Kejutan

"Siapa kau?!" Suara bentakan yang datang dari belakang Zena membuat langkahnya terjeda. Ia mematung, sesaat dirinya mencerna suara yang sedikit akrab di telinga itu.

Zena berbalik, beruntung separuh wajahnya tertutupi hingga hanya menampakkan bagian atas saja. Tanpa memasang ekspresi, Zena mengenali siapa yang berdiri di belakangnya.

William? Apa hubungannya dengan tempat ini? Kenapa dia berada di sini?

Zena waspada, musuh dalam selimut.

"Apa yang kau lakukan di sini!" tanyanya lagi.

"Menurutmu?" Suara yang keluar dari balik cadar itu tak sama seperti suara Zena saat di sekolah. Sedikit menggeram khas gadis penjaga pulau.

"Penyusup!" Gumaman yang dilakukan William masih dapat didengar Zena dengan jelas. Ia memberikan seringai setelah memindai tampilan Zena dari atas hingga bawah.

"Perempuan? Sendiri? Tidak mungkin!" sarkasnya melayangkan tatapan tajam pada manik Zena yang kelam.

Langkah William mengetuk lantai, mendekati gadis yang tetap berdiri tenang di lorong tersebut. Sama sekali tak terlihat getar di tubuhnya, hebat. Ia memuji.

"Kau memiliki keberanian yang luar bisa. Aku kagum padamu. Datang sendiri sebagai penyusup dan membuat kakacauan. Kau ingin membebaskan mereka semua?" ucapnya sambil berkeliling ke belakang tubuh Zena.

Ekor mata gadis bercadar itu melirik, ia sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan. Baginya, William bukankah lawan yang tangguh. Beberapa kali serangan saja, laki-laki itu sudah pasti mudah ditumbangkan.

Tawa kecil keluar dari bibir yang tertutupi cadar itu. Hatinya sungguh tak mengira jika remaja laki-laki yang menyelamatkannya adalah dalang dibalik semua penculikan.

Jangan-jangan ... suara yang aku dengar di sekolah itu adalah aksi mereka sendiri dan dia tak ingin aku mengetahuinya. Kita lihat saja, masih bisakah kau bermain denganku, Will?

Zena menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, membentuk seringai yang tak nampak oleh siapapun.

William melirik tajam, melihat sebuah tali yang mengikat penutup wajah Zena ia berniat membuka topengnya. Siapa gadis dibalik penutup wajah itu?

Ia bergerak tanpa suara, jemarinya bersiap menarik tali tersebut, tapi sesuatu dengan cepat menepis tangannya hingga membuat tubuh itu terpental menabrak dinding bangunan. Zena berbalik dengan sebilah samurai di tangan.

William terbatuk, belum sempat mengangkat pandangan, ujung samurai Zena sudah menyentuh lehernya. Dingin, berikutnya rasa perih mengikuti karena goresan benda tajam tersebut.

"Apa kau tahu sudah berapa nyawa penjahat kurampas dengan samurai ini?" Zena menggelengkan kepala. Matanya yang sipit berubah tajam dan kelam, setajam ujung samurai yang baru saja menggores kulit lehernya.

Darah rembes hingga membasahi pakaian bagian dalam yang ia kenakan. William mulai panik, gadis bercadar di depannya tidak main-main. Dia sangat berbahaya.

"Tak terhitung. Dengan samurai ini kuhancurkan mafia narkoba di pulauku. Samurai ini juga yang menggagalkan perdagangan budak dan para gadis di kota ini. Aku yakin, kau tak tertinggal berita itu, bukan?" Zena kembali menyeringai dari balik cadarnya.

Ketegangan kini terlihat di wajah laki-laki bermata biru itu. Perlahan ketakutan pun mulai merambat membuat urat di wajahnya menegang. Siapa yang tak tahu kabar itu? Seluruh kelompok mafia di dunia ini tahu berita tentang seorang gadis yang menghancurkan bisnis narkoba juga perdagangan budak mereka.

Seluruh bulu di tubuhnya meremang, bergidik ngeri membayangkan betapa kejam gadis di hadapannya itu bahkan melebihi kejamnya mereka yang merupakan penjahat.

"Apa yang kau mau?" Suara William bergetar meskipun ia sedang mencoba untuk menekan rasa takutnya. Akan tetapi, semua itu tak akan terlepas dari pandangan Zena.

