperti sofa yang keras.
"Ah, gini kan enak." Daisy mengambil guling lalu memeluknya dengan erat sambil memejamkan mata. Tak ingin larut dalam permasalahan ini. Daisy yakin jika dia bisa melewati hari-hari suramnya di tempat ini yang sudah seperti penjara baginya.
Di sebuah tempat, Excel menatap tajam kearah beberapa anak buahnya yang telah gagal menjalankan misinya. Bahkan mereka hampir saja tertangkap oleh pihak yang berwajib saat hendak melakukan transaksi ilegal. Beruntung dengan cepat mereka bisa membubarkan diri masing-masing sehingga tak ada yang tertangkap.
"Aku tidak ingin hal ini terulang lagi. Ingat keluarga kalian adalah jaminannya jika kalian sampai tertangkap!"
"Kami mengerti, Bos. Kami minta maaf atas keteledoran kami. Kami berjanji ini adalah yang pertama dan yang terakhir kalinya."
Excel membuang kasar nafasnya. Nasib baik masih memihak kepada dirinya, jika sampai ada yang tertangkap habis sudah nama baiknya.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi Excel masih betah untuk tinggal di markasnya seperti hari-hari biasanya. Seketika Excel melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Itu adalah cincin pernikahan dengan Daisy, perempuan yang harus membayar mahal atas semua apa yang telah terjadi.
"Lihat saja bagaimana kamu akan membayar semuanya."
Excel memilih untuk pulang. Dia ingin memastikan bagaimana keadaan Daisy yang menurut laporan dia ingin keluar, tetapi para pelayan rumah berhasil meyakinkan dia untuk tetap tinggal di kamar.
Sesampainya di kamar, Excel membulatkan matanya saat mendapati Daisy melanggar larangan untuk tidak tidur di ranjang miliknya. Nyatanya gadis itu malah tidur dengan nyenyak diatas tempat tidurnya.
"Bangun!"
Daisy tak terusik, ia malah semakin mengeratkan guling yang dipeluknya membuat Excel membuang kasar nafasnya. Ia pun memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah membersihkan diri Excel mulai membangunkan Daisy lagi untuk segera pindah dari tempat tidurnya.
"Hai ... bangun!" teriak Excel tepat di telinga Daisy, membuat wanita itu mengusap telinga kemudian mengerjap pelan. Jantungnya ingin lepas saat mendapati Excel sudah ada di depan matanya. "Astaga ... " Daisy terlonjak akibat kaget.
Masih berusaha untuk mengumpulkan sebagian nyawanya dengan nafas memburu, Daisy bisa melihat wajah Excel lebih dekat. Tidak seram, hanya saja tatapan matanya seolah tatapan ingin membunuh, sangat tajam.
"Siapa yang mengijinkan kamu untuk tidur di tempat tidurku hah?! Pindah sekarang atau aku yang akan menendangmu?"
Daisy sangat merasa takut, ini adalah kali pertama ia mendapatkan bentakan dari orang lain. Selama ini dia sangat di manjakan dan di hujani dengan kasih dan sayang. Tak akan ada yang berani untuk membentak, bahkan untuk berbicara kasar saja tidak ada yang berani. Namun, saat ini semua sudah berubah dan ini adalah awal dari segalanya.
"I-ya ma-maaf," gugup Daisy.
Daisy segera bangkit lalu menuju kearah sofa dimana ia tidur sebelumnya.
"Tunggu!"
Daisy mengulum senyum dibibirnyanya saat Excel menahannya. Pasti dia akan meminta dirinya untuk tetap tidur satu ranjang dengan dirinya dengan garis pembatas.
Tuh kan, mana mungkin dia akan tega membiarkan aku tidur di sofa. Daisy tertawa dalam hati.
Daisy berbalik badan dengan sebuah senyuman.
"Ambil guling ini. Aku yakin sudah terkena air liur mu!" Excel melempar guling tepat ke wajah Daisy, membuat wanita itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Ternyata dia salah untuk menilai Excel. Tetep saja dia laki-laki yang tak punya hati.
Malam ini berjalan begitu lambat untuk menuju fajar tiba. Daisy sangat tidak nyaman tidur di sofa. Ia menatap Excel yang telah tertidur pulas. Baru juga hari pertama, lamanya sudah seperti setahun saja.
"Oh, Tuhan ... beri aku kekuatan." Daisy membuang kasar nafasnya. Ia menatap langit-langit atap, berharap bisa memejamkan matanya, tetapi tetap saja tidak bisa. Ingin rasanya menangis, tetapi percuma tidak akan mengubah kenyataan.
Baru saja Daisy terlelap, kini sudah dibangunkan oleh sebuah alarm yang berada ditangan Excel. Daisy mengucek matanya sambil melihat kearah Excel.
