Sebuah Perkumpulan

Di belahan dunia yang lain, di dalam sebuah gedung tinggi pencakar langit, sekelompok manusia tengah berkumpul. Sedang terjadi pesta pora di dalam sana, botol-botol minuman haram berjejer rapi sebagian sudah tak berisi.

Wanita-wanita berpakaian seksi bahkan ada di antara mereka yang nyaris tanpa busana. Sehelai kain yang mereka gunakan cukup untuk menutupi bagian tertentu saja. Musik berdentam keras memekakkan telinga.

Di sebuah ruangan pribadi sekelompok lainnya berkumpul tertawa terbahak-bahak, salah satu di antara mereka dielu-elukan, disanjung, dipuja dan dipuji sebagai pemimpin besar.

"Bagaimana kabar mereka? Kudengar Chendrik sekarang menjadi pemimpin markas itu?" tanyanya sambil menyesap sebatang rokok dan mengepulkan asapnya ke udara.

"Benar, Ketua. Dialah yang memimpin markas tersebut dengan segala kebodohannya." Tawa menggelegar dari bibir-bibir mereka. Menertawakan seorang Chendrik sang pemimpin markas.

"Tak kusangka anak tidak berguna itu sekarang menjadi pemimpin markas mata-mata. Bisa apa? Dia akan memimpin dengan otaknya yang bodoh itu. Markas itu hanya akan menjadi tempat perkumpulan orang-orang bodoh saja dibawah kepemimpinannya." Tawa mereka kembali terdengar. Riuh rendah menggelikan.

Pembahasan tentang Chendrik seperti sebuah lelucon bagi mereka semua.

"Ketua, saat ini mereka bahkan tak dapat menuntaskan kekacauan yang kita buat. Rumah sakit, sekolah, belum lagi masalah di perbatasan, semua itu tak dapat mereka selesaikan."

"Bahkan saya mendengar dari laporan anak buah saya, banyak prajurit markas tersebut yang tertangkap dan menjadi bulan-bulanan mereka di markas."

Saling sahut menyahuti mereka semua memberi informasi. Laki-laki bertubuh kerdil dengan perut tambun itu tersenyum puas mendengar semua laporan yang dia terima.

"Bagus! Bagus! Aku suka kerja kalian. Teruskan menebar kerusuhan, buat mereka kalang kabut menghadapi semua masalah. Setelah itu, kita akan menyerang markas mereka dan mendudukinya. Kita tak perlu lagi bersembunyi karena kitalah penguasanya," ucapnya lantang disambut tawa menggelegar dari semua yang ada.

"Kita akan membalas kekalahan tiga puluh tahun silam. Mereka telah pergi tidak ada lagi yang melindungi markas dan kota tersebut. Kota Elang akan menjadi milik kita sama seperti saat keduanya belum menginjakkan kaki mereka di tanah itu." Ia mengepalkan tangan dengan sorot mata penuh tekad berpendar ke segala arah.

"Hidup Ketua!" teriak salah satu dari mereka.

"Hidup Ketua!" sambut yang lain berdenging seperti ribuan lebah menyerang bersamaan.

"Sepasang Elang Putih akan menderita di neraka melihat perjuangannya dalam membebaskan kota itu akan hancur dan musnah. Seperti saat mereka meregang nyawa karena hantaman timah panas yang kita luncurkan. Buat pertahanan mereka porak-poranda, hancurkan sampai ke akarnya hingga tak ada lagi bekas markas Mata Elang yang gagah perkasa." Ia terus memprovokasi.

"Hancurkan!"

"Hancurkan!"

Teriakan demi teriakan mereka gemakan di ruangan tersebut. Membuatnya tertawa senang, puas dan bahagia. Para wanita di samping kanan dan kirinya turut bergembira, bergelayut manja di lengan laki-laki bertubuh kerdil tersebut.

Pesta terus berlanjut, keonaran yang mereka ciptakan pun kian merambat. Menjadi benang kusut untuk Chendrik, rumit dan sulit dipecahkan.

Laki-laki itu kembali ke ruang kerja setelah perbincangannya bersama Zena dan Adhikari. Membaca kembali laporan-laporan yang dibawa elang-elang mereka setelah memindai.

