Setelah dari ruang Rifan , Rosa terlihat masich cemberut , dalam hati dia masih mengomel gara- gara kejahilan Rifan.
"Dasar manusia mesum, apa dia tidak tahu gue masich ada di dalam kamar dia. Ya tuhan...kasihan mata suci gue yang telah melihat tubuh telanjangnya.." seru Rosa dalam hati. Andai orang tahu,.. terlihat sekali wajahnya memerah karena malu.
"Apa dia fikir gue senang lihat tubuhnya..dasar manusia arogan..lebih baik gue nggak keruangannya lagi.." ucap Rosa perlahan.
Setelah sampai di depan pintu pantri terlihat banyak karyawan yang berlalu lalang di depan pantri.
"Hey...ada apa ini...kok banyak karyawan yang ada di sini..." batin Rosa heran.
Saat mereka melihat kedatangan Rosa , mereka segera menghampiri Rosa.
"Mbak Rosa..dari mana...?" tanya mereka ramah.
"Maaf...ada apa ini...mengapa kalian berada di sini...?" apa ada yang bisa kami bantu...?" tanya Mamat yang tiba - tiba sudah berada di depan Rosa dan Asep berada di sampingnya .
"Ah..maaf Mas...kami ingin bertemu dengan Nona Rosa...!" ucap salah satu dari mereka.
"Maaf tuan- tuan...sekarang waktunya bekerja. Jadi saya harap kalian tinggalkan kami. Saya yakin kalian semua tidak ingin Rosa keluar dari sini kan...?" kata Mamat dengan dingin.
"Nona kau tidak apa- apa kan...?" bisik Asep pada Rosa.
"Tidak Sep...gue juga baru datang...?" kata Rosa sambil tersenyum .
"Lalu kenapa mereka ada di sini...?" tanya Asep heran.
"Gue juga kagak tahu Sep..." kata Alea lagi.
"Mas...tentu saja kami tidak ingin Rosa pergi dari perusahaan ini, lalu ada hubungan apa kami di sini dengan kepergian Rosa...?" jawab salah satu dari mereka.
"Tentu saja ada...kalau sampai pimpinan tahu kalian di sini saat jam kerja. Maka pimpinan akan memecat Rosa sebagai biang keladi dari keberadaan kalian di sini saat jam kerja..." kata Mamat dengan datar. Mendengar perkataan Mamat. Terlihat mereka saling berpandangan.
"Kami harap kalian pergi dari sini. Jangan membuat teman kami kehilangan pekerjaan..." kata Asep pula.
"Maafkan kami...kami tidak menyadari itu..." jawab mereka, Akhirnya mereka satu persatu meninggalkan ruang pantri.
Setelah melihat semua pergi. Rosa tertawa.
"Weee...ternyata teman gue keren juga.." ucapnya sambil terkekeh.
"Siapa dulu..Mamat....!" seru Mamat bangga. Mendengar ucapan Mamat , mereka bertiga tertawa bersama. Begitu juga dengan Egik dan Riska yang ada di dalam pantri.
"Waah Mat ..kau memang hebat...kami tadi sudah kualahan menjawab pertanyaan mereka ketika mereka menanyakan keberadaan Rosa.." kata Riska sambil mendekati Rosa.
"Maafkan aku yang telah membuat kalian kerepotan..." kata Rosa meminta maaf.
"Hey...bukan salahmu Ros...mereka aja yang keganjenan..." ucap Riska kesal.
"Aku kok nggak lihat Siska...?" tanya Rosa.
"Aduuh hampir lupa...kita haris membawa minuman ini ke ruang meeting, takut nanti kekurangan..." seru Egik .
"Ayo aku bantu..." ucap Mamat dan Asep bersamaan . akhirnya mereka bertiga pergi membawa minuman keruang meeting. Sedang Rosa dan Riska masuk kedalam ruang Pantri .
Tak terasa Haripun menjelang sore. Semua karyawan kantor EKG sudah mulai pulang . para OB mulai membersihkan ruangan satu persatu. Begitu juga dengan ruang rapat yang tadi habis di gunakan.
"Ros..elo nggak ke ruang Bos besar..." kata Riska pada Rosa.
"Sebentar lagi Ris...biar Bos pulang lebih dahulu..." jawab Rosa yang masih mengelap meja rapat.
