Masalah Baru

Suasana ruang makan berubah muram. Jelaga hitam seolah bermunculan dan mengelilingi mereka. Membatasi jarak pandang satu sama lain. Wanita bermulut besar tadi menunduk gelisah, ia memainkan jemarinya yang lembab karena keringat. Peluh pun menyembul dari pori-pori kulit.

Pandangan Zena kian tajam menusuk, sudah terlambat menghentikan semuanya kecuali laki-laki tua itu muncul dan menenangkan gadis pulau itu. Hanya dia seorang yang bisa menaklukan sisi liar Zena.

Detik berikutnya, kejutan yang mereka dapatkan. Tangan Zena menggebrak meja menimbulkan retakan memanjang dan halus di sekitarnya. Melongo mulut wanita angkuh itu melihat retakan yang dibuat Zena hingga ke depan wajahnya.

Chendrik mengusap wajah sambil mendesah lelah. Mati sudah! Sementara pandangan Sebastian justru berbinar penuh ketakjuban. Ia tak menyangka tangan mungil dengan jemarinya yang lentik itu mampu membuat retakan di meja kayu yang kokoh milik Chendrik. Ia melirik sang Kakak yang menunduk frustasi.

Zena beranjak, tubuh wanita itu tersentak hingga membentur sandaran kursi dengan mata membelalak menatap Zena. Selanjutnya, dia yang akan diremukkan gadis itu. Namun, langkah yang diayunnya bukan mengarah pada kursi wanita itu. Melainkan pada tempat duduk Chendrik dengan pemiliknya yang masih menunduk.

"Aku selesai. Chendrik, berikan uang padaku. Aku memerlukannya untuk bekal di sekolah," katanya dengan suara khas anak remaja yang manja terdengar.

Sebastian, Ibu Chendrik dan Cheo sontak menjatuhkan rahang mereka. Alih-alih memberi pelajaran pada Nenek sihir itu, ia justru meminta uang pada Chendrik. Apa-apaan itu?

Pemimpin markas cerdas itu pun terperangah dengan sikap Zena yang tak biasa. Ia mendongak dengan manik memancarkan kebingungan. Dilihatnya Zena yang tersenyum sembari menyodorkan tangan ke depan wajahnya.

Jemarinya bergerak ke atas ke bawah meminta Chendrik segera memberikan uang tersebut. Ia sudah jengah berada dekat dengan wanita tua bau tanah yang tak mampu menjaga lisannya.

"K-kau butuh berapa?" tanya Chendrik. Keterkejutan yang menyerang membuat lidah Chendrik kelu hingga terbata saat berucap.

Ia meneguk ludah, bibir tipis gadis itu memang membentuk senyuman, tapi sorot matanya mengancam. Seolah-olah mengatakan 'aku masih bisa menahan diri, tapi lain kali tiada ampun baginya!'

Hal itu pun dapat dilihat Sebastian, laki-laki berpangkat jenderal itu tak berniat menyinggung Zena lagi. Beruntung, malam itu Zena tak menghajarnya. Jika sampai gadis itu lepas kontrol, mungkin dia akan berakhir di rumah sakit ataupun saat ini telah berkalang tanah.

"Berapa saja biasanya yang anak sekolah bawa. Aku tidak tahu karena aku tidak pernah bersekolah. Jadi berikan saja sesuai porsiku," katanya polos dan lugu.

Sebastian melempar lirikan, menatap sendu sekaligus kagum pada sosok sederhana di depannya. Chendrik merogoh saku mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana dan memberikannya pada Zena.

"Cukup?" Bertanya sambil tak mengalihkan pandangan dari wajah imut Zena.

Mata gadis itu memindai, ia mengangguk dan membungkuk mendekatkan wajah pada Chendrik. Laki-laki itu menegang, matanya melotot lebar.

Satu kecupan di pipi mendarat hangat dan meninggalkan jejak basah di sana. Zena kembali berdiri tegak masih dengan garis bibir yang terangkat ke atas.

"Terima kasih." Sementara Chendrik termangu dengan rasa tak percaya. Tangannya mengusap pipi tempat di mana Zena menciumnya.