"Apa yang aku mau? Mudah saja," ucap Zena. William menunggu dengan gusar, mendapat intimidasi dari manik kelam Zena tubuhnya perlahan gemetar.

"Bebaskan semua gadis yang kalian culik!" katanya.

"Itu tidak mungkin!"

"Jika begitu, aku akan menghancurkan tempat ini malam ini juga!" Zena kembali menyeringai disaat William gelagapan sambil melirik lehernya sendiri. Ujung samurai Zena semakin menekan dan darah yang mengucur semakin deras.

"Ba-baik, baik. Akan aku tunjukkan padamu di mana mereka, malam ini juga aku akan membebaskan mereka semua." William mengangkat kedua tangannya ke atas. Zena menjauhkan samurai dari leher laki-laki itu. Tanpa mengembalikannya pada sarung.

Ia menggerakkan kepala memberi isyarat pada William untuk berjalan lebih dulu. Pelan-pelan ia beranjak dan mulai melangkah sambil menutupi bagian lehernya yang terus mengucurkan darah.

Zena mengekor di belakang sembari menghunuskan pedangnya. Mereka berjalan ke arah Utara lantai dua bangunan tersebut. Di sisi gelap itu terdapat satu pintu berdaun dua. Samar-samar Zena mendengar suara tangisan dari dalam sana.

Ujung pedangnya mendorong punggung William menembus kulit dan daging laki-laki itu. William tersungkur, ekor matanya melirik pada sisi kanan dengan kode yang dapat ditangkap Zena.

Dua orang muncul secara tiba-tiba dengan sebuah golok di tangan masing-masing. Secepat kilat Zena mengayunkan tangan, menebas leher salah satu dari mereka. Kepala itu menggelinding terus dan menabrak ujung sepatu yang dikenakan William. Membeku tubuh laki-laki itu, langkahnya yang sempat melaju cepat terhenti. Gemetar hingga menabrak dinding.

Tanpa menunggu Zena menyerang satu lainnya.

"Penyusup!" Dia berteriak sebelum merasakan sabetan samurai Zena di perut. Tubuhnya termundur dengan daging perut yang terburai. Jatuh tergolek mengejang dan tak berkutik.

Kaki gadis itu berlari menendang William agar segera membawanya ke tempat para gadis disekap. Dengan tertatih, laki-laki pengkhianat itu berdiri dan kembali menuntun Zena menuju pintu besar tersebut.

Dibukanya pintu itu, ia melangkah perlahan. Keringat membanjiri wajah, berkali-kali ia meneguk ludah, tapi rasanya tak sampai karena perih yang ia derita.

"Will? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sedang dalam misi?" Suara seorang gadis terdengar mengusik telinga Zena.

Ia memiringkan kepala guna dapat melihat siapa yang mengajak William berbicara. Seorang gadis bermata biru persis seperti William.

Ah, itu dia! Adik yang diceritakan William. Hebat! Ternyata mereka berdua dalangnya. Ini benar-benar kejutan.

Di dalam ruangan itu terdapat satu pintu lainnya. Dan gadis itu berdiri tepat di pintu tersebut. Zena melangkah ke samping kiri William, samurainya menempelkan di tengkuk laki-laki itu membuat sang adik membelalakkan mata.

Sigap tangannya menodongkan pistol ke arah Zena. Namun, gadis itu justru tertawa membuat William dan adiknya terheran-heran.

"Kau ingin bermain-main dengan benda itu? Silahkan saja! Tapi sebelum kau menarik pelatuk itu kepala laki-laki ini akan terlepas dari tempatnya. Bukankah ... kau sudah melihatnya tadi?" ancam Zena dengan sikapnya yang tenang.

Bimbang. William dan gadis itu gamang, ingin mengancam, tapi justru mereka yang terancam.

"La-laila, turunkan senjatamu! Kumohon! Turunkan!" ucap William pada gadis yang bernama Laila itu.

Ia terlihat ragu, tapi juga tak tega melihat William yang terancam. Ditambah cairan merah di lehernya masih terus keluar.

"Buka pintu itu dan bebaskan semua yang kalian sekap!" titah Zena tanpa basa-basi.

"Cepat!" bentaknya menggema. Ia harus cepat, kemungkian di lantai bawah sana semua penjahat di sini telah berkumpul.

