"Gila ya Lo! Ngebolos jam pertama sama kedua, abis itu balik-balik senyum senyum gak jelas gitu. Udah gak ngajak-ngajak lagi ngebolos!?" Vina hanya memutar bola matanya malas, mendengar ocehan teman sebangkunya itu.
"Sena.. gue gak ada niat bolos ya, gue tuh ke kamar mandi buat ganti baju, gara-gara gue kesiram air," jelas Vina pada Sena yang kini udah memberhentikan ocehannya.
"Siapa? Siapa yang berani siram Lo?" Tanya Sena, ia menarik kerah jaket yang Vina pakai, lalu menggoyangkannya dengan keras, membuat Vina pusing.
"Stop! Stop udah ya, gue gak papa, ntar juga yang kerjain gue kena karma kok," balas Vina, dia menyentak tangan Sena yang menarik kerahnya. "Ini juga, ini jaket orang tau! Kendor nanti."
Sena membulatkan matanya, "wah.. Lo nyuri ya!"
"Gak lah! Main asal tuduh aja Lo semak belukar! Ini dipinjemin sama sobat gue," ujarnya dengan bangga.
"Cih. Kenalin lah, cewek apa cowok? Kalau cowok gue gebet, kalau cewek gue gibeng, eh maksudnya gue jadiin sahabat juga," cerocos Sena.
"Gue gak nyangka, Sen. Ternyata Lo bukan sekalem yang gue pikir," kata Vina mendramatisir. "By the way, ini tuh dipinjemin sama cewek," lanjut nya.
Sena menyengir, "gue dari dulu udah kek gini ya, asal Lo tau."
Vina mendengus, "iya-in biar cepet. Udah ah, ini udah istirahat, mau makan laper. Ikut gak?"
"Ikut lah, masa nggak!"
"Yodah, skuy!"
...🥀🥀🥀...
Vina dan Sena berjalan ke arah kantin, namun jalannya terhenti karena ada yang menghentikan mereka.
"Sen, ikut gue ke kantin yuk, gak usah bareng sama si cewek ini," ajak pemuda yang mereka ingat sekelas dengan mereka.
"Iya ih, Sen. Bareng kita aja."
Vina mendengus kesal dengan orang-orang di hadapan Sena itu, mereka saling melirik.
"Sen, san, sen, san, sen.. Lo kata gue sen motor apah," kesal Sena. Vina menahan tawanya, saat melihat kedua pemuda itu terkesiap karena Sena.
"Dah lah! Lo pada ganggu ketenangan, yuk Vin."
Dengan cepat Sena menarik Vina menjauhi kedua pemuda yang hanya menatap mereka.
"Wah.. Lo di tolak."
"Cih. Gue harus gimana coba," dengus temannya. Pemuda satunya hanya mengendikkan bahunya, sembari menggeleng.
Di lain sisi, di kota Bogor. Keyla memijat pelipisnya, lalu mengetik sesuatu.
"Ini udah dapet nomor nya kak Rissa, kok gak bisa gue chat ya? Gue hack juga gak bisa." Keyla mengerucutkan bibirnya, mata nya berkaca-kaca, " jahat~~ kakak jahat~~"
Keyla menumpu kepalanya di meja, menangis seperti layaknya bayi yang tidak diberi susu. Seorang pemuda mendekati dirinya, lalu menepuk pundak Keyla, membuat Keyla mendongak.
"Kenapa ada di sini?" Tanya pemuda itu pada Keyla. "Loh kok Lo nangis," panik pemuda itu, gelagapan.
"Kakak, Gio~ kakak jahat~" adunya pada pemuda itu. Gio menatapnya sendu.
"Jangan mikirin kak Rissa lagi ya, ntar dia sedih kalau Lo nya sedih gini. Biarin dia tenang di sana ya," kata Gio sembari menenangkan Keyla.
Keyla menatap Gio dengan sangar, "tapi—"
'Apapun yang terjadi, siapapun itu jangan ada yang tau siapa gue ya, Key. Termasuk Red Blood. Dan, biarin semuanya berjalan sesuai alur yang ada.'
Keyla teringat kata-kata kakak nya itu, lalu mengalihkan pandangannya, dan mengganguk. "Gue lagi berusaha," jawab nya datar. Gio tersenyum tipis, lalu mengelus rambut Keyla.
"Semangat ya, cantik. Jangan sedih terus, nanti a'a Gio ikut sedih," hibur Gio sembari mengerucutkan bibirnya. Keyla hanya menatap geli pada Gio.
"Geli sumpah Yo." Walaupun begitu, Keyla merasa pipinya memanas akibat perlakuan Gio. Ia menahan senyumnya saat melihat wajah konyol Gio.
"Gitu dong, senyum! Jangan datar mulu," kata Gio.
"Iya-in, ngajak ribut mulu soalnya Lo. Udah ah, gue mau pulang dulu." Keyla beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, Gio hanya memperhatikan gerakan Keyla.
Keyla menoleh pada Gio dan tersenyum tipis, "makasih, udah hibur gue. Gue pergi dulu ya." Setelah nya, Keyla benar-benar pergi.
Gio tersenyum, "seperti biasa.. hati gue selalu deg-degan."
...🥀🥀🥀...
Kini Vina dan Sena sedang mencari tempat duduk yang kosong, kantin lumayan ramai dikunjungi oleh para murid-murid kelaparan.
