Hampir saja istana megah milik Excel terbakar jika dirinya tidak segera datang ke dapur. Kepulauan asap yang mengepul membuat dada sesak, dirinya hampir saja mati muda akibat ulahnya sendiri.
"Puas kamu sudah mau membakar rumah ini?" bentak Excel pada Daisy.
Daisy yang masih mengatur nafasnya hanya bisa terdiam dengan tubuh yang bergemetar akibat rasa takutnya tadi.
"Jika kamu tidak bisa bekerja dengan baik, jangan harap hidup kamu juga akan baik. Masuk kamar!"
Dengan langkah tertatih Daisy menaiki anak tangga dengan lutut yang masih bergemetar. Air matanya menetes begitu saja. Disaat seperti ini dia ingin sekali memeluk mami-nya. Excel memang tidak punya hati. Seumur hidupnya, Daisy belum pernah sekalipun untuk menyalakan kompor, apalagi menginjak kaki di dapur bisa di hitung dengan hitungan jari.
"Mami... Dai rindu Mami .... "
Daisy menumpahkan air matanya. Tak lama Excel datang dengan membanting kasar pintu, membuat Daisy terlonjak dari sofa. Dadanya semakin berdebar saat Excel menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Daisy.
"Ini pertama kali aku memasak. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bahkan kamu tak mengijinkan pelayan untuk membantuku," lanjutnya lagi.
"Diam, aku tidak memintamu untuk menjelaskan. Aku hanya ingin kamu tahu, mengapa kamu bisa berada disini dengan ikatan konyol. Karena selamanya aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai seorang istri. Kamu hanya tawanan ku." Excel memasukkan kedua tangannya kedalam saku sambil berbalik membelakangi Daisy. Dia sungguh benci wanita yang cengeng.
"Selama 15 tahun lebih aku mencari keberadaan Tuan Arathorn dan akhirnya aku menemukan kalian disini, sungguh sebuah, keajaiban luar biasa untuk. Selama ini kalian bisa hidup tenang dan bahagia tanpa merasa berdosa telah membunuh salah seorang pelayan 20 tahu yang lalu. Apa kamu masih mengingatnya?"
Dada Daisy menjadi sesak kembali mana kala ia mengingat kembali kejadian 20 tahun yang lalu, dimana usianya masih 5 tahun. Salah seorang pelayan terjatuh dari tangga dan itu adalah murni sebuah kecelakaan karena dirinya sendiri.
"Kamu pasti mengingatnya, dan aku adalah anaknya." Excel membuang kasar nafasnya.
"Tapi bibi Liu meninggal akibat terpeleset, bukan di bunuh."
"Itulah yang media ketahui, tetapi tidak denganku. Selama ini Daddy tercintamu sudah berhasil menutupi kejahatannya selama bertahun-tahun, aku salut," kekeh Excel.
"Apa maksudmu, Daddy tidak membunuh bibi Liu!"
"Sudahlah, tikus kecil sepertimu tidak akan paham dengan masalah ini. Nikmati saja hidupmu di istanaku, aku yakin kamu akan menderita."
*
*
*
Hari berlalu hari, kini tahap Daisy sadari sudah satu bulan ia berada di dalam istana neraka milik Excel. Bahkan beberapa kali Daisy pernah di kurung di dalam gudang hanya karena tidak menyetrika pakaian yang akan Excel kenakan hari itu. Penampilan Daisy jauh lebih berubah dari awal dia masuk kedalam rumah itu, dulu glamor dengan pakaian style, kini hanya berpenampilan biasa saja kerena tugas dari Excel semakin bertambah. Bahkan saat ini dengan terang-terangan Excel telah memberikan kamar sendiri untuk Daisy dan letakkan di lantai bawah berderetan dengan kamar pelayan. Saat ini Excel benar-benar menganggap Daisy kayaknya seorang pelayan. Tak ada lagi Daisy yang semua keperluannya disediakan. Jika ingin sesuatu Daisy harus berusaha mengambil sediri.
Selama tinggal di rumah Excel, Daisy sengaja membuat sebuah taman kecil di sebelah kolam ikan. Dan ditempat itulah Daisy akan menghabis waktunya jika sudah tidak ada pekerjaan yang ia lakukan lagi. Tangan yang dahulu lembut kini sudah berubah sedikit lebih kasar, bahkan tak ada kuku panjang yang lentik nan indah.
"Dimana wanita itu?" tanya Excel pada kepala pelayan.
"Nona ada di taman, Tuan. Apakah anda membutuhkan sesuatu?"
"Tidak! Panggilkan saja dia!"
Kepala pelayan menundukkan kepalanya lalu segera menghampiri Daisy yang tengah menyirami taman mawar yang sudah satu bulan ini ia tanam. Berharap segera bermekaran.
"Nana, Tuan sudah pulang. Beliau memanggil anda."
