Sebuah Alarm melengking di telinga Daisy yang masih terlelap. Entah kapan dia tersadar dari pingsannya karena sudah tercampur dengan tidurnya.
"Berisik," umpatnya.
Daisy sedikit terkejut saat ditemukan dirinya sudah berada diatas sofa. Daisy mengingat terakhir kali dia masih berada di balkon, memohon agar Excel membukakan pintunya, tetapi tak di gubris. Dan Daisy tidak lupa setelah itu dia memilih duduk bersandar dinding sambil menahan hawa dingin yang menyerang. Semakin lama semakin dingin, tubuhnya yang sudah menggigil akhirnya tak sadarkan diri di sana.
Baru saja ingin beranjak dari sofa, matanya sudah di buat melebar oleh kertas bertuliskan apa saja yang harus di kerjakan oleh Daisy hari ini. Dalam kertas itu juga terdapat tutorial bagaimana cara mengerjakan tugas dan paling bawah Excel mengatakan tak boleh ada kesalahan untuk pekerjaannya hari ini.
"Aku di tahan disini, di kurung disini hanya untuk dijadikan pelampiasan dendamnya yang aku sendiri tidak tahu apa yang sudah keluargaku lakukan kepada lelaki itu. Bahkan Daddy juga tidak bisa membantuku untuk keluar dari masalah ini. Baiklah mulai sekarang aku ingin cari tahu sendiri apa masalah sebenarnya. Aku tidak mau sisa hidupku di kurung di tempat ini. Aku masih muda, tidak boleh mati sia-sia."
Daisy segera mengikat cepol rambutnya agar tak menghalanginya pekerjaan hari ini. Kali ini dia menyapu terlebih dahulu sebelum dia mengepel lantai.
"Ternyata aku salah. Aku pikir lantainya di pel terlebih dahulu baru di sapu." Daisy menertawakan kekonyolannya.
"Dan aku juga baru tahu jika ukuran yang harus digunakan hanya dua tutup saja." Lagi-lagi Daisy harus tertawa saat mencampur cairan pembersih lantai dengan air untuk mengepel.
"Lebih parahnya ternyata harus di peras dahulu agar lantai tidak terlalu basah."
Setelah selesai dengan pekerjaan pertama, Daisy segera keluar dari kamar. Lagi-lagi dua orang pelayan menyambut Daisy.
"Selamat pagi, Nona. Anda ingin kemana?"
"Kalian tidak capek ya, berdiri terus menerus. Aku lapar mau makan."
"Anda belum diijinkan makan, jika belum menyelesaikan tugas anda, Nona."
"Tugas?" Daisy menautkan alisnya.
"Tugas anda hari ini hanya mencuci pakaian Tuan, karena Tuan tidak pulang maka anda bebas dari menyiapkan sarapan untuk Tuan," jelas pelayan.
"Baguslah, setidaknya tugas konyol itu berkurang."
Daisy menuruni anak tangga. Rumah sebesar ini dan tidak kekurangan pelayan, tatapi karena hanya ingin menyiksa dirinya dia memberikan tugas konyol.
"Mari kita buktikan sekarang! Daisy Queerren bukanlah wanita lemah."
"Jangankan mencuci baju, mencuci otakmu yang gila saja aku bisa."
"Apa kamu sedang mengumpat ku?" Tiba-tiba suara Excel menyengat di telinganya. Daisy segera membalikkan badan. "Kenapa kamu ada disini?" gugup Daisy.
"Ini rumahku, terserah aku ada di sebelah mana. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar mencuci pakaianku dengan tanganmu sendiri. Jangan kira aku tidak tahu bahwa kemarin ada pelayan yang baik hati mau mengerjakan tugas ini."
"Aku ingin tahu bagaimana rasanya seorang ratu berubah menjadi babu. Bersyukurlah aku hanya memberikan pekerjaan kecil kepadamu, anggap saja sebagai pengganti uang makan dan uang sewa mu selama tinggal disini."
Daisy tidak terima jika dirinya disamakan seperti babu, meskipun saat ini dirinya memang seperti seorang babu.
"Tuan Excel Word yang terhormat, mari kita bicara sebentar. Ada hal yang ingin saya sampaikan," ucap Daisy sangat sopan, membuat Excel tertawa.
"Tidak udah basa-basi cepat katakan sekarang! Aku tidak punya banyak waktu."
