Ancaman

Zena menendang bokong William dikala langkah laki-laki itu tersendat-sendat. Mereka menuruni lantai dua menuju lantai satu villa tersebut, disusul Cheo dan rombongannya. William membawa Zena ke bagian kanan villa, sebuah lorong yang mengarah ke bagian belakang bangunan.

Sementara Cheo, ke arah kiri menuju bagian samping villa di mana kelima gadis yang diselamatkan Zena sebelumnya menunggu. Tigris berjalan waspada di belakang mereka, hewan besar itu berbalik dan menggeram ketika naluri hewaninya bereaksi.

"Roarrr!" Ia-nya mengaum keras menggetarkan lantai yang mereka pijak. Cheo mempercepat langkah mereka mendengar peringatan dari Tigris.

"Cepat! Cepat! Ada yang datang, teman-teman kalian menunggu di sana!" seru Cheo setengah berbisik sambil melambai-lambaikan tangan menunjuk ke arah kegelapan hutan.

Meski takut dan bingung melihat mayat bergelimpangan di mana-mana, kelima gadis itu tetap menuruti perintah Cheo. Mereka mempercepat laju kaki tanpa suara. Saling menggenggam, bahu-membahu untuk dapat lari dari tempat terkutuk itu.

Cheo menghampiri Tigris setelah memastikan mereka berkumpul dengan yang lainnya. Sang elang perkasa pergi terbang membelah awan. Nyaris tanpa suara, halus dan cepat.

"Ada apa?" Tigris menjawab dengan geraman. Binatang itu memundurkan diri diikuti Cheo yang mengerti. Mereka bersembunyi di balik sebuah pilar menunggu kedatangan sekelompok orang dari arah depan villa.

"Masih ada lagi? Dan mereka mengincar Kakak," gumam Cheo. Bocah itu berjongkok di samping Tigris bersembunyi dibalik kegelapan dinding yang tanpa penerangan lampu.

Kelompok itu bergerak bersamaan mengepung Zena yang sedang berjalan di lorong.

"Berhenti!" seru mereka menghentikan langkah gadis bercadar yang menyandera dua orang anggota mereka.

Zena mematung di tempat, membalik tubuh William juga Laila agar berhadapan dengan kelompok yang baru datang.

"William! Bagus! Akan kau bawa ke mana dia?" Seseorang muncul dari belakang kelompok tersebut sambil bertepuk tangan.

"Tu-tuan ...?" Laki-laki itu membeku, tubuhnya bergerak gelisah.

Zena merajut alis melihat sosok laki-laki bertubuh tambun yang baru saja muncul itu. Salah satu sudut bibirnya terangkat tatkala ia mengenali sosoknya. Lintasan peristiwa tentang pabrik terbengkalai dan para gadis dengan kondisi yang mengenaskan, membayang dalam ingatan.

Benar. Dialah ketua kelompok itu, sekelompok kecil mafia yang menculik para gadis dan anak-anak untuk diperdagangkan. Dia melarikan diri waktu itu, tapi kali ini Zena tak akan membiarkannya lolos.

"Apa kau berniat menjadi pengkhianat dengan menunjukkan di mana kita menyekap orang-orang itu padanya?" bentaknya lagi menggema di lorong yang tak seberapa luas itu.

"Ti-tidak, Tuan!" Terbata. Ia melirik Zena yang diam tak berkutik di belakangnya. Padahal, gadis itu sedang menyusun siasat bagaimana caranya membunuh bajingan bertubuh tambun itu.

"Kau bodoh, William! Dan kau juga, Laila! Ke mana otak kalian saat ini? Apakah kalian sudah tak dapat lagi berpikir? Kalian akan memancing markas besar itu untuk datang dan mengacaukan semuanya!" bentaknya berapi-api.

William dan adiknya saling melirik satu sama lain dengan kepala tertunduk. Untuk saat ini, Zena lebih menakutkan daripada laki-laki tambun yang ia panggil tuan itu. Tak satu pun menyahut, keduanya terus mengunci rapat bibir mereka. Tengkuk William meremang dikala benda dingin menyentuh permukaan kulitnya yang tertutupi syal.

Bibirnya terlipat, mata terpejam rapat, kepalan tangan mengerat, menahan getar tubuh. Gadis di belakang tubuhnya sama sekali tak bersuara.

