Kerja sama dengan Lien Grup telah di sepakati oleh kedua pihak. Excel baru tahu bahwa pemilik perusahaan tersebut berasal dari Indonesia yang telah menetap lama di Jerman. Karena setelah menikahi pewaris tunggal, Wien memutuskan untuk tinggal di negara sang istri.
"Saya merasa sangat bersyukur bisa bekerjasama dengan anda Tuan Excel. Semoga kerjasama kita membuahkan hasil yang bagus," ucap Wien bangga.
"Ya, semoga saja," balas Excel.
Setelah melakukan kunjungan di perusahaan Wien mengajak Excel untuk singgah ke rumahnya tetapi Excel menolak karena masih ada urusan lagi yang hendak ia kerjakan.
Wien merasa lega saat presentasinya di terima oleh Excel tanpa memprotesnya.
Sherly yang mengawal Excel merasa heran saat Excel langsung setuju begitu saja tanpa ingin tahu lebih detail jenis apa saja keuntungan jika mereka bekerjasama. Apakah efek menghilangnya Daisy membuat sebagian otak Tuan-nya bermasalah?
"Sherly, pulanglah lebih dahulu ke hotel. Aku ada keperluan sebentar!" perintah Excel.
"Anda ingin kemana, Tuan? Di sini tidak baik jika anda ingin melanjutkan mabuk anda," balas Sherly.
Excel menatap tajam kearah Sherly. "Aku hanya ingin mencari angin seger di kota ini," balas Excel.
Meskipun berat tetapi Sherly menghargai setiap keputusan Excel. Dia kembali ke Hotel terlebih dahulu dengan hati yang tak menentu. Satu dalam pikirannya, bagaimana jika Tuan-nya mabuk siapa yang akan membantu dia untuk pulang. Tak ingin terjadi apa-apa dengan Excel, Sherly menyuruh dua pengawal untuk mengikuti Excel tanpa sepengetahuan dari Excel.
Namun, ternyata dugaan Sherly salah. Excel saat ini sedang berjalan-jalan menelusuri kota tersebut dengan berjalan kaki.
Kedatangan Excel ke Berlin ternyata bertepatan dengan musim semi, dimana para wisatawan berbondong-bondong untuk menikmati liburan di kota tersebut. Banyak festival yang di gelar untuk menyambut musim semi, Excel sendiri lupa jika kedatangannya ke sini bertepatan dengan perayaan musim semi.
Saat Excel tiba di sebuah taman, matanya tertuju pada dua orang anak yang sedang bermain bola, membuat Excel teringat pada masa kecilnya, dimana dia sering bermain dengan seorang anak perempuan. Mereka satu sekolah, tetapi satu kejadian yang membuat Excel tidak bisa melupakan ingatan masa kecilnya itu, dimana sebuah peluru menembus bagian dada temannya itu hanya karena ingin melindunginya.
Sejak saat itu menutup dirinya rapat kepada semua orang. Kejadian yang tidak bisa hilang dalam ingatan. Suara rintihan kesakitan membuat dada Excel semakin sakit.
"Sysi." Tanpa di sadari mata Excel sudah memerah.
"Om, tolong ambilkan." Suara bocah meminta Excel untuk melemparkan bola yang menggelinding di kakinya. Excel pun segera melemparkan bola tersebut, membuat tawa renyah pada kedua anak tersebut.
Excel hanya bisa melihat kedua anak tersebut bermain dengan riang. Excel mengangkat garis bibirnya untuk menyunggingkan senyumnya. Melihat mereka bermain, membuat Excel sedikit terhibur. Saat ini Excel benar-benar ingin bertemu dengan teman masa kecilnya itu, tetapi Excel tidak bisa menemukan anak tersebut. Dan semenjak kejadian itu, Excel tidak lagi bisa melihat bagaimana keadaan Sysi hingga saat ini karena Sysi yang keluar negeri untuk menjalani perawatan dan pengobatan.
Lamunan Excel harus pecah karena dering ponsel yang berbunyi. Nama Sherly tertera di layar ponsel. Wanita itu akan selalu khawatir dengan keadaan Excel.
"Halo," kata Excel.
Excel mendengarkan setiap kata yang Sherly ucapan dari seberang telepon, membuat Excel membulatkan bola matanya saat mendengarkan sebuah kabar dari Sherly. Dunia yang luas akan terasa sempit jika takdir sudah menentukan nasib mereka.
Excel menyunggingkan senyumnya, ternyata nasib baik sedang memihak kepada dirinya. Bagaimana bisa di kota ini Sherly bisa melihat wanita yang sedang ia cari selama ini.
"Pantau terus dia, jangan biarkan dia lolos begitu saja. Aku akan segera ke sana," ucap Excel sebelum mematikan ponselnya.
*****
Dengan di temani oleh Bibi Linlien, Daisy memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit untuk memastikan kondisinya saat ini. Namun, Daisy berharap bahwa dugaan dokter itu salah. Dia tidak mau mengandung bibit dari Excel, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika berita itu benar.
