Daisy hanya bisa terisak mana kala dirinya Excel sudah menuntaskan hasratnya dalam keadaan sedang tidak sadar. Meskipun mereka melakukan dalam keadaan yang SAH namun, Daisy tetap saja merasa tidak rela jika kesucian direngggut paksa oleh orang yang sama sekali tidak mencintai dirinya. Apalagi saat ini Excel hanya menjadikan dirinya sebagai tawanannya untuk balas dendam saja. Tak ada rasa cinta, yang ada semakin hari benci itu seperti sedang terpupuk di hati Excel.
Excel menggeliat, merasa tubuhnya terasa pegal dan kepala yang sedikit berat. Akibat mabuk tadi malam Excel tidak bisa mengingat apapun lagi, yang dia ingat hanya tawa Daisy saat bersama dengan laki-laki lain.
Saat hendak turun dari ranjang, mata terbelalak saat mendapati dirinya yang tanpa busana. Dilihatnya kesampaian, dia juga menemukan Daisy yang membelakangi dirinya dengan balutan selimut hingga bagian lehernya.
"Apa yang sudah terjadi." Excel menjambak rambutnya, frustrasi.
Seumur hidupnya dia belum pernah menyentuh wanita dan kali ini tanpa kesadaran dia telah melakukan hal yang tidak pernah ia inginkan, apalagi itu bersama dengan Daisy, meskipun dia adalah istri Sahnya. Bagi Excel pernikahannya dengan Daisy hanyalah jembatan awal untuk menghancurkan Arathorn.
"Bangun! Jangan pikir kamu bisa bangga setelah berhasil naik ke ranjang ku! Kamu pasti menggunakan kesempatan ini agar aku bisa menjamah mu 'kan? Dasar wanita murahan." Excel bertolak saat ia melihat pergerakan bahu Daisy naik turun.
Daisy mencoba untuk melupakan apa yang terjadi malam tadi, tetapi tidak bisa. Ingin rasanya memaki Excel yang dengan tidak tahu diri menuduh seenak jidatnya sendiri, tetapi hatinya masih sesak.
"Turun dari ranjang ku sekarang juga! Aku tahu kamu sudah bangun," lanjut Excel lagi.
Sambil menahan soalnya, Daisy turun dari ranjang kebesaran Excel dangan menarik selimut agar bisa menutupi tubuhnya. "Eh ... tunggu! Kenapa harus membawa selimutnya. Kamu ingin melihat tubuh toples ku? Jangan di bawa selimutnya! teriak Excel.
Daisy memejamkan mata untuk sesaat. Sambil mengeluarkan nafas kasarnya dia mengepalkan tangannya.
Excel menautkan alisnya saat Daisy duduk kembali ranjangnya.
"Apa kamu sudah gila membiarkan aku keluar dari kamarmu tanpa sehelai benang? Aku tidak mau! Aku ingin pelayanan membawa pakaianku kesini!"
"Itu urusanmu. Siapa suruh kamu menjadi ja.la.ng?" sinis Excel.
Sama-sama terdiam untuk beberapa menit, akhirnya Excel mengalah dan memanggil pelayan untuk mengambilkan pakaian milik Daisy.
"Puas kamu sudah berhasil mengambil kesempatan untuk bisa tidur bersamaku? Kamu salah besar jika berpikir aku akan luluh atas kejadian ini. Aku malah semakin muak dengan wajah ja.la.ng mu itu."
Tak berapa lama pelayanan datang dengan membawa pakaian ganti untuk Daisy. Daisy harus menelan kasar ludahnya saat sang pelayan membantunya untuk memakai pakaian untuk Daisy di depan mata Excel.
Daisy sudah membuang rasa malunya. Tak ada lagi kehormatan yang harus dia jaga, semuanya telah terenggut paksa oleh Excel. Bukanya merasa bersalah, Excel malah terus menyalahkan Daisy atas kejadian tadi malam.
Setelah kepergian Daisy, Excel merasa sangat terkejut manakala dia menemukan bercak darah di atas tempat tidurnya. Itu adalah darah keperawanan milik Daisy. Excel berusaha keras untuk mengingat kejadian tadi malam, namun karena masih meras pusing Excel memilih untuk menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu.
Selama di dalam kamar mandi, Excel berusaha untuk mengingat mengapa dia biasa berhubungan badan dengan Daisy di bawah guyuran air shower.
