"Jam terbang baru kenapa harus terbang sama saya?" Abian menegur Dewi selaku ketua pramugari.
"Maaf Capt, karena saya rasa walau jam terbang baru selama penerbangannya Delia sudah bertugas dengan sangat baik, dia juga pintar dalam bahasa asing, makanya saya menunjuk Delia."
"Nyatanya tadi dia melakukan kesalahan." ucap Abian "Ini baru disini, bagaimana kalau sudah terbang?, dan ini penerbangan internasional." Abian masih tak yakin dengan ucapan Dewi.
"Saya bisa menjaminya Capt." Dewi menyakinkan. "Harap maklum bukan?, Captain merupakan Captain idola disini, dan ini pertemuan pertama Captain dengan Delia, saya rasa bukan hanya Delia yang bersikap seperti tadi, salahkan wajah Captain yang memiliki wajah tampan hingga membuat para wanita kagum."
Dewi mencoba mencairkan suasana, dia tak mau karena hal sepele penerbangan menjadi kacau, dan Dewi tak mungkin merubah jadwal pramugari lagi. Dewi tahu, Abian adalah pilot yang ingin semua serba sempurna. Dan itu berhasil membuat hati Abian sedikit mencair, Dewi mengingatkannya pada mamanya, wanita yang tidak pernah mau kalah.
"Jika dia melakukan kesalahan lagi, jangan pernah buat dia terbang sama saya."
"Baik Capt." Dewi menundukkan kepalanya hormat, walau usia Dewi lebih tua, namun dia harus tetap patuh pada pilot, karena pilot yang mengendalikan penerbangan dan dia harus bisa membuat hati pilot tak kacau.
Pembicaraan mereka nyatanya masih bisa didengar para pramugari karena Abian dan Dewi membahasnya masih diruangan yang sama.
Dalam hati Delia mengumpat, "Sombong sekali Captain Abian, mentang-mentang memiliki wajah tampan dan diidolakan banyak orang dia bisa bersikap arogan, aku sumpahin dia nggak laku dan jadi bujang lapuk karena memiliki mulut yang terlalu pedas."
"Selamat pagi semua."
"Pagi Capt"
"Hari ini kita akan melakukan penerbangan Jakarta-Guangzhou, dengan waktu tempuh empat belas jam dua puluh lima menit. Tanpa transit atau one way trip tahu artinya, kita akan ada diperjalanan yang cukup panjang, saya harap kalian semua sehat dan selalu fokus." Abian melirik Delia tajam yang secara spontan Delia menyipitkan matanya menantang tatapan Abian. "Jika ada yang melakukan kesalahan kalian akan saya jatuhkan dari ketinggian."
Booommm.
Bagi yang sudah biasa terbang bersama Abian itu hanyalah candaan semata dan ditanggapi dengan kekehan para awak kabin, tapi tidak untuk Delia, Delia membuang nafas lewat mulut merasa konyol dengan ucapan sang Captain.
"Berasa kayak dia yang punya maskapai, main dorong anak orang." gumam Delia yang tanpa Delia sadari bahwa gerak gerik Delia selalu diperhatikan Abian.
Saat dipesawat, seluruh awak kabin termasuk Delia, memeriksa kesiapan pesawat, apakah aman terkendali?, apakah semua berfungsi dengan baik?, menyemprotkan disinfektan, memeriksa lampu darurat, dan memeriksa kebersihan pesawat serta kesiapan yang lainnya.
"Pramugari tadi cantik ya Capt" ucap Rendy saat mengecek sistem control pesawat.
"Semua pramugari cantik Ren." jawab Abian cuek.
"Captain mah enak udah ada pasangan, kayaknya pramugari tadi masih jomblo, dan polos-polos gimana gitu." Rendy menatap Abian yang fokus mencocokkan data "Tadi namanya siapa Capt?"
Abian kini mengehentikan aktivitasnya dan beralih menatap Rendy "Aku nggak inget, nggak penting banget, lagian banyak pramugari yang lebih cantik dari dia, kenapa kamu malah penasaran sama pramugari nggak profesional itu?"
"Wajahnya adem dilihatnya, berasa kayak ngadem di masjid." jawab Rendy menerawang wajah Delia. "Ahhh lupa wajahnya, aku keluar sebentar ya Capt, semua sudah oke kan?" tanyanya sebelum keluar dari kokpit atau Flight Deck.
Membuat Abian berdecak "Udah sana, jangan lama-lama."
Rendy melenggang keluar dengan senyum mengembang diwajahnya, dia kini semakin bersemangat terbang, karena ada wajah baru yang akan membuatnya berbunga-bunga.
Kebetulan Delia sedang berada di galley atau dapur pesawat.
"Hai, kamu pramugari baru tadi kan?" Rendy berbasa-basi.
"Eh iya, ada yang bisa saya bantu Capt?" tanya Delia dengan senyum ramah.
"Ada makanan apa, aku bagi donk, tadi baru sarapan sedikit" Rendy menepuk perutnya yang memang masih sedikit lapar. "Sama kalo ada kopi cappucino sekalian ya." pintanya.
"Ya ampun, kasian banget sih Capt, kebetulan tadi aku bawa roti sandwich, Captain mau?." Rendy mengangguk dengan pandangan tak luput dari wajah Delia. Delia segera memberikan roti miliknya. "Buat Capt semua, aku bawa persediaan banyak kok."
