Terkepung

"Cepat! Cepat! Gunakan kedua kaki kalian untuk berlari pergi dari tempat terkutuk ini!" Suara Zena memerintah. Sementara dirinya tetap menahan William menggunakan samurai juga adiknya yang tak berkutik.

Zena tak menerima ucapan terimakasih dari mereka. Tak ada waktu, telinganya menangkap bunyi derap langkah yang banyak menuju ke lantai tersebut. Sekitar lima belas orang gadis remaja keluar dari ruangan tersebut dan beberapa ada anak di bawah umur.

Zena menggeram. Ia menendang kuat lekuk kaki William sehingga membuatnya jatuh berlutut. Samurai di tangannya terhunus tepat di bagian tengkuk. Sedikit saja Zena mengayunkan tangan, sudah dapat dipastikan kepala William akan terpisah dari tubuhnya.

"Berlutut!" titah Zena pada Laila yang mematung gemetar melihat Kakaknya yang bisa saja terpenggal. Ia beringsut, berlutut dekat pintu ruangan dengan kepala tertunduk tak jauh dari senjata yang ia letakkan tadi. Sigap kaki Zena meraih benda tersebut dan menggenggamnya, ia tersenyum miring ketika wajah pucat Laila terangkat dengan mata membelalak.

"Kepung mereka!" Suara teriakan bercampur dengan suara jerit para gadis yang baru saja keluar sudah dapat Zena prediksi.

Mereka kembali berlari ke ruangan di mana Zena berada karena tak ada lagi tempat untuk mereka berlari. Zena memberi isyarat untuk tetap berkumpul di satu titik. Itu memudahkan mereka untuk saling melindungi satu sama lain ketika mendapat serangan.

"Bos!"

William mengangkat wajah. Seringai licik muncul di bibirnya melihat semua orang berkumpul di sana.

"Kepung dia!" Serentak puluhan orang itu berlari mengelilingi Zena yang menyandera William.

"Hanya ini yang mau miliki? Kukira kau punya lebih banyak lagi dari ini," cibir Zena. Gadis itu tak terlihat takut sama sekali, ia tetap tenang setelah melihat puluhan orang mengepungnya.

"Kau sudah terkepung. Menyerahlah! Tak akan mungkin kau mampu menghadapi semua orangku ... sendirian," ucap William percaya diri.

Zena terkekeh. Hal itu sontak membuat William melirik dengan ekor matanya, terheran karena tak sedikitpun Zena terlihat takut.

"Kau terlalu percaya diri. Kau pikir aku takut? Tunggu kejutan dariku!" Keberanian Zena memang patut diacungi jempol untuk ukuran seorang wanita. Tak ada getar ketakutan dari setiap kata yang ia ucapkan.

Suara kaca yang pecah mengejutkan mereka semua. Puluhan orang yang mengepung Zena dengan berbagai senjata di tangan, menoleh ke arah datangnya suara keras tadi.

"Roarrr!" Suara auman Tigris menggema menggetarkan kedua kaki mereka. William terbelalak, terlalu panik. Ia mendorong tubuh Zena dengan gerakan cepat hingga samurai di lehernya menjauh. William berlari menyatu dengan kelompoknya, diikuti Laila yang juga mengambil langkah seribu. Bersembunyi di antara kelompok itu.

Meski terkejut, Zena tetap tenang. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh gerakan cepat William.

"Habisi dia! Jangan biarkan dia lolos dari lantai ini!" titahnya walaupun napas tersengal.

Laila gegas melilitkan sebuah syal di leher William menghentikan kucuran darah dari bekas sayatan samurai Zena.

"Roarrrr!" Suara Tigris datang dari mana-mana. Dari segala arah, mereka pikir harimau itu datang bersama kelompoknya untuk mencari mangsa.

"Kalian terkepung!" seru Zena dengan seringai di bibir.

"Serang dia! Cepat!" teriak William sambil menahan nyeri di leher.

Mereka bergerak secara bersamaan, menyerang menggunakan sebilah golok di tangan. Gadis bercadar itu sudah menunggu mereka sedari tadi, tak sabar ingin segara mengayunkan samurai di tangan. Sudah lama sekali sejak ia menyerang markas Chendrik samurai itu tertidur lelap.

