"Daisy ...!"
Daisy yang tersentak langsung terlonjak. Ia segara berdiri dan mencari keberadaan Excel yang memanggil namanya dengan melengking namun, Daisy tak menemukan keberadaan Excel saat ini. Apakah dia hanya bermimpi? Daisy kembali duduk sambil membuang kasar nafasnya. "Kapan akan kering lantainya?" gumam Daisy.
Excel berjalan dengan tersoek penuh hati-hati untuk menghampiri Daisy sebab, lantainya di kamarnya berubah menjadi basah dan berair.
"Excel ... " Daisy terkejut saat melihat Excel berdiri di depannya sambil memegang pinggangnya. Tatapan tajam bak menusuk jantung, Excel terlihat sangat murka.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Excel.
"Aku baru saja siap mengepel dan menunggunya kering agar bisa aku sapu," jelas Daisy.
Excel terbelalak saat mendengar pengakuan dari Daisy. Gadis yang gila atau memang bodoh. Dari mana sejarahnya mengepel dahulu kemudian baru di sapu. Excel hanya bisa menahan emosinya.
"Berapa banyak cairan yang kamu gunakan untuk mencampur air?"
"Satu botol," jawab Daisy santai.
"Apa ...!" pekik Excel melengking di daun telinga Daisy, membuat Daisy menutup telinganya.
"Sekarang aku tanya, kamu lulusan TK atau SD?"
"Lulusan S2, kenapa? Bukankah berita kelulusan ku pernah di liputan oleh media, meskipun nilai hanya pas-pasan, sih."
"Aku rasa dosen yang meluluskan mu sengaja kalian sogok pakai uang kan?"
Pagi ini Excel sudah harus merasakan migran akibat kelakuan konyol dari Daisy. Awalnya dia akan menyiksa perempuan itu hingga menderita, tetapi sepertinya dia sendiri yang akan merasakan penderitaannya itu. Hanya untuk hal sekecil itu saja Daisy tidak tahu, benar-benar perempuan yang bodoh. Jika bukan karena suatu hal, Excel tidak akan pernah mau menikahi Daisy, masih banyak wanita di luar sana yang mau menjadi istrinya, bahkan hanya tinggal tunjuk saja, Excel sudah bisa mendapatkan seorang istri.
"Pelayan, dimana kopi ku?" tanya Excel pada salah satu pelayan yang lewat.
"Maaf Tuan, kopi anda sedang dibuat oleh Nona."
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?"
"Mungkin sebentar lagi, Tuan."
Di dapur Daisy merasa kebingungan saat hendak menyeduh kopi untuk Excel. Dia sudah mendapatkan bubuk kopi, tetapi dia belum menemukan dimana letak gula berada. Bahkan dia juga telah membuka setiap laci dan lemari gantung, tetap saja tak menemukan barang yang ia cari.
Hampir saja ia melakukan kesalahan karena hendak memasukkan serbukan garam ke dalam cangkir, namun Daisy mencicipinya terlebih dahulu sebelum menuangkan ke dalam cangkir.
"Kenapa pas di butuhkan tak ada satu orang pelayan yang nongol sih?" gerutu Daisy.
"Mungkin dia tidak pernah memakai gula, makanya tak ada gula yang tersedia."
Daisy sudah membawa kopi ke hadapan Excel yang sudah merasa kesal akibat menunggu terlalu lama.
"Kenapa lama?" bentak Excel.
"Maaf."
"Kamu sudah membuat sarapan?" tanya Excel lagi.
Daisy menggelengkan kepala membuat Excel menatapnya lebih tajam.
Saat menyeruput kopinya, Excel segera menyemburkan hingga mengenai wajah Daisy, sedikit panas rasanya. Ingin rasanya dia memakai Excel tetapi saat melihat sorot mata tajamnya, nyali Daisy menciut. Dia hanya bisa memejamkan matanya.
"Kamu sengaja ingin mengerjai ku?" bentak Excel yang menggema di seluruh ruangan, dan membuat Daisy sangat terkejut.
"Kamu sengaja tidak memberikan gula pada kopi ini kan? Sekarang minum dan habiskan!" bentak Excel lagi.
Daisy hanya terdiam saking takutnya dengan amarah Excel yang menggebu. Ternyata jika sedang marah Excel sangat menyeramkan dua kali lipat.
"Tunggu apa lagi? Cepat habiskan! Kamu dengar kan?"
