Kenyataan

"Kau harus tetap berhati-hati, Zena. Beruntung ada seseorang yang memberimu peringatan. Jika tidak, mungkin kau akan tertangkap oleh mereka." Chendrik berkomentar setelah membaca setiap tulisan tangan Zena.

Senyumnya tercetak miring memperhatikan setiap huruf yang ditorehkan Zena di atas lembar kertas tersebut.

Tidak buruk untuk ukuran seseorang yang tak pernah duduk di bangku sekolah. Aku penasaran dengan hidupmu, Zena. Bagaimana caramu bertahan hidup di usia sama seperti Cheo ketika ditinggalkan orang tua sendiri.

Ekor matanya melirik Zena dari balik buku catatan gadis itu. Semakin jauh garis bibirnya tertarik, melihat gadis itu makan dengan lahap ia tahu tidak mudah untuk Zena mengatasi semuanya sendirian. Beruntung, ia mengirim mata-mata untuk tetap mengawasi meskipun Zena tak membutuhkan.

"Jangan mencibir tulisanku! Pujian yang kau berikan sama saja mengejek karena kau tahu aku tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah," sarkas Zena sambil terus mengunyah makanan tanpa melirik Chendrik yang skeptis.

Laki-laki itu meneguk ludah, menurunkan buku catatan dan meletakkannya di atas meja. Ia melipat kedua tangan di dada, iris coklatnya tetap fokus pada sosok jelita di meja makan itu.

"Aku hanya penasaran bagaimana kehidupanmu saat kecil dulu, Zena? Sedangkan kedua orangtuamu telah pergi meninggalkan ... bisa kau ceritakan bagaimana keduanya pergi? Karena tidak ada laporan tentang keduanya di markas, dan itu sangat penting untuk kami," pinta Chendrik menatap antuasias pada gadis yang sedang mencuci tangannya itu.

Ia membereskan piring bekas makan, tapi dicegah cepat olehnya.

"Duduk saja dan ceritakan bagaimana kedua orang tuamu bisa pergi?" katanya sembari menahan tangan Zena untuk tidak beranjak.

Ia mengambil piring tersebut dan menyimpannya. Lantas kembali duduk kali ini berdampingan dengan Zena.

Gadis itu masih termangu mencerna semua yang ada dalam pikiran. Kejadian demi kejadian saat ia kecil dulu, terus berputar seperti sebuah klise film yang diputar tayang.

Garis tegas di wajah, sesaat saja berubah muram dan durja. Hanya ada kesedihan yang nampak di matanya, penderitaan karena harus berjuang sendirian masih sangat terasa dalam benak.

"Bisakah?" Suara Chendrik kembali terdengar. Jemari laki-laki itu masih menggenggam pergelangan tangannya dan sengaja ia eratkan. Pandangannya menatap hangat pada Zena ketika ia memutar kepala dengan sejuta penderitaan yang tak ia sembunyikan di manik kelamnya.

"Apa yang ingin kau dengar? Aku tidak memiliki kisah menarik sepanjang perjalanan hidupku. Satu-satunya yang membuatku terus bertahan untuk hidup hanyalah sebuah keinginan semata untuk dapat melihat dunia yang sesungguhnya sesuai cerita Ayah dan Ibu." Zena menunduk, ada sesuatu yang mendesak meminta dimuntahkan. Akan tetapi, sekuat hati ia menahan dan tetap tegar.

"Baiklah. Jika kau tak ingin menceritakannya, aku tak akan memaksa," ucap Chendrik penuh pengertian. Semakin erat genggaman tangannya dan Zena membiarkan. Sentuhan itu ia butuh untuk menenangkan hatinya disaat kenangan bersama orang tua mencuat ke permukaan.

"Kata Ayah, Ibu meninggal dua puluh tahun silam. Saat usiaku tiga tahun dan saat itu aku sangat-sangat membutuhkannya." Zena mendesah berat. Ada getir di setiap alunan nada yang keluar dari lisannya, getar kesedihan dan penderitaan. Gadis kuat itu memiliki kenangan pahit dalam hidupnya.

"Saat itu aku sedang bermain bersama Ibu, tiba-tiba Ibu terjatuh dan tidak bangun lagi. Di puncak bukit hijau itu, semua kenangan tentangnya masih terlukis dengan indah. Aku meraung memanggil-manggil Ibu agar ia bangun dan kembali bermain denganku." Zena menggelengkan kepala sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.

