Eps. 9

Setelah kembali ke kota M, Sean berencana melihat kondisi perusahaan RVS miliknya.

Sekarang dirinya sudah berada dalam ruangan kantor pribadi miliknya sendiri di perusahaan RVS dengan ditemani sekertarisnya.

Sean dapat melihat semua data-data perusahaan tidak ada masalah sama sekali.

Lalu dirinya bisa simpulkan bahwa semua berjalan dengan baik dan benar tanpa ada masalah sama sekali.

Saat sedang memeriksa semua laporan dalam berkas-berkas yang ada, Sean dengan sang sekertaris menoleh kearah pintu karena terdengar suara ketukan disana.

"Masuk" jawab Sean.

Setelah pintu terbuka nampaklah seseorang yang dikenal oleh Sean masuk kedalam ruangannya sendiri.

"Liu" panggil Sean.

Liu yang juga terkejut mendapati temannya berada dalam ruangan Presdir.

"Sean, kamu pemilik perusahaan ini?" tanya Liu tidak percaya.

"Benar, kemarilah" ucap Sean.

Liu mendekat sambil membawa berkas-berkas ditangannya.

"Lao Shi, urus berkas yang ada ditangan Liu segera dan tinggalkan kami berdua disini" ucap Sean memberikan perintah pada sang asisten.

"Baik tuan, nona Liu biarkan saya yang menyelesaikan pekerjaan anda hari ini" ucap Lao Shi sopan karena tahu ada suatu hubungan diantara bos barunya sekarang ini dengan nona Liu.

"Ah baik, dan maaf merepotkan anda tuan Lao" jawab Liu sambil menyerahkan berkas-berkas ditangannya pada Lao Shi.

Setelah Lao shi pergi dari sana, Sean berdiri dari duduknya dan menghampiri Liu.

"Ayo duduk sini" ucap Sean sambil duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan tersebut.

Mereka duduk berdampingan.

"Aku tidak tahu kalau kamu bekerja disini ketua kelas" ucap Sean.

"Isshh! Aku bilang jangan panggil begitu" ucap Liu dengan cemberut dan memalingkan muka kesamping dengan tangan menyilang di dada.

"Hahaha, maaf-maaf Liu"

"Jadi kau bekerha disini rupanya" ucap Sean.

"Benar, sudah satu tahun aku bekerja disini" jawabnya.

"Kau dibagian apa?" tanya Sean.

"Kepala tim pemasaran" jawab Liu yang kembali menatap Sean.

"Apakah kau ingin naik jabatan?" tanya Sean.

"Tidak terimakasih, aku tahu kau pemilik disini namun aku ingin berusaha dengan usahaku sendiri untuk mencapai posisi yang bisa aku capai setinggi-tingginya" jawab Liu.

"Ketua kelas memanglah ketua kelas, sifatnya tidaklah berubah sama sekali" jawab Sean.

"Isshh! tau ah kamu panggil aku gitu lagi" ucap Liu kembali cemberut.

"Ahahaha, maaf-maaf soalnya sudah kebiasaan dari dulu panggil kamu begitu" jawab Sean.

Seketika Liu teringat sesuatu.

"Sean, nanti malam akan ada reuni dengan teman-teman kampus dulu. Apakah kamu akan ikut?" tanya Liu.

"Reuni ya.....entahlah" ucap Sean.

"Ayolah, ikut ya plis" mohon Liu sambil menampilkan wajah imut.

"Bagaimana ya....coba kamu bujuk aku Liu agar mau ikut" jawab Sean.

Liu segera berpikir bagaimana caranya membujuk Sean agar mau ikut dalam pesta reuni kelas malam ini.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Liu.

Sean memasang senyuman penuh kemenangan pada wajahnya.

Dan secara tiba-tiba menerkam kearah Liu, Sean menindih tubuh Liu dengan menahan kedua tangannya keatas dengan menggunakan satu tangan.

Sedangkan Liu yang mendadak diterkam oleh Sean tidak dapat bereaksi untuk menghindar dan hanya bisa pasrah menerima keadaan sekarang.

"A-apa yang kamu coba lakukan padaku?" tanya Liu dengan suara lirih.

"Ehm....apa ya" ucap Sean.

"Le-paskan Sean, bisa-bisa ada orang lain melihat dan akan jadi salah paham" ucap Liu yang wajahnya sudah merona merah.

"Tapi aku masih belum dapat yang aku inginkan" ucap Sean makin menggoda.

"A-pa yang kamu inginkan" ucap Liu bertanya.

