Semilir angin tak lagi sejuk terasa, hawa panas menjalar ke seluruh tubuh. Urat-urat menegang dan kaku. Lutut gadis itu bergetar, keringat bermunculan membasahi wajah hingga lehernya. Berkali-kali ia kedapatan meneguk ludah guna membasahi kerongkongan yang tiba-tiba mengering.
Laki-laki jangkung di sana pula merasakan ketegangan yang sama. Chendrik mendengus, itu belum seberapa dibandingkan ia yang sudah pernah melawan putranya sendiri dan ... kewalahan.
Di sisi lain lapangan, seekor harimau Siberia berjalan perlahan. Di atas punggungnya duduk anteng bocah tengil, Cheo, putra Chendrik. Zena tersenyum tipis, ini belum seberapa. Ia belum menunjukkan jati diri yang sebenarnya, tapi kedua orang yang selalu mengganggu itu telah berubah pucat pasih.
"Tak perlu takut, dia tidak akan memakanmu." Zena mengusap kepala hewan besar itu dan memberinya pelukan disaat mereka berdiri berdampingan.
"Namanya Tigris, dia anakku. Aku merawatnya sejak bayi. Sama seperti Cheo yang aku asuh dari semenjak ia dilahirkan," ucapnya memberikan senyum pada bocah paling berani di markas tersebut.
Arabella menjatuhkan rahang. Apa yang diucapkan Zena benar-benar membuatnya terkejut. Matanya berkedip-kedip, pedang di tangan hampir terlepas jika saja ia terus terhanyut oleh pesona Zena sang penjinak kucing besar itu.
"Pergilah ke tepi, kalian menakutinya," titahnya sambil mengusap bulu-bulu Tigris yang lebat.
Auman hewan besar itu kembali menggema sebelum berbalik dan menekuk keempat kakinya di tepi lapangan. Zena berbalik, kepalanya menggeleng saat melihat Arabella termangu tanpa sadar.
"Dalam sebuah pertempuran, kau tak boleh lengah sedetik pun. Tidak boleh, walaupun lawan memiliki selaksa cara untuk menjatuhkan mentalmu di medan tempur. Kau harus tetap menjaga kewarasanmu. Jika sikapmu seperti itu, maka sudah dapat aku pastikan kau akan kalah telak di awal pertandingan." Zena mencibirkan senyum tatkala bola mata Arabella mengarah kepadanya.
Tatapan mata Sebastian semakin dipenuhi kekaguman. Chendrik tetap berdiam dengan sikap datarnya. Dalam hati, ia memuja Zena. Tak hanya cantik, dia juga cerdik.
Dialah sang legenda. Adhikari bergumam. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk garis lengkung yang samar.
"Kau harus tetap tenang dan harus tetap menguasai dirimu sendiri. Tunjukkan keberanian dan keangkuhan. Buktikan pada lawanmu bahwa bukan hanya dia yang mampu menggertak. Itu saja. Kurasa duel hari ini sudah dipastikan pemenangnya," pungkas Zena seraya melempar pedangnya secara asal dan ditangkap salah satu prajurit Chendrik dengan sigap.
Ia berbalik menghampiri Cheo dan Tigris, berencana menghabiskan hari ini dengan bermain bersama keduanya sebelum esok pergi menjalankan tugas.
"Aku tidak menerima kekalahan. Pantang bagiku menyerah sebelum berperang!" Arabella menggeram, pegangan tangannya mengerat pada pedang yang ia genggam. Sontak hal itu membuat semua orang terperangah. Gadis itu benar-benar gila menantang Zena. Mungkin dia ingin membuktikan bahwa Zena bukanlah apa-apa.
Langkah tegas Zena terhenti, ia menunduk sambil mengulum senyum sebelum tubuhnya berbalik menghadap sang lawan. Ia tetap tenang meski tak ada pedang di tangan. Bagaimanapun cara bertarungnya, Zena selalu siap siaga.
Arabella berlari dengan sebilah pedang di tangan. Ketegangan kembali terjadi, para penonton antusias melihat. Duel antara sang Master Legenda dengan mantan ketua tim Elang Merah. Ini akan menjadi trending topik Minggu ini. Siapa yang paling unggul di antara keduanya.
"Jangan terlalu bernafsu karena itu hanya akan menguras tenagamu sebelum pertarungan dimulai," sindir Zena sembari mengelak sebelum tebasan pedang Arabella mengenainya.