"Kenapa tidak sekarang...kan enak jika bertemu tuan Rifan, bisa cuci mata ngelihat ketampanan tuan Rifan ..." goda Riska.
"Idih nggak lihat orang tampan juga kagak apa- apa Ris... Uda ah jangan ngebahas soal itu, ayo kita kerjakan tugas kita agar cepat selesai..." kata Rosa sambil mulai menyapu lantai.
Sedang Riska hanya geleng kepala melihat tingkah Rosa. Sejak Rosa selesai mendapat hukuman dari suaminya dulu, Riska merasakan kalau Rosa sekarang sangat berbeda dari sikap Rosa dulu. Sikap Rosa yang terkesan polos dan penakut , sekarang terlihat tegar , ramah dan lincah namun dingin terhadap pria yang bukan sahabatnya . akhirnya dia mengikuti perbuatan Rosa membersihkan ruang Rapat berdua.
Setelah selesai membersihkan ruang rapat, Rosa pamit mau keruang sang Bos besar. sedang Riska kembali keruang OB untuk ganti baju dan pulang . Dia tidka ikut Risa karena sang Bos tidak memperbolehkan Rosa membawa teman . Sedang Rosa sendiri segera masuk kedalam lift menuju lantai 22 tempat tuan Rifan Sang CEO arogan berada. Ketika baru saja pintu lift terbuka. Rosa mendengar suara teriakan tuan Rifan dan terlihat Siska keluar dari sana dengan wajah ketakutan. Melihat semua itu Rosa cepat - cepat berlari kearah Siska. Dan terlihat di depan pintu Rifan berdiri dengan wajah marah.
"Siapa yang menyuruh kau datang keruanganku ha....!" teriak Rifan marah.
"Sa..saya...sendiri tuan...bukankah sse..setiap harinya sa..saya yang membersihkan ruangan tuan..." ucap Siska dengan tubuh dan suara gemetar.
"Apakah kau belum tahu kalau tugas itu sudah ada yang melakukannya...!" teriak Rifan marah. Rosa yang melihat semua itu menjadi sedih. Ternyata sikap Siska yang seharian ini diam dan menjauhinya ternyata marah karena tugas itu dia gantikan.
"Sis..." ucap Rosa sambil memegang tangan siska yang gemetar. Namun tangan Rosa yang memegang tangannya di hempaskan oleh Siska .
Dia menatap Rosa dengan tatapan iri dan cemburu.
"Ada apa dengan gadis ini..." batin Rosa.
"Dan kau...apa gadis itu kau yang menyuruh datang kemari..." tuduh Rifan pada Risa yang masih menatap Siska . Rosa lalu menatap Rifan.
"I..itu...iya...saya yang menyuruh teman saya Siska untuk datang dulu ke ruangan ini, sebab saya masih membersihkan ruang lain..." kata Rosa menutupi kesalahan Siska. Kegagapan Rosa menjawab pertanyaan Rifan , tanpa sengaja memberitahukan pada Rifan kalau gadis yang datang keruangannya inisiatif gadis itu sendiri. Dan Rosa sengaja menutupinya .
"Oo..begitu...? Kalau begitu kau masuk kedalam dan kau...keluar dari sini...!" seru Rifan pada Siska. Mendengar perkataan Sang atasan, Siska segera keluar dari ruangan itu. Dia sempat menatap pada Rosa dengan tatapan iri .
"Masuk..." ucap Rifan datar pada Rosa.
Dengan enggak Rosa masuk kedalam ruangan Rifan sang CEO arogannya.
"Duduk..." ucap Rifan dingin. Mendengar perkataan Rifan , Rosa merasakan keberaniannya agak menciut.
"Ck..gara- gara Siska gue kena batunya.. Lagian ngapain juga dia tadi kemari , bukankah gue sudah bilang kalau tugas ini gue gantiin hanya sampai hukuman gue berakhir. Sekarang jadi runyam kan.. Moga aja nggak bertambah hukuman gue dari si arogan ini ..batin Rosa.
"Kenapa kau menutupi kesalahannya...?" kata Rifan sambil menatap Rosa yang menunduk.
"Maksud tuan...?" tanya Rosa tak mengerti .
