"Kau tidak akan ke mana pun!" sentak sebuah suara yang secara tiba-tiba muncul di belakang tubuhnya.
Sontak Zena menoleh, dan membelalak ketika mendapati remaja tadi berdiri di sana. Ia menjauh, menghindar sambil menarik Cheo menjauh dari William.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa tiba-tiba berada di belakang ku?" cecar Zena menatap curiga pada sosok remaja itu. Meskipun tampan, tapi dia misterius.
"Kau tidak boleh pergi ke sana, Zena. Kau tidak boleh menyusul mereka. Itu akan membahayakan dirimu sendiri. Percaya padaku, Zena. Jangan pergi!" pintanya.
Pandangannya yang dingin berubah muram, wajah tampannya dipenuhi amarah juga kebencian. Ada apa dengannya.
"Sekarang katakan padaku ada apa sebenarnya? Akan aku pertimbangkan permintaanmu!" tuntut Zena dengan mata dinginnya yang kian menusuk.
William mendesah, menatap lekat manik kelam Zena yang menantang.
"Baik. Kau ingin tahu kenapa? Akan aku ceritakan," katanya mengakhiri rahasia yang ia simpan selama ini, "tapi kuharap kau tidak pergi ke sana, Zena," sambungnya lagi memohon.
"Akan aku pertimbangkan. Jadi ceritakan padaku ada rahasia apa yang disimpan di sini!" tuntut Zena semakin tegas. Ia bahkan tak bergerak terus mengunci pandangan pada iris biru milik William.
"Katakan! Lalu, dengarkan keputusanku setelahnya," pungkas Zena tak ingin berlama-lama.
"Beberapa bulan lalu, aku dan adikku merupakan pindahan dari kota lain jauh di sana. Aku hidup berdua dengan adikku tanpa orang tua karena mereka pergi menjalankan bisnis. Beberapa bulan itu aku dan adikku merupakan siswa pindahan. Satu Minggu kami bersekolah dengan aman dan tenang, hanya satu Minggu."
"Setelahnya ... dia menghilang setelah mengalami kejadian seperti yang kau alami. Saat itu, dia tidak mendengarkan aku. Pada akhirnya tepat satu Minggu bersekolah, dia hilang tanpa jejak. Sampai saat ini pun, aku masih mencari tahu tentang siapa dan kenapa adikku menghilang. Aku masih menyelidiki kasusnya sendirian, berpura-pura tak acuh pada hilangnya adikku agar aku bisa tetap bersekolah dan mencari kabar adikku itu," tutur William pada akhirnya terbongkar jua rahasia mengapa ia tak menginginkan Zena pergi.
Gadis itu termangu mendengarnya, jika benar. Maka yang tadi ia dengar hanyalah sebuah jebakan untuk menarik simpati siswa baru yang belum tahu apa-apa. Mungkin seperti itu juga para prajurit yang hilang.
Zena menganggukkan kepala, ia tersenyum lantas mendekat pada William yang mematung di tempatnya.
"Duduklah! Ceritakan padaku bagaimana kecantikan adikmu?" katanya seraya duduk di atas rumput pinggir jalan. Ia ikut duduk bersama Zena dan Cheo.
"Ini adikku. Cheo namanya. Kami sedang menunggu Ayah menjemput." Zena memperkenalkan Cheo kepadanya.
"Terima kasih." William tersenyum. Senyum yang nampak menawan dilihat dari sosok tampan dirinya. Senyum yang pertama kali Zena lihat pada wajah seorang William.
"Kau tampan jika tersenyum, Wil," celetuk Zena sedikit menghibur hati William yang kesepian.
Pemuda itu membuang pandangan, menatap arak-arakan awan di langit yang berwarna putih.
"Adikku memiliki senyum yang manis. Dia memiliki warna mata yang sama denganku. Murah senyum dan ceria. Ada tahi lalat di atas bibirnya sebelah kiri. Rambutnya berwarna pirang bawaan. Hah ... kuharap dia akan kembali sebelum orang tau kami datang," ungkap laki-laki itu sembari membayangkan bagaimana rupa sang adik.
Zena manggut-manggut mengerti. Ketiganya telibat obrolan di tempat sunyi itu. Dari obrolan itu Zena mengetahui satu hal dan dapat petunjuk jelas dan penting.
"Aku pergi!" William bangkit saat melihat sebuah mobil mendekat ke arah mereka. Menyisakan Zena dan Cheo yang masih duduk di atas rumput.
Sosok di balik kemudi itu membuka kaca mobil sedikit menampakkan wajah siapa yang ada di sana. Tanpa menurunkan kacamata hitamnya Chendrik memanggil.
"Masuk!" titahnya tegas. Zena dan cheo berhamburan masuk ke dalam.
"Kenapa kau yang menjemput?" tanya Zena sesaat setelah ia duduk di kursi penumpang bersama Cheo.
