Di sore hari, Zena tengah menikmati sepoi angin di depan kamarnya. Tak ada yang dilakukan gadis itu selain duduk memperhatikan seekor elang yang terbang di langit.
Arabella yang tak sengaja melihat, mendekat ke mansion belakang untuk sekedar mengingatkan gadis berwajah polos itu.
"Kau memang pantas berdiam di sini. Pekerja tetaplah rendahan meskipun sikapmu terlalu arogan untuk seorang pelayan," sindir gadis dengan pakaian seksi itu. Ia mencibirkan bibir menatap Zena sambil bersandar di sebuah pilar dengan kedua tangan terlipat di dada.
Zena mendengus, tak berniat mengacuhkannya. Wajahnya tetap mendongak menatap elang yang terbang bebas di langit.
"Seperti halnya elang yang menyukai kebebasan ... berburu di dunia luar dan bertingkah liar, tapi tetap waspada pada ancaman di sekitarnya. Terus terbang mengelilingi langit tanpa peduli pada mereka menatapnya dari permukaan bumi." Zena tersenyum.
Decakan lidah Arabella tak digubrisnya, ia mentulikan telinga enggan mendengar sindiran juga cibiran.
"Kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Asap selalu ingin membumbung tinggi ke langit, padahal hakikatnya dia berada di bawah menapak bumi. Ingat batasanmu! Siapa kau di sini, maka janganlah bersikap seolah-olah kau Nyonya di mansion ini!" ucap Arabella sebelum berbalik pergi meninggalkan mansion belakang. Kesal karena tak berhasil memprovokasi Zena. Gadis itu tetap tenang dan angkuh.
Siapa peduli!
Zena menghendikan bahu tak acuh. Ia menjatuhkan punggung pada sandaran kursi, bersiul memanggil sang elang legenda. Senyum mengembang tatkala hewan itu melesat turun ke arahnya. Lalu, hinggap dengan cantik di atas lengan Zena yang menekuk.
"Bagaimana kabarmu? Pasti senang karena kau bebas terbang. Ah ... aku pun ingin terbang bebas sepertimu. Bebas sebebas-bebasnya ... pergi ke mana pun aku ingin." Zena menyentuh bawah paruh burung gagah itu dan bermain dengannya.
Beberapa hari berlalu, sikap gadis itu masih sama kurang ajarnya kepada mereka. Tak jarang Zena mengalah hanya karena tak ingin memperpanjang masalah. Pagi itu, ia berjalan seorang diri menuju dapur rumah utama. Mengenakan kaos longgar berlengan panjang, dengan bawahan celana pendek di atas lutut. Nampak seksi dan menggoda ditambah rambut panjangnya yang ia ikat secara asal.
Zena menuangkan secangkir air dan menenggaknya.
"Zena?" tegur Chendrik yang secara kebetulan melihat Zena saat melintasi dapur. Gadis itu berbalik, sikapnya yang tak acuh semakin membuat Chendrik penasaran.
"Kudengar kau menyiram Arabella dengan air kemarin. Apa benar?" selidik Chendrik. Tadi malam gadis itu mengadu padanya sambil berderai air mata.
"Kakak, dia menyiram air padaku. Kenapa Kakak membiarkan gadis bar-bar seperti dia tetap tinggal di sini?" adunya tadi malam. Mengingat itu Chendrik memijit kepalanya yang kembali berdenyut.
Zena mengangkat bahu tak acuh. Ia meletakan cangkir di atas meja, sedikit menimbulkan suara karena tekanan yang ia berikan. Ia mendekat, kedua tangan terlipat di perut. Seperti biasa, sorot matanya tetap tajam tak seperti saat ia menatap Cheo atau para pekerja Chendrik di mansion.
"Kau pikir aku sudi melakukannya?" Ia berbalik, sedikit mendengus sebelum melanjutkan kata-katanya, "katakan padanya, jangan menggangguku lagi!" Ia membawa kakinya meninggalkan dapur. Membuat Chendrik geleng-geleng kepala tak mengerti dengan sikapnya.
Di balik sebuah pilar, sepasang mata mengintai. Dia Sebastian, adik kandung Chendrik, usianya tak jauh dari Zena hanya terpaut tiga tahun. Diam-diam laki-laki dua puluh delapan tahun itu sering memperhatikan Zena dan kerap mengganggunya. Ada hasrat yang menggebu dalam jiwa ingin melahap gadis cantik dan terlihat polos itu. Ia membentuk seringai di bibir, otak liciknya berencana untuk dapat menikmati tubuh semampai milik Zena itu.
"Tunggulah, kau gadis nakal. Aku pasti akan mendapatkanmu," ancamnya sambil menatap punggung Zena yang menjauh.
