Zena melenggang menuju lapangan tempat para prajurit Chendrik berlatih. Sudah lama rasanya ia pun tidak melatih diri. Seluruh otot dalam tubuhnya terasa kaku meminta untuk dikendurkan.
Di antara mereka terselip seorang anak kecil yang mencolok dari pada yang lain. Di tangannya memegang sebuah pedang kayu sama seperti prajurit lainnya. Mengikuti arahan suhu dalam memperagakan gerakan.
"Pantas saja dia tidak ada di mansion, ternyata di sini," gumam Zena. Ia berdiri di pinggir lapangan, memperhatikan jalannya latihan dengan mata yang memicing karena sorotan sinar mentari pagi. Kedua tangan berpangku di belakang, diam di tempat mengawasi.
"Master!" Salah satu pelatih datang menyapa Zena.
"Kenapa menggunakan pedang kayu? Apa markas tidak memilikinya?" tanya Zena tanpa mengalihkan pandangan dari para prajurit yang kompak bergerak.
"Ini atas arahan dari master Chendrik, Master. Mereka akan menggunakan pedang asli saat berlatih tanding," jawabnya. Zena mengangguk puas. Ditemani pelatih itu, ia mengawasi.
Suara peluit tanda latihan selesai membubarkan semua prajurit dari tengah lapangan.
"Istirahatlah sejenak sebelum berlatih tanding. Ambil pedang masing-masing dan siapkan diri kalian!" Suara perintah dari pelatih lain menggema.
"Siap!" Sahutan kompak berdengung bagai ribuan tawon menyerang secara bersamaan. Zena tersenyum puas, terlebih saat melihat Cheo yang berlari kecil ke arahnya.
Ia mengibaskan tangan, pelatih yang bersamanya pergi menghampiri yang lain. Zena menyambut kedatangan Cheo dengan sebuah pelukan.
"Selamat pagi, Master!" sapa semua prajurit yang entah sejak kapan mereka telah berbaris di hadapan Zena.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat ia menerima salam mereka. Tampilan yang apa adanya, menambah pesona Zena yang sudah cantik dari lahir.
Tak ada raut dingin dan tegas saat ia berhadapan dengan bocah itu. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum manis, yang memperlihatkan sisi polos dan lugunya sebagai gadis biasa.
"Bagaimana latihanmu? Kakak mencarimu ke rumah, ternyata kau di sini," tanya Zena sambil merangkul bahu bocah itu mengajaknya untuk duduk di sebuah gazebo.
"Sudah lama aku tidak berlatih. Kakak, ayo kita berlatih seperti saat kita di pulau dulu," ajaknya tersenyum jenaka membayangkan masa-masa indah saat hidup di pulau dulu.
"Hmm ... baiklah. Memang sudah lama rasanya kita tidak berlatih," sahut Zena ikut tersenyum, "di mana nunchaku milikmu?" lanjutnya bertanya saat mengingat senjata yang selalu dibawa Cheo ke mana pun mereka pergi.
"Aku menyimpannya di kamar, semua prajurit di sini tidak ada yang mahir menggunakan senjata itu," katanya sedikit cemberut. Zena mengusap kepalanya yang lembab dengan penuh perhatian.
"Ajaklah ayahmu berlatih nunchaku. Kakak kira ia pandai memainkan alat itu," saran Zena.
Cheo mengangkat sebelah alis, rasa tak percaya akan ucapan Zena jelas tergambar di wajahnya yang berkeringat.
"Kenapa? Kau tidak percaya?" Zena berjengit, "kau bisa menantangnya untuk melihat sejauh mana kehebatan pemimpin markas ini memainkan berbagai senjata," saran Zena lagi.
Berbinar wajah bocah yang menyukai tantangan ini. Mendengar kata tantangan ia bersemangat. Kepalanya mengangguk tegas, tak sabar rasanya ingin melihat Chendrik memasuki area latihan dan menantangnya berduel.
Waktu terus bergerak, sebuah peluit tanda perintah menggerakkan seluruh prajurit. Mereka berhambur ke lapangan dengan pedang di tangan. Termasuk Cheo yang menarik Zena ke tengah lapangan untuk berduel dengannya.
Mereka saling menjauh dan saling berhadapan untuk melakukan latih tanding satu lawan satu.
"Kakak siap?" Cheo memasang kuda-kuda bersiap menyerang dengan pedangnya. Zena menggelengkan kepala, tersenyum melihat semangat di mata kecil itu.