Daisy memaksa untuk berbicara di tempat yang nyaman kerena saat ini mereka sedang berada di dalam tempat pencucian baju dan itu sama sekali tidak nyaman. Akhirnya Daisy meminta berbicara di taman belakang.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan!" desak Excel.
Daisy segera mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu menjadikan aku tawanan di rumah ini. Bahkan kamu mau mengikatku dengan status pernikahan, meskipun aku tau kamu tidak mencintaiku. Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Excel tersenyum sinis. "Aku juga bingung kenapa aku harus menikahi mu. Tapi setidaknya setidaknya setelah nanti aku menceraikan kamu, tak akan ada satupun laki-laki yang mau menikahi mu, karena mereka tidak ingin berurusan denganku. Selain itu aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi babu dan yang terakhir aku ingin kamu menderita. Sudah cukup dengan penjelasan ku. Jika sudah, sekarang kembalilah bekerja karena aku tidak mau melihat orang yang pemalas."
Setelah berkata, Excel meninggalkan Daisy yang masih mematung. Sudah jelas semua ini dilakukan untuk balas dendam melalui dirinya. Ah, Daisy sampai lupa bahwa niat awalnya hanya ingin meminta ponselnya, bukan menanyakan maksud dia menikahinya.
"Dasar bodoh! Bukankah tadi aku ingin meminta ponselku?"
Daisy segera menyusulnya Excel ke kamar. Dia tidak mendapati lelaki itu di kamar tetapi dia mendengar ada gemercik air di kamar mandi. Berarti Excel sedang mandi, pikir Daisy.
"Excel ... aku belum selesai berbicara tadi!" teriak Daisy, sambil menggedor pintu kamar mandi.
Tak lama, Excel menyembul dari balik pinta hanya dengan menggunakan lilitan handuk dengan badan dan rambut yang masih sedikit basah.
"Ada apa lagi?" Excel melewati Daisy yang masih mematung tanpa kata.
"Aku ingin meminta ponselku! Selama tinggal disini aku seperti orang gila yang harus hidup di kamar tidak boleh pergi kemana-mana. Aku bosan!"
Excel tak menghiraukan ucapan Daisy, lelaki itu malah nekat untuk berganti pakaian di depan Daisy. Wanita mana yang tidak akan terkejut saat melihat seorang laki-laki berganti pakaian di depan matanya.
"Aaaaaaa," teriak Daisy, spontan sambil membalikkan badan.
"Berisik! Bilang saja kamu senang kan bisa melihat tubuhku. Kamulah orang pertama yang beruntung bisa melihat anggota tubuhku."
******
Daisy masih kesal dengan apa yang baru saja terjadi karena bayangan Excel telen.jang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Bahkan dia sampai menuangkan deterjen sampai banyak ke dalam mesin cuci. Daisy tidak peduli dengan peraturan yang dibuat oleh Excel bahwa dia harus mencuci dengan tangan kosong. Apa gunanya mesin cuci, coba?
"Nona, Tuan memanggil anda." Seorang pelayan mengagetkan Daisy.
"Astaga, Nona. Itu kebanyakan deterjen-nya."
Daisy yang baru menyadari malah nyengir tanpa dosa sebelum pergi.
"Sekali, tolong kerjakan ya!"
Sesampainya di meja makan, Excel sudah melipat tangannya menunggu kedatangan Daisy.
"Dimana sarapanku, sudah jam berapa ini mengapa belum tersaji sarapan untukku? Kamu istri tidak berguna."
Daisy menautkan alisnya. "Bukankah tadi pelayan mengatakan aku tidak perlu menyiapkan kopi dan sarapan, karena kamu tidak pulang?"
"Aku sekarang berubah pikiran. Cepat buatkan aku sarapan aku sudah lapar!"
Daisy menggaruk kepalanya, sambil meninggalkan Excel dengan wajah masamnya. Memang ganteng sih, tapi sayangnya dia tidak bisa menyempurnakan anugrah dari Tuhan dengan senyumannya.
#Bersambung#
Mohon jangan lupa like dan komen 🙏 kalau perlu bawa hadiah untuk othor 🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Mesri Simarmata
apa alasan utk balas dendam? masih tanda tanya, belum ada kejelasan.
2022-07-13
2
Wirda Lubis
Daisy tersiksa kayak di penjara
2022-06-05
1
Juwita Hasibuan
oh daiisiii
2022-06-04
2