Pagi yang Menegangkan

"Zena!" Gadis yang sudah mengayuh beberapa langkah seketika berhenti. Ia berbalik sambil menyematkan senyum tipis di bibir nyaris tak terlihat.

Laki-laki yang memanggilnya mendekat hingga tersisa jarak beberapa jengkal saja. Ia tersenyum, malam ini kenapa bibir yang tak pernah tertarik ke atas itu, selalu merekah.

"Selamat malam! Kau harus segera tidur dan jangan berlarut," katanya dengan nada lembut yang mengalun.

Zena terkekeh-kekeh sambil menutup mulut. Hatinya tentu saja merasa senang mendapatkan perhatian yang sedemikian rupa dari laki-laki dingin itu meskipun ia sendiri belum mengerti seperti apa perasaannya kini.

"Baiklah. Terima kasih." Ia lekas berbalik dan berjalan, sesekali memainkan rambutnya yang tertiup angin tanpa menoleh lagi.

Chendrik menggigit bibir, tangannya mengusap rambut sambil berbalik. Binar bahagia jelas terlihat bercahaya di wajahnya. Tanpa ia ketahui, seseorang berdiri di belakangnya mengenakan piyama.

Chendrik tertegun sejenak sebelum ia tersenyum dan membawa langkah mendekati sosok tersebut.

"Cheo, sedang apa kau di sini? Bukankah kau sudah tidur?" tanya laki-laki itu sambil merangkul bahu Cheo dan mengajaknya masuk.

"Aku terbangun karena mendengar suara tawa Kakak. Kukira Kakak sedang bersama ... tapi aku senang Ayah dekat dengan Kakak," katanya sambil mendongak menatap Chendrik.

Laki-laki itu tersenyum sembari mengeratkan dekapannya di bahu Cheo.

Uhuk!

Zena tersedak angin malam, sesuatu tiba-tiba menggelitik tenggorokan dan membuatnya terbatuk ringan. Ia menggeleng, langkah yang sempat terhenti kembali berlanjut menuju kamar di mansion belakang.

Kerutan bermunculan di antara kedua alisnya disaat ia melihat seseorang duduk di teras kamar. Zena tetap melanjutkan langkah, entah apa tujuan laki-laki itu duduk di sana.

"Zena!" Laki-laki bergelar jenderal itu beranjak. Ia berdiri menyambut kedatangan Zena, hal itu tentu saja membuat Zena dihinggapi rasa curiga.

"Jenderal? Kenapa kau ada di kamarku? Kau ingin melakukan ...." Zena tak melanjutkan kata-katanya. Kedua matanya memindai sosok jangkung di hadapan sembari menajamkan perasaan.

"Ah, jangan berburuk sangka terlebih dahulu, Zena. Aku tidak berniat melakukan itu lagi. Sungguh!" katanya sembari mengangkat dua jari di dekat kepala bersungguh-sungguh.

Zena memiringkan kepala, menatap dengan mata yang memicing. Ia harus tetap waspada, bukan? Di kehidupan yang kejam ini, kawan bisa jadi lawan kapan saja dan dalam keadaan apa saja. Tak ada yang tak mungkin, semua bisa terjadi hanya dalam waktu yang singkat.

"Lalu, untuk apa kau berada di teras kamarku! Menungguku?" tanya Zena lagi seraya melangkahkan kaki memasuki teras kamarnya.

"Aku mengkhawatirkanmu, Zena. Aku tak dapat tidur, mengingat kau akan pergi esok pagi. Apa keputusan itu sudah kau pikirkan baik-baik?" ungkapnya bersungguh-sungguh, tapi disambut gelak tawa oleh gadis itu.

Tawa renyah, tawa riang, tawa yang terlihat polos dan apa adanya. Namun, ia suka, ia menyukai semua yang ada pada diri gadis bermata sipit itu.

"Apa yang membuatmu begitu mencemaskan aku? Apa aku terlihat begitu lemah di matamu?" tanya Zena masih dengan sisa senyum di bibir.

Sebastian termangu, berpikir jawaban apa yang harus ia berikan untuk pertanyaan Zena yang baru saja terlontar.