Tigris melompat menghadang sebagian orang yang hendak menyerang para gadis yang dibebaskan Zena. Taringnya yang tajam mencuat saat ia menyeringai. Lidahnya terjulur menjilati sekitar bibir seolah sedang berhadapan dengan mangsa empuk di depannya.

Cheo melompat turun, ekor matanya melirik para gadis itu dengan dingin.

"Masuk ke ruangan itu dan tutup pintunya. Bersembunyi saja sebelum kami membukakan pintu!" Ia memerintah. Meski masih sangat muda, tapi para gadis itu menuruti perintahnya. Mereka merayap masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.

Menutup telinga dari suara dentingan pedang yang beradu. Suara jerit kesakitan pun tak terelakan, erangan menyakitkan mengikuti, turut memenuhi seluruh ruangan tersebut.

Cheo dan Tigris bahu membahu melawan sebagian kelompok tersebut. Di sisi lain Zena sudah menghabisi hampir separuh dari orang-orang yang menyerangnya. Pandangannya fokus pada William dan Laila yang bergelagat mencurigakan. Ia beralih pada pintu keluar, menutup jalan bagi keduanya untuk melarikan diri.

"Sial! Bagaimana ini, Kak? Dia menutup jalan kita," umpat Laila sambil berpegangan erat pada lengan William.

"Di mana senjatamu?" Laki-laki itu menggeram kesal.

"Dia mengambilnya."

"Bodoh! Kenapa kau membiarkan dia mengambilnya?" Ia mengerang frustasi, "aku meninggalkan benda itu di kamarku. Argh!" William terus mengumpat kesal. Benar-benar geram dengan situasi tak terduga yang sedang dia hadapi itu.

Melihat Zena yang bergerak lincah menghabisi semua bawahannya, juga Cheo dan Tigris yang sama kuatnya. Permainan nunchaku bocah itu sama mahir seperti sang legenda, Bruce Lee.

"Lalu, kita harus bagaimana, Kak? Lapor pada markas besar?" usul Laila teringat mencari bantuan.

Tangannya cepat mengeluarkan ponsel dari saku, mengubungi markas besar mereka di belahan dunia yang lain. Namun, belum sempat tersambung, letusan timah panas menghantam benda tersebut sekaligus menggores tangan gadis itu.

"Argh!" Laila menjerit, berdesis menahan kebas di tangan. Nyeri dan terus berdenyut. Ia melirik gawainya yang berserakan di lantai, hancur dan berlubang. Di sana Zena mengangkat senjata ke arah mereka.

Tak dinyana, tak butuh waktu lama untuk Zena menghabisi semua orang yang menyerangnya. Mereka semua tumbang dengan kondisi mengenaskan. Banyak anggota tubuh mereka yang terlepas, bahkan sebagian perut mereka terkoyak dalam.

William meneguk ludah basi, tubuhnya gemetar ketakutan ditambah Zena memegang senjata di tangan mudah baginya untuk menarik pelatuk itu.

"Katakan! Di mana kalian menyekap prajurit Mata Elang?" tuntut Zena masih dengan suara dingin tanpa ekspresi. Ia seperti mayat hidup yang tak memiliki rasa. Di sisi lain, Tigris dan Cheo baru saja menghabisi lawan mereka.

Kondisi mereka bahkan lebih mengenaskan, bagian-bagian tubuh tertentu koyak dan hilang ditelan hewan besar itu. Laila bergidik ngeri, mengeratkan rangkulan di lengan William meminta perlindungan.

"Cepat!" Teriakan Zena menghentak keduanya. Samurai di tangan kiri gadis itu dilumuri darah segar, dan di tangan kanan menggenggam senjata, menodongkan benda panas itu pada mereka.

William dan Laila mulai beranjak, saling berpegangan. Darah di leher laki-laki itu kembali merembes karena ketegangan yang melanda dirinya.

"Jaga para perempuan itu, Cheo. Bawa mereka dan kumpulkan menjadi satu!" titah Zena tanpa melirik Cheo yang mematung di depan pintu ruangan tersebut.

Bocah itu segera membuka pintu ruangan, melihat para gadis yang menutup telinga dan mata mereka meringkuk dengan tubuh menggigil.

