"Kenapa dia? Jangan sampai dia mati karena perempuan ini belum kita serahkan kepada bos!"
"Dia belum mati hanya pingsan saja akibat gamparan Tole yang kuat."
"Siap suruh dia muntah disini. Lihatlah baju dan celanaku. Huueeekk."
Kedua lelaki menertawakan temannya yang sempat terkena muntahan Daisy. Tanpa mereka sadari mobil Excel telah menyalip dan langsung menghadang jalan mereka. Tak terelakkan, sang sopir-pun langsung menginjakkan rem secara mendadak hingga membuat dua lelaki yang memegangi Daisy yang tersungkur ke depan.
"Bisa nyetir gak sih," protes Tole.
"Lihat, di depan ada yang menghadang kita. Cari mati dia!"
Excel yang sudah tidak sabar segera turun dari mobil. Ia menggedor pintu mobil untuk menghajar para tikus yang sudah berani menculik tikus kecilnya.
"Keluar!" teriak Excel lantang sambil memukul kaca jendela mobil tersebut.
"Gawat, itu suaminya. Gimana ini?" gugup sopirnya.
"Tenang dia hanya sendirian, kita ada tiga orang. Sikat aja. Ayo turun kita!" sahut Tole.
Baru saja pintu mobil di buka Excel sudah melayangkan tinjuannya ke wajah salah satu dari mereka. Tidak terima temannya langsung di hajar kedua temannya turun tangan. Satu lawan tiga, tidak akan mungkin bisa menang Excel melawan mereka. Namun, nyatanya mereka bukanlah lawannya Excel. Terlihat belum apa-apa saja mereka sudah tersungkur semua. Tepat saat itu juga para anak buah Excel datang.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Sherly.
"Tidak. Kalian bereskan saja mereka dan bawa ke markas! Aku akan bawa tikus itu pulang."
Excel sudah berhasil memindahkan Daisy ke mobilnya. Dilihatnya jejak gamparan yang membekas di pipi serta bibir yang mengeluarkan darah membuat darah Excel semakin mendidih. Di tambah lagi wajah Daisy yang terlihat pucat. Ada desiran dalam hati Excel, tatapi dia menepisnya dengan keras.
"Kalian harus membalas semua!"
******
Sesampainya di rumah, Excel segera membawa Daisy ke kamarnya lalu menelepon dokter untuk datang ke rumahnya. Semua pelayan sangat terkejut dan shock saat Tuan-nya pulang dengan membawa istrinya dalam keadaan yang masih belum sadarkan diri.
"Tuan, Nona sudah berhasil anda temukan? Ada apa dengan Nona?" tanya Mina, terlihat panik saat melihat kondisi Daisy yang memprihatinkan.
"Tidak usah banyak tanya. Bagaimana caranya untuk menyadarkan dia?!" Excel setengah membentak.
"Sebentar Tuan, saya ambilkan minyak kayu putih dulu."
Excel masih lekat melihat wajah Daisy. Baru kali ini dia memperhatikan dengan jelas. Wajah yang damai. Sejenak Excel berpikir apakah dia terlalu kejam untuk melampiaskan dendamnya kepada Daisy yang tidak tahu apa-apa. Namun, dia segera menepisnya kembali. Semua sudah terjadi dan Excel tidak akan mundur meskipun kelak ayah Daisy memohon seribu ampun.
"Ini Tuan minyak kayu putihnya."
Excel menerima benda itu. Ia pun tidak tahu bagaimana cara menggunakannya agar Daisy segera siuman.
"Kamu saja! Aku tidak tahu caranya." Excel menyerahkan botol kecil itu kepada Mina kembali.
"Kamu tunggu dia hingga sadar jangan biarkan dia kemana-mana! Kalau perlu kunci pintu kamar ini. Suruh para pelayan berjaga di depan pintu. Nanti aku juga akan memperketat keamanan."
Mina hanya menatap punggung Tuan-nya hingga menghilangkan dari kamar. Dalam hati ia merasa sangat bersyukur bahwa Nona-nya bisa kembali lagi ke rumah ini meskipun dengan keadaan yang memprihatinkan.
"Ya ampun Nona ... Apakah ini Tuan Excel yang melakukannya?" Mina melihat bekas memerah di pipi dan bekas darah di bibirnya Daisy.
"Nona, sadarlah."
Daisy perlahan membuka matanya. Pipinya masih terasa sakit. "Auuw." Daisy memegang sudut bibirnya yang pecah.
"Anda jangan banyak bergerak, Nona. Sebentar lagi dokter datang."
Daisy terkejut saat melihat kamar yang tak asing baginya dan Mina yang ada di depan matanya.
