Beberapa hari usai kejadian malam itu, Sebastian jarang terlihat berkeliaran di mansion besar Chendrik tepatnya di bangunan belakang tempat Zena berada. Begitu juga wanita yang bersembunyi di balik semak itu, tak terlihat batang hidungnya.
Zena berjalan santai mengenakan kaos berlengan panjang yang kelonggaran seperti biasanya. Riasan rambut yang sama, kuncir ekor kuda yang ia sukai. Bibirnya yang merah alami menambah seri di wajah.
"Cheo!" panggilnya dengan suara manja khas seorang gadis lugu nan polos. Ia berdiri di bawah tangga mansion utama sembari memainkan jemari, dan sesekali akan menggigit kukunya yang dirasa panjang mencuat.
Arabella nampak tak senang melihat kehadiran Zena di mansion utama itu. Ia tengah berjalan bersama Chendrik mengenakan seragam markas Mata Elang.
"Kau! Sedang apa kau di sini?" ketusnya menuding Zena dengan jari telunjuk.
Zena bertolak pinggang, seketika mengernyit melihat Chendrik berpakaian resmi sebagai pemimpin markas. Laki-laki itu terdiam memandangi Zena yang terlihat seksi di matanya. Ia meneguk ludah basi, betapa Zena cantik dengan tampil apa adanya.
"Kenapa kau berseragam resmi? Apa ada hal genting terjadi?" tanya Zena tanpa peduli pertanyaan Arabella yang belum ia jawab. Gadis itu mendelik tak suka, kedua bibirnya terbuka ingin menghardik Zena, tapi Chendrik menghentikannya dengan melangkah mendekati gadis polos itu.
"Markas sedang genting, mereka berulah lagi dan semua petinggi akan ikut rapat pagi ini membahas masalah yang akhir-akhir ini terjadi tanpa solusi," jawab Chendrik memandang penuh hasrat pada wajah cantik Zena. Berbeda sekali dengan Arabella yang setiap hari harus dipoles make-up untuk terlihat cantik. Ditambah Zena yang mandiri dan tak pernah mengandalkan orang lain, itu menjadi nilai plus untuk dirinya.
"Aku ikut!" putus Zena.
"Untuk apa? Kau bukan siapa-siapa di sini, kau tidak akan mengerti apa yang akan kami bahas!" seru Arabella dengan cepat menyambar ucapan Zena.
"Siapa yang peduli! Aku akan pergi lebih dulu!" ucap Zena tak acuh seraya meninggalkan mansion Chendrik. Gadis itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ingin protes, tapi Chendrik mengibaskan tangan dan langsung berlalu mendahului.
"Aku ikut! Kau perlu strategiku, Kak!" Sebastian ikut menimpali, ia telah rapi dengan seragam kebanggaannya sebagai seorang Jenderal.
"Untuk itulah aku memintamu datang," sahut Chendrik seraya melanjutkan langkah diikuti dua orang di belakangnya. Ia tampak gagah dan berkarisma. Mobil anti peluru yang dikendarainya membuktikan bahwa Chendrik bukanlah orang biasa.
Wanita paruh baya menyeringai dari balik jendela melihat kepergian semua orang. Termasuk Zena yang hanya mengendarai sepeda motor pemberian Chendrik.
Zena sampai lebih dulu, ia telah duduk di kursi rapat bersama para petinggi markas tanpa mengganti pakaiannya. Ketujuh orang itu tertunduk saat harus berhadapan dengan sang Master Legenda mereka. Untuk bernapas saja mereka harus lakukan secara pelan. Tak ingin menyinggung singa betina yang sedang tertidur pulas. Padahal, Zena biasa saja hanya sesekali akan melirik satu per satu dari mereka.
"Zena! Kau tidak mengenakan seragam-mu?" tegur Adhikari saat mata tuanya menangkap sesosok gadis lugu duduk tak mau diam.
"Paman, aku tidak mau mengenakan seragam itu. Aku tidak suka, panas!" katanya asal. Ia mendengus saat laki-laki tua itu tersenyum menggeleng. Adhikari duduk di samping Zena, mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Zena seperti anaknya sendiri.
Berselang, Chendrik dan kawanannya memasuki ruangan, Arabella menganga tak percaya saat melihat Zena duduk santai di samping Adhikari.
"Kau! Tidak sopan sekali datang ke tempat rapat dengan mengenakan pakaian seperti itu. Dasar wanita tak tahu malu, di sini bukan tempatmu. Sadari posisimu, wanita ja-"
"Jaga mulutmu, Arabella!" tukas Adhikari sambil berdiri menahan geram di dada, "kau tidak pantas berbicara seperti itu padanya. Kau tahu siapa dia?" lanjut Adhikari membentak wanita bermulut lancang itu.
