Rosa dengan wajah kesal menyelesaikan tugasnya membersihkan ruang sang bos besar. Dia kembali menata dan menyapu lantai sampai benar- benar bersih, buku yang berserakan di lantai dan meja serta sofa dia tata kembali dengan rapi di tempatnya . tanpa Rosa sadari sejak tadi Rifan dengan tenang menatap Rosa yang sedang bekerja. Namun saat wajah Rosa menatap kepadanya dengan rasa sebal, dia akan berpura - pura mengerjakan pekerjaannya. wajah jutek Rosa membuat Rifan gemas. Ingin rasanya dia mencubit bibir yang terlihat cemberut itu. Hampir satu jam Risa menata dan membersihkan ruang Rifan yang amboradol itu karena kesengajaan Refan agar Rosa berada di dekatnya. Tak berapa lama selesai sudah tugas Rosa, dengan membungkuk hormat Rosa berkata .
"Karena ruangan tuan sudah selesai, maka OB ini mohon diri tuan.." ucap Rosa sambil memberi hormat dan berjalan kearah pintu.
"Tunggu .. Siapa yang memberimu ijin pergi..." ucap Rifan yang masih tak ingin Rosa tinggalkan.
"Bukankah tugas saya sudah selesai tuan...?" kata Rosa datar.
"Tapi aku belum mengijinkan kamu pergi.." kata Rifan dengan tenang. Mendengar ucapan Rifan terlihat Rosa menahan marah.
"Sebenarnya maunya tuan apa sich...!" ucap Rosa memandang Rifan dengan wajah kesalnya.
" Biarlah aku di pecat sekalian dan segera pergi dari sini . .." ucap Rosa dalam hati .
Medengar perkataan Rosa tidak membuat Rifan marah, dia malah sangat gembira dan gemas melihat Rosa yang terlihat sangat kesal.
"Buatkan aku kopi dulu sebelum kau pergi dari sini..." ucapnya sambil tersenyum. Rosa menghela nafas berat ketika dia menahan kekesalan dalam hati. Bagaimanapun orang yang ada di depan nya adalah pemilik dari perusahaan ini dan dia harus patuh padanya
"Baik tuan saya akan membuatkannya.. saya pergi ... " jawab Rosa akhirnya Dia segera keluar dari ruangan itu. Namun sebelum dia keluar, tiba- tiba ada ketukan di daun pintu .
"Masuk..." ucap Rifan datar.
"Dua orang-orang masuk kedalam ruangan. Dan mereka melihat Rosa yang akan keluar dari ruangan itu. Salah satu dari mereka terlihat sangat terkejut, hingga mulutnya terlihat menganga. Hingga tanpa sadar dia berdiri di depan Rosa. Sedang satu-satunya berdecak kagum memandang wajah Rosa.
"Maaf permisi..." kata Rosa sambil melangkah meninggalkan ruangan itu .di iringi pandangan mata kedua orang itu .
"Fik...jaga matamu...atau aku akan mencolok matamu itu...!" seru Rifan marah. Mendengar ucapan Rifan Fikri tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Maaf Bos..." ucapnya.
"Ros...buatkan juga kopi untuk dua orang ini..." ucap Rifan lembut.
"Baik tuan...." jawab Rosa datar . Rosa keluar dan menutup kembali pintu ruangan itu . setelah Rosa pergi kedua orang itu segera duduk di depan meja kerja Rifan . kedua orang itu adalah Fikri dan Dikra yang akan melaporkan sesuatu pada Rifan.
"Bos...penglihatanku nggak salah kan..?" kata Dikra dengan wajah bodohnya.
Mendengar ucapan Dikra Rifan tertawa.
"Tidak , memang dia orang nya.." ucap Rifan bahagia .
"Di..dia memakai baju OB ..jangan bilang kalau dia kerja disini sebagai OB Bos...?" tanya Dikra lagi.
"Benar...ternyata orang yang kita cari malah bekerja di perusahaan kita .." kata Rifan dengan wajah bahagia .
"Tunggu...apa yang kalian katakan ini... siapa yang sebenarnya kalian perbincangkan ini..." tanya Fikri yang tidak tahu siapa yang sedang nenjadi topik pembicaraan kedua sahabatnya itu .
"Kau tahukan kalau sahabat kita sedang memburu seorang gadis...?" kata Dikra sambil menatap Fikri.
"Ooo ..gadis yang membuat Bos kita ini menjadi gila...!" kata Fikri berani.