Kepalanya berdenyut nyeri. Ia menekan kedua sisi pelipis mengurai rasa sakit yang mendera, tapi tetap saja nyeri itu terasa dan kian bertambah.

"Semakin banyak kasus yang terjadi dan semuanya melibatkan warga sipil. Perdagangan manusia, perbudakan, perdagangan organ dalam manusia, senjata ilegal, narkoba ... hah~ benar-benar tugas berat untuk markas," keluhnya sambil mengusap wajah dan menjatuhkannya pada sandaran kursi.

Para mafia telah menyerang secara sembunyi-sembunyi. Menggunakan warga sipil yang tak berdosa sebagai teror untuk membuat markas kalang kabut.

"Rasanya aku tidak becus memimpin markas. Tak satu pun masalah yang terjadi terpecahkan. Laporan masyarakat semakin menumpuk, bagaimana markas menanggapinya? Sementara pihak kepolisian berjalan lambat dalam menuntaskannya," gumamnya lagi dengan mata terpejam lelah.

Ia berharap pada Zena dapat menyelesaikan kasus hilangnya para gadis remaja. Berharap pada Sebastian dan Arabella yang sedang berjuang di perbatasan. Ia beranjak keluar dari ruang kerja menuju kamarnya.

Beristirahat sejenak mungkin dapat mengurangi rasa sakit yang mendera kepalanya. Chendrik berendam dalam kubangan air hangat, membuat rileks seluruh otot tubuh yang menegang.

"Chendrik!"

Suara panggilan Ibu berikut ketukan di pintu, mengganggu ketenangannya. Chendrik mendengus dikala ketukan itu tak kunjung berhenti. Ia beranjak dan mengenakan handuknya keluar menemui Ibu.

"Ada apa, Bu? Aku butuh istirahat," katanya malas membukakan pintu.

Wanita tua itu tersenyum lebar, kedua maniknya berbinar sumringah melihat sang anak.

"Mmm ... begini, Ibu ada keperluan. Bisa kau berikan Ibu uang? Ibu sangat membutuhkannya, Chendrik. Kirim saja ke rekening Ibu," ucapnya tak tahu malu dan tak tahu waktu.

Chendrik mendesah jengah, mengusap wajah gusar. Emosi mulai merangkak menuju ujung kepala, membuat kulit wajahnya memerah murka.

"Bukankah satu Minggu yang lalu aku sudah kirimkan uang dengan nominal yang tidak sedikit kepada rekening Ibu? Seharusnya itu cukup untuk dua atau tiga bulan. Bu, markas sedang dalam masalah. Tolong mengerti, markas membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk mendukung perjuangan kami, Bu. Kumohon jangan seperti ini! Jadilah bijak, Ibu." Chendrik mengiba. Ia menunduk sambil melipat bibir menahan gejolak emosi.

"Kembalilah ke kamar Ibu dan istirahat. Ini sudah hampir larut malam," katanya seraya menutup pintu kamar dan membanting diri di atas kasur tanpa mengenakan pakaian. Hanya selembar handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya saja. Chendrik tumbang dan hanyut di alam mimpi dengan begitu cepat.

Ibu mendengus kesal, ia menghentakkan kaki saat melangkah meninggalkan depan kamar Chendrik. Menggerutu dan mengumpat di sepanjang jalan menuju kamarnya sendiri.

Di bagian lain mansion itu, tepatnya di mansion belakang. Zena tengah berdiri di depan kamar. Menengadah menatap langit kelam tanpa rembulan dan bintang gemintang. Di punggungnya tersampir sebuah tabung yang dipenuhi dengan anak panah.

Di tangan kanan menggenggam busur yang ia bawa dari pulau. Tak ada yang tahu jika dibalik pakaiannya terselip sebilah samurai yang selalu ia bawa ke manapun pergi. Malam itu, ia akan melakukan penyerangan terhadap sekelompok penculik gadis remaja.

Ia menunggu sang petunjuk jalan. Seekor burung terbang dengan indah di balik awan hitam. Menukik tajam, melesat turun ke arah Zena. Lalu, hinggap di tangan gadis itu.