"Sudahlah, Jenderal. Kau tidak perlu mencemaskan aku, bantu saja Chendrik mencari strategi perang melawan mereka. Kita tak pernah tahu apakah mereka tak akan menyerang markas? Jadi, bersiap-siaplah untuk itu," pungkas Zena seraya membuka pintu kamar dan memasukinya.

Ia melongo setelah menutup pintu, membuat laki-laki berpangkat jenderal itu melirik ke arahnya penuh harap.

"Istirahatlah, Jenderal. Malam kian larut dan angin malam tidak baik untuk kesehatan," ucap Zena seraya menutup pintu kamar dan tak lagi terdengar suaranya.

Sepasang mata berkilat memancarkan permusuhan yang nyata melihat kedua laki-laki yang diincarnya mendekati Zena, si gadis bar-bar.

Zena benar-benar tak mengerti apa yang terjadi pada kedua laki-laki itu. Ia tak peduli, membuka seragam sekolahnya juga data diri yang diberikan Adhikari.

"Ayah, Ibu, meskipun terlambat esok aku akan duduk di bangku sekolah. Belajar tentang apa saja bersama teman-teman."

Zena menyimpan kembali benda tersebut sebelum merebahkan diri di atas ranjang yang luas. Terpejam sambil menerka apa yang akan terjadi esok di sekolah.

Pagi datang begitu cepat, Chendrik bersama yang lainnya telah duduk di meja makan berhadapan dengan serapan di masing-masing piring mereka.

"Selamat pagi, semua!" Zena datang menyapa dengan riang. Beberapa pasang mata itu lekas mengarah kepadanya yang memasang senyum lebar. Chendrik dan Sebastian termangu secara bersamaan dengan rahang yang sudah terjatuh.

Zena berdiri malu-malu, dengan seragam sekolah yang melekat pas di tubuhnya. Rok di atas lutut dan mengekspos kaki jenjangnya yang indah. Dibalut stoking putih panjang hingga memenuhi betis hampir menutup lutut. Atasan dibalut jaket hingga menutupi seragam bagian atasnya.

Oh, jangan lupakan rambutnya yang diikat tinggi dan terkesan asal. Dia tetap cantik meski penampilan apa adanya.

"Selamat pagi, Kak!" sambut Cheo sendirian. Zena mengayun langkah sambil memegangi tali tas yang ia sampirkan di punggung.

"Boleh aku sarapan sebelum berangkat? Aku menunggu Paman," ucap Zena. Akting yang dilakukannya benar-benar alami. Dengan penampilannya yang seperti sekarang ini, sudah dipastikan tak akan ada yang curiga padanya.

"Duduklah, Zena. Makan sarapanmu, kau butuh asupan nutrisi sebelum pergi ke sekolah," sahut Chendrik memasang senyum hangat saat Zena melirik ke arahnya.

Mata Zena berputar, jatuh pada adik Chendrik yang masih termangu melihatnya.

"Jenderal! Air liurmu menetes." Zena menunjuk salah satu sudut bibir menunjukan pada Sebastian ada cairan bening merembes tanpa sadar di sana.

Buru-buru laki-laki jangkung itu mengusapnya, ia putuskan pandangan dari Zena dan melahap makanannya dengan cepat. Arabella membanting sendok dan garpu sebelum beranjak meninggalkan meja makan.

Terkejut. Semua yang ada di sana mendongak padanya.

"Ada apa dengannya?" gumam Zena yang tertangkap indera rungu Ibu. Wanita itu melirik sinis padanya sejak ia datang ke ruang makan itu.

"Semua karena dirimu, gadis kampungan. Enak sekali jadi dirimu, hidup menumpang pada anakku. Makan dan pakaian gratis, sekarang harus membiayai sekolahmu juga. Cih ... memalukan dan tak tahu malu. Memangnya orang tuamu tak mengizinkanmu tinggal bersama mereka? Kau pasti terlalu miskin hingga di usia yang masih muda kau harus bekerja mencari uang sendiri," sindir Ibu yang kali ini mengusik Zena.

Senyum di bibir gadis itu lenyap. Ia menundukkan wajah, mendengar kata orang tua hatinya sakit. Ia bahkan sudah ditinggalkan mereka sebelum usianya menginjak tahun ke sepuluh. Hidup mandiri seorang diri, mencari makan sendiri mengandalkan tanaman di bukit hijau dan hutan yang mengelilinginya.