"Cheo! Kita berangkat!" ajak Zena sambil menjulurkan tangan pada Cheo. Sebastian menahan cemburu, sedangkan Ibu mereka mengedipkan mata gemas.

"Ah, Zena! Kau tidak meminta uang dariku?" seru Sebastian menghentikan langkah Zena yang hampir keluar ruangan. Gadis itu berbalik menatap Sebastian dengan raut bingung.

"Kenapa?" Manis bibirnya saat bertanya singkat itu.

"Mmm ... siapa tahu kau membutuhkan tambahan," sahutnya seraya menggigit bibir merasa konyol. Ia ingin mendapatkan ciuman juga dari gadis itu. Chendrik di sampingnya terkekeh kecil membuat Sebastian jengah.

"Tidak. Kurasa uang dari Chendrik sudah cukup, tapi jika tidak cukup besok aku akan memintanya," jawab Zena memasang senyum jenaka yang manis terlihat.

Sebastian mengangguk lemah, tak sabar menunggu esok. Sementara Chendrik mendengus, ia tak akan membiarkan adiknya itu menerima ciuman juga dari Zena.

"Paman!" Zena memekik saat melihat Adhikari beserta istri datang menjemputnya. Wanita pesakitan itu tampak lebih sehat dari beberapa bulan yang lalu. Kehadiran Zena menjadi obat mujarab bagi penyakit yang dideritanya.

"Bibi!" Zena memeluk Cana dengan hangat. Wanita itu lantas mencium pipi kanan dan kirinya usai melepas pelukan.

"Panggil kami Ayah dan Ibu saat mendaftar nanti," ingat Cana yang diangguki Zena dengan cepat.

"Kakek, boleh aku ikut menumpang? Ayah harus pergi rapat lagi dan aku ingin berangkat bersama Kakak," pinta Cheo dengan wajah mendongak menatap Adhikari.

Laki-laki sepuh itu mengusap rambut Cheo seraya menganggukkan kepala. Sekolah Cheo dan Zena masih berdekatan, kedua sekolah itu berada dalam naungan yang sama.

"Master!" sapa Chendrik sembari mendekat.

"Kau akan rapat lagi! Kali ini apa?" tanya Adhikari menatap lekat manik cokelat milik pemimpin markas tersebut.

"Entahlah." Chendrik menarik napas, "di perbatasan banyak anak-anak menghilang tanpa jejak. Dari laporan yang masuk ke markas, mereka ditemukan tanpa organ dalam tubuh. Ini lebih mengerikan dari pada kasus di kota," lanjut Chendrik dengan nada lelah menghadapi semua masalah yang datang akhir-akhir ini.

"Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?!" bentak Zena. Wajahnya seketika menghitam, urat-urat di leher menegang membentuk garis-garis memanjang yang menyembul ke permukaan.

Kesan polos dan manja hilang seketika berganti dingin tanpa ekspresi. Setiap perubahan itu, selalu memberikan ketegangan pada setiap orang. Menggetarkan tubuh membuat lemas kedua lutut.

Chendrik yang tegang meneguk ludah pun ia kepayahan. Lidahnya kelu melihat kilatan api di manik kelam Zena.

"Laporannya baru masuk setelah tim Elang Coklat pergi untuk mencari informasi tentang para prajurit yang hilang. Lagipula, Zena ... kau fokus saja pada masalah yang terjadi di sini. Untuk masalah di perbatasan Sebastian dan Arabella yang akan mengurusnya," ucap Chendrik sembari menekan perasaannya.

"Seharusnya kau mengatakan masalah segenting ini kepadaku!" Zena masih berapi-api. Kedua tangannya mengepal menahan gejolak emosi yang meluap. Membuat napasnya menjadi berat dan sesak.

Tepukan di bahu Zena membuat gadis itu memejamkan mata. Mengurai sesak yang membuat dada naik turun tak terkendali.

"Sudahlah. Sebastian bukan orang sembarangan, juga Arabella dia mantan petinggi di markas. Paman yakin, jika mereka bekerjasama masalah di perbatasan pasti akan dapat mereka selesaikan. Kau hanya harus tetap fokus pada masalah di sini," ucap Adhikari mengalun lembut di telinga Zena.