"Keluarlah! Teman-teman kalian yang lain sedang menunggu!" titah Cheo menatap dingin para gadis yang meringkuk di pojokan. Mereka mengangkat pandangan seraya melepas tangan dari telinga. Satu per satu mulai beranjak meninggalkan ruangan mengikuti Cheo keluar.

"Argh!" Serempak mereka menjerit saat melihat Tigris menunggu di depan ruangan. Keringat bercampur dengan air mata, kedua kaki mereka gemetar ketakutan.

"Tenang saja! Dia temanku. Ikuti aku, jangan sampai tertinggal!" Cheo memimpin di depan, sedangkan Tigris menjaga di belakang mereka. Tanpa tahu sekelompok orang lainnya sedang mengawasi mereka dari balik sebuah tembok.

Terpopuler

Comments

HNF G

HNF G

koq nyebut nama cheo sih. William kan jd tau siapa mereka🙄

2024-12-29

0

Ari Kuswati

Ari Kuswati

aduhhh tegang banget

2025-02-04

1

Lidiawati06

Lidiawati06

zena the best deh

2022-05-19

2

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Keluarga Chendrik
2 Mencari Masalah
3 Menunjukkan Diri
4 Perdebatan
5 Menantang Zena
6 Duel
7 Pada Saat Makan Malam
8 Apakah?
9 Malam Gembira
10 Pagi yang Menegangkan
11 Masalah Baru
12 Kelas
13 Petunjuk
14 Petunjuk Lain
15 Kenyataan
16 Sebuah Perkumpulan
17 Pembebasan
18 Kejutan
19 Terkepung
20 Ancaman
21 Balasan
22 Penyelamatan
23 Selepas Kejadian Itu
24 Semakin Kacau
25 Menghadiri Rapat
26 Zena Membungkam Penguasa
27 Pertengkaran
28 Kembali Sekolah
29 Perundungan
30 Kenangan
31 Petunjuk Baru
32 Sahabat
33 Apa Itu Cemburu
34 Bertemu Laila
35 Interogasi
36 Penyusup
37 Lagi-lagi Chendrik
38 Keroyokan
39 Kedatangan Adhikari
40 Pergi Menyelidiki
41 Misteri
42 Cemburu Lagi
43 Rezeki Nomplok
44 Cinta
45 Kejutan
46 Kejutan II
47 Tetaplah Jadi Ibuku
48 Tiga Orang Laki-laki
49 Black Shadow
50 Black Shadow II
51 Kilas Balik Masa Lalu
52 Ibu!
53 Rencana Gagal
54 Persengkongkolan
55 Latihan Dimulai
56 Perhatian
57 Aksi Memukau
58 Rahasia
59 Fakta
60 Dilema
61 Sidang
62 Cemas
63 Bertemu Musuh
64 Ujian Dimulai
65 Berburu
66 Terpaksa
67 Tindakan Tak Terduga
68 Tentang Pesta Kelulusan
69 Ibu?
70 Desa Hulu
71 Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72 Nyanyian Syahdu
73 Drama
74 Tanpa Sadar
75 Berdansa
76 Maaf
77 Di Mana Zena!
78 Turut Andil
79 Ben Terluka
80 Tertawan
81 Sosok Misterius
82 Penolong
83 Melawan
84 Kolaborasi
85 Berakhir
86 Kembali Bangun
87 Saat Dia Menghilang
88 Aku Akan Pergi
89 Posisi Ibu
90 Anakmu?
91 Kepergian Zena
92 Pulang
93 Pak Karim
94 Kedatangan Tamu
95 Pembunuh Bayaran
96 Insiden
97 Anak-anak dari Desa Hulu
98 Hampir Saja
99 Misi Penyelamatan
100 Pamanku
101 Ke Mana Para Lelaki?
102 Bangunan Aneh
103 Kenyataan
104 Pembebasan
105 Amukan Massa
106 Di Mana Ibuku
107 Kau?
108 Rencana Penyerangan
109 Kedatangan Sang Elang
110 Kota Elang
111 Semakin Kacau
112 Gadis Lemah dan Menyusahkan
113 Keberangkatan Zena