Tangannya meremas sendok hingga tanpa sadar sendok itu berubah bentuk. Hal itu ditangkap Ibu, ia meneguk saliva mulai waspada.

Gawat! Teringat akan peringatan Chendrik. Rasa takut mulai menggerogoti hatinya. Menyinggungnya sama dengan kehancuran. Dan apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan.

Chendrik dan Sebastian menegang, mereka mencemaskan nasib wanita bermulut besar itu. Zena melirik, iris kelamnya berkilat penuh amarah. Atmosfer telah berubah, suhu ruangan secara tiba-tiba anjlok. Udara kian menipis, membuat rongga dada menyempit dan menimbulkan sedikit sesak.

Terpopuler

Comments

HNF G

HNF G

kasihan sekali dia, sdh tua tp tdk bisa mengatur mulutnya. hrsnya dia ikut sklh bersama zena😏

2024-12-29

0

Binti

Binti

bantai aja perempuan iblis itu

2025-01-20

1

Lidiawati06

Lidiawati06

sungguh pedes😁

2022-04-29

1

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Keluarga Chendrik
2 Mencari Masalah
3 Menunjukkan Diri
4 Perdebatan
5 Menantang Zena
6 Duel
7 Pada Saat Makan Malam
8 Apakah?
9 Malam Gembira
10 Pagi yang Menegangkan
11 Masalah Baru
12 Kelas
13 Petunjuk
14 Petunjuk Lain
15 Kenyataan
16 Sebuah Perkumpulan
17 Pembebasan
18 Kejutan
19 Terkepung
20 Ancaman
21 Balasan
22 Penyelamatan
23 Selepas Kejadian Itu
24 Semakin Kacau
25 Menghadiri Rapat
26 Zena Membungkam Penguasa
27 Pertengkaran
28 Kembali Sekolah
29 Perundungan
30 Kenangan
31 Petunjuk Baru
32 Sahabat
33 Apa Itu Cemburu
34 Bertemu Laila
35 Interogasi
36 Penyusup
37 Lagi-lagi Chendrik
38 Keroyokan
39 Kedatangan Adhikari
40 Pergi Menyelidiki
41 Misteri
42 Cemburu Lagi
43 Rezeki Nomplok
44 Cinta
45 Kejutan
46 Kejutan II
47 Tetaplah Jadi Ibuku
48 Tiga Orang Laki-laki
49 Black Shadow
50 Black Shadow II
51 Kilas Balik Masa Lalu
52 Ibu!
53 Rencana Gagal
54 Persengkongkolan
55 Latihan Dimulai
56 Perhatian
57 Aksi Memukau
58 Rahasia
59 Fakta
60 Dilema
61 Sidang
62 Cemas
63 Bertemu Musuh
64 Ujian Dimulai
65 Berburu
66 Terpaksa
67 Tindakan Tak Terduga
68 Tentang Pesta Kelulusan
69 Ibu?
70 Desa Hulu
71 Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72 Nyanyian Syahdu
73 Drama
74 Tanpa Sadar
75 Berdansa
76 Maaf
77 Di Mana Zena!
78 Turut Andil
79 Ben Terluka
80 Tertawan
81 Sosok Misterius
82 Penolong
83 Melawan
84 Kolaborasi
85 Berakhir
86 Kembali Bangun
87 Saat Dia Menghilang
88 Aku Akan Pergi
89 Posisi Ibu
90 Anakmu?
91 Kepergian Zena
92 Pulang
93 Pak Karim
94 Kedatangan Tamu
95 Pembunuh Bayaran
96 Insiden
97 Anak-anak dari Desa Hulu
98 Hampir Saja
99 Misi Penyelamatan
100 Pamanku
101 Ke Mana Para Lelaki?
102 Bangunan Aneh
103 Kenyataan
104 Pembebasan
105 Amukan Massa
106 Di Mana Ibuku
107 Kau?
108 Rencana Penyerangan
109 Kedatangan Sang Elang
110 Kota Elang
111 Semakin Kacau
112 Gadis Lemah dan Menyusahkan
113 Keberangkatan Zena
