"Kuda Voni, kenapa kamu tidak jujur kalau Delia sudah punya pacar" Mobil Rendy telah sampai di apartemen Voni.
"Delia?, punya pacar?, dapat info dari mana Captain?"
"Nggak penting aku dapat info dari mana, yang pasti kamu sengaja memanfaatkan kebaikan ku, makanya kamu berbohong."
Voni merasa seperti di fitnah, dia memukul pundak Rendy "Eh Capt, jangan menuduh sembarangan, kalau tau akhirnya kayak gini, aku nggak bakal mau bantuin Captain buat deketin Delia, aku nggak tau Captain dapat info dari siapa? tapi yang pasti Delia tidak seperti itu, dia memang belum punya pacar," sungut Voni "Ohhh apa jangan-jangan Captain Rendy ditolak Delia, makanya Captain kayak gini?, ternyata Captain Rendy sama Captain Abian sama saja, sama-sama menyebalkan."
"Kenapa jadi bawa-bawa Captain Abian?."
"Karena kata Delia, Captain Abian menyebalkan, orang yang sering deketan emang begitu, sifatnya nular, kayak penyakit."
"Eh kenapa kamu jadi marah sama aku?" Rendy bingung sendiri.
"Pikir aja sama Captain, mana ada teman yang temannya di jelekin bakal diam saja." Tanpa berterima kasih, Voni turun dari mobil Rendy.
* * *
"Tante," Panggil Arsyi pada Delia, membuat Delia yang sempat melamun kini bisa menatapnya.
"Iya," jawab Delia.
"Tante bisa kasih adik bayi buat om Bian?"
"Hah?"
Tidak hanya Delia, semua yang berada disana dibuat terkejut atas pertanyaan Arsyi. Delia kemudian melirik Abian yang diam menahan geram, dengan mengeratkan pegangan pada sendok, ingin dia menyumpal mulut keponakanya itu dengan sekop pasir agar bisa diam.
"Soalnya kan mama udah punya aku, tante Arini udah punya Almira, tinggal om Bian yang belum punya adek bayi, kata mama, kalau om Bian mau punya adek bayi, om Bian harus_ apa tuh namanya Ma?, Arsyi lupa?"
Kembali Arumi hanya nyengir pada Delia, tak ada rasa bersalah dari raut wajahnya, dia kini melihat anaknya "Aduh apa ya, Mama juga lupa." Arumi beralasan.
"Ih Mama pura-pura lupa."
Abian memejamkan matanya sejenak, sungguh dia malu bukan main atas cerita polos keponakanya, dan itu semua pasti cerita karangan sang kakak.
Citra keluarganya seketika runtuh didepan Delia.
Bukannya marah Delia malah gemas oleh celotehan polos keponakan Abian. Jujur Delia mulai merasa senang dan nyaman berada ditengah-tengah keluarga Abian, selain merasa sangat disayang dan diterima, keluarga ini penuh kehangatan.
Ternyata anak Arumi belum juga selesai dengan ceritanya. "Mama bilang juga kan, kalau grandma pura-pura sakit supaya tante yang mau bikinin dede bayi buat om Bibi mau datang?."
"Oh Arumi, kepala mama mendadak migrain." Amanda memijit kepalanya "Kamu kasih makan apa anak kamu?, cepat suruh dia selesaikan makanya, tidak boleh banyak cerita saat di meja makan." Amanda tak kalah malunya, rahasianya di bongkar oleh sang cucu didepan Delia "Astaga, kenapa cucu Grandma jadi pandai bicara?" Amanda benar-benar dibuat pusing, antara malu terhadap Delia, tapi juga ingin tertawa atas cerita polos cucunya.
"Keturunan Philips Hamzah kenapa jadi kacau, Ma, aku dulu menikahi mu karena aku kagum atas keanggunan dan pesona mu, tapi kenapa setelah menikah semua baru terbongkar?. Terlebih sekarang kamu sudah jadi nenek-nenek." Papa Abian yang juga merasa malu, mencoba menutupi dengan mencairkan suasana.
Kini mama jadi tersulut denganucapansuaminya. "Jadi kamu menyesal Pa?, setelah kita memiliki cucu?, jahat sekali mulut mu."
"Bukan begitu Ma, cuma aku tidak menyangka ini akan menurun pada cucu cantikku, padahal aku ingin anak cucuku menjadi wanita yang anggun, dan jika bicara bisa sesuai umur dan masuk ke otak, ini kenapa semua menuruni kegilaan kamu?, adakah diantara mereka yang terlahir waras seperti aku?."
Kini malah mama dan papa Abian yang bertengkar.
