Benar saja Excel pulang. Para pelayan dengan membuat barisan untuk menyambut kepulangan Tuan mereka. Bahkan dua orang penjaga pintu kamarnya juga ikut menyambut Excel pulang. Daisy hanya bisa mengamati dari lantai atas, betapa mereka sangat hormat kepada Tuan mereka. Namun, mata Daisy fokus pada wanita cantik yang turut ikut pulang bersama dengan Excel. Daisy ingat betul dia adalah wanita yang memberikan nasi itu sehingga saat ini dirinya bisa sampai ditempat ini.
Terlihat juga Excel sangat akrab dengan wanita itu tetapi Daisy tak ingin ambil pusing siapa dia. Baginya saat ini adalah bagaimana dia bisa segera keluar dari rumah ini.
Daisy segera masuk ke dalam kamar saat melihat Excel sudah mulai menapaki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Gawat dia kesini." Daisy segera berlari ke dalam kamar dan segera menempatkan diri di sofa. Berpura-pura tidur mungkin adalah cara yang terbaik untuk menghindari Excel kali ini.
Samar-samar Daisy mendengar pintu dibuka lalu tutup kembali. Derap langkah menuju ke tempat tidur. Karena Daisy enggan untuk mengintip, ia tidak tahu apa yang sedang Excel lakukan disana hingga suara langkah kaki terdengar masuk ke kamar mandi dan tak lama langkah itu kembali lagi ke arah ranjang. Sedetik kemudian, Daisy mendengar suara Excel menelepon seseorang.
"Pastikan semua aman di hotel itu. Aku akan segera menyusulnya nanti."
Setelah itu Daisy tidak mendengar suara apa-apa lagi, bahkan lampu juga telah di matikan, itu tandanya Excel telah beranjak tidur. Namun, ucapan Excel masih saja terngiang-ngiang, siapa yang ingin ia susul di hotel? Tapi ... mengapa ia malah tidur. Banyak pikiran yang menari di dalam kepalanya, membuatnya semakin gelisah.
Seperti hari kemarin, Daisy tidak bisa tidur. Bosan dengan suasana kamar, Daisy memilih keluar balkon untuk mencari angin, siapa tahu pikiran akan sedikit tenang.
Daisy harus meminta kembali ponselnya. Ia sudah seperti orang gila saat tak memegang ponsel. Tak bisa berselancar ke dunia tipu-tipu. Hingga dua jam lamanya Daisy duduk menatap bintang yang berhamburan di langit malam, berharap dengan cara seperti ini dia bisa mengundang kantuknya.
"Kau ingin tetap disitu atau masuk. Aku ingin menutup pintunya."
Daisy terkejut saat mendengar suara Excel di belakangnya.
"Tutuplah, aku masih ingin disini," balas Daisy.
Tak menunggu lama, pintu balkon ditutup, bahkan gordennya pun juga telah di tutup. Daisy membulatkan matanya melihat apa yang sedang di lakukan oleh Excel.
"Jangan-jangan pintunya juga di kunci."
Daisy segera mengecek pintunya dan ternyata benar, pintu telah di kunci.
"Excel ... buka! Kenapa kamu kunci pintunya?" teriak Daisy.
"Kamu sendiri yang memilih untuk tetap tinggal di luar, maka nikmati saja malam ini disitu."
Daisy terus menggedor pintu, memohon agar Excel segera membuka pintunya, namun, sayang sekali Excel sama sekali tidak peduli.
"Dasar Excel ba.ji.ngan." umpat Daisy.
Sebenarnya Excel hanya ingin memberikan pelajaran kecil untuk Daisy agar dia bisa merasakan hidup menderita, penuh luka. Ini semua tidak sebanding dengan apa yang sudah Daisy toreh untuk dirinya.
"Teruslah berteriak dan menangis. Karena setiap tangisanmu adalah tawaku." Excel kembali ke ranjangnya tanpa berpikir sedikitpun tentang bagaimana keadaan Daisy selanjutnya.
"Tepat pukul 3 dini hari, ponsel Excel berdering. Ia segera mengangkat teleponnya dan segera bersiap untuk menuju ke hotel. Namun, saat itu dia teringat akan Daisy yang asing berada di balkon. Tak ada suara gedoran pintu, itu berarti Daisy telah tertidur di luar sana. Hatinya sedikit bergetar untuk membuka kunci pintu balkon. Ia penasaran dengan keadaan Daisy saat ini. Dengan senyum tipis, Excel membuka pintunya. Bener saja Daisy telah terlelap di lantai.