Sean tidak menjawab dan malah menghirup aroma wangi pada leher Liu, yang sukses membuatnya mengerang imut.

Sean yang merasa sudah puas menggodapun melepaskan Liu.

"Huft....huft....kamu nakal, dasar mesum!!" teriak Liu dengan wajah merona merah sambil kembali duduk.

"Hahahah maaf-maaf deh, habisnya kamu cantik sekali dan wangi" jawab Sean jujur.

"Tau ah!" ucap Liu sambil cemberut.

Sean melihat hal tersebut tersenyum simpul dan kemudian berkata "baiklah aku akan datang dalam pesta reuni nanti malam, kanu puas?"

Seketika Liu berbalik menatap Sean dengan mata berbinar-binar dan berkata "benarkah?"

"Iya, benar" jawab Sean.

"Asik" ucap Liu sambil melompat kedalam pelukan Sean.

Dengan reflek Sean menerima pelukan Liu, dan mereka meniknati momen tersebut sesaat sampi Liu tersadar bahwa dia telah bersikap berlebihan dan segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Sean.

"Maaf aku terlalu gembira" ucap Liu.

"Tidak masalah, kalau begitu kembalilah bekerja dan sampai ketemu nanti malam" ucap Sean sambil beranjak pergi dari sana.

Tepat sebelum Sean keluar dari dalam ruangan tersebut, Liu memanggilnya dan berkata "Sean, tunggu sebentar"

Sean menghentikan langkah kakinya saat akan melangkah keluar, dan berbalik menatap Liu yang juga menatap balik kearah dirinya.

"Kenapa?" tanya Sean.

"Nanti malam, jemput aku dirumahku" jawab Liu.

"Baiklah, nanti kirimkan alamat rumahmu padaku dan akan kujemput. Juga jam berapa acaranya dimulai?" tanya Sean.

"8 Malam di Shangai Maiden" jawab Liu.

"Baiklah, sampai jumpa nanti malam" ucap Sean sambil kenbali melangkah pergi dari sana.

... -------...

Saat ini Sean sedang berada di taman duduk santai, sambil cuci mata melihat para gadis-gadis cantik yang lewat disana.

Sampai seseorang memanggil namanya.

"Sean" suara itu terdengar berat seperti layaknya suara seorang laki-laki, namun terdengar akrab dalam pikirannya.

Sean menoleh kebelakang dan menemukan sosok yang dia kenal sebagai kakak dari Ji Luoxue dengan orang-orang pakaian hitam yang dibawanya.

"Ada apa?" jawab Sean mencoba ramah.

"Ikut denganku" jawabnya.

"Kemana?" tanya Sean.

"Menuju kediaman keluarga Ji" jawabnya kembali.

Tanpa bertanya kembali, Sean segera mengikuti orang-orang tersebut dengan menggunakan mobilnya menuju kediaman keluarga Ji.

Setibanya di kediaman keluarga Ji, Sean disambut dengan cukup baik menurutnya.

Saat ini Sean berhadapan dengan sosok pria tua dan pria paruh baya yang mengaku sebagai kakek dan ayah dari Ji Luoxue.

"Anak muda, apa hubunganmu dengan Luoxue?" tanya pria paruh baya.

"Aku temannya" jawab Sean.

"Kau temannya? Bukannya dengan taruhan yang kalian lakukan saat balapan jalanan sekarang ini Luoxue adalah budakmu?" tanya si pria tua.

Sean mulai paham kemana arah tujuan pembicaraan ini akan berlangsung, jadi tidak usah menebak-nebak lagi.

"Aku sudah membatalkan kontraj tersebut, dan sekarang kami hanyalah teman biasa tidak ada kelebihan apapun" jawab Sean jujur.

"Begitu, tapi karena aku masih ingin menguji kelayakanmu sebagi teman dari cucuku. Maka kau harus menerima ujian dari kami" ucap si kakek.

"Ujian? Kayak sekolah aja, tapi apapun itu akan kulakukan asalkan ada harga yang harus dibayar" jawab Sean.

"Apa yang kau inginkan?" tanya sang pria paruh baya.

"Berikan kebebasan bagi Luoxue dalam segaoa keinginan dan keputusannya saat bertindak dan memutuskan" jawab Sean.

"Baik, tapi jika kau kalah harus jadi bawahan kami" jawab sang kakek tua.

"No Problem" jawab Sean.

Tak lama setelag kesepakatan dicapai, ada banyak orang dengan pakaian hitam-hitam muncul di sekeliling Sean, sekitar 15 orang dengan senjata tumpul berupa pemukul basebal dan 10 orang dengan tangan kosong serta 5 orang menggunakan pisau.