Ia masih ingin bicara, tapi sentuhan tangan Zena menghentikannya. Gadis itu menarik tubuh Adhikari untuk duduk kembali. Membisikan sesuatu di telinganya supaya ia terdiam dan tenang.
"Kenapa master membelanya?" protes Arabella tampak tak senang dari guratan di wajahnya.
"Diam, Arabella! Jika kau masih ingin di sini, maka tutup mulutmu dan jangan ucapkan kata-kata tidak pantas untuk Zena. Duduk! Rapat akan segera dimulai!" hardik Chendrik tidak main-main. Ia duduk di kursi kepemimpinan, memimpin jalannya rapat. Mencari solusi atas semua masalah yang masuk ke dalam laporan markas.
"Mereka juga tidak kembali?" Chendrik mendesah lelah. Sudah dua puluh orang lebih prajurit dikirimnya, tapi tak satu pun dari mereka yang kembali.
Zena menatap remeh Arabella yang seolah berpikir mencari solusi.
"Kenapa kau tidak mencoba mengirimkan prajurit perempuan sebagai umpan?" usul Zena enteng. Ia tersenyum dikala Chendrik memandangnya.
Sial! Senyumnya manis sekali! Chendrik mengumpat.
Dia memang sangat cantik. Sebastian menimpali dalam hati.
"Itu sangat berbahaya untuk dilakukan seorang perempuan?" sahut Chendrik tak setuju.
Zena menghendik. "Hanya sebagai umpan, tentu saja ada prajurit laki-laki yang mengawasi." Ia melirik Arabella dengan bibir mencibir.
"Kau ... apa maksud tatapanmu, itu? Apa kau ingin aku pergi ke tempat berbahaya itu?" hardik Arabella yang membuat semua mata para petinggi melotot ke arahnya.
Zena melipat tangan di dada, pandangannya tetap sama. "Tentu saja. Jika bukan untuk itu, untuk apa kau datang ke markas?" sarkas Zena masih dengan senyum meremehkan.
Arabella membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang terucap. Ia tertawa jengah saat tak satu pun dari mereka yang menolak usul Zena.
"Apa kau tidak dengar itu sangat berbahaya untuk perempuan. Lagi pula siapa kau dan apa jabatanmu di sini?" Arabella meradang.
"Aku khawatir kau akan muntah darah saat tahu siapa aku, tapi aku yakin kau sangat berpengalaman. Aku kira kau mampu melakukannya," timpal Zena lagi tak mau mengalah. Semua orang memperhatikan dengan saksama.
"Chendrik, kau tahu aku sudah lama tidak melakukan tugas mata-mata. Kau juga tak mungkin membiarkan aku melakukan tugas berbahaya ini, bukan?" protesnya pada Chendrik.
Zena mendengus, semua petinggi meremehkan. Adhikari tersenyum sinis.
"Kokoh di luar, bobrok di dalam." Zena melengos.
"Apa maksudmu?" Kedua mata Arabella menjegil.
"Markas yang kau miliki ini tampak kokoh dari luar, Chendrik. Semua orang mengandalkan pasukanmu, tapi sayang, isi di dalamnya tak sekokoh wajahnya. Rapuh dan bobrok, aku pastikan perlahan markas ini akan hancur bila diisi para pengecut sepertinya," ungkap Zena menohok jantung Arabella tepat di bagian tengahnya.
Mata wanita itu mendelik lebar, seluruh wajahnya berkedut. Bibirnya bergerak, tapi tak ada kata yang terucap. Chendrik mendesah. Apa yang dikatakan Zena benar adanya. Termasuk semua petinggi yang seketika menundukkan wajah mereka. Adhikari menatap nanar sang pemimpin markas.
"Aku mengajukan diri untuk menyelidiki kasus ini sendiri. Aku yakin, aku akan dapat berbaur dengan semua anak di sana!" seru Zena setelah melihat sendiri bagaimana sesungguhnya tim markas Mata Elang itu.
Chendrik mengangkat wajah cepat, matanya yang melebar menatap Zena tak rela. Termasuk, Sebastian yang seketika jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba keduanya mencemaskan Zena.
"Cih! Cari muka, padahal kau tak memiliki kemampuan apa pun," cibir Arabella hampir seperti bisikan, tapi Zena tetap bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku mendengarnya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Elwi Chloe
por to Arabell
2022-04-25
2
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
banyak yang mengkhawatirkan mu Zena... Arabella semakin meradang 🤭
2022-04-19
1
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Arabella selalu iri sama Zena...
2022-04-19
1