"Kau fikir aku anak kecil yang dapat kau bodohi dan kau bohongi he...? Aku tahu kalau kau menutupi kesalahan temanmu tadi ...dia datang menggantikanmu bukan karena dia kau suruh..." kata Rifan dengan nada marah .
Rosa menatap Rifan dengan mata melebar karena kaget. Melihat tingkah Rosa ingin rasanya dia menjitak kepala gadis nakal dan berani di depannya ini . bukannya takut , dia malah seperti orang yang sedang menantangnya.
"Dia teman saya tuan... dan anda tahu sendiri, kalau tugas ini biasanya diakan yang melakukannya...mungkin dia tak rela di gantikan oleh saya.." ucap Rosa tenang . mendengar jawaban Rosa , Rifan bukannya marah malah dia ingin rasanya mencubit hidung mancung Rosa .
"Baik...kalau begitu dia harus aku pecat karena sudah berani melakukan perbuatan yang membuat aku marah.." kata Rifan datar.
"A..apaa...pecat...!" seru Rosa kaget.
"Iya...aku pecat...karena aku tidak suka mempunyai pegawai yang seenaknya sendiri merubah pekerjaan yang sudah aku tetapkan .." kata Rifan datar.
"Tapi, tapi...apa harus mesti di pecat tuan..." tanya Rosa dengan wajah cemas . bagaimana dia tidak cemas, karena bekerja di sini adalah impian Siska.
"Iya...aku harus memecatnya...karena keberanian dia membuat aku sangat marah...!" kata Rifan dingin . walau dalam hati dia merasa sangat senang. Mungkin saat inilah dia bisa membuat Rosa mau bekerja dekat dengannya. Terlihat wajah kecemasan terlihat di wajah Rosa, sebenarnya Rifan tidak tega melihat gadis yang dia cintai terlihat sangat cemas. Namun dia mempertahankan wajah dinginnya demi mendapat yang dia inginkan. Rosa terlihat diam sejenak , lalu dia berkata.
'Tuan...bagaimana kalau saya yang akan menggantikan dia ...maksud saya saya akan keluar dari perusahaan ini..." kata Rosa harap- harap cemas. Dia menatap Rifan dengan mata bulatnya.
"Mana Bisa aku menghukum orang yang tidak bersalah...!" seru Rifan . dia sudah menduga kalau perkataan itu yang akan di ucapkan oleh Rosa .
"Kan sama- sama keluar dari perusahaan tuan...hanya saja saya yang akan melakukan semua itu..." ucap Rosa lagi.
"Tidak...aku tidak suka mengganti hukuman pada orang yang tidak bersalah. Tunggu...bukankah kau ingin menyelamatkan dia dari pemecatan kan..?" kata Rifan sambil menatap gadis yang ada di depan nya .
"Iya tuan..." jawab Rosa.
"Kau akan melakukan apapun agar dia tidak di pecat...?" kata Rifan sambil melangkah mendekati Rosa .
"Benar...saya akan melakukan perintah tuan dalam batas perintah yang wajar saja...kalau aneh- aneh tidak akan.." jawab Rosa yang sedikit resa ketika Rifan berada di dekatnya.
"Aauu....!" seru Rosa sambil memegang keningnya yang terkena sentil Rifan .
"Jangan berfikir yang macam- macam di dalam otak kecilmu itu.." kata Rifan .
"Ck...sakit tahu..." ucap Rosa sambil masih memegang keningnya.
"Itu agar di dalam otak kecilmu tidak berfikir yang nggak- nggak.." ucap Rifan lagi.
"Ck..siapa juga yang berfikir yang nggak- nggak..." sungut Rosa yang masih mengusap keningnya. Melihat wajah Rosa yang cemberut Rifan menahan sekuat tenaga perasaan ingin menggigit bibir yang sedang manyun itu.
"Kau masih ingin menolong temanmu...? Bukankah dia terlihat marah padamu.?" ucap Rifan sambil menatap Rosa.
"Karena dia fikir aku yang merebut pekerjaannya, atau...dia..." mulut Rosa segera dia dekap sendiri. Saat terlintas di pikirannya kalau Siska sang sahabat menaruh hati pada sang atasan.
"Ya Tuhan..Siska ..apa kau sedang jatuh hati pada pria dingin ini..ampuun...jangan berhayal kawanku..." seru Rosa dalam hati.