"Benar, Nak. Tuntaskan masalah yang di sini sampai ke akarnya, setelah itu kau bisa membantu di perbatasan jika memang belum selesai," timpal Cana yang ikut menenangkan Zena.

Gadis itu membuka mata, membuang napas panjang mengurangi emosi yang bergolak dalam dada.

"Baiklah. Pastikan kalian berdua melakukannya dengan baik. Markas mengandalkan kalian, bekerjasamalah dengan baik jangan berselisih juga jangan lengah. Elangku akan mengawasi kalian dari langit," putus Zena dengan tegas dan penuh wibawa.

"Siap, Master!" sambut Sebastian dengan pasti. Zena melengos tak ingin berlama-lama di sana karena hanya akan membuat pikirannya terpecah. Ia harus fokus pada kasus yang terjadi di kota.

Terpopuler

Comments

Sri Mulyaningsih

Sri Mulyaningsih

😂😂😂😂😂😂

2024-12-28

0

Lidiawati06

Lidiawati06

semanggat thor

2022-04-29

1

Siti Nurasiah

Siti Nurasiah

semangat terus author selalu nunggu kelanjutannya

2022-04-23

1

lihat semua
Episodes
1 Kedatangan Keluarga Chendrik
2 Mencari Masalah
3 Menunjukkan Diri
4 Perdebatan
5 Menantang Zena
6 Duel
7 Pada Saat Makan Malam
8 Apakah?
9 Malam Gembira
10 Pagi yang Menegangkan
11 Masalah Baru
12 Kelas
13 Petunjuk
14 Petunjuk Lain
15 Kenyataan
16 Sebuah Perkumpulan
17 Pembebasan
18 Kejutan
19 Terkepung
20 Ancaman
21 Balasan
22 Penyelamatan
23 Selepas Kejadian Itu
24 Semakin Kacau
25 Menghadiri Rapat
26 Zena Membungkam Penguasa
27 Pertengkaran
28 Kembali Sekolah
29 Perundungan
30 Kenangan
31 Petunjuk Baru
32 Sahabat
33 Apa Itu Cemburu
34 Bertemu Laila
35 Interogasi
36 Penyusup
37 Lagi-lagi Chendrik
38 Keroyokan
39 Kedatangan Adhikari
40 Pergi Menyelidiki
41 Misteri
42 Cemburu Lagi
43 Rezeki Nomplok
44 Cinta
45 Kejutan
46 Kejutan II
47 Tetaplah Jadi Ibuku
48 Tiga Orang Laki-laki
49 Black Shadow
50 Black Shadow II
51 Kilas Balik Masa Lalu
52 Ibu!
53 Rencana Gagal
54 Persengkongkolan
55 Latihan Dimulai
56 Perhatian
57 Aksi Memukau
58 Rahasia
59 Fakta
60 Dilema
61 Sidang
62 Cemas
63 Bertemu Musuh
64 Ujian Dimulai
65 Berburu
66 Terpaksa
67 Tindakan Tak Terduga
68 Tentang Pesta Kelulusan
69 Ibu?
70 Desa Hulu
71 Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72 Nyanyian Syahdu
73 Drama
74 Tanpa Sadar
75 Berdansa
76 Maaf
77 Di Mana Zena!
78 Turut Andil
79 Ben Terluka
80 Tertawan
81 Sosok Misterius
82 Penolong
83 Melawan
84 Kolaborasi
85 Berakhir
86 Kembali Bangun
87 Saat Dia Menghilang
88 Aku Akan Pergi
89 Posisi Ibu
90 Anakmu?
91 Kepergian Zena
92 Pulang
93 Pak Karim
94 Kedatangan Tamu
95 Pembunuh Bayaran
96 Insiden
97 Anak-anak dari Desa Hulu
98 Hampir Saja
99 Misi Penyelamatan
100 Pamanku
101 Ke Mana Para Lelaki?
102 Bangunan Aneh
103 Kenyataan
104 Pembebasan
105 Amukan Massa
106 Di Mana Ibuku
107 Kau?
108 Rencana Penyerangan
109 Kedatangan Sang Elang
110 Kota Elang
111 Semakin Kacau
112 Gadis Lemah dan Menyusahkan
113 Keberangkatan Zena
114 Perang Besar
115 Penaklukan Markas Mata Elang
116 Membebaskan Pulau
117 Pembebasan Pulau
118 Kondisi Terburuk
119 Keadaan Penduduk
120 Komandan yang Angkuh
121 Sosok yang Dihormati
122 Serangan Balik
123 Perasaan Zena
124 Arabella
125 Menyelidiki
126 Ibu
127 Memulai Rencana
128 Kemunculan Zena
129 Pembebasan Sandera
130 Ancaman
131 Bertemu
132 Bazleen
133 Pertarungan Terakhir
134 Kembali Damai
Episodes