114 Perang Besar
115 Penaklukan Markas Mata Elang
116 Membebaskan Pulau
117 Pembebasan Pulau
118 Kondisi Terburuk
119 Keadaan Penduduk
120 Komandan yang Angkuh
121 Sosok yang Dihormati
122 Serangan Balik
123 Perasaan Zena
124 Arabella
125 Menyelidiki
126 Ibu
127 Memulai Rencana
128 Kemunculan Zena
129 Pembebasan Sandera
130 Ancaman
131 Bertemu
132 Bazleen
133 Pertarungan Terakhir
134 Kembali Damai
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Kedatangan Keluarga Chendrik
2
Mencari Masalah
3
Menunjukkan Diri
4
Perdebatan
5
Menantang Zena
6
Duel
7
Pada Saat Makan Malam
8
Apakah?
9
Malam Gembira
10
Pagi yang Menegangkan
11
Masalah Baru
12
Kelas
13
Petunjuk
14
Petunjuk Lain
15
Kenyataan
16
Sebuah Perkumpulan
17
Pembebasan
18
Kejutan
19
Terkepung
20
Ancaman
21
Balasan
22
Penyelamatan
23
Selepas Kejadian Itu
24
Semakin Kacau
25
Menghadiri Rapat
26
Zena Membungkam Penguasa
27
Pertengkaran
28
Kembali Sekolah
29
Perundungan
30
Kenangan
31
Petunjuk Baru
32
Sahabat
33
Apa Itu Cemburu
34
Bertemu Laila
35
Interogasi
36
Penyusup
37
Lagi-lagi Chendrik
38
Keroyokan
39
Kedatangan Adhikari
40
Pergi Menyelidiki
41
Misteri
42
Cemburu Lagi
43
Rezeki Nomplok
44
Cinta
45
Kejutan
46
Kejutan II
47
Tetaplah Jadi Ibuku
48
Tiga Orang Laki-laki
49
Black Shadow
50
Black Shadow II
51
Kilas Balik Masa Lalu
52
Ibu!
53
Rencana Gagal
54
Persengkongkolan
55
Latihan Dimulai
56
Perhatian
57
Aksi Memukau
58
Rahasia
59
Fakta
60
Dilema
61
Sidang
62
Cemas
63
Bertemu Musuh
64
Ujian Dimulai
65
Berburu
66
Terpaksa
67
Tindakan Tak Terduga
68
Tentang Pesta Kelulusan
69
Ibu?
70
Desa Hulu
71
Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72
Nyanyian Syahdu
73
Drama
74
Tanpa Sadar
75
Berdansa
76
Maaf
77
Di Mana Zena!
78
Turut Andil
79
Ben Terluka
80
Tertawan
81
Sosok Misterius
82
Penolong
83
Melawan
84
Kolaborasi
85
Berakhir
86
Kembali Bangun
87
Saat Dia Menghilang
88
Aku Akan Pergi
89
Posisi Ibu
90
Anakmu?
91
Kepergian Zena
92
Pulang
93
Pak Karim
94
Kedatangan Tamu
95
Pembunuh Bayaran
96
Insiden
97
Anak-anak dari Desa Hulu
98
Hampir Saja
99
Misi Penyelamatan
100
Pamanku
101
Ke Mana Para Lelaki?
102
Bangunan Aneh
103
Kenyataan
104
Pembebasan
105
Amukan Massa
106
Di Mana Ibuku
107
Kau?
108
Rencana Penyerangan
109
Kedatangan Sang Elang
110
Kota Elang
111
Semakin Kacau
112
Gadis Lemah dan Menyusahkan
113
Keberangkatan Zena
114
Perang Besar
115
Penaklukan Markas Mata Elang
116
Membebaskan Pulau
117
Pembebasan Pulau
118
Kondisi Terburuk
119
Keadaan Penduduk
120
Komandan yang Angkuh
121
Sosok yang Dihormati
122
Serangan Balik
123
Perasaan Zena
124
Arabella
125
Menyelidiki
126
Ibu
127
Memulai Rencana
128
Kemunculan Zena
129
Pembebasan Sandera
130
Ancaman
131
Bertemu
132
Bazleen
133
Pertarungan Terakhir
134
Kembali Damai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!