"Mina, aku takut." Refleks, Daisy segera memeluk tubuh Mina.
"Tenang Nona, ada aku di sini. Sekarang anda aman."
Masih jelas terlihat bagaimana kedua orang yang tak di kenal menyeret paksa dan yang terakhir kalinya dia merasakan memar dan panas di pipi.
"Dimana orang itu? Apakah Excel yang membawa ku ke sini?"
"Iya, Tuan Excel yang membawa anda pulang. Sekarang anda tenang, ya."
Mina melihat dokter sudah masuk ke dalam kamar untuk memeriksa Daisy lebih lanjut.
"Baiklah Dok, saya permisi dulu." Mina undur diri.
Dokter segera memeriksa Daisy dan memberikan salep untuk luka di bibirnya.
"Apakah anda merasa mual-mual, Nona?"
"Iya dok. Tolong berikan aku penawarnya. Lagi Dok, hidungku sekarang lebih sensitif untuk menangkap sesuatu."
"Semua itu adalah hal yang biasa di alami oleh ibu yang sedang hamil muda. Tidak ada penawarnya dan akan hilang dengan sendirinya. Nanti saya berikan vitamin untuk anda. Tolong untuk saat ini tolong jangan banyak beban pikiran, karena itu hanya akan menggangu tumbuh kembang janin ada di dalam."
"Saya tahu Dok, saya juga baru saja berkonsultasi dengan seorang dokter kemarin."
Dokter hanya memberikan beberapa vitamin untuk Daisy dan salep untuk sedikit luka di bibirnya.
"Satu lagi, Nona. Kalau bisa anda juga harus mengkonsumsi susu karena anda tidak berselera untuk makan," pesan Dokter sebelum meninggalkan kamar Daisy.
Sementara itu, Excel yang di bakar rasa kemarahannya tanpa henti memukuli ketiga lelaki yang enggan untuk mengatakan siapa yang menyuruh mereka.
"Katakan sekarang juga, siapa yang sudah menyuruh kalian untuk menculik istriku?" Bentak Excel.
Ketiga orang itu hanya tertawa sinis meskipun sudah babak belur. "Percuma seribu kali anda memaksa kami, kami tidak akan mengatakannya," kekeh salah satu diantara mereka.
Hal itu membuat Excel semakin tidak bisa menahan emosinya. Hanya dengan satu tarikan peluru sudah menembus kepada lelaki itu, membuat dua orang temannya merasa bergemetar ketakutan. Ternyata kabar tentang seorang Excel Word bukan hanya isapan jempol saja. Detik ini dengan mata kepala mereka melihat betapa kejamnya seorang Excel Word. Pantas saja dia sangat di takuti oleh semua orang.
"Bagaimana, apakah kalian juga akan menyusul dia?" tantang Excel.
Kedua lelaki saling bersitatap, antara ingin bertahan dan menyerah. Dua pilihan yang sangat sulit. Jika dia tidak mati di tangan Excel, dia akan mati di tangan bos-nya karena sudah gagal untuk menjalankan pekerjaannya.
Dengan rasa gugup, lelaki yang bernama Tole memberanikan diri untuk bersuara. "Jika kami mengatakan, apakah kamu bisa menjamin keselamatan kami?"
Excel tertawa keras. "Belum tahu juga, karena kalian sudah melukai istriku."
Kedua tawanan itu hanya bisa menelan kasar ludahnya. Sebenarnya mereka tidak inginkan menyakiti istrinya, tetapi karena refleks akhirnya Tole lepas kendali untuk menggampar Daisy.
"Ma-maaf Tuan. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti istri anda. Te-tetapi istri anda telah memuntahi tubuh saya," gugup Tole.
Excel melihat kedua tawanan sudah sangat ketakutan. "Benar begitu?"
"Baiklah, karena aku sedang baik hati. Katakan dengan jelas siapa yang menyuruh kalian untuk menculik istriku. Aku akan menjamin keselamatan kalian. Namun, jika kalian berbohong aku tidak bisa menjamin lagi keselamatan kalian. Katakan sekarang juga dan saat ini kalian akan aku sembunyikan!" perintah Excel.
Tangan Excel kembali mengepal saat dia mengetahui siapa dalangnya. Dia tidak akan tinggal diam untuk masalah ini. Ternyata ada musuh dalam selimut.
.
.
.
🌹 Bersambung 🌹
Hayo-yo ... mana jejaknya 🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
beby
siapa musuh nya y
2022-12-08
0
Ida Idar
kalau tau istri nya bunting pasti di sayang kan dan hati nya pelan² luluh😘
2022-06-16
1
Wirda Lubis
Excel kamu akan menyesal
2022-06-05
1