Tanpa terasa jemarinya ikut mengerat pada jemari Chendrik yang menggenggam. Zena tertunduk sejenak, membuang napas kasar yang menghimpit rongga dadanya.

"Aku tidak tahu sebab kematian Ibu. Ayah hanya mengatakan Ibu terkena serangan jantung. Padahal saat itu aku tahu tubuh Ibu mengeluarkan cairan merah," pungkas Zena sambil melirik Chendrik dengan senyum getir.

"Apa kau tahu penyebab kematiannya, Chendrik? Karena aku sering memimpikannya dan itu selalu menjadi mimpi terburuk di setiap malam ku," ucap Zena menatap lekat laki-laki yang bergeming dalam diam.

Ia kembali melempar pandangan ke depan, kosong pada udara hampa yang terasa dan tak tersentuh.

"Sedangkan Ayah, saat itu usiaku barulah memasuki tahun ke sepuluh. Ayah mengajariku banyak hal, pengetahuan, kemiliteran, strategi perang, bela diri dan berbagai senjata juga penggunaannya."

"Di usiaku yang saat itu, aku sudah pandai menggunakan berbagai macam senjata berkat Ayah. Kami tinggal di pulau terpencil, semua penduduk mengenal kami, tapi tak satu pun dari mereka yang mengetahui letak rumah kami."

Zena menjeda, ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan cerita, "Saat itu aku sedang berlatih sendirian di bukit sambil menunggu Ayah kembali dari kota, aku akan menunjukkan hasil latihanku padanya. Akan tetapi, kabar buruk yang aku terima. Salah satu penduduk berlari ke bukit memanggilku."

Ia kembali menunduk, mendesah berat dan panjang. Sebak meraja di hati. Ayah berperan ganda dalam hidupnya, ia menjadi Ayah sekaligus Ibu dalam waktu bersamaan.

"Aku berlari ke dermaga, dan ... dan Ayah sudah terbujur kaku di atas sebuah tandu yang dibawa masyarakat." Zena terisak, tak kuasa lagi hatinya menahan sebak mengingat kepergian orang paling berharga dalam hidup.

Chendrik mengusap punggung Zena yang berguncang. Untuk pertama kalinya, ia melihat Zena menangis. Gadis itu memiliki sisi rapuh yang ia simpan sendiri. Kisah pahit dan penderitaan yang ia tutup rapat dari semua orang. Dia gadis hebat, bukan? Tangguh dan tegar.

Zena menarik napas panjang, sangat panjang dan dalam. Membuangnya perlahan meredakan sebak yang menghujam.

"Kondisi Ayah sama seperti Ibu, tubuhnya penuh cairan darah. Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, Ayah hanya berpesan 'jika Ayah pergi tetaplah di pulau sampai kau benar-benar menguasai semua yang Ayah berikan.' aku menurut. Sekarang aku tahu apa penyebab kematian mereka," pungkas Zena sambil menatap Chendrik yang bersimpati terhadapnya.

Laki-laki itu bergeming, tatapannya terpatri pada manik kelam yang tenang tanpa beban. Nyatanya menyimpan sejuta penderitaan dan kesakitan.

"Apa kau tahu apa yang menimpa mereka, Chendrik? Dulu, Ayah selalu pergi memakai seragam seperti yang kalian kenakan. Ketika aku bertanya, seorang teman meminjamkannya. Aku tak pernah curiga, tapi sekarang aku tahu ia pergi untuk menjalankan misi yang tak selesai," ungkap Zena yang kembali tegar saat mengucapnya.

"Dua puluh tahun silam, markas sedang gencar-gencarnya mencari keberadaan sepasang Elang Putih yang tiba-tiba hilang dari markas. Disaat itu juga para mafia melakukan hal yang sama, memburu keduanya untuk menghancurkan markas Mata Elang. Yang aku dengar, Ibumu ditemukan. Ia menyembunyikan dirimu di dalam semak agar mereka tak menjumpai garis keturunannya. Dia tidak mati karena sakit, Zena, tapi karena para mafia mengepungnya." Sebuah suara menimpali dari pintu masuk ruang makan.

"Paman?"

"Master?"

Zena dan Chendrik sama-sama menoleh, sama-sama terkejut mendapati Adhikari sudah berdiri di sana dan mendekat kepada mereka.