"Jadi ujiannya cuma bertarung nih? Baiklah ayo lakukan!!!" ucap Sean sambil menerjang orang didepannya dan memberikan pukulan cepat dan kuat.

Buagk!

Buagk!

Buagk!

Tiga orang roboh seketika setelag terkena pukulan uppercut dari Sean, kemudian tendangan berputar diberikan oleh Sean yang berhasil mengenai dua orang pada bagian lehernya masing-masing.

Sisa yang lainnya makin gencar menyerang Sean dari berbagai arah sampai hawa disekitaran sana benar-benar terasa panas dan pengap.

Namun bagi Sean semua masihlah dapat diatasi selama tidak ada senjata api diantara mereka semua, walau ada kemampuan Raja Pembunuh akan tetap sulit jika berhadapan langsung melawan orang sebanyak ini apalagi dengan ditempat terbuka seperti sekarang.

Dan akan tambah merepotkan jika harus ada senjata api diantara kerumunan orang-orang ini.

Terus dan terus Sean melakukan pola serangan yang sama yaitu bertahan dan menyerang, walau tidak terlalu banyak mengeluarkan variasi serangan namun itu sudah cukup untuk menumbangkan mereka semua.

Hingga akhirnya dalam 2 menit semua orang-orang suruhan keluarga Ji sudah terkapar diatas tanah dalama berbagai kondisi dari ringan hingga parah.

"Huft.....selesai, apakah kalian keberatan dengan hasil ini?" tanya Sean sambil menatap kedua pria dihadapan dirinya.

"Hahahah, anakku memang punya mata yang bagus dalam mencari teman" ucap si pria paruh baya.

"Baiklah kau cocok bagi cucuku" jawab si kakek tua.

"Nak kami hanya ingin bilang semua yang kami lakukan padamu hanyalah sebagai tes kelayakan saja, jadi maafkanlah kami ok?" usul si pria paruh baya disana.

"Yah bukan masalah, selagi tidak terulang lagi dimasa yang akan datang kedepannya" jawab Sean.

"Baiklah, mari masuk dan temui Luoxue yang sedari kemarin mengurung diri dalam kamarnya belum keluar-keluar" jawab sosok pria paruh baya tersebut.

Mereka bertigapun masuk kedalam kediaman keluarga Ji, dan saling berkenalan satu sama lain dengan semua anggota keluarga Ji yang ada disana.

Selesai kenalan dan berbincang-bincang sejenak, Sean naik kelantai dua rumah tersebut menuju kamar Ji Luoxue dengan diantarkan kakaknya sendiri.

Tepat sebelum Sean akan mengetuk pintu kamar Ji Luoxue, Ji Nan yang merupakan kakak dari Ji Luoxue berpesan "jangan sesekali sakiti hati adikku"

"Baiklah" jawab Sean.

Ji Nan pergi kembali menuju lantai bawah, sedangkan Sean sendiri sekarang mengetuk pintu kamar Ji Luoxue.

Namun setelah mengetuk tiga kali, yang ada Sean menerima jawaban "Pergillah!"

Sean paham bahwa Luoxue mungkin mengira yang mengetuk pintu kamarnya adalah keluarganya sendiri bukan dirinya.

Jadi Sean berkata dari luar kamar Luoxue "Ji Luoxue, kau tidak mau bertemu denganku?"

Ji Luoxue sendiri yang mendengar suara yang familiar baginya segera berjalan kearah pintu dan membukanya.

Benar saja dihadapannya kini ada sosok Sean, yang mana orang yang paling dirindukan oleh dirinya selama beberapa waktu atau beberapa hari belakangan ini.

Sean melihat penampilan Luoxue yang seperti habis menangis dengan mata sembabnya, segera tersenyum dan merentangkan kedua lengannya sebagai suatu tanda.

Ji Luoxue melihat hal tersebut segera menghambur kedalam pelukan Sean dan memeluknya begitu erat.

Sean juga memeluk Ji Luoxue dengan senang hati.

Bersambung......

Jangan lupa kasih dukungan kalian.

Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang.

Terimakasih.

Terpopuler

Comments

Rino Wengi

Rino Wengi

membosankan

2025-03-19

0

thor bodoh buat cerita sampah. mati klu xkuat lg buat baik ke sampah punya cerita. tolol thor.

2024-09-27

1

Malaikat Maut

Malaikat Maut

seperti makan anjinggg ceritanyaaa...

2024-07-16

3

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!