"Jadi menurut Papa, Mama tidak waras?, Papa pikir semua salah Mama?, apa Papa nggak sadar kalau mereka juga menurun dari sifat kamu?. Papa tega, apa sekarang Papa punya wanita lain sehingga Papa bicara seperti itu sama Mama?, apa dia lebih waras dari Mama?." Mama Abian berdiri, bertolak pinggang pada suaminya.
"Oh Arsyi, tolong Granfa, Grandma marah-marah sama Granfa. Granfa sudah setua ini, apa ada yang mau sama Granfa?, mungkin Granfa memiliki sugar baby akan menyenangkan."
"Papa!!." Protes Abian dan Arumi bersamaan.
"Papa kenapa ngomong gitu sama Arsyi?, Papa mencemari telinga cucu Papa."
"Sudah-sudah kenapa jadi mama dan papa yang bertengkar?" Abian menyudahi perdebatan kedua orang tuanya, jika tidak dilerai ini tidak akan selesai sampai perang dunia ketiga, beruntung mereka sudah selesai makan.
"Ma, tolong selesaikan kekacauan ini, Abian tidak ikut campur, Abian sudah selesai." Abian melihat Delia "Delia ayo bersiap-siap, saya antar pulang."
"Abian, Mama belum bicara pada Delia, jangan bawa dia kemana-mana?"
"Ini sudah malam Ma, Delia harus istirahat."
"Delia tidak akan pulang, Delia tetap disini, kamu mau tidur disini kan sayang?" Amanda memohon pada Delia.
Jika sudah begini, Delia lah yang dilanda kebingungan, sebenarnya Delia ingin sekali pulang, dan langsung merebahkan diri dikasur, bermalas-malasan, memanjakan diri bersama Voni, tapi melihat wajah mama Abian, Delia jadi tak tega, walau dia sempat di bohongi.
Akhirnya Delia mengangguk, mengabulkan keinginan mama Abian yang ingin dia menginap.
"Delia." Abian terperangah, tidak percaya dengan keputusan Delia. "Delia kita harus bicara." tatap Abian tajam Delia.
"Tidak Abian, jangan kau pengaruhi Delia untuk membatalkan keputusannya."
"Abian hanya ingin bicara sebentar Ma."
"Baiklah Mama izinkan, awas kamu mengancam Delia, Delia katakan pada Mama jika Abian mengancam kamu."
"Iya, Ma."
Mama? Kenapa jadi Delia memanggil mama?.
Abian membawa Delia ka taman belakang rumah mereka, disana terdapat kolam renang yang cukup luas, ada dua kursi santai dengan model garis-garis hitam putih disana.
"Kamu senang Delia?, mama ku menyukaimu?"
"Kenapa saya harus nggak senang?, ada orang baik sama kita harus di hargai, terlebih itu orang tua. Emang Captain orang yang tidak bisa menghargai orang lain."
"Jadi kamu merasa bangga mama saya suka kamu?, aku yakin bukan karena mama, tapi karena kamu suka aku kan Delia?"
"Oh astaga Capt, kenapa Captain selalu percaya diri?. Saya menyetujui ini karena saya merasa mama Captain baik sama saya, jika pun mama Anda mau menjodohkan saya dengan Anda, saya pasti akan menolaknya, saya nggak mau menikah dengan laki-laki yang mulutnya bisa tukar tambah sama panci."
Abian merasa panas dikatai Delia, Abian menarik pergelangan tangan Delia hingga Delia menubruk dadanya, beruntung Delia menahan dengan tangannya, hingga dadanya tak sampai bersentuhan dengan dada Abian.
Abian menundukkan pandanganya, tersenyum menyeringai, Delia seperti sedang memancingnya, seburuk inikah dia dimata Delia?, Abian bisa melihat wajah Delia yang begitu dekat dengannya. Pandangan Abian langsung jatuh ke bibir merah muda Delia, tangan Abian terangkat, mencengkram dagu Delia hingga membuat bibir itu membela, terlihat begitu menggoda.
Tanpa diduga, Abian langsung menyambar bibir yang suka membantahnya, menses4p bibir yang terasa manis itu, tangan Delia yang berada di dada Abian mendorong tubuh tegap itu, namun sayangnya Abian malah merengkuh pinggang Delia hingga tubuh mereka merapat, walau tak mendapat balasan dari Delia, namun Abian tetap menggerakkan bibirnya, *3***** bibir atas dan bawah Delia bergantian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Siti Marwah
yqaah malah nyosor blm apa²..gimana sich capt.
2024-10-13
0
Sintia Dewi
gila abian km mau sosor aja..delia marah tau rasa km/Facepalm/
2024-08-21
0
ira
bian ini ambil kesempatan ya🤭🤣
2024-08-17
0