"Kenapa gadis tak tahu diri ini ada di meja makan kita?!"
Suara khas seorang wanita paruh baya angkuh terdengar. Empat kepala di meja makan menengadah bersamaan. Dia, wanita yang mengaku sebagai Nenek Cheo itu tengah menatap Zena dengan bola mata yang hampir melompat keluar.
Tangannya berkacak di pinggang, hidungnya mendengus kasar. Darah dalam tubuh mendidih memberikan sensasi terbakar pada seluruh kulit dan dagingnya. Bergolak meletup-letup karena tersulut sosok sederhana di meja makan itu.
"Duduk dan makanlah, Bu!" titah Chendrik kembali berpaling pada makanan di depannya.
"Duduk bersamanya? Jangan gila kau, Chendrik. Tidak mungkin Ibu duduk satu meja dengan gadis tak tahu malu itu!" tolak Ibu melipat kedua tangannya di dada.
Sebastian melirik Zena, gadis itu sama sekali tidak terganggu dan tetap melanjutkan makannya. Siapa peduli? Dia akan tetap di sana semau dia.
"Ya sudah, minta salah satu pelayan Ibu mengambilkan makanan dan makanlah di kamar Ibu sendiri," saran Chendrik yang tanpa berpaling dari makanannya.
Semakin geram wanita hampir tua itu. Melihat Zena yang tak acuh, dan Chendrik yang tak mengacuhkannya, semakin menyulut emosi dalam dada. Ia mengepalkan kedua tangan tidak terima diperlakukan seperti itu oleh putranya sendiri.
"Kau anak Ibu, Chendrik. Kenapa sepertinya kau lebih membela wanita itu dari pada Ibumu sendiri?" sungutnya dengan nada yang dibuat semenyedihkan mungkin. Sebastian mendengus, ia tahu betul wanita itu memang pandai berakting.
Chendrik meletakkan garpu dan pisau cukup keras di atas meja, menyentak tubuh wanita itu dan membuatnya sedikit gemetar. Ia menarik napas sebelum memandang wajah wanita paling berjasa dalam hidupnya itu.
"Ibu datang untuk makan?" Ia mengangguk tanpa sadar, "duduk dan makanlah!" Perintah lanjutan dari Chendrik tak ditolaknya. Ia duduk meski menahan kesal melihat Zena yang tak bereaksi apapun.
Timbul rasa takut di hatinya melihat ekspresi Chendrik yang datar dan dingin. Sorot matanya tajam menyiratkan ketidaksukaan. Cheo memandang remeh sang Nenek saat mata wanita itu mengarah padanya.
Tak ada yang berucap sepatah kata pun sepanjang acara makan malam itu. Kecuali, Sebastian yang kedapatan mencuri pandang terhadap Zena.
"Kakak, temani aku tidur," pinta Cheo yang disambut senyum lembut oleh Zena. Gadis itu mengangguk pelan menyudahi makannya. Meminum jus sekali tenggak dan membantingnya sedikit keras membuat tubuh wanita sombong itu terperanjat kaget.
Zena mengukir senyum semanis mungkin untuk membalas tatapan tajam wanita paruh baya tersebut.
"Cheo, biar Nenek yang menemanimu tidur. Wanita itu tidak pantas berada satu kamar denganmu," sergah sang Nenek lembut sambil melambai pada Cheo.
Bocah sepuluh tahun itu melirik Zena sebelum memasang senyum aneh untuk sang Nenek.
"Aku tidak terbiasa tidur dengan ular berbisa. Temanku harimau dan singa betina. Ular, aku merasa jijik saat melihatnya," ucap Cheo tanpa beban. Ia memutar kepala menghadap Chendrik tanpa peduli pada reaksi yang ditampilkan wanita tadi.
"Ayah, aku sudah selesai. Aku pamit ke kamar," pamit Cheo seraya beranjak bersama Zena dan pergi menuju kamar bocah itu. Ia tersenyum sinis disaat mata tua itu tak berkedip menatapnya.
"Mau ke mana kau?" sergah Chendrik saat adiknya itu ikut beranjak menyusul Zena.
"Tentu saja ke kamar." Laki-laki jangkung itu melengos dan segera berlalu meninggalkan Chendrik bersama sang Ibu yang kembali melahap makanannya.
Chendrik mengusap wajah gusar, ia melipat bibir gelisah menghadapi perasannya sendiri juga sikap sang adik yang secara terang-terangan menantangnya. Tidak mungkin!
Ia menjatuhkan pandangan pada sang Ibu yang lahap dengan makanannya. Mengerti pada kalimat yang diucapkan Cheo tadi.