"Bu-buka, Laila. Ce-cepat!" William ikut angkat bicara disaat merasakan tekanan pada tengkuknya. Perih, sesuatu mengalir membasahi punggung.

Gadis itu meletakkan senjatanya, dan gegas membuka pintu ruangan tersebut. Sekelompok gadis remaja berkumpul di dalam sana. Mereka saling memeluk dalam tangis penuh derita.

"Keluarlah! Kalian bebas!" teriak Zena lagi.

Mereka saling menatap satu sama lain, takut dan ragu untuk melaksanakan perintah Zena.

"Menyingkir dari sana, gadis sialan! Kau menghalangi jalan mereka!" bentak Zena pada Laila yang masih termangu di pintu. Para gadis itu beranjak, melangkah pelan terlihat ragu. Tak lama ....

"Kepung dia!"

Terpopuler

Comments

Anita_Kim

Anita_Kim

Zena, Camelia mampir...

2022-05-08

2

Siti Nurasiah

Siti Nurasiah

tetap saja aura kepemimpinan Zena menguasai kedua manusia kejam itu

2022-04-25

1

Siti Nurasiah

Siti Nurasiah

William? yang benar saja. benar-benar penipu ulung ternyata dia dan adiknya dalang dari semua masalah itu. hebat!

2022-04-25

1

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Keluarga Chendrik
2 Mencari Masalah
3 Menunjukkan Diri
4 Perdebatan
5 Menantang Zena
6 Duel
7 Pada Saat Makan Malam
8 Apakah?
9 Malam Gembira
10 Pagi yang Menegangkan
11 Masalah Baru
12 Kelas
13 Petunjuk
14 Petunjuk Lain
15 Kenyataan
16 Sebuah Perkumpulan
17 Pembebasan
18 Kejutan
19 Terkepung
20 Ancaman
21 Balasan
22 Penyelamatan
23 Selepas Kejadian Itu
24 Semakin Kacau
25 Menghadiri Rapat
26 Zena Membungkam Penguasa
27 Pertengkaran
28 Kembali Sekolah
29 Perundungan
30 Kenangan
31 Petunjuk Baru
32 Sahabat
33 Apa Itu Cemburu
34 Bertemu Laila
35 Interogasi
36 Penyusup
37 Lagi-lagi Chendrik
38 Keroyokan
39 Kedatangan Adhikari
40 Pergi Menyelidiki
41 Misteri
42 Cemburu Lagi
43 Rezeki Nomplok
44 Cinta
45 Kejutan
46 Kejutan II
47 Tetaplah Jadi Ibuku
48 Tiga Orang Laki-laki
49 Black Shadow
50 Black Shadow II
51 Kilas Balik Masa Lalu
52 Ibu!
53 Rencana Gagal
54 Persengkongkolan
55 Latihan Dimulai
56 Perhatian
57 Aksi Memukau
58 Rahasia
59 Fakta
60 Dilema
61 Sidang
62 Cemas
63 Bertemu Musuh
64 Ujian Dimulai
65 Berburu
66 Terpaksa
67 Tindakan Tak Terduga
68 Tentang Pesta Kelulusan
69 Ibu?
70 Desa Hulu
71 Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72 Nyanyian Syahdu
73 Drama
74 Tanpa Sadar
75 Berdansa
76 Maaf
77 Di Mana Zena!
78 Turut Andil
79 Ben Terluka
80 Tertawan
81 Sosok Misterius
82 Penolong
83 Melawan
84 Kolaborasi
85 Berakhir
86 Kembali Bangun
87 Saat Dia Menghilang
88 Aku Akan Pergi
89 Posisi Ibu
90 Anakmu?
91 Kepergian Zena
92 Pulang
93 Pak Karim
94 Kedatangan Tamu
95 Pembunuh Bayaran
96 Insiden
97 Anak-anak dari Desa Hulu
98 Hampir Saja
99 Misi Penyelamatan
100 Pamanku
101 Ke Mana Para Lelaki?
102 Bangunan Aneh
103 Kenyataan
104 Pembebasan
105 Amukan Massa
106 Di Mana Ibuku
107 Kau?
108 Rencana Penyerangan
109 Kedatangan Sang Elang
110 Kota Elang