"Ta-tapi ... "
Akhirnya dengan tangan bergemetar Daisy mencoba untuk meminum kopi, minum terlarang untuk dirinya hingga kandas. Daisy hanya bisa memejamkan matanya sambil menahan air mata yang hendak menetes.
Aku kuat. Aku bisa. Daddy pasti akan mengeluarkan aku secepatnya.
Dengan suasana hati yang buruk Excel meninggalkan rumah begitu saja. Ternyata caranya untuk menyiksa perempuan itu salah karena nyatanya saat ini dia yang tersiksa.
Sepeninggal Excel, Daisy segera berlari ke wastafel untuk memuntahkan apa yang sudah ia minum tadi. Namun terlambat, rasa sakit di perut sudah melilit hingga Daisy mengaduh kesakitan.
Pelayan yang mendengar segera menghampiri Daisy. "Nona, anda kenapa?"
Daisy segera dibawa ke kamarnya, rasa sakit yang hilang-hilang timbul membuatnya merasa sangat tersiksa. Daisy juga menolak saat hendak akan di panggilkan dokter.
"Jangan katakan hal ini kepada Tuan kalian, mengerti?"
Para pelayan mengangguk pelan lalu meninggalkan Daisy seorang diri di dalam kamar.
Daisy yang riwayat sakit bawaan dan harus menghindari kafein, hari ini terpaksa harus melanggarnya dan ternyata hasilnya sangat menyakitinya.
****
Excel melempar kasar jas yang ia kenakan di sebuah sofa. Sambil melonggarkan dasi, Excel merebahkan tubuhnya di sofa dengan kasar. Sejenak ia memejamkan mata mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Sebuah kekacauan yang baru saja ia lalui.
"Maaf Tuan, anda sudah di tunggu oleh para dewan untuk segera memimpin rapat hari ini." Wanita cantik bernama Sherly, membuyarkan lamunan Excel.
"Baiklah."
"Apakah anda baik-baik saja, Tuan. Apakah ada masalah?" tanya Sherly.
"Hanya masalah kecil. Aku pasti akan membereskan segera mungkin. Oh ya, pantau lokasi nanti malam, jangan sampai kita kecolongan lagi."
"Baik Tuan. Saya akan pastikan kali ini akan aman."
"Bagus."
Setelah selesai memimpin rapat, Excel segera meninggalkan kantor untuk menuju suatu tempat bersama dengan Sherly. Wanita cantik itu akan selalu menemani kemampuan Excel pergi. Bisa menjelma menjadi wanita anggun, bisa juga menjelma menjadi wanita yang mengerikan.
"Tuan, sebaiknya kita atur ulang strategi, saya dengar di sepanjang pelabuhan sudah dijaga dengan ketat karena insiden tadi malam. Mereka pasti akan meningkatkan keamanan. Bagaimana kalau di hotel. Akan lebih jika melakukan transaksi di sana."
Pemikiran yang bagus. Itulah yang paling disukai oleh Excel terhadap kinerja Sherly, wanita dengan sejuta kemampuan. Tidak sia-sia dirinya merekrut Sherly untuk menjadi salah satu bagian dari anggotanya.
"Terserah padamu, aku serahkan semuanya padamu."
Hingga malam tiba, Daisy masih terbaring di atas ranjang milik Excel. Sadar jika hari sudah malam, dia segera bangkit dan membereskan tempat tidur itu agar tak terlihat seperti bekas untuk tidur.
Daisy keluar, lagi-lagi dua penjaga kamar menahannya. "Anda mau kemana, Nona?"
Daisy menautkan alisnya. "Aku mau mencari angin di luar," ketus Daisy.
"Maaf tetapi ini sudah malam. Sebaiknya anda bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Tuan Excel."
"Untuk apa aku menyambutnya? Dia tidak mengatakan apa-apa mengenai masalah itu."
"Mulai sekarang anda harus menyambut kedatangan, karena anda istrinya."
Mendengar kata istri Daisy tersenyum tipis. Andaikan mereka semua tahu jika dibalik pernikahan ini adalah untuk menyiksaku apakah mereka masih akan menyebutnya sebagai istri Tuan mereka yang lebih tepatnya disebut seorang tawanan.
🌹To Be Continue 🌹
.
.
.
jangan lupa jejaknya 😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ida Idar
aku suka😘😘
2022-06-15
1
ida fitri
hahaha niat hati mau nyiksa si deshy eh malah si exlle yng kna batu nya😆😆😆
2022-06-12
0
Wirda Lubis
lanjut
2022-06-05
1