"Kuharap ke depannya Ibu lebih bisa menjaga sikap terhadap Zena. Ibu tidak tahu apapun tentang gadis itu, menyinggungnya sama dengan kehancuran. Menyakitinya sama dengan menyakiti Cheo, anak itu akan merasa terusik kenyamanannya disaat Ibu bersikap tak sopan terhadap Zena," ungkap Chendrik seraya berdiri dan berlalu meninggalkan ruang makan.
Wanita paruh baya itu mendengus, tak peduli pada apa yang dikatakan Chendrik. Ia tetap tak suka dengan kehadiran Zena dalam kehidupan anak dan cucunya. Siapa peduli tentang asal usul gadis itu? Yang dia tahu, Zena adalah beban hidup Chendrik yang harus segera menyingkir dari kehidupan putranya itu.
"Kau membawa rumah kita ke kamarmu, Cheo," ucap Zena setelah berada di dalam kamar bocah itu. Suasana pulau Liman, rumah gubuk yang tersembunyi, bukit hijau yang indah, juga hutan tempat mereka berburu, terlukis dengan nyata di tembok kamar Cheo.
"Hah ... aku rindu rumah," gumamnya seraya membanting diri di atas ranjang empuk milik anak yang dibesarkannya itu.
Cheo ikut berbaring di samping tubuh Zena, mengawang pada langit-langit kamar yang melukiskan keadaan langit pulau mereka tinggal dulu.
"Kakak berjanji kita akan pulang setelah masalah di sini selesai?" tanya Cheo yang selalu bermimpi berada di pulau hampir setiap malam.
Zena berpaling padanya, ia beranjak memiringkan tubuh menghadap bocah laki-laki itu. Salah satu tangannya ditekuk guna menopang kepalanya. Ia tersenyum.
"Kakak berjanji, kita akan pulang untuk menjenguk Belle dan Tuma. Sekalian saja kita bawa mereka ke sini dan satukan bersama Tigris. Lengkap sudah keluarga kita," sahut Zena yang disambut senyum kelegaan oleh Cheo.
"Tudurlah! Esok Kakak harus pergi menjalankan misi dan kau pun akan pergi ke sekolah, bukan?" Cheo menganggu patuh. Merapatkan tubuh pada Zena, memeluk gadis itu.
Chendrik berada di balik pintu kamar sang anak, mendengar perbincangan mereka dan melihat sedekat apa keduanya. Mereka bahkan lebih dekat daripada ia dan Ibu kandungnya sendiri.
Chendrik membawa langkahnya masuk ke ruang kerja. Ia mendekati meja kerja, mengambil sesuatu yang telah ia siapkan untuk Zena esok. Sebuah seragam sekolah lengkap dengan alat tulisnya.
"Hah ... apa tidak apa-apa aku mengirim Zena ke sana? Sedangkan, para prajurit yang kukirim tak ada yang kembali pulang," keluhnya sambil menyandarkan tubuh pada meja tersebut.
Ia membanting tangannya pada kaki, menengadah menatap langit-langit ruangan. Hidupnya selama ini terasa hampa, kehadiran Zena dan Cheo mengisi kekosongan hatinya.
Ia berjalan keluar ruangan bersamaan dengan Zena yang juga keluar dari kamar Cheo. Langkah mereka bertemu dan berhadapan di lorong lantai dua mansion besar tersebut.
"Kau yakin akan pergi sendiri untuk menyelesaikan semuanya?" tanya Chendrik dengan guratan cemas yang tak ia sembunyikan.
Zena memicingkan mata, menangkap sesuatu yang lain dari sosoknya. Berikutnya, ia menarik napas dan menghendikan bahu.
"Katakan padaku, jika kau mencemaskan aku, Chendrik!" pinta Zena. Iris kelam miliknya menohok manik cokelat keemasan Chendrik yang tak berkedip menatapnya.
Laki-laki itu melangkah semakin mengikis jarak antara mereka. Zena tetap bergeming di tempatnya tak berniat beranjak selangkah jua.
Tinggi mereka yang sedikit jauh membuat Zena harus mendongak agar dapat menatapnya.
"Menurutmu bagaimana? Sesungguhnya, hati kecilku tak rela membiarkanmu pergi, Zena. Aku ingin kau tetap di sini bermain bersama Cheo dan biarkan para prajurit yang melakukan semua misi berbahaya ini. Ada Sebastian yang akan membantu mereka. Tetaplah di sini, Zena," ungkap Chendrik memelas.
Pandang mereka masih terpaku sama kuat menghujam rasa dalam benak. Apakah ...?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Elwi Chloe
apakah Chendrik menyukai Zena?
2022-04-26
1
Anita_Kim
Aku dateng lagi Kak...
2022-04-22
2
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Chendrik begitu mengkhawatirkan Zena... apakah ada perasaan lain dari Chendrik utk Zena
2022-04-21
1