"Aku ikut!"
Sebuah seruan menghentikan Zena yang baru saja hendak menjalankan motor. Di belakangnya, sesosok tubuh berdiri di bawah remang cahaya lampu. Sosok kecil dengan sorot mata yang berkilat penuh tekad, tangannya menggenggam erat nunchaku. Cheo tak akan membiarkan Zena pergi seorang diri.
"Cheo?" Zena beranjak turun dan mendekati sosok itu. Tangannya mengusap rambut bocah sepuluh tahun itu dengan lembut.
"Ini bukan tugasmu, Cheo. Lagipula bagaimana kau tahu kalo Kakak akan pergi?" tutur Zena dengan lembut. Seingatnya, Zena tak pernah mengatakan bahwa ia akan pergi menyerang.
"Kakak pikir aku tidak tahu jalan pikiran Kakak? Aku memperhatikan gelagat Kakak, melihat sinar mata Kakak aku yakin bahwa Kakak akan pergi. Dan aku tak akan membiarkan Kakak pergi sendirian," ucap Cheo dengan tegas.
Zena berjengit, alisnya terajut mencipta gelombang di antaranya.
"Tapi itu akan sangat berbahaya, Cheo. Kakak tidak ingin kau kenapa-napa," ungkap Zena dengan penuh perhatian.
Tekad Cheo semakin kuat terlihat, "Kakak ingat kita bahkan pernah menyerang markas mafia narkoba juga tempat persembunyian mereka yang menculik para gadis. Kita melakukannya bersama-sama, Kak. Apa Kakak lupa?" tuntut Cheo sama sekali tak mengendurkan urat-urat di wajahnya.
Zena tersenyum, seperti bercermin pada dirinya sendiri.
"Baiklah. Pastikan saja kau dapat melindungi diri sendiri dan jangan pernah lengah. Kakak tidak bisa selalu melindungimu," ingat Zena yang diangguki dengan tegas oleh bocah sepuluh tahun itu.
Tangan gadis itu menepuk pundak Cheo seraya mengajaknya menaiki motor. Pergi di kesunyian malam tanpa siapapun lagi yang tahu, termasuk Chendrik sang pemilik mansion.
Elang legenda milik Zena terbang tinggi di langit menjadi penunjuk jalan ke mana para gadis itu dibawa. Jalanan sepi dan lengang membuat Zena leluasa menjalankan motornya dengan kecepatan yang dia inginkan.
Gedung-gedung tinggi pencakar langit nampak sunyi dan menjadi satu-satunya pemerhati Zena di jalanan. Lampu-lampu jalan berpendar remang, terkadang berkedip menambah suram jalanan.
Pakaian serba hitam yang dikenakan Zena dan Cheo menyembunyikan mereka dalam kegelapan malam. Angin berhembus kencang, debu-debu beterbangan karena hantaman roda dua yang dijalankan gadis itu.
Semakin sunyi saat mereka melintasi jalan hutan. Kanan dan kiri tumbuh pepohonan tinggi dan besar. Gelap gulita, ditambah tak adanya lampu terpasang di jalan tersebut. Lamat-lamat Zena mendengar sebuah suara yang terbawa tiupan angin.
"Roarrrr!"
"Tigris!"
Keduanya bergumam secara bersamaan saat mengenali suara apa yang mereka dengar. Pandangan Cheo berpendar mencari sesosok hewan besar yang baru terdengar suaranya itu.
Di sana, di dalam kegelapan hutan, sepasang mata keemasan milik Tigris menyala terang. Keempat kakinya memacu menyeimbangkan dengan laju motor milik Zena.
"Tigris, dia menyusul!" seru Cheo yang tak menyangka hewan itu memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap perasaan Zena.
"Biarkan! Dia akan sangat membantu," sahut Zena tak menurunkan kecepatan. Berkejaran di jalan dan di dalam hutan, kecepatan yang luar biasa dan Tigris mampu mengimbangi. Dia memang hewan yang menakjubkan. Sama seperti sang tuan yang selalu melampaui batas yang dia miliki.
"Berlarilah, Tigris! Jangan sampai tertinggal!" teriak Zena menggema di kesunyian malam.
"Roarrrr!" Tigris menyambut dengan suara lebih keras seraya memacu keempat kakinya lebih cepat lagi.
Melewati jalanan hutan, sampailah mereka di sebuah desa yang sunyi. Lampu-lampu rumah di desa tersebut tak satu pun yang menyala. Desa itu seperti desa mati yang tak berpenghuni meski rumah-rumah yang dibangun sangat besar dan megah.
Tigris, hewan itu kini berdampingan dengan motor Zena. Nyaris tak bersuara, terbang terbawa angin malam yang kencang.
Sang elang menukik tajam, berbelok ke sebuah perkebunan karet. Insting Zena beraksi, ia menghentikan laju motornya bersamaan dengan langkah empat kaki Tigris yang melambat.
"Tetaplah bersama Tigris, muncullah disaat yang tepat. Jangan menampakan diri sebelum Kakak memberi perintah!" ucap Zena kepada Cheo.