"Jangan sungkan menyerang Kakak, Tigris kecil!" sambut Zena. Tigris mengaum di tempatnya menyambut kebangkitan sahabat yang telah lama tertidur pulas. Zena tersenyum, ia merindukan alam bebas dan tantangan tak terduga di dunia luar.
Pedang berdesing. Saling beradu menciptakan suasana perang dengan suara teriakan dari semua orang. Chendrik dan kelompoknya datang untuk memantau latihan semua prajurit. Ia tersenyum puas. Detik berikutnya, mata mereka memicing saat menemukan dua orang yang sedang berduel dengan gerakan yang lain dari semua prajurit.
"Zena?" Sebastian bergumam.
Arabella tampak tak senang mendengar nama gadis itu disebut. Ia menatap penuh benci pada sosok lincah di tengah lapangan itu.
"Cheo?" Kali ini Chendrik yang bergumam. Menatap takjub pada putra kecilnya yang sama lincah dengan Zena. Tentu saja, semua kemampuan yang dimiliki Cheo, Zena yang melatihnya.
Mereka asik berduel, menyerang dan menangkis tanpa takut tergores. Bergerak seirama ke kanan dan kiri dengan tangan mengayun pedang.
Menyadari gerakan yang dilakukan Zena, Arabella membelalak. Ia meneguk ludahnya sendiri meski tampak kesulitan.
"I-itu ...?" Kalimatnya terjeda, hatinya menolak apa yang disaksikan kedua netra.
"Kau mengenalnya?" Suara Adhikari yang berdiri di sampingnya mengusik gendang telinga gadis itu. Arabella melirik, tapi hanya sebentar. Gerakan Zena dan Cheo di tengah lapangan itu menarik perhatiannya.
"Aku menantangnya untuk berduel denganku. Aku menolak kalah darinya," ucap Arabella dengan yakin dan tegas. Pandangan matanya tajam menatap Zena yang tiba-tiba berhenti dan tak bergerak.
"Ada apa, Kak? Kenapa berhenti?" Cheo mengernyit heran.
"Ada yang ingin bermain dengan Kakak. Pergi temui Tigris dan lihat seperti apa permainannya!" ucapnya memberi perintah pada Cheo.
Bocah sepuluh tahun itu tak menolak, ia berjalan keluar arena dan pergi menemui Tigris untuk sekedar menonton bersama hewan besar itu. Menyaksikan duel sang master dengan gadis angkuh di pinggir lapangan.
Zena melempar pedang yang diberikan Cheo padanya ke arah Arabella. Seketika kedua matanya membelalak melihat pedang melesat dengan cepat. Zena tidak main-main. Beruntung, Arabella masih memiliki fokus yang bagus dan berhasil menangkap pedang tersebut.
"Tidak buruk!" cibir Zena masih berdiri di tengah lapangan menunggu sang lawan datang.
Merasakan ketegangan semua prajurit menyingkir dari lapangan. Mereka berbaris mengelilingi lahan luas itu, menanti duel dari dua wanita yang berbakat di markas. Siapa yang tidak mengenal Arabella? Seluruh pasukan Chendrik mengenalnya sebagai ketua tim paling berbakat. Terlebih karena kedekatannya dengan sang pemimpin, Arabella begitu dihormati di markas tersebut.
Namun, siapa peduli? Siapa pun dia, jika disandingkan dengan Zena jelas tak ada apa-apanya.
Arabella melompat ke tengah lapangan.
"Roarrrrrrr!" Auman Tigris memberi semangat dan dukungan untuk Zena. Arabella yang angkuh tersentak kaget mendengar suara tersebut. Ia melilau waspada khawatir akan ada serangan dari binatang buas itu.
"Suara apa itu?" Sebastian tak kalah terkejut. Ia mengedarkan bola mata dengan waspada sama seperti Arabella.
Chendrik tersenyum sinis. "Itu suara Tigris. Dia sahabat Zena, seekor harimau Siberia yang menginduk padanya. Kau jangan meremehkan gadis itu," jelas Chendrik mencibirkan bibir melihat wajah tegang adiknya.
Bukan ia tak tahu soal Sebastian yang sering mengganggu Zena bahkan hampir melecehkannya, tapi melihat rencana busuk sang adik gagal, ia tahu Zena tak semudah itu ditaklukan.
Sebastian meneguk ludah kasar. Ia dan Arabella menegang dengan mata membelalak lebar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Elwi Chloe
emg enak kalian
2022-04-25
2
Elwi Chloe
Mantap sekali aku padamu Zena
2022-04-25
1
Siti Nurasiah
mampus kutil ayam tuh ... mau apa lagi dia sekarang?
2022-04-19
1