"Ternyata secepat itu, aku ketauan." Audi tersenyum miring.
Tubuh Vina menegang, tangannya mengendurkan pelukan pada Audi. "Audi, ah ralat Sasya. Kenapa Lo lakuin ini? Sebenarnya apa tujuan Lo?"
Audi mendongak, "untuk membuat kalian menderita." Perlahan tangan Audi mencengkeram erat lengan Vina, matanya melirik ke arah pintu rooftop.
"Agar orang-orang seperti kamu, menderita dan mendapat karma." Perjelas Audi, sorot mata kebencian, dilayangkan oleh nya pada gadis yang berdiri di depannya.
Audi berdiri dari tempat duduk nya, melepaskan cengkraman tangan nya.
"Rissa. Lo satu-satunya orang yang belum dibasmi." Audi mendekati Vina, membuat Vina melangkah mundur. "Rissa Arabella William. Anak dari keluarga William, pembunuh dari ibu ku!"
"A.. apa maksud Lo?" Vina berusaha tenang.
Audi tertawa sinis, "ya, ibu ku memang mempunyai penyakit. Asma dan jantung disaat yang bersamaan. Langit memang mengabulkan doa ku, tapi bukan kematian yang aku mau!" Mata Audi berkaca-kaca, alis menukik tajam, rahangnya mengeras.
"Tapi keluarga William, dengan tega nya membunuh ibu ku! Apa jangan-jangan ayah ku juga dibunuh oleh keluarga mu?"
"Gue gak ngerti maksud Lo, Sya!"
"Ibu, dan aku, tidak sengaja melihat peristiwa yang sangat keji. Itu di lakukan oleh kakek mu! Pembunuhan terhadap satu keluarga, dan kami menyaksikan nya. Kami ketahuan oleh salah satu anak buah kakek mu, dan dengan kejam nya juga, kakek kamu itu membunuh ibu ku!" Bentak gadis berkacamata itu, tangannya mencengkram kerah jaket Vina.
"Ta.. tapi.. kenapa harus gue yang kena?" Gumam Vina.
"Karena Lo seorang pembully, dan cucu dari seorang pembunuh!" Tunjuk Audi.
Vina menggeram, "jang—"
"Jangan sentuh gue walau setitik pun," potong Audi. "Itu yang mau Lo bilang kan?"
Vina melepaskan cengkraman tangan Audi pada kerahnya, "Sya, gue bener-bener nyesel. Atas nama William, gue minta maaf. Mohon maaf sebesar-besarnya."
"Lo pikir dengan maaf Lo, ibu gue bisa hidup lagi? GAK! Gak semudah itu, Rissa." Audi mendekatkan mulutnya pada telinga Vina.
"Lo bisa buat orang menderita, kenapa gue nggak?"
Audi kembali ke tempat duduk nya, dan melirik sinis pada gadis yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Vina kembali ke tempat duduk nya, mengambil handphone nya yang tadi diletakkan oleh nya.
"Woho.. ternyata sistem nih cafe aneh guys! Gue harus nunggu dulu di bawah! Nih pesenan kalian masing-masing." Sena baru saja datang dengan membawa nampan berisi makan, di belakang nya juga ada seorang pelayan yang membantunya.
"Lo lama, perut gue keroncongan!" Ujar Vina, seakan tidak terjadi apa-apa tadi. Handphone yang berada di genggaman nya, di simpan pada tas yang di tenteng nya sedari tadi.
"Spot foto nya bagus. Abis makan kita foto yuk, buat kenang-kenangan."
Audi mengangguk setuju. Vina mengangguk setuju juga, dan tersenyum sendu walau tidak terlihat.
"Hidup gue memang gak akan bisa bahagia ya.
...🥀🥀🥀...