Pandang mata laki-laki tambun berpijak pada sosok tinggi kecil di belakang kedua Kakak-beradik itu. Kedua ujung alisnya terajut dikala mata memicing mencoba mengenali sosok dibalik cadar itu.

"Hai, Pak tua! Kita bertemu lagi!" sapa Zena masih menyamarkan suaranya agar William tak mengenali.

Tubuh William meremang, darah berdesir mendengar suara dingin Zena setelah lama bungkam. Di kepalanya, Zena adalah sosok nyata dari sang pencabut nyawa.

Zena menyeringai tajam dibalik cadar, hanya kerutan di pinggiran kedua mata yang menjadi ciri ia tengah tersenyum. Laki-laki bertubuh tambun itu memperdalam kerutan mencoba mengenali sosok dibalik penutup wajah itu.

Ia beralih menatap William, tawa kecil diperdengarkannya untuk mereka. Mengejek, mencibir, ketiga orang bodoh itu.

"Kalian berdua sama bodohnya! Kau tahu Laila, senjata itu hanya memiliki satu peluru saja. Aku sengaja hanya meletakkan satu saja karena besar kemungkinan kalian akan berkhianat kepadaku," ungkap laki-laki tambun itu seolah tak peduli pada nyawa keduanya.

Rasa takut dalam diri William berganti marah, sia-sia saja ia menjalankan tugas dengan baik selama ini. Mencari informasi untuk dapat menculik para gadis remaja yang diminta oleh Ketua mereka.

Zena tertawa, kelompok yang dibawa laki-laki itu bergerak waspada, sedangkan sang ketua mereka justru memicing tak suka.

"Kau yakin hanya satu peluru di dalam sini, Pak tua!" Zena memindahkan senjata itu ke atas bahu William membidik sasaran, "bagaimana jika aku ... dor! Menembak mulutmu itu! Ah, tidak! Tidak! Itu akan membuatmu mati dengan mudah. Aku tidak menginginkannya," sambung Zena mengarahkan ujung senjata pada sasaran lainnya.

"Heh, jangan membual! Aku yang memberikan senjata itu dan aku pula yang memastikan isinya," katanya penuh percaya diri.

Dorrr!

"Argh!"

Tubuh mereka menegang seketika. Satu timah panas yang dilepas Zena tepat mengenai jantung salah satu orang yang dibawanya. Dia terjatuh sambil memegangi bagian dada kiri yang mengucurkan darah dengan deras.

Fyuh! Zena meniup ujung moncong senjata di tangannya yang mengepulkan asap.

"Senjata yang bagus. Ini adalah jenis senjata terbaik, dan kau memberikannya pada gadis polos itu. Aku akan menyimpannya sebagai hadiah pertemuan kita." Zena mengangkat kembali pandangan, lalu menyelipkan senjata tersebut di samping tubuhnya.

Zena menyingkirkan William hingga tubuh laki-laki itu menabrak dinding. Nampaklah apa yang tersembunyi di balik tubuh itu. Bukan senjata yang dia takuti, tapi samurai yang digenggam Zena-lah yang membuat William tak berkutik.

Mata laki-laki tambun itu membelalak saat mengenali samurai berlumur darah di tangan Zena. Ia mundur dan bersembunyi di antara kelompoknya.

"Ka-kau ...?" Peluh sebesar biji jagung bermunculan merembes hingga jatuh membasahi leher dan punggungnya.

"Tak kukira, ternyata kau masih mengenali aku," ucap Zena sembari memainkan samurai di tangan.

Melihat ada kesempatan, William menggenggam jemari Laila. Mengajak adiknya itu untuk melarikan lewat pintu belakang. Akan tetapi, baru beberapa langkah berlari mereka langsung terhenti saat mendapati Tigris menjaga pintu tersebut. Kali ini, Zena tak akan membiarkan siapa saja lolos dari tempat itu.

"Bunuh dia!" titah laki-laki bertubuh tambun itu setelah sekian lama terdiam menelisik sosok Zena yang membekas dalam ingatan. Mereka bergerak serentak mengepung Zena.