"Kenapa kau tidak melanjutkan omonganmu...dan kau menutup mulutmu sendiri...apa yang ada di otak kecilmu ini ha...?" seru Rifan sambil
menyentil kembali kening Rosa.
"Aauu..Bos sakit tahu..!" seru Rosa kesal sambil memegang keningnya yang terlihat memerah. sebenarnya Rifan sangat sedih melihat kening Rosa memerah karena perbuatannya, namun dia rasanya gemas melihat Rosa yang dia tahu sedang memikirkan dan membayangkan sesuatu yang Rifan tahu pasti tentang dirinya.
"Karena aku tahu kalaun kau sedang berfikir sesuatu tentang aku ..."kata Rifan lagi.
"Dih kayak Dukun aja..." ucap Rosa kesal walau dalam hati dia mengiyakan.
"Sudah apa yang harus saya lakukan agar tuan besar Rifan tidak memecat sahabat saya...?" kata Rosa sambil menatap Rifan walau tangannya masih memegang keningnya yang sakit .
"Kau benar mau menggantikannya....?" tanya Rifan lagi .
"Iya..." ucap Rosa .
"Kau jadi Asisten pribadiku sekaligus pengawalku..." ucap Rifan tenang.
"Apaaaa...Asisten sekaligus pengawal..?" tanya Rosa tak percaya.
"Iya..." jawab Rifan singkat.
" Tuan...mana mungkin saya jadi Asistten dan pengawal pribadi tuan.. nich ya tuan...satu saya ini hanya gadis biasa yang nggak bisa beladiri . Kedua...masih banyak pria atau wanita yang lebih kuat dan lebih segalanya dari saya.." ucap Rosa berusaha menolak pekerjaan yang di tawarkan Rifan.
"Semua terserah kamu..kau mau menerima maka temanmu terselamatkan dari pemecatan, dan kalau tidak maka temanmu mulai besok tidak bekerja lagi disini atau malah orang yang menolong atau membawa dia kemari akan mendapat sangsi juga..." kata Rifan yang sudah tahu kalau Rosa. dan ketiga temannya di bawa oleh kepala OB yang merupakan salah satu tante dari teman Rosa. Mendengar ucapan Rifan Rosa kaget.
"Aduh...kok malah lebih besar resikonya, " batin Risa. dia tak ingin orang yang tidak tahu masalahnya malah terkena imbasnya .
"Ck..apa tidak ada pilihan lain tuan..?" tanya Rosa dengan wajah lesuh.
"Hanya itu pilihanmu..." jawab Rifan datar walau dalam hati dia ingin bersorak kesenangan melihat wajah Rosa yang pasrah.
"Maafkan aku gadisku...hanya dengan cara ini aku bisa membuatmu berada di sisiku. kata Rifan dalam hati.
Terlihat Rosa diam cukup lama dan Rifan membiarkan saja. Dia tahu kalau Rosa tidak ingin menerima pekerjaan yang dia tawarkan. Rifan baru sekarang melihat seorang gadis yang tak tertarik sama- sekali padanya. Rifan yang selalu menjadi pujaan gadis dan menjadi harapan dari semua wanita itu hanya bisa menghela nafas ketika dia kini yang harus mengejar cinta gadis yang tak perduli padanya. tak lama terlihat Rosa menghela nafas dan menatapnya. mendapat tatapan dari gadis pujaannya Rifan merasakan debaran di dadanya semakin kuat. ingin rasanya dia memeluk dan mencium gadis di depannya ini .
"Baiklah saya akan menerima pekerjaan tuan, tapi dengan satu syarat..." kata Rosa dengan wajah terlihat pasrah.
"Apa itu..." tanya Rifan tenang.
"Jadikan teman saya Mamat dan Asep sebagai pengawak pribadi anda juga, kalau tidak terpaksa saya menolak permintaan anda , terserah anda mau memecat saya, Siska ataupun tante Vio saya tak perduli.." kata Rosa dengan tenang.
"Siapa Mamat dan Asep...?" tanya Rifan.
"Teman sekaligus saudara saya..." kata Rosa lagi.
"Baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu, mulai besok kau sudah menjadi Asisten pribadiku . Di manapun aku berada atau pergi kemanapun kau harus ada di sampingku..." kata Rifan lagi .