Daisy menoleh. Tak biasa Excel akan pulang lebih awal. Tak ingin membuat Excel menunggu lama, Daisy segera meninggalkan kegiatannya. Namun sebelum itu dia mencuci bersih tangan dan kakinya terlebih dahulu.
"Beliau ada di ruang kerjanya, Nona,".kata kepala pelayan.
"Baik. Terimakasih."
Daisy segera menaiki anak tangga. Jika sedang menapaki tangga, hatinya selalu teringat akan rumah yang ia tinggalkan dimana dia hanya tinggal memerintahkan ini itu jika menginginkan sesuatu, tetapi saat ini hidupnya telah berubah drastis.
Daisy membuka pintu dengan pelan, terlihat Excel sudah duduk di meja kerjanya.
"Kamu memanggil ku?" tanya Daisy.
"Menurutmu?"
"Karena aku sedang berbaik hati, malam ini kamu temani aku dinner. Jika tidak mengingat Sherly sedang cuti, aku enggan untuk mengajakmu. Anggaplah malam ini kamu bisa cuci mata. Pergilah pelayan akan menyiapkan semuanya."
Daisy menautkan alisnya. Hanya ingin mengatakan itu saja harus kedalam ruang kerjanya. Apakah tidak bisa di luar sana?
Sesuai dengan permintaan Excel, penampilan Daisy malam ini bisa bisa disulap layak seorang Cinderella, karena memang dasarnya Daisy sudah cantik.
Dengan gaun berwarna putih panjang serta belahan sampai diatas pahanya, Daisy mampu melumpuhkan setiap mata yang memandangnya. Hal itu membuat Excel merasa lebih geram.
"Aku tau kamu sedang tebar pesona dengan para hidung belang, jika kamu menginginkan tidur bersama mereka, nanti setelah acara ini selesai," lirih Excel.
Daisy hanya terdiam. Tak ada gunanya untuk meladeni setiap ucapan yang keluar dari mulut Excel.
"Ingat, kamu harus bersikap ramah. Jangan sampai kamu membuat satu kesalahan jika tidak ingin kamu dikurung lagi di gudang." bisik Excel diikuti dengan meraih pinggang Daisy, membuat orang sangat iri kepada mereka. Pasang yang serasi, bahkan setelah menikah tak ada gosip tentang rumah tangga mereka meskipun pernikahan mereka secara terpaksa.
"Selamat malam, Tuan Excel, Nona Daisy. Kalian pasangan luar biasa malam ini," sambut Tuan Kim, tuan rumah acara dinner malam ini.
"Terimakasih Tuan Kim, anda terlalu berlebihan untuk memuji kami," balas Excel.
Daisy yang tidak pernah menghadiri acara seperti ini merasa sedikit pusing. Apalagi saat hidungnya mencium aroma alkohol, perutnya akan terasa mual. Daisy lebih memilih duduk menjauh saat Excel dan para lelaki lainnya sudah meminum alkohol, meskipun tidak menyengat tetapi Daisy yang tidak pernah mencium aroma seperti itu tetap saja ingin muntah.
Setelah mengambil makanan, Daisy memilih duduk disebuah meja sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Acara yang sangat mewah, tetapi Daisy yakin jika yang datang pada acara malam ini adalah para pejabat beserta asisten maupun sekretarisnya, karena wajah mereka masih muda-muda sedang lelakinya sudah berusia. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
"Boleh gabung?"
#To Be Continue#
Mohon beri dukungan untuk Novel ini dan Terimakasih kepada kalian yang sudah memberikan dukungan kepada Author 🙏
Maaf jika ternyata isinya melenceng dari judulnya. Udah aku bilang dari awal aku salah konsep. Sebenarnya judul awal bukan JHSC dan udah aku tulis 11 bab. Tidak mudah untuk merombaknya alurnya, dengan judul JHSC, maka dari itu aku minta maaf jika ceritanya tidak sesuai dengan judul. Ini lagi berusaha mencari jalan agar nyambung 🙏
Oh iya Othor cuma mau bilang kalau author tidak pernah menghapus komentar kalian, jika kalian merasa memberikan komentar lalu tidak muncul berarti sistem yang menghapusnya. Komentar yang sedikit vulgar atau semacam kritikan keras akan terdeteksi secara otomatis. Jadi mohon maaf jika ada yang merasa memberikan komentar, tetapi tidak ada di kolom komentar. Komentar itu hanya masuk ke notifikasi author saja. Author tetap baca kok 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
pena_sf:)
banci Lo Excel berani sama cewek
2022-06-18
1
Masnawati Smj
kncih cowokx gk bisa baek kan kasihan daisynya
2022-06-12
1
Amalia Pamujo
eh thor kasih visual buat si exel itu sama si daisy culun yg gak tau urusan dapur
2022-06-06
2