"Master sedang melakukan sesuatu di rumah sakit. Kasus di sana mulai terungkap sedikit demi sedikit," sahut Chendrik sembari melirik Zena dari spion tengah.
Hening. Zena tak lagi bertanya ataupun berceloteh bersama cheo. Dia terus menatap jendela seolah-olah ada yang sedang mengganggu pikirannya.
"Siapa laki-laki tadi?" tanya Chendrik dingin. Hawa di dalam mobil berganti saat Chendrik mengingat betapa Zena dan siswa laki-laki itu terlihat akrab dan dekat.
"Kenapa? Namanya William, dia seorang pindahan sama sepertiku," jawab Zena dengan mata mendelik tajam saat menangkap sedikit kecemburuan di manik coklat laki-laki pengemudi itu.
Chendrik tak lagi bertanya melihat ketidaksenangan di wajah Zena. Namun, ia mengumpat dalam hati dan mengancam akan membunuh siswa itu jika saja berhasil merebut Zena lebih dulu. Pandangannya beralih pada bocah kecil yang asik menatap jendela.
"Bagaimana belajarmu, Nak?" Chendrik menunggu.
"Yah, Ayah. Hanya biasa saja sama seperti pelajaran yang diberikan Kakak saat di pulau dulu," jawabnya singkat.
Matahari terus merangkak menuju puncaknya. Terus bergulir ke bawah menuju peraduan. Mereka semua hening tak ada yang memulai untuk berbicara.
Mobil menepi di halaman rumah Chendrik. Cheo dan Zena gegas keluar dan pergi ke masing-masing kamar tanpa berpamitan pada Chendrik yang baru saja keluar mobil.
Zena membanting diri di atas kasur. Mengawang pada langit-langit ruangan yang berwarna putih polos. Ia melukis sepasang Elang putih di sana.
Zena berbalik miring, tangannya merogoh ke dalam seprei mengeluarkan sebuah samurai yang sudah lama tak ia sentuh. Matanya berkilat penuh tekad.
"Aku harus pergi malam ini juga. Jika tidak, semuanya akan terasa lebih sulit dan pasti bercabang. Maka, sebelum itu terjadi aku harus segera mencari tahu ke mana mereka membawa para gadis itu," lirih Zena sembari berkaca pada bilah samurai yang terbuka sarungnya.
Zena beranjak, mulai menyusun rencana apa yang akan ia lakukan untuk menyerang mereka nanti. Ia menunggu sang elang datang memberi kabar dan petunjuk kepadanya.
"Wah, perutku berbunyi. Aku sampai lupa memberi kalian makan karena terlalu memikirkan kasus ini," gumamnya seraya melangkah meninggalkan kamar menuju dapur utama di rumah Chendrik.
Rasanya, ia rindu daging asap yang ia buat sendiri saat di pulau. Rindu gubuk yang ia tinggalkan, di sana damai dan tenang tanpa harus memikirkan hiruk-pikuk kehidupan manusia. Bagaimana kabar pulau Liman? Apakah baik-baik saja?
Belle? Tuma? Semoga keduanya hidup dengan baik.
"Tunggu dan bertahanlah kami akan datang menjemput," gumam Zena saat teringat pada harimau betina dan harimau kecil di pulau.
"Zena?" tegur Chendrik yang siang itu kebetulan ada di rumah.
Zena tetap berjalan mendekat, "aku lapar. Apa ada makanan?" Zena mengusap perutnya seraya melangkah masuk ke mansion utama.
"Tentu saja. Makanlah! Aku dan Cheo baru saja selesai," ucapnya seraya duduk menemani Zena makan.
Gadis itu tanpa segan mengambil piring dan segala makanan yang terhidang di atas meja makan. Oh, ia lupa. Meja itu telah berganti rupa. Zena melirik Chendrik yang berpura-pura membaca sebuah koran.
"Sudah aku ganti. Kau tenang saja," katanya tanpa melirik Zena yang masih menatapnya. Gadis pulau itu menghendikan bahu seraya mulai memakan makan siangnya.
"Apa yang kau temukan hari ini? Dan apa kau tahu penyebab hilangnya para prajurit?" tanya Chendrik sambil menurunkan koran yang menutupi pandangannya.
Zena menganggukkan kepala dengan mulut penuh makanan. Ia mengeluarkan buku catatan dan memberikannya pada Chendrik.
"Baca saja di situ, semua yang aku tahu tercatat di sana."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Anita_Kim
Akak aku mampir Lagi...
2022-04-30
2
Siti Nurasiah
ada yang cemburu rupanya Chendrik mulai menebar benih cinta hahaha
2022-04-24
1
🍭ͪ ͩIr⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ𝐙⃝🦜
Go Zena kamu pasti bisa mengungkapkan semuanya. Pertolongan mu sangat berarti buat mereka.
2022-04-21
1