"Baik tuan saya akan melakukan perintah tuan,kalau begitu boleh sekarang saya membersihkan ruangan ini..." kata Rosa .
"Baiklah kau bisa mengerjakaannya. tapi ini yang terakhir kali kau melakukan itu. besok akan ada OB yang akan mengerjakan tugasmu..." kata Rifan lembut.
Rosapun segera berdiri dan berjalan kearah meja dan sofa. Dia segera melakukan pekerjaan dengan cepat. dan Rifan tetap duduk memperhatikan Rosa.
"Apakah tuan tak ingin pulang dan meninggalkan saya sendiri di sini...?" tanya Rosa sarkasme . sebab sejak tadi Rosa tahu kalau Rifan hanya duduk diam melihat dia bekerja.
"Aku menunggumu..." jawab Rifan tenang.
"Tuan Rifan yang terhormat...bukankah saya masih besok jadi asisten sekaligus pengawal anda...?" kata Rosa sinis.
Mendengar perkataan Rosa, Rifan bukannya marah dia malah tertawa .
"Benarkah...tapi aku merasa kalau kau sudah jadi pengawalku tu..." ucap Rifan tak tahu malu.
"Dasar manusia arogan dan tak tahu malu...." gumam Rosa .
Rifan semakin bahagia melihat gadisnya terlihat kesal dan marah.
"Aku tak perduli kau katakan apapun sayang, sekarang aku akan merasakan kebahagiaan sedang menunggu hari- hariku yang akan datang. .." kata Rifan dalam hati.
Rifan tetap duduk dengan tenang saat Rosa menata ruangannya dengan rapi ' dan terlihat lebih indah.
"Ternyata kau pandai juga Menata ruangan sayang..." kata Rifan dalam hati.
Tak berapa lama selesai sudah Pekerjaan Rosa. dan dia segera bersiap- siap untuk pulang .
"Saya sudah selesai dengan tugas saya, dan Saya akan pulang, apakah tuan masih ingin di sini..." kata Rosa sambil berjalan keluar ruangan.
"Kita pulang bersama..."jawab Rifan tenang.
"Tidak bisa tuan...saya bawa motor sendiri dan anda bisa pulang sendiri pula.." kata Rosa dengan tenang .
"Biar anak buahku yang membawa motormu...!" kata Rifan dengan nada perintah .
"Apakah anda akan mengikat kebebasan saya tuan...?" kata Rosa datar.
Mendengar ucapan Rosa , Rifan hanya bisa terdiam.
"Baiklah aku mengalah....." ucap Rifan kemudian .
Rosa tersenyum dan berucap sambil berlalu.
"Selamat Sore menjelang malam tuan..." ucap Rosa sambil berlalu dan mengedipkan matanya . melihat tingkah Rosa, Rifas semakin gemas .
"Awas kau gadis nakal...jika kau sudah menjadi milikku tak akan ku biarkan kau lepas dari pelukanku sayang..." ucap Rifan. Dia membiarkan Rosa pergi dari ruangannya.
Sedangkan Rosa kini sudah berada di lantai tiga untuk mengganti baju OB nya dengan baju yang dia pakai tadi pagi.
Celana Jins Belel dengan atasan kaos polos warna kuning dan jaket kulit hitam serta kacamata hitam. setelah selesai dia segera keluar dari ruang ganti . ketika sampai di luar kamar ternyata dua pengawalnya sudah menunggunya.
"Kalian masih di sini...?" tanya Rosa.
"Tentu saja Bos..mana mungkin kita ninggalin dirimu ..." jawab Mamat.
"Ya sudah Ayo kita pulang..." kata Rosa sambil melangkah meninggalkan ruang ganti menuju lift bersama Mamat dan Asep yang sudah mengganti bajunya dengan baju mereka sendiri. setelah lift sampai di lantai dasar , mereka segera keluar dari salam lift . Kini terlihat. seorang gadis cantik dan seksi bersama dua pria gagah dan tampang sedang berjalan keluar dari dalam lift khuusus untuk karyawan perusahaan EKG . mereka sedang bercakap - cakap bertiga sambil sesekali tertawa. dan tanpa mereka sadari Rifan dan kedua bawahannya Fikri dan Dikra juga keluar dari lift khusus petinggi perusahaan.