"Kau mau aku bunuh Fik....!" seru Rifan marah.
"He he he maaf...habisnya kau sampai tidak mengenal lelah mencari gadis itu..." kata Fikri lagi. Terlihat Rifan hanya menatap Fikri dengan kesal .
"Lalu apa yang terjadi dengan gadis itu..?" tanya Fikri lagi .
"Gadis itu adalah gadis yang kau tatap tadi..." ucap Dikra tenang .
"Whaaat...?!" seru Dikra kaget .
"Jangan teriak napa...!" ucap Dikra mengomel . sebab gendang telinganya merasa terganggu .
"Maaf...Dik kau tidak main- main kan...?" tanya Fikri sambil menatap Dikra dan Rifan bergantian .
"Sejak kapan dia bekerja di sini Bos...?" tanya Dikra tanpa menghiraukan pertanyaan Fikri.
"Sudah enam bulan yang lalu, dia salah satu OB baru yang kau tanyakan pada HRD kapan hari..." kata Rifan dengan perasaan bahagia.
"Ya Tuhan... Ternyata gadis yang kita cari berbulan- bulan berada di dekat kita.." kata Dikra dengan senyum cerah.
"Jadi gadis cantik tadi, gadis yang kau cari Bos..." kata Fikri lagi. .
"Iya...dialah gadis yang menolong aku dan Dikra dari serangan penjahat suruan paman Burhan, dan dia juga yang menolong Mama saat Mama membawa dokumen penting dari rumah itu..!" kata Rifan lagi .
"Yang bener Bos...? Jadi gadis cantik yang terlihat lemah itu, ahli beladiri...?" tanya Fikri tak percaya .
"Kalau kau lihat sepak terjangnya saat melawan musuh, kau akan ternganga sobat..." ucap Dikra lagi.
"Kok gue jadi penasaran Bos...!" seru Fikri .
"Suatu saat kau akan tahu kehebatannya Fik..." kata Dikra lagi.
"Ya sudah sekarang katakan untuk apa kalian datang kemari. ..." kata Rifan pada kedua pengawal kepercayaan nya itu. Namun sebelum mereka menyampaikan laporannya, terdengar pintu ruangan di ketuk dari kuar.
"Masuk...!" seru Rifan datar.
Perlahan pintu terbuka, dan terlihat seraut wajah cantik dengan memakai seragam OB masuk dengan membawa sebuah talam di tangannya. Rosa masuk membawa minuman pesanan sang Bos. Dengan wajah tenang gadis itu berjalan kearah mereka.
"Di taruh di mana kopinya tuan..." kata Rosa .
"Taruh di meja itu saja Ros..." kata Rifan sambil menatap Rosa dengan tatapan gembira. Perlahan Rosa berjalan kearah sofa ruang sang penguasa itu. Setelah itu dia berjalan kembali kearah pintu setelah menunduk sebentar pada Rifan. Dia berjalan cepat keluar ruangan tanpa senyum di bibirnya. Sedang kedua pengawal Rifan menatap kepergian Rosa dengan tatapan kagum. Terutama Fikri yang saat ini dia bisa melihat wajah Rosa dengan jelas.
"Tentu saja Bos Rifan tergila- gila padanya...gadis secantik itu pasti akan membuat siapapun rela berebut mencari perhatian dari nya..ee..tunggu.. jangan- jangan yang di bicarakan para karyawan pria perusahaan ini adalah gadis itu..." seru Fikri dalam hati.
"Fik...jaga matamu...atau kau ingin pena ini mencungkil matamu...!" seru Rifan marah saat melihat Fikri melihat Rosa sampai keluar pintu.
"Ck..si Bos...pelit amat, kita kan mengagumi ciptaan Tuhan dengan benar Bos..."ucap Fikri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Dasar mata keranjang...kau boleh menikmati ciptaan Tuhan dengan sepuasnya , tapi bukan untuk Rosa...!" seru Rifan sambil menimpuk kepala Fikri dengan pena yang dia pegang.
"Aauu...si Bos sadis amat..." ucap Fikri sambil memegang kepalanya yang terkena lembaran pena.
"Ee...tapi tunggu Bos...akhir- akhir ini gue sering mendengar dari para karyawan Pria kalau mereka sedang mencoba bersaing mendapatkan perhatian sekaligus hati seorang gadis yang bekerja sebagai OB. Saat itu aku hanya tertawa, soalnya secantik- cantiknya seorang OB , pasti cantikan pacar- pacar gue yang kalian tahu sendiri siapa mereka kan... Tapi setelah melihat Nona Rosa, pantas saja mereka berebut mendapatkan perhatian dari dia.." kata Fikri dengan wajah serius.