"Bangun!" Excel menyenggol kaki Daisy menggunakan kakinya. Tak ada pergerakan dari Daisy membuat Excel merasa geram.
"Kamu pikir aku akan mengangkat mu? Mimpi!"
"Dai, bangun! Masuk sekarang!" Excel setengah berteriak.
Tak ada tanda-tanda Daisy bergerak meskipun sudah di sepak dengan keras.
"Dai, kamu gak mati kan?" Excel mengecek nafas Daisy. "Masih hidup," lanjutnya lagi.
Excel menjilat ludahnya sendiri tatkala dia harus mengangkat tubuh Daisy dan meletakkan di sofa tempatnya tidur.
Ingin memanggil pelayan, tetapi masih pukul 3 pagi. Dengan berat hati Excel terpaksa harus meninggalkan Daisy sekarang juga kerena ia harus segera pergi. Toh salah sendiri tidak mau masuk ke dalam.
Sherly sudah menunggu bos-nya di depan sebuah hotel. Tidak ingin terlihat mencolok, Sherly berubah layaknya seorang wanita malam dengan baju kurang bahan serta bersolek layaknya ondel-ondel.
Excel sangat terkejut saat melihat penampilan Sherly, hampir saja dia tidak mengenali jika Sherly tidak memanggilnya
"Bos, anda harus menggunakan topi ini agar wajah anda tak menonjol. Karena disini banyak cctv." Sherly memberikan sebuah topi kepada Excel.
"Kamu paling bisa diandalkan. Tapi ... ngomong-ngomong, kamu cocok lho berpakaian seperti ini. Tinggal cari mangsa."
Sherly merasa kesal dengan ucapan bos-nya. Semua ini dilakukan hanya untuk melancarkan transaksi malam ini, bukannya mendapatkan pujian, malah mendapatkan ledekan.
Sesampainya di kamar hotel yang di tuju, kedatangan Excel sudah di tunggu oleh tiga orang berpakaian serba hitam.
Sebuah kotak persegi sudah berada diatas meja. Excel segera mengecek keaslian barang tersebut. Setelah dirasa asli, Excel segera menyerahkan koper kecil dengan sejumlah uang yang telah di tentukan. Merasa sudah deal, mereka pun akhirnya keluar dari kamar namun tidak denah Excel dan juga Sherly yang masih tinggal di kamar. Tidak hanya berdua, tetapi lebih tepatnya mereka sedang berempat. Dua orang anak buahnya juga masih tinggal di dalam kamar.
"Apakah kalian tadi telah memesan kamar?" tanya Excel.
"Iya, Tuan. Kami tadi sempat memesan kamar, karena tidak ingin ada yang curiga.
"Bagus. Sekarang ada di kamar nomer berapa?"
"Nomer 87."
"Baguslah. Mana kuncinya. Aku akan menempati kamar kalian. Kalian tetap disini. Dan kamu Sherly, kamu juga harus disini. Aku hanya ingin sendiri."
Terasa berat dan ingin protes, tapi apa daya, mulut Sherly tak bisa berbicara. Saat tidak adil saat dirinya sengaja diumpankan kepada dua laki- laki dewasa. Beruntung saja Sherly selalu membawa senjatanya dengan begitu tak akan ada yang berani mengganggunya lagi.
Didalam kamar, Excel menepis rasa iba-nya kepada Daisy. Sisi lain hatinya mengatakan tak perlu memikirkan wanita itu. Ingat tujuan awal dia menikahi dia. Bahkan selamanya Excel tidak akan melepaskan dia, penderita yang tertoreh tidak mudah untuk disembuhkan hanya dengan rasa iba.
Tanpa rasa berdosa, Excel memejamkan mata tanpa ingin memikirkan keadaan Daisy yang ia temukan pingsan tadi. Toh bukan salahnya dia pingsan sendiri. Lalu kenapa harus dia yang repot?
🌹 Bersambung 🌹
Mohon lupa Likenya 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Cee Suli
tunggu tanggal mainnya ya Excel
2022-09-25
0
Yayah
gegeden ego ya bang
2022-06-14
1
Hasanahnoor
daisy bilike:apa salah dan dosa ku sayang
2022-06-13
1