Di waktu yang bersamaan, tanpa sengaja Sherly melihat Daisy. Awalnya, ragu tetapi setelah ia pastikan itu adalah Daisy maka Sherly pun segera menghubungi Excel.
Sherly tidak tahu apa yang Daisy lakukan di rumah sakit ini karena dia sudah kehilangan jejak Daisy.
"Dunia memang terlalu sempit atau garis Tuhan telah menentukan," gumam Sherly.
Excel yang sudah diberi tahu lokasinya segera meluncur ke rumah sakit untuk memastikan lebih jelas.
"Dimana dia?" tanya Excel.
"Maaf Tuan, saya kehilangan jejaknya. Tapi saya bisa jamin dia belum keluar," ucap Sherly.
Dengan langkah yang memburu, Excel segera setengah berlari untuk mencari Daisy meskipun dia tidak tahu wanita itu sedang berada di ruangan mana.
Excel tidak peduli dengan pandangan orang kepada dirinya. Dia meneliti setiap ruangan yang ada di rumah sakit besar ini. Sherly yang mengikuti, meminta Excel untuk berhenti dan meminta menunggu diluar saja.
"Aku tidak mau kehilangan jejaknya lagi. Hari ini aku harus bisa menemukan wanita itu. Jika kamu tidak mau mencari, silahkan tunggu di luar sana!" sentak Excel kepada Sherly.
Sherly menunduk saat Excel sudah berapi-api dengan tekad bulatnya untuk menemukan Daisy. Kerena bukan di negara sendiri, Excel tidak bisa leluasa untuk mengecek melalui cvtv yang ada. Setiap ruangan yang ada Excel buka tanpa permisi dan terlihat aneh oleh mereka yang melihatnya. Saat ini Excel sedang seperti orang gila yang lari dari rumah sakit.
"Tuan percayalah, kita tunggu di depan saja," tutur Sherly.
"Aku bilang tidak, ya tidak! Atau jangan-jangan kamu salah lihat dan yang kamu lihat bukan wanita itu. Bagaimana mungkin kita akan kebetulan seperti ini. Dasar bodoh, mengapa aku bisa percaya begitu saja kepada mu," ujar Excel, marah.
"Saya yakin Tuan, saya tidak salah lihat." Sherly bersikukuh dengan apa yang ia lihat tadi.
Excel hanya bisa membuang kasar nafasnya seraya menggusar rambutnya dengan frustasi. Entah demi apa sia terlalu bersemangat untuk menemukan Daisy yang jelas-jelas ia sangat membencinya.
"Sudahlah, kamu hanya membuang waktuku saja," ketus Excel.
Saat Keduanya hendak keluar dari rumah sakit terdengar letusan senjata api membuat semua orang panik dan berhamburan berlari karena rasa takut mereka.
Excel dan Sherly yang tidak tahu apa-apa merasa sangat terkejut, mengapa di rumah sakit harus ada penyerangan seperti ini. Apakah ini adalah ulah te.ro.ris atau ada yang sedang melakukan pemburuan terhadap seseorang.
"Sherly bersiaplah, sepertinya kita harus ikut bermain. Cari tahu apa yang sedang terjadi. Telepon para pengawal yang ada di luar. Mereka pasti tahu apa yang sedang terjadi!" perintah Excel.
"Baik, Tuan."
Semua orang panik berhamburan tanpa arah apalagi melihat aksi saling kejar-kejaran di rumah sakit. Lebih parahnya mereka melepaskan senjata apinya hingga beberapa orang tak berdosa menjadi sasaran mereka.
Suara teriakan menggema di mana-mana, membuat keadaan rumah sakit semakin kacau.
Setelah tahu apa masalahnya, Excel dan Sherly berusaha untuk menangkap pembuatan onar yang tak lain adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa yang sedang kabur. Karena dia membawa senjata api, membuat orang ketakutan saat hendak menangkapnya.
"Sherly, berhati-hatilah! Semua pintu keluar sudah ditutup. Jangan biarkan orang itu lolos!"
"Baik Tuan. Saya mengerti."
Keduanya pun kemudian mengejar pelaku yang tengah mengejar seseorang. Karena kehilangan jejaknya, pelaku akhirnya masuk ke salah satu ruangan dimana sedang ada pasien yang tengah melakukan pemeriksaan. Jerit sang Dokter melingking manakala sebuah pistol diarahkan kepada mereka.
🌹 Bersambung 🌹
Maaf baru nongol, abis lebaran kembali ke rutinitas semula ☺️☺️ Jangan lupa jejak kalian ya 🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
beby
pasti ruangan daysi
2022-12-08
0
Masnawati Smj
mngkin daisy tuch sdalh sisy nma pnggilan z yg brda
2022-06-12
0
Aida Murni
aku serasa ikut berpetualang di film aksi Thor
2022-06-12
1