Sementara laki-laki itu terus mundur meninggalkan kelompoknya. Namun, langkah yang baru saja hendak melaju, harus berhenti disaat Cheo menghadang jalannya dengan nunchaku di tangan.

Ia meneguk ludah, bocah itu sama berbahayanya seperti Zena. Masih segar dalam ingatan, bagaimana lincahnya tangan itu memainkan senjata legendaris tersebut.

"Hallo, Kakek tua! Kita bertemu lagi," katanya dengan seringai di bibir. Terpaksa laki-laki itu mengeluarkan senjata. Menodongkan benda tersebut ke arah kepala Cheo.

"Kali ini aku pastikan kalian akan mati di tanganku!" ancamnya.

Zena yang terkepung menjadi was-was melihat bocah sepuluh tahun itu harus berhadapan dengan senjata api.

"Cheo!"

"Dor!"

Terpopuler

Comments

Elwi Chloe

Elwi Chloe

Semoga Cheo nggak kenapa-kenapa ya

2022-05-09

1

Siti Nurasiah

Siti Nurasiah

tenang saja, Zena. Cheo tak akan kenapa-kenapa

2022-04-25

1

Siti Nurasiah

Siti Nurasiah

waw ... amazing. Zena memang luar biasa

2022-04-25

1

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Keluarga Chendrik
2 Mencari Masalah
3 Menunjukkan Diri
4 Perdebatan
5 Menantang Zena
6 Duel
7 Pada Saat Makan Malam
8 Apakah?
9 Malam Gembira
10 Pagi yang Menegangkan
11 Masalah Baru
12 Kelas
13 Petunjuk
14 Petunjuk Lain
15 Kenyataan
16 Sebuah Perkumpulan
17 Pembebasan
18 Kejutan
19 Terkepung
20 Ancaman
21 Balasan
22 Penyelamatan
23 Selepas Kejadian Itu
24 Semakin Kacau
25 Menghadiri Rapat
26 Zena Membungkam Penguasa
27 Pertengkaran
28 Kembali Sekolah
29 Perundungan
30 Kenangan
31 Petunjuk Baru
32 Sahabat
33 Apa Itu Cemburu
34 Bertemu Laila
35 Interogasi
36 Penyusup
37 Lagi-lagi Chendrik
38 Keroyokan
39 Kedatangan Adhikari
40 Pergi Menyelidiki
41 Misteri
42 Cemburu Lagi
43 Rezeki Nomplok
44 Cinta
45 Kejutan
46 Kejutan II
47 Tetaplah Jadi Ibuku
48 Tiga Orang Laki-laki
49 Black Shadow
50 Black Shadow II
51 Kilas Balik Masa Lalu
52 Ibu!
53 Rencana Gagal
54 Persengkongkolan
55 Latihan Dimulai
56 Perhatian
57 Aksi Memukau
58 Rahasia
59 Fakta
60 Dilema
61 Sidang
62 Cemas
63 Bertemu Musuh
64 Ujian Dimulai
65 Berburu
66 Terpaksa
67 Tindakan Tak Terduga
68 Tentang Pesta Kelulusan
69 Ibu?
70 Desa Hulu
71 Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72 Nyanyian Syahdu
73 Drama
74 Tanpa Sadar
75 Berdansa
76 Maaf
77 Di Mana Zena!
78 Turut Andil
79 Ben Terluka
80 Tertawan
81 Sosok Misterius
82 Penolong
83 Melawan
84 Kolaborasi
85 Berakhir
86 Kembali Bangun
87 Saat Dia Menghilang
88 Aku Akan Pergi
89 Posisi Ibu
90 Anakmu?
91 Kepergian Zena
92 Pulang
93 Pak Karim
94 Kedatangan Tamu
95 Pembunuh Bayaran
96 Insiden
97 Anak-anak dari Desa Hulu
98 Hampir Saja
99 Misi Penyelamatan
100 Pamanku
101 Ke Mana Para Lelaki?
102 Bangunan Aneh
103 Kenyataan
104 Pembebasan
105 Amukan Massa
106 Di Mana Ibuku
107 Kau?
108 Rencana Penyerangan
109 Kedatangan Sang Elang
110 Kota Elang
111 Semakin Kacau