Sorot mata keemasannya memberi isyarat kepada Zena bahwa ia telah siap untuk berperang bersamanya. Zena mengangguk, ia kembali menerbangkan burung tersebut ke langit sebelum menaiki sepeda motornya. Tak mungkin ia berjalan kaki, bukan?

Mesin motor Zena menyala dengan halus, sangat mustahil akan membangunkan orang-orang di mansion utama karena jarak yang lumayan jauh. Zena akan mengambil jalan belakang mansion hingga tak perlu membangunkan semua orang.

"Aku ikut!"

Terpopuler

Comments

Lidiawati06

Lidiawati06

mampir lagi thor baca maroton wkwk

2022-05-19

1

Elwi Chloe

Elwi Chloe

mantap lah Zena, aku padamu

2022-05-01

1

Siti Nurasiah

Siti Nurasiah

karakter Zena memang lain dari yang lain.

2022-04-24

1

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Keluarga Chendrik
2 Mencari Masalah
3 Menunjukkan Diri
4 Perdebatan
5 Menantang Zena
6 Duel
7 Pada Saat Makan Malam
8 Apakah?
9 Malam Gembira
10 Pagi yang Menegangkan
11 Masalah Baru
12 Kelas
13 Petunjuk
14 Petunjuk Lain
15 Kenyataan
16 Sebuah Perkumpulan
17 Pembebasan
18 Kejutan
19 Terkepung
20 Ancaman
21 Balasan
22 Penyelamatan
23 Selepas Kejadian Itu
24 Semakin Kacau
25 Menghadiri Rapat
26 Zena Membungkam Penguasa
27 Pertengkaran
28 Kembali Sekolah
29 Perundungan
30 Kenangan
31 Petunjuk Baru
32 Sahabat
33 Apa Itu Cemburu
34 Bertemu Laila
35 Interogasi
36 Penyusup
37 Lagi-lagi Chendrik
38 Keroyokan
39 Kedatangan Adhikari
40 Pergi Menyelidiki
41 Misteri
42 Cemburu Lagi
43 Rezeki Nomplok
44 Cinta
45 Kejutan
46 Kejutan II
47 Tetaplah Jadi Ibuku
48 Tiga Orang Laki-laki
49 Black Shadow
50 Black Shadow II
51 Kilas Balik Masa Lalu
52 Ibu!
53 Rencana Gagal
54 Persengkongkolan
55 Latihan Dimulai
56 Perhatian
57 Aksi Memukau
58 Rahasia
59 Fakta
60 Dilema
61 Sidang
62 Cemas
63 Bertemu Musuh
64 Ujian Dimulai
65 Berburu
66 Terpaksa
67 Tindakan Tak Terduga
68 Tentang Pesta Kelulusan
69 Ibu?
70 Desa Hulu
71 Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72 Nyanyian Syahdu
73 Drama
74 Tanpa Sadar
75 Berdansa
76 Maaf
77 Di Mana Zena!
78 Turut Andil
79 Ben Terluka
80 Tertawan
81 Sosok Misterius
82 Penolong
83 Melawan
84 Kolaborasi
85 Berakhir
86 Kembali Bangun
87 Saat Dia Menghilang
88 Aku Akan Pergi
89 Posisi Ibu
90 Anakmu?
91 Kepergian Zena
92 Pulang
93 Pak Karim
94 Kedatangan Tamu
95 Pembunuh Bayaran
96 Insiden
97 Anak-anak dari Desa Hulu
98 Hampir Saja
99 Misi Penyelamatan
100 Pamanku
101 Ke Mana Para Lelaki?
102 Bangunan Aneh
103 Kenyataan
104 Pembebasan
105 Amukan Massa
106 Di Mana Ibuku
107 Kau?
108 Rencana Penyerangan
109 Kedatangan Sang Elang
110 Kota Elang
111 Semakin Kacau
112 Gadis Lemah dan Menyusahkan
113 Keberangkatan Zena
114 Perang Besar
115 Penaklukan Markas Mata Elang
116 Membebaskan Pulau