"Apaaa...berebut mencari perhatian Rosa..!" seru Rifan marah.
"Iya...yang aku dengan malah mereka sering berlomba memberi bingkisan pada gadis itu, pasti yang mereka maksud si Rosa...hanya saja yang aku dengar gadis itu dingin dan cuek, tak ada satupun pemberian mereka yang dia terima hingga mereka sampai sekarang kesulitan untuk mendekatinya..." kata Fikri melanjutkan . mendengar perkataan Fikri terlihat wajah Rifan memerah karena marah. Dia takut Rosa akan terkena rayuan para karyawannya.
"Dikra, Fikri...cari cara agar gadis itu bisa bekerja di sini di ruanganku..!" seru Rifan marah.
"Fik..elo ngomong apaan sich...tu lihat hasil omonganmu..." bisik Dikra pada Fikri.
"Eee..aku ngomong sebenarnya Dik.. Mulanya gue heran dan penasaran , tapi setelah melihat orangnya , gue tahu kenapa mereka berebut mencari perhatian si Rosa itu...!" kata Fikri lagi.
"Sudah bisik- bisik kalian..." kata Rifan Dingin.
"Ee...sudah Bos ..." jawab Fikri sambil tersenyum masam. Sedang Dikra hanya bisa tertunduk .
"Kalau begitu cari cara agar Rosa bekerja di sini, di dekatku..." ucap Rifan datar dan dingin.
"Kenapa tidak langsung di pindahkan saja Bos..." kata Dikra mengusulkan.
"Tidak semuda itu Dik...kau lihat tadi wajah perlawanan yang dia tunjukkan pada kita , seandainya dia seperti Rosa yang ada dalam laporanmu, pasti dia akan takut di pecat. Tapi ternyata dia seperti tidak takut pada apapun..." ucap Rifan kesal.
"Baiklah Bos kami akan mencoba membuat Dia mau berkerja di ruangan ini...." jawab mereka serempak.
"Oh ya Bos, gimana kalau dia menjadi asisten pribadi sekaligus bodyguard Bos Rifan...." Fikri mengusulkan.
"Ide yang bagus Fik...!" seru Rifan terlihat agak senang.
"Tapi gimana caranya...?" lanjut Rifan.
"Kita lihat dulu situasinya dech Bos..." jawab Fikri bingung juga.
"Lalu laporan kami...?" tanya Fikri kembali .
"Tunda dulu...aku malas mendengar laporan kalian , sekarang kalian boleh keluar..." jawab Rifan yang lagi bad mood.
"Baik Bos..kami keluar dulu..." kata Dikra yang tahu kalau si tuan besar lagi resah hatinya . Mereka segera keluar dari ruang Rifan . Ketika sampai di luar ruangan Rifan, Fikri berkata.
"Dik tumben Bos sampai segitunya sama Nona Rosa...bukankah sejak dulu Bos alergi pada wanita..." bisik Fikri .
"Kau tidak tahu kalau Nona Rosa beda dengan gadis lain..." kata Dikra pelan.
"Maksud elo...?" tanya Fikri penasaran.
"Sebab Bos Rifan tidak alergi pada Nona Rosa , dia tidak mengalami ruam- ruam di tubuhnya.." ucap Dikra menjelaskan .
"Apaa..yang bener Dik...!" seru Fikri tak percaya. .
"Itu Bos Rifan sendiri yang ngomong... Dia pernah bertemu dengan Nona Rosa, saat itu mereka bertabrakan dan Bos Rifan tanpa sengaja memeluk Nona Rosa . dan saat itu terjadi Bos Rifan menyadari kalau dia tidak mengalami alergi apapun..." kata Dikra menjelaskan.
"Hebat...waah...sungguh kebetulan sekali...terang saja Bos Rifan tidak ingin melepas gadis itu.." ucap Fikri dengan perasaan kagum.
Mereka segeta masuk kedalam lift untuk kembali keruangan kerja mereka.
Sedang di pantri. terlihat Rosa yang masih kesal dengan tingkah Bos pemilik perusahaan ini.