111 Semakin Kacau
112 Gadis Lemah dan Menyusahkan
113 Keberangkatan Zena
114 Perang Besar
115 Penaklukan Markas Mata Elang
116 Membebaskan Pulau
117 Pembebasan Pulau
118 Kondisi Terburuk
119 Keadaan Penduduk
120 Komandan yang Angkuh
121 Sosok yang Dihormati
122 Serangan Balik
123 Perasaan Zena
124 Arabella
125 Menyelidiki
126 Ibu
127 Memulai Rencana
128 Kemunculan Zena
129 Pembebasan Sandera
130 Ancaman
131 Bertemu
132 Bazleen
133 Pertarungan Terakhir
134 Kembali Damai
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Kedatangan Keluarga Chendrik
2
Mencari Masalah
3
Menunjukkan Diri
4
Perdebatan
5
Menantang Zena
6
Duel
7
Pada Saat Makan Malam
8
Apakah?
9
Malam Gembira
10
Pagi yang Menegangkan
11
Masalah Baru
12
Kelas
13
Petunjuk
14
Petunjuk Lain
15
Kenyataan
16
Sebuah Perkumpulan
17
Pembebasan
18
Kejutan
19
Terkepung
20
Ancaman
21
Balasan
22
Penyelamatan
23
Selepas Kejadian Itu
24
Semakin Kacau
25
Menghadiri Rapat
26
Zena Membungkam Penguasa
27
Pertengkaran
28
Kembali Sekolah
29
Perundungan
30
Kenangan
31
Petunjuk Baru
32
Sahabat
33
Apa Itu Cemburu
34
Bertemu Laila
35
Interogasi
36
Penyusup
37
Lagi-lagi Chendrik
38
Keroyokan
39
Kedatangan Adhikari
40
Pergi Menyelidiki
41
Misteri
42
Cemburu Lagi
43
Rezeki Nomplok
44
Cinta
45
Kejutan
46
Kejutan II
47
Tetaplah Jadi Ibuku
48
Tiga Orang Laki-laki
49
Black Shadow
50
Black Shadow II
51
Kilas Balik Masa Lalu
52
Ibu!
53
Rencana Gagal
54
Persengkongkolan
55
Latihan Dimulai
56
Perhatian
57
Aksi Memukau
58
Rahasia
59
Fakta
60
Dilema
61
Sidang
62
Cemas
63
Bertemu Musuh
64
Ujian Dimulai
65
Berburu
66
Terpaksa
67
Tindakan Tak Terduga
68
Tentang Pesta Kelulusan
69
Ibu?
70
Desa Hulu
71
Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72
Nyanyian Syahdu
73
Drama
74
Tanpa Sadar
75
Berdansa
76
Maaf
77
Di Mana Zena!
78
Turut Andil
79
Ben Terluka
80
Tertawan
81
Sosok Misterius
82
Penolong
83
Melawan
84
Kolaborasi
85
Berakhir
86
Kembali Bangun
87
Saat Dia Menghilang
88
Aku Akan Pergi
89
Posisi Ibu
90
Anakmu?
91
Kepergian Zena
92
Pulang
93
Pak Karim
94
Kedatangan Tamu
95
Pembunuh Bayaran
96
Insiden
97
Anak-anak dari Desa Hulu
98
Hampir Saja
99
Misi Penyelamatan
100
Pamanku
101
Ke Mana Para Lelaki?
102
Bangunan Aneh
103
Kenyataan
104
Pembebasan
105
Amukan Massa
106
Di Mana Ibuku
107
Kau?
108
Rencana Penyerangan
109
Kedatangan Sang Elang
110
Kota Elang
111
Semakin Kacau
112
Gadis Lemah dan Menyusahkan
113
Keberangkatan Zena
114
Perang Besar
115
Penaklukan Markas Mata Elang
116
Membebaskan Pulau
117
Pembebasan Pulau
118
Kondisi Terburuk
119
Keadaan Penduduk
120
Komandan yang Angkuh
121
Sosok yang Dihormati
122
Serangan Balik
123
Perasaan Zena
124
Arabella
125
Menyelidiki
126
Ibu
127
Memulai Rencana
128
Kemunculan Zena
129
Pembebasan Sandera
130
Ancaman
131
Bertemu
132
Bazleen
133
Pertarungan Terakhir
134
Kembali Damai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!