117 Pembebasan Pulau
118 Kondisi Terburuk
119 Keadaan Penduduk
120 Komandan yang Angkuh
121 Sosok yang Dihormati
122 Serangan Balik
123 Perasaan Zena
124 Arabella
125 Menyelidiki
126 Ibu
127 Memulai Rencana
128 Kemunculan Zena
129 Pembebasan Sandera
130 Ancaman
131 Bertemu
132 Bazleen
133 Pertarungan Terakhir
134 Kembali Damai
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Kedatangan Keluarga Chendrik
2
Mencari Masalah
3
Menunjukkan Diri
4
Perdebatan
5
Menantang Zena
6
Duel
7
Pada Saat Makan Malam
8
Apakah?
9
Malam Gembira
10
Pagi yang Menegangkan
11
Masalah Baru
12
Kelas
13
Petunjuk
14
Petunjuk Lain
15
Kenyataan
16
Sebuah Perkumpulan
17
Pembebasan
18
Kejutan
19
Terkepung
20
Ancaman
21
Balasan
22
Penyelamatan
23
Selepas Kejadian Itu
24
Semakin Kacau
25
Menghadiri Rapat
26
Zena Membungkam Penguasa
27
Pertengkaran
28
Kembali Sekolah
29
Perundungan
30
Kenangan
31
Petunjuk Baru
32
Sahabat
33
Apa Itu Cemburu
34
Bertemu Laila
35
Interogasi
36
Penyusup
37
Lagi-lagi Chendrik
38
Keroyokan
39
Kedatangan Adhikari
40
Pergi Menyelidiki
41
Misteri
42
Cemburu Lagi
43
Rezeki Nomplok
44
Cinta
45
Kejutan
46
Kejutan II
47
Tetaplah Jadi Ibuku
48
Tiga Orang Laki-laki
49
Black Shadow
50
Black Shadow II
51
Kilas Balik Masa Lalu
52
Ibu!
53
Rencana Gagal
54
Persengkongkolan
55
Latihan Dimulai
56
Perhatian
57
Aksi Memukau
58
Rahasia
59
Fakta
60
Dilema
61
Sidang
62
Cemas
63
Bertemu Musuh
64
Ujian Dimulai
65
Berburu
66
Terpaksa
67
Tindakan Tak Terduga
68
Tentang Pesta Kelulusan
69
Ibu?
70
Desa Hulu
71
Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72
Nyanyian Syahdu
73
Drama
74
Tanpa Sadar
75
Berdansa
76
Maaf
77
Di Mana Zena!
78
Turut Andil
79
Ben Terluka
80
Tertawan
81
Sosok Misterius
82
Penolong
83
Melawan
84
Kolaborasi
85
Berakhir
86
Kembali Bangun
87
Saat Dia Menghilang
88
Aku Akan Pergi
89
Posisi Ibu
90
Anakmu?
91
Kepergian Zena
92
Pulang
93
Pak Karim
94
Kedatangan Tamu
95
Pembunuh Bayaran
96
Insiden
97
Anak-anak dari Desa Hulu
98
Hampir Saja
99
Misi Penyelamatan
100
Pamanku
101
Ke Mana Para Lelaki?
102
Bangunan Aneh
103
Kenyataan
104
Pembebasan
105
Amukan Massa
106
Di Mana Ibuku
107
Kau?
108
Rencana Penyerangan
109
Kedatangan Sang Elang
110
Kota Elang
111
Semakin Kacau
112
Gadis Lemah dan Menyusahkan
113
Keberangkatan Zena
114
Perang Besar
115
Penaklukan Markas Mata Elang
116
Membebaskan Pulau
117
Pembebasan Pulau
118
Kondisi Terburuk
119
Keadaan Penduduk
120
Komandan yang Angkuh
121
Sosok yang Dihormati
122
Serangan Balik
123
Perasaan Zena
124
Arabella
125
Menyelidiki
126
Ibu
127
Memulai Rencana
128
Kemunculan Zena
129
Pembebasan Sandera
130
Ancaman
131
Bertemu
132
Bazleen
133
Pertarungan Terakhir
134
Kembali Damai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!