Gadis berkacamata itu melihat foto yang ada di handphone nya. Tersenyum tipis, tangan nya mengelus foto itu, mengingat kejadian yang tadi sore terjadi. Foto tersebut berisi tiga gadis tersenyum bahagia pada kamera, namun yang ia sadari senyuman itu semua nya hanyalah palsu.
Senyuman yang dibuat dirinya sendiri hanyalah kepalsuan belaka, tidak ada kebahagiaan yang sebenarnya. Guratan wajahnya terlihat capek, tangan sebelah nya mengepal. Badannya berputar, melihat seperangkat alat lukisan, yang sudah tidak disentuh olehnya.
Gadis itu berdiri, melangkah ke arah kanvas yang belum tersentuh.
"Aku ingin melukis kita. Ini akan menjadi kenangan, kenangan sebenarnya. Karena ini hanya ilusi semata, aku hanya berkhayal! Ingat itu, Sya. Ini semua hanyalah khayalan mu."
Tangan nya mulai membuka satu persatu tutup cat warna, dan menumpahkan isinya pada palet. Mulai melukis. Kali ini, dia benar-benar melukis, bukan lukisan abstrak atau yang lainnya.
"Rissa, Sena. Kematian kalian menunggu. Boneka-boneka ku sudah siap."
...🥀🥀🥀...
Vina mendengarkan suara rekaman yang tadi sore direkam oleh nya, sembari membaca novel online yang berada di handphone nya. Tangannya dengan cekatan menulis poin-poin penting yang dilewatkan olehnya.
"Clarissa Davina Callandra, seorang gadis yang dibuat menjadi kambing hitam atas pembullyan tokoh Vero. Clarissa Davina Callandra, gadis beruntung yang hidup di keluarga kaya raya, yang asal usul keluarga tidak terlalu terlihat." Vina menulis poin-poin penting yang dirinya ingat saat dulu membaca novel versi sebelum di revisi.
"Hanya Keyla yang tau keseluruhan novel itu. Tapi sejak itu, kenapa dia gak telpon-telpon gue ya?" Monolog nya. "Padahal udah gue kasih nomor nya." Lanjutnya.
"Ah iya, si anjir! Itu kan nomor lama! Kok gue kasih itu, ntar yang ada mayat gue yang angkat tuh hape." Vina menekan ikon kontak yang ada di handphone nya, mengetikkan nomor Keyla yang sudah dia ingat.
"Untung ingatan gue gak ilang pas transmigrasi."
Panggilan itu tersambung, tapi sudah beberapa kali deringan, yang berada di seberang tidak kunjung mengangkatnya.
Vina menghela nafas, "udah malam sih, besok aja kali ya gue telpon."
Vina melangkah ke tempat tidur, dan membaringkan tubuh nya, saat matanya hendak menutup suara ketukan pintu mengganggu nya.
Mata Vina yang ingin terpejam, terpaksa terbuka. "Si anying. Sabar Vin, sabar. Lo cantik, Lo kalem."
Dengan sangat terpaksa, tidur cantik nya terganggu akibat ketukan pintu. Vina membuka kunci pintu, dan membukanya. Mata nya menajam, melihat siapa yang di hadapannya.
"Vin. Boleh Abang tidur bareng kamu? Calos gak pulang, Abang jadi sendiri." Pinta pemuda itu.
"Gak." Vina menutup pintu kamar nya dengan cepat. Tapi, lagi dan lagi pintu di ketuk. Gusar sudah dirinya ini. Dengan kasar gadis itu membuka pintu kamar itu.
"Apa sih Carlos?!" Bentak nya. Pemuda itu tersenyum senang, melihat Vina kembali membuka pintu.
"Carlos pengen tidur bareng sama kamu," rengek Carlos.
"Kok kayak anak anjing ya."
...🥀🥀🥀...
Sena membuka pintu kamar nya, melangkah keluar kamar. Saat tidur, tiba-tiba tenggorokan nya menjadi gatal, membuka kulkas, dan menuangkan air ke gelas.