"Dasar manusia dingin dan usil. gue yakin ruangannya kembali kotor pasti dia yang melakukan dengan sengaja. apa sich maunya Bos arogan itu..." gumam Rosa kesal. dia kini sedang membuat teh siang untuk para karyawan yang tadi sudah memesan . tak lama kedua pengawal datang . mereka barusan membersihkan ruang rapat yang akan segera dipakai.
"Bos...minuman untuk para tamu sudah di sediakan...?" tanya Mamat.
"Mat...lo tahu kita ada di mana kan...?" kata Rosa tajam.
"He he ..maaf Nona..." ucap Mamat sambil nyengir kuda.
"Sekalu lagi kau lupa, habis kau..." ucap Rosa sambil menatap tajam Mamat .
"Maaf Non...Mamat tak akan mengulangi lagi..." jawab Mamat sambil mengangkat tangannya yang berbentuk huruf V .✌
"Kali ini aku maafkan kau...oh ya , itu minuman para tamu ada di atas meja, apa para tamu sudah datang Mat...?" tanya Rosa lagi. Kini wajahnya sudah kembali seperti biasa. .
"Belum, mungkin sebentar lagi..." jawab Mamat. namun pembicaraan mereka terpotong dengan kedatangan tante Vio kedalam ruang pantri .
"Ros...kamu di panggil oleh tuan Rifan , kau di suru keruangannya ..." ucapnya pada Rosa .
"Saya Tan..?" tanya Rosa sambil menunjuk dirinya sendiri .
"Iya kamu...cepetan sana, nanti tuan Rifan keburu marah..." lanjut tante Vio.
"Lo Tan ,Rosa baru saja datang dari sana, masak sudah di panggil lagi...?" tanya Rosa tak percaya.
"Mana tante tahu Ros...beliau minta Kamu datang kekantornya sekarang juga, sudah cepat kesana ..keburu beliau marah,...!" seru Tante Vio sambil menarik tangan Rosa yang masih enggan berjalan. Sedang kedua pengawalnya hanya bisa bengong tanpa bisa membantu . akhirnya Rosa pergi juga ketempat ruangan sang tuan Rifan yang berkuasa. ketika sampai di depan ruangan Rifan , Rosa melihat Bu Nisa baru keluar dari ruangan Rifan sang Bos Arogan .
"Rosa ..kau sudah datang...?" kata Bu Nisa sambil tersenyum.
"Iya Bu...apa benar Rosa di panggil kemari lagi....?" kata Rosa dengan nada kesal.
Mendengar ucapan Rosa Bu Nisa terkekeh.
"Iya...itu kamu sudah di tunggu di dalam, cepat sana masuk..." kata Bu Nisa lembut
"Emangnya ada apaan sich Bu... bukannya nisa baru juga dari sini...?" tanya Rosa lagi.
"kau jangan memanggilku Ibu, panggil saja aku dengan panggilan kakak, secara umur kita tidak terlalu jauh kan Ros,..dan aku juga tidak tahu kenapa tuan Rifan memanggilmu , ya sudah cepat temui dia...." kata Bu Nisa sambil tersenyum.
"Baiklah kalau itu kemauan kakak, kalau begitu aku masuk dulu kak..." kata Rosa sambil membuka pintu ruangan Rifan . terlihat Rifan masih berada di depan leptop miliknya .
"Tuan memanggil saya...?" tanya Rosa sambil menatap pada Rifan dengan wajah datarnya .
mendengar perkataan Rosa , Rifan mengalihkan tatapan dari layar letopnya kearah wajah Rosa.
"Benar...tolong kau bersihkan cangkir bekas minuman itu, dan sekalian tolong kau pilihkan baju untuk kupakai dalam rapat sebentar lagi..." kata Rifan dengan tenang .
"Lo...bukannya tuan sekarang sudah memakai baju dengan rapi , kok mau ganti baju lagi.. ?" tanya Rosa heran .
"Aku gerah dan ingin mandi, lagian bajuku sudah kotor, kau bisa menyiapkan saat aku mandi..." katanya dengan tenang .
"Tunggu...mana mungkin saya tahu selera tuan..lagian saya bukan asisten pribadi tuan yang harus menyiapkan keperluan tuan Kan...?" kata Rosa beralasan.
"Kalau begitu mulai sekarang kau jadi asisten pribadiku saja...!" seru Rifan cepat.