112 Gadis Lemah dan Menyusahkan
113 Keberangkatan Zena
114 Perang Besar
115 Penaklukan Markas Mata Elang
116 Membebaskan Pulau
117 Pembebasan Pulau
118 Kondisi Terburuk
119 Keadaan Penduduk
120 Komandan yang Angkuh
121 Sosok yang Dihormati
122 Serangan Balik
123 Perasaan Zena
124 Arabella
125 Menyelidiki
126 Ibu
127 Memulai Rencana
128 Kemunculan Zena
129 Pembebasan Sandera
130 Ancaman
131 Bertemu
132 Bazleen
133 Pertarungan Terakhir
134 Kembali Damai
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Kedatangan Keluarga Chendrik
2
Mencari Masalah
3
Menunjukkan Diri
4
Perdebatan
5
Menantang Zena
6
Duel
7
Pada Saat Makan Malam
8
Apakah?
9
Malam Gembira
10
Pagi yang Menegangkan
11
Masalah Baru
12
Kelas
13
Petunjuk
14
Petunjuk Lain
15
Kenyataan
16
Sebuah Perkumpulan
17
Pembebasan
18
Kejutan
19
Terkepung
20
Ancaman
21
Balasan
22
Penyelamatan
23
Selepas Kejadian Itu
24
Semakin Kacau
25
Menghadiri Rapat
26
Zena Membungkam Penguasa
27
Pertengkaran
28
Kembali Sekolah
29
Perundungan
30
Kenangan
31
Petunjuk Baru
32
Sahabat
33
Apa Itu Cemburu
34
Bertemu Laila
35
Interogasi
36
Penyusup
37
Lagi-lagi Chendrik
38
Keroyokan
39
Kedatangan Adhikari
40
Pergi Menyelidiki
41
Misteri
42
Cemburu Lagi
43
Rezeki Nomplok
44
Cinta
45
Kejutan
46
Kejutan II
47
Tetaplah Jadi Ibuku
48
Tiga Orang Laki-laki
49
Black Shadow
50
Black Shadow II
51
Kilas Balik Masa Lalu
52
Ibu!
53
Rencana Gagal
54
Persengkongkolan
55
Latihan Dimulai
56
Perhatian
57
Aksi Memukau
58
Rahasia
59
Fakta
60
Dilema
61
Sidang
62
Cemas
63
Bertemu Musuh
64
Ujian Dimulai
65
Berburu
66
Terpaksa
67
Tindakan Tak Terduga
68
Tentang Pesta Kelulusan
69
Ibu?
70
Desa Hulu
71
Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72
Nyanyian Syahdu
73
Drama
74
Tanpa Sadar
75
Berdansa
76
Maaf
77
Di Mana Zena!
78
Turut Andil
79
Ben Terluka
80
Tertawan
81
Sosok Misterius
82
Penolong
83
Melawan
84
Kolaborasi
85
Berakhir
86
Kembali Bangun
87
Saat Dia Menghilang
88
Aku Akan Pergi
89
Posisi Ibu
90
Anakmu?
91
Kepergian Zena
92
Pulang
93
Pak Karim
94
Kedatangan Tamu
95
Pembunuh Bayaran
96
Insiden
97
Anak-anak dari Desa Hulu
98
Hampir Saja
99
Misi Penyelamatan
100
Pamanku
101
Ke Mana Para Lelaki?
102
Bangunan Aneh
103
Kenyataan
104
Pembebasan
105
Amukan Massa
106
Di Mana Ibuku
107
Kau?
108
Rencana Penyerangan
109
Kedatangan Sang Elang
110
Kota Elang
111
Semakin Kacau
112
Gadis Lemah dan Menyusahkan
113
Keberangkatan Zena
114
Perang Besar
115
Penaklukan Markas Mata Elang
116
Membebaskan Pulau
117
Pembebasan Pulau
118
Kondisi Terburuk
119
Keadaan Penduduk
120
Komandan yang Angkuh
121
Sosok yang Dihormati
122
Serangan Balik
123
Perasaan Zena
124
Arabella
125
Menyelidiki
126
Ibu
127
Memulai Rencana
128
Kemunculan Zena
129
Pembebasan Sandera
130
Ancaman
131
Bertemu
132
Bazleen
133
Pertarungan Terakhir
134
Kembali Damai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!