"Aku baru ingin tidur, kanapa kamu sudah membangunkan ku?"
"Mulai hari ini, setiap pukul 5 pagi kamu harus bangun. Hal yang pertama kamu lakukan adalah membersihkan kamar ini dari mulai menyapu hingga mengepel lantai. Setelah itu kamu siapkan sarapanku dengan tanganmu, melayani apa yang aku butuhkan. Lalu kamu juga harus mencuci bajuku dan menyetrika pakaianku dengan tanganmu sendiri. Aku rasa itu saja sudah cukup. Nanti jika semua pekerjaan kamu yang mengerjakan bisa-bisa pelayan hanya akan makan gaji buta. Paham kan? Tunggu apa lagi, kerjaan sekarang."
"Aku tidak mau. Sama saja aku menjadi pelayan di rumah ini," ketus Daisy.
"Yakin tidak mau? Baiklah berarti hari ini kamu tidak dapat jatah makan dan tentu saja kami akan di kurung di gudang belakang yang sangat kotor dan banyak tikusnya."
Daisy menatap Excel dengan tatapan malas. Dengan berat hati Daisy membuka pintu kamar. Betapa terkejut saat dirinya telah mendapati dua orang pelayan sudah menyiapkan apa yang di perlukan oleh Daisy.
"Sejak kapan kalian disini? Apakah kalian tidak tidur?"
Pelayan itu tidak menjawab pertanyaan Daisy, lalu menyerahkan alay tempur untuknya.
"Ini Nona alatnya."
Dengan terpaksa Daisy menerima sapu, ember dan kain pel lengkap dengan cairan pembersih lantai.
Daisy yang tidak pernah memegang alat tempur hanya bisa melihat satu persatu alay yang ada di tangannya. Entahlah darimana dulu yang akan Daisy kerjakan.
"Pel dulu atau apa sapu?" Daisy menimbang kain pel dan sapu berganti.
"Pel, sapu, pel , sapu, pel." Daisy menghitung lima jarinya untuk menentukan apa yang akan ia kerjakan lebih dulu dan ternyata berhenti pada pel. Berarti Daisy harus mengepel lebih dahulu. Ia masuk kedalam kamar mandi untuk menuangkan air dan cairan pembersih lantai. Saat itu dia bingung seberapa banyak cairan yang akan dituangkan.
"Semua, setengah, semua, setengah, semua." Ternyata hitungan berhenti pada pilihan semua.
"Jika satu hari satu botol, maka satu bulan menghabiskan 30 botol. Jika rumah luas dan lebar maka satu bulan akan menghabis berapa botol? Ah, kenapa aku tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya ya?"
Daisy membawa ember yang sudah berisi air dengan campuran pembersih lantai ke luar dari kamar mandi. Sampai disini dia bingung lagi bagaimana caranya untuk mengepel.
"Sepertinya seperti ini."
Sambil menguap, Daisy mencelupkan kain pel kedalam ember lalu mengelapkan pada lantai dari ujung pintu hingga berhenti di ujung pintu balkon.
Daisy melihat hasil karyanya. Ini adalah pertama kalinya Daisy mengerjakan pekerjaan rumah. Tetapi saat dia ingin menyapu, lantainya tak kunjung kering.
"Kenapa lama sekali keringnya ya?" gumam Daisy. Ia pun memilih menunggu di sofa sambil menopang dagunya. Sejujurnya dirinya masih mengantuk, tetapi dari pada dia tidak diberi makan sama sekali dan di kurung di gudang lebih baik menurut saja apa ucapan Excel. Semoga saja Dady-nya segera bisa mencari jalan untuk mengeluarkan dirinya dari penjara ini.
Excel yang mencium aroma pembersih lantai yang menyengat segera membuka matanya lalu mengedarkan penglihatan untuk mencari keberadaan Daisy.
"Malah tidur dia," gumam Excel. Diapun akhirnya turun dari ranjang untuk segera mengingat tugas Daisy selanjutnya namun, baru satu langkah dirinya sudah terjatuh ke lantai.
"Awww ... " Excel menahan rasa sakitnya.
"Apa-apaan ini?" Excel menyadari bahwa ternyata lantai basah dan sebagai berair. Dia menatap Daisy yang tertidur sambil menopang dagunya. Dengan kesal dia berteriak.
"Daisy ...!"
🌹To Be Continue 🌹
Daisy, kenapa kamu bodoh sekali 🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
beby
hahahahhaha
2022-12-08
0
Syanet Lamongi
Hahaha ha......memang enak
2022-11-04
0
Nikita Nikita Gejora
paling nnti lama"bucin
2022-06-26
0