"Oo tidak, tidak, tidak...itu tidak mungkin, mana bisa saya jadi asisten pribadi tuan Rifan yang terhormat,. maaf tuanku, lebih baik sekarang saya akan menyelesaikan tugas saya, lalu saya akan segera pergi Okey...!" ucap Rosa sambil melangkah menuju meja ruang tamu, melihat Rosa yang mulai bekerja, terlihat senyuman di bibir Rifan.
"Aku akan mandi , kau bisa menyiapkan baju untukku..." ucapnya sambil berdiri.
Rosa hanya melirik sekilas kearah Rifan yang melangkah kedalam kamar pribadinya . Dan dengan sengaja Rifan membuka pintu kamarnya. setelah melihat Rifan masuk kekamar mandi, Rosa segera masuk kedalam kamar pribadi sang Bos. dia segera masuk kedalam Walk in Closet mini milik sang CEO. Dia segera memilihkan baju yang ada di dalam ruangan itu. setelah memilik baju lengan panjang putih dan jas serta celana panjang hitam serta dasi yang senada dengan warna baju dan jas yang akan dipakai . Ketika dia sedang menaruh baju dan jas itu di atas pembaringan sang CEO dan Baru saja dia akan melangkah keluar dari ruangan , tiba- tiba terdengar pintu kamar mandi berbunyi. Reflek Rosa menatap pintu kamar mandi yang terbuka , tak lama terlihat Rifan keluar hanya memakai handuk di pinggangnya. Rosa yang melihat tubuh Rifan setengah telanjang. berteriak dan lari keluar ruangan sambil menutup mukanya .
"Sialan dasar pria gila...!" seru Rosa memaki pelan. terlihat wajahnya yang memerah karena malu. dia segera keluar dari ruangan Rifan sambil membawa cangkir dan talam dari ruang Rifan. Sedang Rifan terkekeh karena sangat senang menggoda Rosa .
Saat itu Rosa terlihat wajahnya yang masih merah karena marah dan malu.
"Rosa ada apa...?" tanya Nisa ketika Rosa berbicara sendiri dan terlihat wajahnya yang memerah .
Mendengar teguran Nisa Rosa tersadar.
"Ah...itu kak ada buaya di dalam kamar tuan Rifan..." ucap Rosa sekenanya.
"Yang bener Ros...?" kata Nisa kaget.
"Beneran kak...tu ada buaya darat...!" ucap Rosa terlihat kesal . mendengar omongan Rosa hampir saja Nisa tertawa keras, kalau tidak karena Nisa sadar siapa yang di maksud buaya darat oleh Rosa. pasti tawanya akan terdengar keras saat ini. Dia melihat Rosa berjalan pergi sambil ngedumel.
"Kau memang gadis unik Ros...Semua gadis ingin memiliki kesempatan dekat dengan Bos Rifan, tapi kau yang memiliki kesempatan itu malah tidak menginginkannya. dasar gadis unik..." gimana Nisa sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama Sang CEO keluar dari ruangannya.
"Kemana gadis itu...!" tanya Rifan pada Nisa.
"Dia sudah pergi sambil marah- marah tuan.." ucap Nisa pada Rifan.
"Dasar gadis lucu...kau semakin membuatku jatuh cinta karena kepolisanmu gadisku..." ucap Rifan sambil tersenyum bahagia .
Sedang Nisa yang berada di depan pintu dan sedang menatap sang Atasan menjadi terpanah, sebab selama dia menjadi sekertaris Rifan, tak pernah sekalipun Rifan tersenyum seperti sekarang ini. hingga membuat wajah tampannya semakin terlihat sangat memikat.
"Apakah para memegang saham sudah datang Nis..." tanya Rifan dan Wajahnya sudah kembali seperti semula. dingin dan kejam.
"Sudah tuan...mereka sudah menunggu tuan di tempat rapat..." Jawab Nisa .
"Kalau begitu ayo kita kesana..." kata Rifan lagi .
Cukup dulu ceritanya Ya...jangan lupa. like, vote dan komennya author tunggu. dan Maaf terlambat uo date hari ini
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 75 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒅𝒂𝒔𝒂𝒓 𝑹𝒊𝒇𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂" 𝒂𝒋𝒂 🤦♀️🤦♀️
2024-11-10
0
Atoen Bumz Bums
Rosa mau mau aja nurut
2025-02-03
0
Sandisalbiah
jgn terlalu ngotot Rifan.. bakal kabur beneran si Rosa nya entar.. Rosa bukan tipe cewek yg gampang baper jd harus pakai trik yg cerdik buat deketin dan meluluhkan hatinya
2024-08-26
0