114 Perang Besar
115 Penaklukan Markas Mata Elang
116 Membebaskan Pulau
117 Pembebasan Pulau
118 Kondisi Terburuk
119 Keadaan Penduduk
120 Komandan yang Angkuh
121 Sosok yang Dihormati
122 Serangan Balik
123 Perasaan Zena
124 Arabella
125 Menyelidiki
126 Ibu
127 Memulai Rencana
128 Kemunculan Zena
129 Pembebasan Sandera
130 Ancaman
131 Bertemu
132 Bazleen
133 Pertarungan Terakhir
134 Kembali Damai
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Kedatangan Keluarga Chendrik
2
Mencari Masalah
3
Menunjukkan Diri
4
Perdebatan
5
Menantang Zena
6
Duel
7
Pada Saat Makan Malam
8
Apakah?
9
Malam Gembira
10
Pagi yang Menegangkan
11
Masalah Baru
12
Kelas
13
Petunjuk
14
Petunjuk Lain
15
Kenyataan
16
Sebuah Perkumpulan
17
Pembebasan
18
Kejutan
19
Terkepung
20
Ancaman
21
Balasan
22
Penyelamatan
23
Selepas Kejadian Itu
24
Semakin Kacau
25
Menghadiri Rapat
26
Zena Membungkam Penguasa
27
Pertengkaran
28
Kembali Sekolah
29
Perundungan
30
Kenangan
31
Petunjuk Baru
32
Sahabat
33
Apa Itu Cemburu
34
Bertemu Laila
35
Interogasi
36
Penyusup
37
Lagi-lagi Chendrik
38
Keroyokan
39
Kedatangan Adhikari
40
Pergi Menyelidiki
41
Misteri
42
Cemburu Lagi
43
Rezeki Nomplok
44
Cinta
45
Kejutan
46
Kejutan II
47
Tetaplah Jadi Ibuku
48
Tiga Orang Laki-laki
49
Black Shadow
50
Black Shadow II
51
Kilas Balik Masa Lalu
52
Ibu!
53
Rencana Gagal
54
Persengkongkolan
55
Latihan Dimulai
56
Perhatian
57
Aksi Memukau
58
Rahasia
59
Fakta
60
Dilema
61
Sidang
62
Cemas
63
Bertemu Musuh
64
Ujian Dimulai
65
Berburu
66
Terpaksa
67
Tindakan Tak Terduga
68
Tentang Pesta Kelulusan
69
Ibu?
70
Desa Hulu
71
Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72
Nyanyian Syahdu
73
Drama
74
Tanpa Sadar
75
Berdansa
76
Maaf
77
Di Mana Zena!
78
Turut Andil
79
Ben Terluka
80
Tertawan
81
Sosok Misterius
82
Penolong
83
Melawan
84
Kolaborasi
85
Berakhir
86
Kembali Bangun
87
Saat Dia Menghilang
88
Aku Akan Pergi
89
Posisi Ibu
90
Anakmu?
91
Kepergian Zena
92
Pulang
93
Pak Karim
94
Kedatangan Tamu
95
Pembunuh Bayaran
96
Insiden
97
Anak-anak dari Desa Hulu
98
Hampir Saja
99
Misi Penyelamatan
100
Pamanku
101
Ke Mana Para Lelaki?
102
Bangunan Aneh
103
Kenyataan
104
Pembebasan
105
Amukan Massa
106
Di Mana Ibuku
107
Kau?
108
Rencana Penyerangan
109
Kedatangan Sang Elang
110
Kota Elang
111
Semakin Kacau
112
Gadis Lemah dan Menyusahkan
113
Keberangkatan Zena
114
Perang Besar
115
Penaklukan Markas Mata Elang
116
Membebaskan Pulau
117
Pembebasan Pulau
118
Kondisi Terburuk
119
Keadaan Penduduk
120
Komandan yang Angkuh
121
Sosok yang Dihormati
122
Serangan Balik
123
Perasaan Zena
124
Arabella
125
Menyelidiki
126
Ibu
127
Memulai Rencana
128
Kemunculan Zena
129
Pembebasan Sandera
130
Ancaman
131
Bertemu
132
Bazleen
133
Pertarungan Terakhir
134
Kembali Damai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!