Updated 134 Episodes

1
Kedatangan Keluarga Chendrik
2
Mencari Masalah
3
Menunjukkan Diri
4
Perdebatan
5
Menantang Zena
6
Duel
7
Pada Saat Makan Malam
8
Apakah?
9
Malam Gembira
10
Pagi yang Menegangkan
11
Masalah Baru
12
Kelas
13
Petunjuk
14
Petunjuk Lain
15
Kenyataan
16
Sebuah Perkumpulan
17
Pembebasan
18
Kejutan
19
Terkepung
20
Ancaman
21
Balasan
22
Penyelamatan
23
Selepas Kejadian Itu
24
Semakin Kacau
25
Menghadiri Rapat
26
Zena Membungkam Penguasa
27
Pertengkaran
28
Kembali Sekolah
29
Perundungan
30
Kenangan
31
Petunjuk Baru
32
Sahabat
33
Apa Itu Cemburu
34
Bertemu Laila
35
Interogasi
36
Penyusup
37
Lagi-lagi Chendrik
38
Keroyokan
39
Kedatangan Adhikari
40
Pergi Menyelidiki
41
Misteri
42
Cemburu Lagi
43
Rezeki Nomplok
44
Cinta
45
Kejutan
46
Kejutan II
47
Tetaplah Jadi Ibuku
48
Tiga Orang Laki-laki
49
Black Shadow
50
Black Shadow II
51
Kilas Balik Masa Lalu
52
Ibu!
53
Rencana Gagal
54
Persengkongkolan
55
Latihan Dimulai
56
Perhatian
57
Aksi Memukau
58
Rahasia
59
Fakta
60
Dilema
61
Sidang
62
Cemas
63
Bertemu Musuh
64
Ujian Dimulai
65
Berburu
66
Terpaksa
67
Tindakan Tak Terduga
68
Tentang Pesta Kelulusan
69
Ibu?
70
Desa Hulu
71
Bukan Bocah Sepuluh Tahun
72
Nyanyian Syahdu
73
Drama
74
Tanpa Sadar
75
Berdansa
76
Maaf
77
Di Mana Zena!
78
Turut Andil
79
Ben Terluka
80
Tertawan
81
Sosok Misterius
82
Penolong
83
Melawan
84
Kolaborasi
85
Berakhir
86
Kembali Bangun
87
Saat Dia Menghilang
88
Aku Akan Pergi
89
Posisi Ibu
90
Anakmu?
91
Kepergian Zena
92
Pulang
93
Pak Karim
94
Kedatangan Tamu
95
Pembunuh Bayaran
96
Insiden
97
Anak-anak dari Desa Hulu
98
Hampir Saja
99
Misi Penyelamatan
100
Pamanku
101
Ke Mana Para Lelaki?
102
Bangunan Aneh
103
Kenyataan
104
Pembebasan
105
Amukan Massa
106
Di Mana Ibuku
107
Kau?
108
Rencana Penyerangan
109
Kedatangan Sang Elang
110
Kota Elang
111
Semakin Kacau
112
Gadis Lemah dan Menyusahkan
113
Keberangkatan Zena
114
Perang Besar
115
Penaklukan Markas Mata Elang
116
Membebaskan Pulau
117
Pembebasan Pulau
118
Kondisi Terburuk
119
Keadaan Penduduk
120
Komandan yang Angkuh
121
Sosok yang Dihormati
122
Serangan Balik
123
Perasaan Zena
124
Arabella
125
Menyelidiki
126
Ibu
127
Memulai Rencana
128
Kemunculan Zena
129
Pembebasan Sandera
130
Ancaman
131
Bertemu
132
Bazleen
133
Pertarungan Terakhir
134
Kembali Damai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!