Tak terasa satu bulan telah berlalu. Kepergian Daisy membuat Excel sangat murka dan mencabut semua saham yang ia tanam di perusahaan Arathorn, membuat perusahaan tersebut mengalami gejolak yang hebat. Saat ini perusahaan milik Arathorn seperti sedang di ujung tanduk.
Excel yang mempunyai pengaruh terbaik dalam dunia bisnis, mampu meyakinkan pembisnis lainnya percaya kepada setiap keputusan Excel. Saat Excel mencabut sahamnya di perusahaan Arathorn, satu persatu pembisnis lainnya juga turut mencabut saham yang sudah mereka tanam.
"Tuan, anda sudah banyak minum. Mari kita pulang." Sudah dua minggu terakhir ini Excel lebih banyak menghabiskan waktunya di club malam.
"Kamu pulang saja jika ingin pulang. Aku masih ingin di sini," ujar Excel.
"Tetapi anda besok ada perjalanan ke Berlin, Tuan. Jaga kesehatan anda," lanjut Sherly.
Mata Excel sudah memerah. Kepulauan asap rokok membuat Sherly tidak tahan, tetapi dia tidak ingin meninggalkan Tuan-nya dalam keadaan seperti ini. Sherly terus bersabar untuk membujuk Excel untuk pulang.
"Aku tidak berminat untuk bekerja sama dengan perusahaan itu. Aku hanya menginginkan wanita itu. Aku belum puas menyiksa dia, tetapi dia telah berhasil kabur. Sungguh wanita tidak takut dengan nyawanya sendiri telah bermain dengan ku." rancau Excel.
"Tuan, anda mabuk. Mari saya kita pulang."
******
Sudah satu bulan Daisy tinggal bersama pamannya yang ada di Jerman. Mendengar cerita dari Daisy membuat Wien, paman Daisy merasa sangat iba dan menyuruhnya untuk tinggal bersama.
Semenjak tinggal di Jerman Daisy seolah melupakan siapa dirinya. Ia terlalu bahagia melewati hari-harinya yang seolah tanpa beban masalah. Memang itulah tujuan Daisy meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk membuat dirinya bahagia, lepas dari masalah yang ada.
Namun, sudah dua hari Daisy tidak keluar dari kamarnya membuat Linlien, sang bibi merasa aneh. Tidak biasanya Daisy mengurung diri di dalam kamar. Linlien yang berpikir bahwa Daisy sedang tidak enak badan, memilih membawakan sarapan untu Daisy.
Bibi Linlien membuka pintu kamar Daisy, dilihatnya sang keponakan masih meringkuk di bawa selimut.
"Syi, kamu kenapa? Sakit?" tanya bibi Linlien.
"Ya ampun Syi of, wajahmu pucat, Nak. Kamu sakit? Tunggu bibi panggilan kan dokter." Bibi Linlien panik saat melihat wajah Daisy yang pucat. Tidak ingin terjadi sesuatu, dia segera menghubungi dokter pribadinya.
Linlien panik sedari tadi Daisy muntah-muntah di kamar mandi. Ia ingin menghubungi suaminya, tetapi Daisy menolaknya. "Tidak usah Bibi, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!"
Tak berapa lama dokter datang dan segera memeriksa keadaan Daisy. Bibi Linlien berharap keponakannya tidak apa-apa.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Bibi Linlien.
"Dia tidak apa-apa. Hal seperti ini biasa dialami oleh para ibu hamil muda," terang dokter.
"Apa?" Daisy tersentak mendengar ucapan dokter.
"Dok, bilang jika itu tidak benar." Daisy masih tak percaya.
"Untuk lebih akurat, silahkan cek ke rumah sakit," tutur sang Dokter.
Setelah kepergian dokter, Daisy menangisi nasibnya yang harus mengandung benih dari Excel. Dia masih tidak terima dengan kenyataan yang ada.
Bibi Linlien hanya bisa menenangkan keponakannya, karena dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk Daisy. Menikah bertahun-tahun dengan Wien yang tak juga di karuniai buah hati, membuat bibi Linlien untuk terus menguatkan Daisy.
"Kamu tidak boleh larut dalam masalah ini. Anak kamu sama sekali tidak bersalah. Kamu tidak boleh melibatkan dia dalam masalahmu dengan Excel. Lihat Bibi! Bibi sudah bertahun-tahun menikah tapi Tuhan tak kunjung memberikan kepercayaan kepada Bibi. Andai kata kamu tak ingin merawat dia, biar Bibi yang mengurusnya kelak."
Daisy menatap nanar pada Bibi Linlien. Meskipun Daisy membenci Excel, tidak mungkin dirinya tega untuk menyakiti nyawa yang sedang hidup di dalam perutnya.
.....
Pagi ini Excel sudah tiba di Bandara internasional kota Berlin, Jerman. Dia datang dengan beberapa orang pengawal, tak terkecuali dengan Sherly yang turut dalam mengawal kunjungan Excel kali ini.
Akibat alkohol yang ia konsumsi tadi malam, kepala Excel masih sedikit pusing dan memilih untuk ke hotel terlebih dahulu.
Kunjungan kali ini adalah untuk bekerjasama dangan salah satu perusahaan milik sahabatnya yang yang sedang berkembang di kota tersebut. Berkat rekomendasi sahabat, Excel setuju untuk melakukan kunjungan sebelum melakukan kerjasama.
Nama Excel sudah melambung di kota tersebut sejak tiga tahun yang lalu. Dan ternyata ini adalah kunjungannya untuk yang kesekian kalinya, sebab sebelumnya Excel juga memiliki kerjasama dengan beberapa perusahaan di kota tersebut.
Di dalam kamar, Excel menatap layar ponselnya. Beberapa kali ia memandangi foto yang berada di dalam ponsel tersebut. Wanita dengan senyum indah yang mengembang luas. Tidak hanya satu dua foto yang tersimpan di dalam album galeri fotonya. Namun, seketika ia menutup ponsel tersebut lalu melemparkan ke tempat tidur.
"Bodoh, untuk apa aku melihat foto wanita tikus itu." Excel bergumam.
Jika seperti ini, Excel tak akan pernah tenang untuk melakukan sesuatu karena bayangan malam itu masih terus menghantuinya apa lagi bercak noda merah yang ia robek secara paksa.
"Aku tidak boleh untuk terus memikirkan wanita itu." Excel menggusar kasar rambutnya.
Berhubung pertemuan akan diadakan siang nanti, Excel memilih untuk tidur kembali. Selama perjalanan Excel tidak bisa memejamkan mata karena bayangan Daisy yang bodoh terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya, meskipun hanya satu bulan mereka tinggal bersama.
🌹 Bersambung 🌹
Maaf baru bisa Up. Othor ada acara tadi ☺️
makasih yang udah setia dengan novel receh ini 🙏 Jangan lupa tinggalkan like setelah membaca novel ini, karena satu like dan komen adalah vitamin untuk Author 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
beby
uda cinta yaa.. jgn pertemukan mereka cepat
2022-12-08
0
Cee Suli
sudah mulai ada getaran cinta nich
2022-09-25
0
Aida Murni
benci tapi sebenarnya cinta. dasar pria payah.
2022-06-12
1