Serangan demi serangan terus dilancarkan gadis itu dengan penuh nafsu membunuh. Sesekali auman Tigris membuyarkan gaya serangnya. Ia was-was, khawatir binatang itu akan menyerangnya secara tiba-tiba. Zena terus menghindar dari serangan tanpa berniat balas menyerang.
Ia tersenyum sinis, melihat kelalaian yang dilakukan Arabella karena konsentrasinya terganggu oleh suara Tigris yang menggema. Zena menangkis tangan yang memegang pedang dan memberikan pukulan tepat di bagian ulu hatinya.
Pedang di tangan Arabella jatuh, ia termundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya. Cairan bening menyembur dari mulut disaat tubuhnya berdebam di atas tanah lapangan. Ia terbatuk hebat.
Zena meraih pedang tersebut dan menghunuskan benda tajam itu tepat di bagian lehernya. Iris biru Arabella membelalak, ia mengangkat pandangan dan mendapati senyum Zena yang menyebalkan.
Mereka semua menahan napas, bola mata hampir melompat keluar melihat Zena yang bisa saja menebas leher Arabella.
"Bagaimana? Masih ingin bermain denganku?" Hilang sudah kesan polos dan lugu yang selama ini melekat di wajah Zena. Hanya ada raut datar dan dingin, sedingin pandang matanya yang membunuh.
Ia mendengus, melempar pedang di tangan ke tepi lapangan seraya berbalik meninggalkan tanah lapang itu. Pasukan Elang Merah berhambur ke tengah lapangan, menghampiri Arabella yang masih terbaring di atas tanah.
"Ketua! Kau tak apa?" tanya salah satu dari mereka dengan cemas.
Arabella menepis tangan yang menyentuh tubuhnya, terlalu malu untuk mengakui kekalahan. Ia beranjak sendiri meskipun tertatih. Tak butuh uluran tangan siapapun. Berjalan terseok-seok menahan nyeri di ulu hati. Chendrik dan Sebastian menatap nanar sosoknya yang berusaha secepat mungkin untuk sampai di tepi.
Sementara Zena, sosoknya tak terlihat lagi di lapangan berikut Tigris dan Cheo yang ikut menghilang.
"Bagaimana? Puas berduel dengannya? Perlu kau tahu, Bella. Master Zena adalah Master Legenda di markas ini. Kau salah mencari lawan," tegur ketua tim Elang Biru sembari mencibirkan bibir padanya.
Arabella mendelik tajam, ia mendengus seraya melanjutkan langkah tanpa berkata apapun lagi. Wajahnya menghitam dan berubah jelek. Ia memacu kakinya untuk segera sampai di ruangan.
"Sial! Master Legenda? Dia Master Legenda? Apa-apaan itu? Semua orang tahu bahwa gelar itu hanya dimiliki sepasang Elang Putih-"
"Dan Zena adalah keturunan sang legenda. Anak dari Master Yuki dan Master Faris. Namanya, Alzena Izz Bazleena. Kau pasti tahu siapa Bazleen? Mereka adalah sepasang Elang Putih yang kau maksud," sela Adhikari dengan cepat.
Arabella menganga tak percaya, kedua kakinya mendadak terasa lemas. Ia ambruk di atas kursi dengan napas tersengal. Benar, dia hampir muntah darah mendengar identitas Zena yang sesungguhnya.
"Kau terkejut? Tentu saja, karena kami pun awalnya sangat terkejut." Salah satu petinggi menyambar dengan cepat.
"Kau tahu, Bella, dia bahkan hampir memusnahkan markas saat master memerintahkan menangkap hewan itu. Dia benar-benar mampu melakukannya, hanya dengan sebuah samurai di tangan, ia menari dengan lincah memporak-porandakan seluruh bangunan markas." Yang lain ikut bercerita.
Arabella semakin menciut mendengar kisah itu.
"Dan perlu kau tahu, Bella. Bocah yang bersamanya itu pun sama-sama berbahaya ketika marah. Dia bahkan berani menantang ayahnya sendiri untuk berduel. Tubuh sekecil itu mampu membuat mansion besar milik master hampir roboh."
Arabella menjatuhkan kedua bahu, merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding Zena. Pantas saja, sikapnya tetap tenang meskipun dia terus memprovokasi. Zena bukan orang yang mudah digertak apalagi ditindas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Irma Muthia Wijaya
keren ceritanya,lanjut kk semangat
2025-01-14
1
momi
zena di lawan
2025-01-17
0
Hera Puspita Sari
cerita nya bagus, tp sayang yg like cuma sedikit, tetap semangat author 💪💪🤗🤗
2023-02-14
2