Kaki nya kembali membawa nya ke arah yang berlawanan dari kamarnya. Sena berjalan ke taman belakang rumah nya, membuka pintu belakang, dan tersenyum kecil, mendekati sepasang ayunan.
Dirinya duduk di ayunan, menoleh ke samping, ayunan satunya.
"Gue inget banget, dulu gue sama Sasya sering main bareng di sini." Kepala nya bersandar pada rantai ayunan.
"Tapi, setiap gue bareng Audi, rasanya kayak bareng Lo, Sya. Bedanya, Audi lebih kalem." Sena terkekeh geli. Matanya menatap rembulan malam yang bersinar indah.
"Apa alasan Lo sebenarnya, Sya. Kenapa Lo suka banget sama langit?" Sena menengadahkan tangan nya ke langit, seperti sedang menggenggam bulan yang bersinar.
"Definisi langit menurut Lo, sama definisi langit menurut gue, apa itu sama?"
Gadis itu meluruskan kakinya, menundukkan kepalanya. Menautkan jari-jarinya, memejamkan mata nya.
"Tuhan, tolong dengar lah anak mu yang berdosa ini, ke depannya aku harap tidak ada lagi penderitaan yang aku alami. Aku juga berharap dapat diampuni, aku tahu kesalahan ku sudah melebihi batas, tapi semuanya aku serahkan pada Engkau ya Tuhan, yang Maha Kuasa."
Mata nya perlahan terbuka, mendongakan kepalanya.
"Karena aku, udah capek tentang masalah ini, apalagi kedua orang tua ku. Keluarga ku, sudah hancur."
"Aku berpasrah pada Engkau ya, Tuhan."
Sena tersenyum sendu, "ini adalah langit. Tuhan semesta alam pencipta langit dan bumi. Dan menurut ku, langit adalah tempat berkeluh kesah kita. Bukan, bukan langit, itu hanya sebuah perumpamaan, lebih tepatnya ialah Tuhan."
...🥀🥀🥀...
Seorang pemuda, sedang berjalan santai setelah berhasil menjual motor yang ia selalu gunakan. Uang nya dia buat untuk membeli motor baru, mungkin tidak sebagus yang dimilikinya dulu.
Pemuda itu bersenandung kecil. Matanya menangkap seseorang mendekatinya. Bisa dirinya tebak, orang yang kini di hadapannya adalah orang yang sama dengan orang yang bicara dengan nya saat itu.
Pakaian tertutup, memakai jaket hitam, dengan perpaduan masker hitam, dan topi hitam yang menutupi wajahnya. Manik mata milik pemuda itu bertabrakan dengan manik mata orang yang di hadapan nya.
"Bagaimana? Kau sudah gunakan cara yang ku jelaskan, Calos?" Mata orang itu menatap tajam pemuda ini, tanpa ketakutan.
"Cara mu itu tidak berhasil. Menurut gue juga gak semudah itu, dia luluh. Cinta gue juga gak semudah itu menyerah."
Orang itu terkekeh, "gak semudah itu juga untuk berjuang, Calos. Bahkan gak nekat pun bisa dilakukan, Calos. Mau mencoba?"
Pemuda itu, Calos, terlihat ragu menjawab. Orang itu mensejajarkan wajahnya pada Calos, mengelus dagu Calos, membuat Calos meremang.
"Lebih berani. Itu akan bisa, percaya sama ahli cinta ini, Calos."
Calos merotasikan matanya, dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Dasar wanita tua!"
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
ARA
Ini cerita khayalan kejiwaan si Sasyakah? 😶
2023-03-27
1
Arifa Zahra
ya sih kok alurnya di kendalikan org ya , padahal kan si rissa mafia seharusnya mafia nggk mudah di tindas
2022-12-28
1
Ida Blado
mc nya bego,katanya mafia tpi dgn mudah di intimidasi,,, mafia apaan cemen bgt
2022-06-16
4