Mereka terkejut ketika melihat Rosa yang sudah memakai baju lain dari baju OB nya.
"Bos...siapa gadis itu...ya ampuun cantik, seksi sekaligus anggun sekali.." seru Fikri sambil matanya melotot karena kagum.
"Jaga sikapmu Fik...atau ku colok matamu ha..." seru Rifan marah.
melihat kemarahan Rifan , Fikri kaget. dia berisik pada Dikra.
"Kenapa dia marah Dik...?" tanya Fikri tak mengerti .
"Salahmu..Gadis yang Kau sebut tadi adalah gadis Bos Kita, si Rosa...." ucap Dikra pelan.
"Apaa...!" seru Fikri kaget sambil mendekap mulutnya sendiri.
Sedang Risa masih berjalan kearah motor Balapnya dan segera memakai helmnya .
"Kita pulang dulu lalu berkumpul di Basecame." kata Rosa yang sudah naik keatas motor Balapnya. dan kedua pengawalnya segera mengikutinya. tak berapa lama terlihat ketiga motor balap pergi meninggalkan perusahaan EKG . dengan mendapatkan tatapan dari si Bos Arogan Rosa .
"Jadi pemilik Motor balap itu Nona Rosa Bos..." kata Dikra.
"Dasar gadis nakal...berani sekali dia jalan bersama pria lain..." kata Rifan kesal. Mendengar omongan Rifan , Dikra dan Fikri hanya bisa diam.
"Dik...besok siapkan meja dan kursi di dalam ruang ku..." ucap Rifan datar.
"Meja dan Kursi Bos...untuk apa...?" tanya Dikra hati- hati.
"Mulai besok Rosa menjadi asisten pribadiku dan sekaligus pengawal ku, juga dua saudaranya yang akan menjadi pengawalku..." kata Rifan sambil masuk kedalam mobilnya di ikuti kedua orang kepercayaan itu.
"Apaa...Rosa jadi Asisten sekaligus pengawal pribadi...? yang bener Bos..? Kok bisa dia mau menjadi pengawal Bucap Dikra tak percaya .
"Dia sekarang sudah jadi pengawal pribadiku karena kebodohan temannya.." kata Rifan gembira.
"Maksud lo gimana sich Fan...?" tanya Dikra pada Rifan. mereka akan memanggil nama mereka seperti seorang sahabat jika sudah di luar jam kantor.
"Temannya sekaligus sahabatnya tadi tiba- tiba datang keruanganku untuk membersihkan ruanganku. aku fikir dia di suruh Rosa. ternyata itu niatnya sendiri karena iri pada Rosa. aku menduga dia menyukaiku. hingga dia nekat menggantikan Rosa membersihkan Ruanganku tanpa seijin Rosa . Karena kebodohan gadis itulah aku bisa menekan Rosa agar menjadi asisten pribadiku. tapi dia meminta syarat agar kedua sahabatnya yang dia anggap saudara, juga menjadi pengawal ku . Mungkin kedua orang tadi.." kata Rifan menjelaskan.
"Aaah..akhirnya kami terbebas dari tugas mencari cara agar dia mau jadi asisten dirimu Fan..." kata Dikra sambil bernafas lega.
"Bos ...dilihat dari gaya berpakaian serta motor balasnya, sepertinya Rosa bukan gadis dari kalangan bawa Bos..." kata Fikri menyela.
"Benar Bos.. juga dari tingkahnya yang tidak takut pada anda , sepertinya dia gadis dari kalangan atas..." ucap Dikra juga.
"Tapi data yang kau berikan padaku..?" tanya Rifan sambil menatap Dikra yang sedang menyetir.
"Gue jadi bingung juga..." kata Dikra bingung.
##$$##
Udahan dulu ceritanya ya...aku sambung lagi besok ...
Jangan lupa , like, Vote dan komennya selalu author tunggu. karena like, komen dan vote dari kalian akan membuat author semangat .
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
Atoen Bumz Bums
jadi males Rosa JD lembek gt gr2 Siska
kn punya perusahaan
dipecat y Uda suruh mereka kerja di tempat rosa
2025-02-03
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒑𝒅 𝒃𝒊𝒏𝒈𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 😅😅
2024-11-10
0
Oi Min
Dikira...... dikira boong kali si boss....
2024-08-27
0