Jeritan yang mengusik telinga memancing rasa penasaran Zena. Langkahnya terjeda, indera pendengaran dipertajam, matanya memindai pada selasar panjang yang sepi.
"To-long! Hen-ti-kan! Sa-kit!" Suara itu semakin nyata terdengar. Membangunkan sisi kemanusiaan Zena yang ia tahan. Dahi sempitnya mengernyit hingga mempertemukan kedua ujung alis.
Ia masih mematung di tempat, entah kenapa lorong tersebut cepat sekali sepi. Padahal, baru saja semua siswa laki-laki dan perempuan berebut jalan pulang. Berdesakan saling mendahului, tapi dalam waktu beberapa detik menjadi sunyi, senyap tanpa suara.
"Jangan dengarkan! Terus maju jika kau ingin selamat!" Sebuah suara berbisik di telinganya. Zena tersentak hingga melompat jauh menghindari si pemilik suara.
"Kau? Apa maksudmu?" sungut Zena tak bisa menerima jika ia dikejutkan dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu.
William, si remaja misterius berdiri di sana dengan wajah datar dan dinginnya. Tepat di samping Zena. Kedua pupil gadis itu membesar, jelas ia terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Tutup telingamu jangan turuti rasa penasaran di hatimu, Zena. Pulanglah! Sekolah ini sudah tidak aman jika semua siswa telah pulang," ucap William lagi memperingati.
Zena membeku, remaja di depannya tahu sesuatu tentang sekolah ini. Ribuan tanya mencuat membutuhkan jawaban segera, tapi Zena harus tetap bersabar dan bermain cantik tentunya. Berpura-pura polos dan tak tahu apa-apa.
"Tapi dia seperti kesakitan. Kita tidak bisa membiarkannya. Aku akan pergi mencari tahu," sahut Zena lagi dengan kilatan tekad yang memancar lewat sorot matanya.
Wajah remaja laki-laki di depannya mengernyit. Kesedihan, penyesalan, juga kekecewaan jelas tercetak di wajahnya yang tirus.
"Aku sudah memberimu peringatan, jika kau tetap ingin pergi, pergilah! Aku hanya takut orang tuamu di rumah sedang menunggu kepulanganmu. Itu saja," katanya tak acuh. Ia berbalik seolah tak peduli, padahal Zena jelas melihat yang ia tak ingin gadis itu pergi.
"Aku akan tetap pergi!" tegas Zena seraya berbalik dan berjalan berlawanan menuju lorong sepi belakang gedung sekolah.
William menghentikan langkah, ia berdesis dengan desah napas lelah. Matanya terpejam sebelum ia berbalik mengejar Zena. Ditariknya tangan gadis itu dengan kasar.
"Argh! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" pekik Zena seraya mencoba melepaskan cekalan tangan William yang kuat. Pada hakikatnya, mudah saja bagi Zena melepasnya.
William terus menyeret Zena hingga ke lapangan parkir sekolah. Sederet mobil dan motor yang dikendarai para siswa telah raib. Hanya menyisakan beberapa saja, mungkin milik guru atau pengurus sekolah.
Zena menyentak tangannya kasar hingga terlepas. Napas yang memburu menandakan ia tengah emosi karena perbuatan remaja bernama William itu. Kedua pandang mereka saling mengunci tajam memberikan tekanan pada masing-masing rasa.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyeretku?" bentak Zena tidak terima. Semakin besar kedua matanya, melotot hampir melompat keluar.
"Aku menyelamatkanmu, kau tahu!" Telunjuk William menuding wajah Zena dengan bengis.
"Menyelamatkan? Menyelamatkan dari apa? Kau justru telah kehilangan kemanusiaan dengan membiarkan teriakan itu dan meninggalkannya. Kita tidak tahu apa yang terjadi di sana?" Zena tak kalah geram. Ia masih menahan diri untuk tidak menunjukkan siapa dirinya.
Terus berpura-pura menjadi gadis polos dan tidak tahu apa-apa.
Ayo, katakan! Katakan kau tahu sesuatu!
Hatinya bersorak gemas. William terpaku, tak menyahut untuk beberapa detik atas pernyataan Zena yang baru saja.
"Kenapa kau diam? Dia berteriak minta tolong, dan kita abai padanya. Di mana hati nuranimu? Di mana?" Zena menepuk-nepuk dada geram.
William tetap bungkam, berhadapan dengan mulut terkunci rapat. Sementara Zena, menahan emosi agar tak meluap. Suara teriakan itu membuatnya penasaran, bisa mati dia jika tak melihatnya, tapi sikap William aneh dan mencurigakan.
"Kau tidak tahu apa pun soal sekolah ini, Zena. Kau masih sehari bersekolah di sini. Pulanglah! Kedua orang tuamu menunggu," titahnya dengan helaan napas berat yang ia hembuskan.