"Ayahmu datang terlambat, dia datang disaat nyawa Yuki sudah di ujung tanduk. Hal itulah yang menjadi penyesalan Ayahmu untuk seumur hidup. Sementara Faris ia tertembak saat menyerang salah satu markas mafia yang melakukan pengeroyokan terhadap Ibumu. Dia sedang bersamaku saat itu, Zena. Aku melihat semuanya, aku sempat tertangkap waktu itu, dijadikan sandera oleh mereka untuk memorak-porandakan markas ini, tapi pemimpin dulu melakukan penyerangan besar-besaran dan berhasil membawaku. Chendrik yang saat itu menolongku." Adhikari menoleh pada pemimpin markas itu.

Sebuah kebanggaan tersirat jelas di wajahnya. Juga penyesalan karena tak dapat menyelamatkan sahabatnya. Zena tertunduk, tekad untuk menghancurkan para gembong mafia semakin kuat ia rasakan.

Aku akan memburu mereka semua! Benar kata Ayah, 'hidup adalah seni. Seni mempertahankan diri dalam dunia yang kejam.'

Terpopuler

Comments

Elwi Chloe

Elwi Chloe

setiap manusia pasti mempunyai sisi rapuh jga

2022-05-01

1

Siti Nurasiah

Siti Nurasiah

ternyata Zena memiliki sisi rapuh dan perjalanan hidup yang pahit dan pastinya tak mudah.

2022-04-24

1

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜

Perjalanan hidup yg penuh dengan kekerasan membawa Zena menjadi wanita yang tangguh, mandiri namun tetap memancarkan pesona kecantikan yg bisa meluluhkan hati.