"Gila ... bisa-bisanya aku mengambil keperawanan dia dalam keadaan tidak sadar diri." Excel sudah berhasil mengingat malam panasnya tadi malam. Excel ingat dengan jelas saat ia menarik tangan Daisy, yang dia anggap adalah Sysi.
"Dasar bodoh! Mengapa juga aku harus mabuk!" umpat Excel.
******
Sementara itu di bawah sana, Daisy memilih mengurang dirinya di dalam kamar. Dia mengabaikan tugasnya pagi ini, beruntung ada pelayan yang senantiasa membantu Daisy untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
Saat ini Daisy hanya bisa menangis tergugu di dalam kamar mandi. Memang tidak salah memberikan mahkota kesucian kepada suaminya sendiri namun, untuk kasus yang sedang Daisy alami tidak mudah untuk ikhlas saat harus menyerahkan paksa kesuciannya.
"Dimana dia?" tanya Excel pada salah satu pelayan.
"Nona Daisy masih di kamar, Tuan."
"Bagus. Kalau dia tida mengerjakan tugasnya, jangan ada yang berani untuk memberikan dia makan! Mengerti?"
Excel meninggalkan rumahnya begitu saja tanpa ada selera lagi untuk sarapan. Sang pelayan hanya mengelus dada melihat Tuan-nya yang memperlakukan istrinya layaknya seorang pelayan. Tak ingin ikut campur pelayanan itu segera melanjutkan pekerjaannya kembali.
Daisy yang masih merenungi nasibnya, menatap nanar ke luar jendela. Hidupnya saat ini sudah hancur, dia tidak suci lagi. Bagaimana nasibnya kelak saat dia sudah tidak di tendang oleh Excel, selain tidak ada yang mau menikahinya, dia sudah tidak perawan lagi.
"Nona, anda harus makan." Salah seorang pelayan datang dengan membawakan sarapan untuk Daisy.
"Tenang saja, pekerjaan anda sudah beres semua. Anda tidak perlu lagi mengerjakan tugas anda," sambungnya lagi.
"Kenapa kalian kerjakan? Kalian tidak perlu peduli kepadaku. Aku disini hanya seorang pelayan seperti kalian," balas Daisy.
"Tidak Nona. Anda adalah istri Tuan Excel. Saat ini Tuan Excel masih berapi-api dengan dendamnya, tetapi percayalah beliau adalah orang yang baik. Sekarang anda harus sarapan, jangan sampai anda sakit," ucap pelayan, sebelum pergi.
Tidak berselang lama, pintu kamar Daisy di buka kembali oleh pelayan lainnya.
"Nona, ini ponsel untuk anda tetapi jangan sampai anda sampai ketahuan bahwa anda memegang ponsel. Dan ini ada titipan dari Daddy anda. Beliau meminta maaf tidak bisa membantu anda dan mengirimkan saya disisi anda."
Daisy menerima sebuah surat dari Daddy. Surat permintaan maaf. Cih, Daisy tersenyum sinis. Katanya seorang konglomerat, tetapi untuk melawan Excel saja tidak berani. Memangnya Excel sangat menyeramkan, hingga Daddy-nya tak ada cara untuk membebaskan dirinya?
"Apakah aku harus bahagia dengan kehadiranmu? Bagaimana jika Excel mengetahui siapa kamu?"
"Tuan Excel tidak akan tahu, aku adalah pelayanan lama di rumah ini. Anda jangan khawatir, Tuan Excel adalah orang baik."
Lagi-lagi Daisy harus tertawa sinis saat mendengar pujian dari para pelayan di rumah ini yang mengatakan bahwa Excel adalah orang baik. Jika dia memang orang baik, tidak mungkin Daisy akan di jadikan tawanan di tempat ini.
"Percayalah Nona, semua akan aman." Sang pelayan yang belum menyebutkan namanya itu kini telah berlalu dari kamar Daisy. Sebenarnya ada rasa bahagia saat Daisy mendapatkan ponsel baru untuk dirinya, tetapi dia juga kecewa dengan Daddy-nya yang tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Hanya karena sebuah saham di perusahaan Daddy-nya merelakan anak semata wayangnya.
#Bersambung#
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
beby
kasian desi
2022-12-08
0
Aida Murni
meweek aku Thor. aku bisa bayangin jadI Daisy.
2022-06-12
2
Wirda Lubis
kasihan sekali daisy
2022-06-05
2