Chendrik berbalik setelah sosok gadis itu menghilang di balik sebuah pintu. Dengan mengenakan seragamnya sebagai pimpinan, ia pergi ke markas guna menghadiri rapat membahas soal para mafia yang kembali berulah. Dan tak pernah terselesaikan.
Di malam hari, Sebastian mengendap mendatangi mansion belakang tempat di mana Zena tinggal bersama para pekerja. Ia tersenyum melihat gadis itu yang sedang mengajari Cheo belajar.
"Kenapa kau cantik sekali? Sebagai pengasuh, kau terlalu cantik, Zena. Sebaiknya kau jadi kekasihku. Hidupmu akan terjamin tentu saja," gumamnya pelan menatap penuh nafsu pada sosok gadis bercahaya di bawah sorotan lampu teras.
Ia bersembunyi di balik pilar disaat Cheo melintasinya, tapi Zena yang memiliki kepekaan luar biasa telah menyadari kehadirannya. Ia hanya sedang berpura-pura, seolah-olah tak ada siapa pun yang sedang mengintai.
Zena beranjak, ia pula bergerak meninggalkan tempat persembunyian. Berjalan cepat tanpa suara, seperti kertas yang terbang terbawa angin. Lumayan. Zena bergumam mengomentari keahlian adik Chendrik itu.
Baru saja Zena membuka pintu hendak memasuki kamar, tangan kekar milik sang jenderal itu mencekal tangannya. Sedikit kuat, mungkin akan terasa sakit jika itu gadis biasa, tapi dia Zena. Hanya seperti itu saja, baginya bukan apa-apa.
Di kegelapan, seseorang merekam keduanya. Ia tersenyum licik sambil bergumam, "Ini adalah hari kekalahanmu, Zena. Lihat saja! Aku akan menyebarkan video ini dan kau ... tamat sudah riwayatmu, ******!" Ia menggeram, bersiap merekam yang akan terjadi di kamar gadis itu.
Tanpa ada yang menyadari, Zena melakukan gerakan tangan. Melempar sebuah kerikil ke arah seseorang yang bersembunyi di balik sebuah tumbuhan bunga.
"Aw! Sial, apa ini? Siapa yang melemparku? Sakit sekali!" keluhnya meringis sambil mengusap lengan yang terasa berdenyut. Ponsel di tangannya terjatuh, ia berjongkok dan mendapati pemandangan luar biasa yang tak sengaja ditangkap netranya.
Zena tersenyum samar saat mendengar suara pekikan dari balik tumbuhan bunga. Ia menyembunyikan wajah dengan menundukkan kepala menatap lantai yang mereka pijak. Melihat ada kesempatan, Sebastian menggunakannya untuk mendorong tubuh Zena ke tembok.
Ia menyeringai saat Zena terpejam dengan bibir sedikit terbuka dan meringis.
"Kau terlalu cantik untuk menjadi pengasuh anak laki-laki itu. Jadilah kekasihku, puaskan aku, maka hidupmu akan terjamin. Bagaimana, sayang?" Tangan Sebastian membelai pipi Zena dengan lancang. Gadis itu menggeram dalam hati, detik kemudian ia membuka mata, menatap tajam manik coklat milik laki-laki yang sedang bernafsu padanya itu.
"Kau yakin akan kata-katamu itu, Jenderal? Sementara itu terdengar seperti bualan di telingaku. Chendrik lebih berkuasa dari pada dirimu, dia memiliki segala yang aku butuhkan. Aku hanya perlu meluluhkan hatinya jika saja aku ingin. Sayang, aku tidak tertarik padanya ataupun ... padamu!" Zena mendorong dada bidang laki-laki itu, sekali hentakan ia langsung mundur beberapa langkah.
"Kau pikir aku sama seperti wanita yang sedang bersembunyi itu? Kau salah, Jenderal. Salah besar!" tegas Zena terkekeh kecil. Ia mendorong tubuh tegap sang Jenderal keluar rumahnya, "selamat malam! Semoga kau mimpi indah malam ini, Tuan Jenderal!" ucapnya seraya menutup pintu dengan sedikit kuat menyentak tubuh laki-laki yang baru saja kalah telak.
Terinjak harga dirinya sebagai lelaki, ia menggeram kesal menahan segala emosi yang meluap-luap. Wanita yang bersembunyi di balik tumbuhan, berdiri tegak menampakan dirinya. Ia tersenyum mencibir melihat kekesalan di wajah sang Jenderal. Gagal sudah rencana mereka malam itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
momi
menunggu zena beraksi lagi thor
2025-01-17
0
Elwi Chloe
Pantas Zena tangguh dia sudah menjalani kehidupan yang keras soalnya
2022-04-25
2
Elwi Chloe
aku suka kata-katanya
2022-04-25
1