2022-04-22

1

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Keluarga Chendrik
2 Mencari Masalah
3 Menunjukkan Diri
4 Perdebatan
5 Menantang Zena
6 Duel
7 Pada Saat Makan Malam
8 Apakah?
9 Malam Gembira
10 Pagi yang Menegangkan
11 Masalah Baru
12 Kelas
13 Petunjuk
14 Petunjuk Lain
15 Kenyataan
16 Sebuah Perkumpulan
17 Pembebasan
18 Kejutan
19 Terkepung
20 Ancaman
21 Balasan
22 Penyelamatan
23 Selepas Kejadian Itu
24 Semakin Kacau
25 Menghadiri Rapat
26 Zena Membungkam Penguasa
27 Pertengkaran
28 Kembali Sekolah
29 Perundungan
30 Kenangan
31 Petunjuk Baru
32 Sahabat
33 Apa Itu Cemburu
34 Bertemu Laila
35 Interogasi
36 Penyusup
37 Lagi-lagi Chendrik
38 Keroyokan
39 Kedatangan Adhikari
40 Pergi Menyelidiki
41 Misteri
42 Cemburu Lagi
43 Rezeki Nomplok
44 Cinta
45 Kejutan
46 Kejutan II
47 Tetaplah Jadi Ibuku
48 Tiga Orang Laki-laki
49 Black Shadow
50 Black Shadow II
51 Kilas Balik Masa Lalu
52 Ibu!
53 Rencana Gagal
54 Persengkongkolan
55 Latihan Dimulai
56 Perhatian
57 Aksi Memukau
58 Rahasia
59 Fakta
60 Dilema
61 Sidang
62 Cemas
63 Bertemu Musuh
64 Ujian Dimulai
65 Berburu
66 Terpaksa
67 Tindakan Tak Terduga
68 Tentang Pesta Kelulusan
69 Ibu?
70 Desa Hulu
71 Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72 Nyanyian Syahdu
73 Drama
74 Tanpa Sadar
75 Berdansa
76 Maaf
77 Di Mana Zena!
78 Turut Andil
79 Ben Terluka
80 Tertawan
81 Sosok Misterius
82 Penolong
83 Melawan
84 Kolaborasi
85 Berakhir
86 Kembali Bangun
87 Saat Dia Menghilang
88 Aku Akan Pergi
89 Posisi Ibu
90 Anakmu?
91 Kepergian Zena
92 Pulang
93 Pak Karim
94 Kedatangan Tamu
95 Pembunuh Bayaran
96 Insiden
97 Anak-anak dari Desa Hulu
98 Hampir Saja
99 Misi Penyelamatan
100 Pamanku
101 Ke Mana Para Lelaki?
102 Bangunan Aneh
103 Kenyataan
104 Pembebasan
105 Amukan Massa
106 Di Mana Ibuku
107 Kau?
108 Rencana Penyerangan
109 Kedatangan Sang Elang
110 Kota Elang
111 Semakin Kacau
112 Gadis Lemah dan Menyusahkan
113 Keberangkatan Zena
114 Perang Besar
115 Penaklukan Markas Mata Elang
116 Membebaskan Pulau
117 Pembebasan Pulau
118 Kondisi Terburuk
119 Keadaan Penduduk
120 Komandan yang Angkuh
121 Sosok yang Dihormati
122 Serangan Balik
123 Perasaan Zena
124 Arabella
125 Menyelidiki
126 Ibu
127 Memulai Rencana
128 Kemunculan Zena
129 Pembebasan Sandera
130 Ancaman
131 Bertemu
132 Bazleen
133 Pertarungan Terakhir
134 Kembali Damai
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Kedatangan Keluarga Chendrik
2
Mencari Masalah
3
Menunjukkan Diri
4
Perdebatan
5
Menantang Zena
6
Duel
7
Pada Saat Makan Malam
8
Apakah?
9
Malam Gembira
10
Pagi yang Menegangkan
11
Masalah Baru
12
Kelas
13
Petunjuk
14
Petunjuk Lain
15
Kenyataan
16
Sebuah Perkumpulan
17
Pembebasan
18
Kejutan
19
Terkepung
20
Ancaman
21
Balasan
22
Penyelamatan
23
Selepas Kejadian Itu
24
Semakin Kacau
25
Menghadiri Rapat
26
Zena Membungkam Penguasa
27
Pertengkaran
28
Kembali Sekolah
29
Perundungan
30
Kenangan
31
Petunjuk Baru
32
Sahabat
33
Apa Itu Cemburu
34
Bertemu Laila
35
Interogasi
36
Penyusup
37
Lagi-lagi Chendrik
38
Keroyokan
39
Kedatangan Adhikari
40
Pergi Menyelidiki
41
Misteri
42
Cemburu Lagi
43
Rezeki Nomplok
44
Cinta
45
Kejutan
46
Kejutan II
47
Tetaplah Jadi Ibuku
48
Tiga Orang Laki-laki
49
Black Shadow
50
Black Shadow II
51
Kilas Balik Masa Lalu
52
Ibu!
53
Rencana Gagal
54
Persengkongkolan
55
Latihan Dimulai
56
Perhatian
57
Aksi Memukau
58
Rahasia
59
Fakta
60
Dilema
61
Sidang
62
Cemas
63
Bertemu Musuh
64
Ujian Dimulai
65
Berburu
66
Terpaksa
67
Tindakan Tak Terduga
68
Tentang Pesta Kelulusan
69
Ibu?
70
Desa Hulu
71
Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72
Nyanyian Syahdu
73
Drama
74
Tanpa Sadar
75
Berdansa
76
Maaf
77
Di Mana Zena!
78
Turut Andil
79
Ben Terluka
80
Tertawan
81
Sosok Misterius
82
Penolong
83
Melawan
84
Kolaborasi
85
Berakhir
86
Kembali Bangun
87
Saat Dia Menghilang
88
Aku Akan Pergi
89
Posisi Ibu
90
Anakmu?
91
Kepergian Zena
92
Pulang
93
Pak Karim
94
Kedatangan Tamu
95
Pembunuh Bayaran
96
Insiden
97
Anak-anak dari Desa Hulu
98
Hampir Saja
99
Misi Penyelamatan
100
Pamanku
101
Ke Mana Para Lelaki?
102
Bangunan Aneh
103
Kenyataan
104
Pembebasan
105
Amukan Massa
106
Di Mana Ibuku
107
Kau?
108
Rencana Penyerangan
109
Kedatangan Sang Elang
110
Kota Elang
111
Semakin Kacau
112
Gadis Lemah dan Menyusahkan
113
Keberangkatan Zena
114
Perang Besar
115
Penaklukan Markas Mata Elang
116
Membebaskan Pulau
117
Pembebasan Pulau
118
Kondisi Terburuk
119
Keadaan Penduduk
120
Komandan yang Angkuh
121
Sosok yang Dihormati
122
Serangan Balik
123
Perasaan Zena
124
Arabella
125
Menyelidiki
126
Ibu
127
Memulai Rencana
128
Kemunculan Zena
129
Pembebasan Sandera
130
Ancaman
131
Bertemu
132
Bazleen
133
Pertarungan Terakhir
134
Kembali Damai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!