Bocah itu mengangguk patuh. Ia berjalan mendekati Tigris dan melompat ke atas punggung hewan besar tersebut.
"Jaga Cheo, Tigris. Aku mengandalkanmu," ucap Zena sambil mengusap bulu-bulu kepala Tigris memberikan kepercayaan penuh kepadanya.
Hewan itu menggeram pelan memberikan kesanggupan atas perintah Zena. Mereka berjalan bersama sesuai petunjuk sang elang.
Jauh di dalam perkebunan karet itu, sebuah hutan kembali mereka jumpai. Elang mereka menunggu di pintu hutan memberi petunjuk. Zena menerobos kegelapan, di balik hutan tersebut berdiri sebuah bangunan megah yang tersembunyi.
Langkah kaki gadis itu terhenti, matanya memindai keadaan. Elang mereka mengawasi dari pucuk sebuah pohon yang tinggi. Zena mengatur, Cheo dan Tigris ia biarkan menetap di depan. Menyerang mereka dari bagian depan, sedangkan ia berjalan memutar menuju bagian samping bangunan tersebut.
"Sembunyikan diri kalian di dalam kegelapan!" Itu perintah Zena sesaat sebelum ia berjalan meninggalkan. Gadis pemberani itu melompat ke atas sebuah batu sebelum dengan lincah menaiki sebuah pohon. Ia mengenakan penutup wajah agar tidak mudah dikenali.
Busur di tangan bersiap melepaskan anaknya. Zena membidik dengan empat anak panah sekaligus, sasarannya adalah keempat penjaga di pintu depan.
Syut!
Jleb-jleb-jleb!
Keempat anak panah itu tepat mengenai sasaran. Tanpa suara mereka tumbang tak bernyawa. Anak panah milik Zena mengenai kunci kehidupan mereka.
Zena memutar tubuh, kembali mengambil empat anak panah dan membidik para penjaga samping bangunan tersebut. Keempatnya sedang duduk bersantai di sebuah meja bundar. Bercengkerama dengan asik tanpa sadar itulah akhir perbincangan mereka.
"Nikmati waktu kalian yang sedikit!" ucapnya sebelum melepaskan anak panah tersebut. Keempatnya melesat dengan cepat dan kuat juga tak terlihat. Menghantam jantung mereka yang seketika menumbangkan satu per satu dari keempat tubuh itu.
Belum cukup, Zena melompat ke atas pagar bangunan. Merayap tanpa suara menuju bagian belakang. Sama seperti pintu utama dan samping, pintu belakang pun dijaga ketat.
Zena melepaskan anak panah menumbangkan sisanya. Ia menunggu beberapa saat. Kedua maniknya yang kelam berpendar. Lampu-lampu kamar di bangunan tersebut menyala. Lamat-lamat ia mendengar suara jeritan, rintihan juga erangan kenikmatan dari setiap kamar tersebut.
"Bajingan! Mereka sungguh keterlaluan!" umpat Zena dengan geram. Ia melompat turun seperti angin tanpa suara. Berjalan cepat menuju dinding sebuah kamar. Ia mengalungkan busurnya sebelum menaiki salah satu pilar merayap ke lantai dua.
Suara-suara itu semakin jelas terdengar, tangis penderitaan yang mereka perdengarkan sungguh menyayat hati. Berharap seseorang menolong dan membawa mereka lari.
Zena berlari halus, mengintip salah satu kamar. Menjijikkan! Satu kata itu yang keluar dalam pikiran Zena.
Ia memasang anak panah, membidik dengan cepat.
"Argh!" Erangan nyawa terlepas disusul sebuah jeritan saat tubuh itu tiba-tiba tumbang tanpa nyawa. Zena menerobos masuk melalui jendela, ia melihat dengan iba gadis yang meringkuk di atas ranjang tanpa busana.
Zena mengambil pakaian yang berserak melemparnya agar ia segera menutupi tubuh yang dipenuhi tanda merah itu. Ekor matanya melirik mayat seorang laki-laki dengan panah menancap di dada kirinya. Tanpa ampun, Zena mencabut anak panah tersebut dan memberi perintah pada gadis itu untuk mengikutinya.
Ia mendatangi satu per satu kamar yang ada di lantai dua bangunan. Melayangkan anak panahnya membunuh satu demi satu para penjahat di sana. Lima orang gadis terkumpul, Zena membawa mereka untuk berkumpul di satu titik. Sementara ia menerobos lantai dua semakin dalam memasuki bangunan.
"Di mana adik William? Aku harus bisa menemukannya sebelum tertangkap," gumam Zena memindai seluruh lantai dua bangunan sebelum melanjutkan langkah.
"Siapa kau?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 134 Episodes
Comments
Diii
ini Zena hood🏹🏹🏹🏹
2022-08-08
1
Lidiawati06
zena semakin seru aja nihh next lanjut
2022-05-19
1
Anita_Kim
Mampir lagi Kak...
2022-05-07
2