"Makasih ya Delia, nanti kalau sudah sampai Guangzhou aku traktir kamu." Rendy mengambil roti yang Delia berikan lalu mengangkatnya.
"Nggak papa Capt, aku ikhlas kok." Delia merasa senang karena sikap ramah Rendy yang sangat berbanding terbalik dengan sikap Abian "Nanti kopinya saya antar saja Capt."
"Oke, thank you Delia." Rendy mengedipkan mata kirinya sebelum hilang dari pintu kokpit membuat Delia geleng kepala.
Abian mengerutkan keningnya saat mendapati Rendy yang duduk dengan membawa roti ditangannya.
"Hmmm rasa rotinya enak banget, kalau kita terbang bareng Delia terus, kayaknya aku bakal diperhatiin banget Capt."
Rendy mengunyah roti pemberian Delia yang padahal rasanya tak jauh beda dengan roti biasa pada umumnya, hanya saja karena yang makan sedang kasmaran, mungkin jika roti itu sudah kadaluarsa juga Rendy tetap akan tetap mengatakannya enak.
"Terserah deh Rend, jangan sampai kamu ketularan nggak fokus karena roti dari pramugari itu."
Tak lama terdengar pintu kokpit yang diketuk, ternyata Delia yang datang dengan dua kopi ditangannya.
"Kopinya Capt." Delia memberikan satu kopi pada Rendy dan Rendy mengucapkan terima kasih, dan satu kopi pada Abian, namun Abian menolaknya.
"Saya nggak minum kopi dari orang baru, nanti saya ketularan nggak fokus." ucap Abian tanpa memikirkan perasaan Delia.
Sungguh ucapan Abian membuat Delia tersulut "Apakah seperti ini sifat seorang Capt dengan pendidikan tinggi? oh astaga Capt, jika Anda memang tidak mau sebaiknya Anda cukup menolak tanpa harus berucap demikian" ucap Delia penuh emosi "Sifat Anda ini tidak mencerminkan sifat seorang Captain profesional, tapi lebih rendah dari seorang supir truk." ucap Delia tanpa rasa takut.
Abian sontak bangun dari duduknya dan menghampiri Delia, mendekatkan wajahnya "Jaga sikapmu nona jika masih butuh pekerjaan, dari ucapan mu yang tidak menghormati seorang Captain mu sendiri menunjukkan kualitas dirimu."
Rendy memegang tangan Abian "Capt udah." Rendy merasa tak enak pada Delia, karena dirinya lah Delia sampai harus kembali mendapatkan sifat tak menyenangkan dari Abian.
Delia sama sekali tak gentar, dia yang tadi sempat menciut, namun sejak dia tahu sikap Abian yang sebenarnya, Delia yakin jika Abian sebenarnya bukanlah sosok yang harus ia takuti, seperti seorang yang pendiam.
"Dan aku merasa lebih berkualitas dibanding Anda Capt, karena aku tak akan mempermalukan orang lain didepan umum, yang orang itu sebenarnya mengagumi sosok seperti Anda, dan nyatanya saya salah, Anda bukanlah orang yang harus dikagumi." Delia menunjukkan kopi yang tadi niatnya untuk Abian "Saya tak mengharapkan Anda untuk mengucapkan terima kasih, menghargai pemberian orang lain itu lebih baik dari pada menghinanya."
Tak menunggu jawaban Abian lagi, Delia langsung keluar dari ruang kokpit karena sebentar lagi para penumpang akan menaiki pesawat. Walau sebenarnya ingin sekali Delia menumpahkan kopi itu diseragam kebanggaan Abian. Meninggalkan Abian yang sangat emosi padanya.
"Pikir-pikir lagi Ren kalau kamu mau mengencani pramugari itu, kamu liat sendiri kelakuannya." Abian kembali duduk ditempatnya.
"Kok bisa sih pramugari syaraf kayak gitu lolos seleksi" gerutu Abian.
Rendy mengangkat kedua alisnya, Abian seperti tak sadar diri jika disini dialah yang salah, justru Rendy merasa kagum pada Delia, karena tak takut sama sekali dengan Abian yang notabenenya banyak disukai banyak pramugari, sehingga pramugari banyak yang tunduk padanya.
Saat kembali ke kabin, Delia mengatur detak jantungnya lagi yang sempat emosi tinggi, dia bahkan tak menceritakan pada Voni.
Perjalanan panjang yang ditempuhnya pun, Delia sama sekali tak mengambil waktu istirahatnya, Delia merasa sangat senang, cita-citanya untuk berkeliling dunia benar-benar terwujud, Delia melupakan sakit hatinya akibat pertengkaran bersama sang Captain. Delia jadi mengingat ayahnya, andai ayahnya masih hidup, Delia akan menceritakan bahwa hari ini dia telah keluar negeri seperti yang ayahnya katakan dulu.
Ayah pasti senang aku sekarang udah bisa terbang keluar negeri
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 112 Episodes
Comments
Dia Amalia
semangat Delia gk usah kau hiraukan mulut ceriwis cpat Abian 💪💪💪
2024-08-27
0
Siti Naimah
Delia .ga usah emosi gitu.sabar dan tenang aja.ya memang dalam bekerja pasti ada aja tantangannya.
yang penting fokus aja tujuanmu mau bekerja...
2024-08-23
0
ira
semangat Delia bgs g mudah d tindas
2024-08-17
0