Zena mengernyit tak senang. Ia tak berhasil membuat William membuka mulut perihal misteri di sekolah tersebut.
"Aku akan mengantarmu sampai gerbang," katanya lagi masih berdiri menunggu Zena yang justru mematung dengan raut wajah kesal.
Zena menghentakkan kaki meninggalkan lapangan parkir diawasi kedua mata biru milik William yang memandangnya dengan lekat. Ia menaiki sepeda motor dan perlahan mengikuti gadis itu dari belakang. Entah ada apa dengan remaja itu, sikap dan tingkahnya membuat Zena waspada.
Apakah aku ditandai?
Zena membelalak dengan kepala yang tertunduk. Ia awas, seorang penjaga gerbang yang ramah, tapi memiliki pandangan tajam menusuk. Senyum yang diukir menampakkan sederet giginya yang menguning. Menyeramkan jika dilihat sekilas. Bekas luka di wajahnya yang nampak sangat jelas, tak ia tutupi sama sekali. Menambah kesan menakutkan pada sosoknya.
"Nak Zena pulang sendiri?" sapanya ramah. Gadis itu mengangkat wajah, memperhatikan dengan saksama sosok jelek di depannya. Kedua mata kecokelatan milik penjaga gerbang itu memindai tubuh Zena dari atas hingga bawah dengan lidah yang tak henti menjilati bibirnya sendiri.
"Iya, Pak. Permisi!" Zena mengayun langkah menuju luar gerbang diikuti motor William di belakangnya. Remaja laki-laki itu membiarkan Zena berjalan sendiri menuju sekolah Cheo yang berjarak sepuluh meter dari sekolahnya.
"Siapa laki-laki itu?"
"Dia murid kelas tiga C."
"Awasi!"
"Baik!"
Dua pasang mata mengawasi mereka saat di parkiran. Menyelidik tentang siapa William. Seolah-olah tak rela Zena menjadi dekat dengannya.
Hah~
Zena menghela napas yang tak berkesudahan, sambil terus mengayuh langkah menuju gedung sekolah dasar tempat Cheo berada.
"William? Siapa dia sebenarnya? Aku akan menyelidikinya," gumam Zena. Ia menengadah ke langit meneguk ludah perlahan sebelum menurunkan kembali pandangannya.
Di tepi jalan gedung sekolah Cheo, anak itu sedang berdiri menunggunya. Melihat Zena di kejauhan, anak sepuluh tahun itu ikut melangkah mendekat. Zena merangkul bahu kecil Cheo mengajaknya terus melanjutkan langkah untuk pulang.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Zena menjatuhkan pandangan pada Cheo di sampingnya. Bocah itu cepat sekali tumbuh.
"Biasa saja, sama seperti yang diajarkan Kakak saat di pulau dulu," jawabnya enteng.
Zena mengusap rambut lembabnya, keduanya terus melangkah menyusuri jalanan besar sambil menunggu jemputan. Di kejauhan, Zena melihat sosok siswa perempuan yang berpakaian sama seperti dirinya. Ia berjalan bersama temannya sambil berbincang.
Tak lama sebuah mobil SUV berwarna hitam melintasi keduanya, berhenti sejenak sebelum lanjut berjalan memecah jalan.
"Tidak mungkin!"
Zena bergumam terkejut disaat mobil berlalu, dua gadis itu hilang di jalanan.
"Kakak! Ada apa?" Cheo menggoyangkan tangan Zena disaat gadis itu berhenti mendadak dan termangu di jalan.
"Kita harus menyelamatkan mereka, Cheo!" serunya, seraya melilau ke segala arah. Tak menemukan apa pun untuk mengejar, Zena berlari menarik tangan Cheo mencari tempat sedikit sepi, bersiul memanggil sang elang.
Burung pemangsa itu datang tanpa menunggu waktu lama, ia hinggap di tangan Zena dengan cepat dan mendengar perintah dari tuannya. Perintah yang diberikan Zena melalui tatapan mata mereka. Burung itu terbang kembali ke langit, menukik merobek langit sendirian, dia pandai menyembunyikan diri dari pemburunya.
"Kakak apa apa?" Cheo kembali bertanya saat Zena tak menjawab dan ia justru membuka seragamnya.
"Cheo, saat Ayahmu datang kau harus segera pulang!" katanya terus membuka semua atribut dari tubuhnya.
"Kau tidak akan ke mana pun!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Elwi Chloe
apa itu musuh Zena lagi?🤔 aku suka nih kalo banyak musuh begini, pasti ujung-ujungnya Zena tebas semua 🤗
2022-04-29
1
Elwi Chloe
lah kok gitu sih
2022-04-29
1
Anita_Kim
Semangat Zena💪🤗
2022-04-28
2