"Sena. Lo cari kursi, biar gue yang mesen."
"Oh. Gak papa nih." Sena menoleh pada Vina yang ada di sampingnya.
"Gak papa. Lo mau makan sama minum apa?" Tanya Vina.
"Gue bakso aja, minum nya es jeruk. Oh iya nih duitnya," sodor Sena.
"Gue traktir." Tanpa menunggu jawaban Sena, Vina langsung pergi dan memesan pada Abang tukang bakso. Sena hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ish.. padahal gue gak enak kalau dia yang bayar," gumam Sena. Kaki nya kembali melangkah mencari tempat duduk yang kosong, ia menemukan nya dekat pojok kantin sekolah itu.
Vina berjongkok di depan gerobak bakso, sedang asyik menunggu bakso yang penjual buat, memperhatikan sekeliling.
"Neng. Ini bakso nya, biar Abang aja ya yang bawa, berat loh," tawar Penjual nya.
Vina mendongakan kepalanya, "eh saya aja bang. Ntar ngerepotin."
"Ini berat. Nanti takut jatuh neng."
"Eh gak papa nih bang?"
"Santai neng."
"Kalau gitu makasih ya bang." Penjual nya mengangguk, dan perlahan membawa bakso itu mengikuti Vina. Sena menatap Vina yang sedang berjalan dengan penjual yang membawa nampan berisi makanan dan juga minuman milik mereka.
"Terima kasih ya bang udah bantu."
"Sip, sama-sama!" Penjual itu kembali ke gerobak jualannya.
Vina dan Sena fokus dengan makanan, tiba-tiba ada kericuhan dari arah tengah kantin, membuat mereka penasaran dan akhirnya menoleh.
"MATA LO BUTA, APA GIMANA?! INI VERO LEWAT, JADI KESIRAM KAN!" Bentak salah satu pemuda kepada seorang perempuan berkacamata yang sangat Vina kenal.
"Carlos.. Calos.. selalu mencari masalah ya," geram Vina dalam hati. Sena juga sama halnya menatap tajam tempat perusuh itu. Dengan gerakan cepat Vina beranjak, dan menghampiri kelima orang itu.
Saat tangan Calos ingin dilayangkan ke arah wajah perempuan yang sedang meringis ketakutan itu, seseorang menangkap nya.
Vina kalah cepat, ternyata Sena lah yang menangkap tangan itu. Vina membantu perempuan berkacamata itu untuk berdiri dengan tegak.
"Audi.. tenang aja ya. Gue gak biarin ada pembully kayak mereka mati dengan tenang! Kayaknya gue bikin menderita dulu bagus deh." Ia menggenggam erat tangan Audi, menguatkan nya.
Audi hanya bisa tersenyum kaku. Vina menoleh pada Sena. Keadaan kantin menjadi hening, mereka menjadi pusat perhatian, bahkan ada beberapa dari mereka menyiapkan kamera handphone nya.
"Vin.. tangan gue udah gatal. Boleh gak gue hajar kedua Abang Lo? Ditambah cowok itu?" Tanya Sena, yang masih fokus pada Calos yang menahan amarahnya. Keadaan kantin kini semakin menegangkan.
"Boleh.. lagipula mereka bukan Abang gue. Gak kenal gue," ujar nya dengan menusuk. Membuat hati Carlos dan Calos mencelos. Vero hanya menatap Vina dengan tangan mengepal.
"Gue bakal buat perhitungan sama Lo lagi kali ini Vina!" Geram Vero dalam hati.
"See. Adik kalian bahkan udah gak anggap kalian. Jadi let's play the game!" Vina membiarkan Sena berbuat sesukanya, namun ia sadar ini masih di sekolah, dengan cepat menahan tangan Sena yang ingin memukul.
"Sena. Ini gue baru inget ini di sekolah," bisik nya pada Sena. Sena tersadar lalu mundur menjauh beberapa langkah dari ketiga pemuda itu dan satu perempuan yang belum dikenalnya.
"Kali ini Lo semua lolos, bukan karena gue takut sama Lo. Tapi karena gue gak mau buat tangan gue kotor, babay wahai sampah-sampah masyarakat." Sena pergi dari sana meninggalkan Vina. Vina menarik Audi, dan ikut menyusul Sena.
"****. Makanannya gue belum abis." Umpat Vina dalam hati.
"Lo udah makan Audi?" Tanya Vina pada Audi, ia baru ingat kalau tadi Audi seperti baru datang dari kantin, seorang diri. Audi yang sedari menunduk, hanya menggeleng. Vina mengehentikan langkah nya.
"Ayo. Kita ke depan cari makan dulu, abis itu kejar si semak belukar." Ajak Vina, Audi hanya diam tak menjawab. Tanpa berlama-lama, Vina menarik Audi ke depan dan membelikan nya makanan, juga untuk dirinya sendiri, dan Sena. Vina bingung ke tempat mana Sena pergi.
Tapi jika itu dia, sudah dipastikan di rooftop atau di taman, tempat yang cocok untuk menenangkan diri.
"Mau ke rooftop?" Tanya Vina. "Ah, atau Lo mau balik ke kelas?"
"Aku.. ikut kamu aja," ucap Audi, ia mendongak menatap lurus wajah Vina. Vina mengganguk, mereka berjalan beriringan.
Di Rooftop memang terlihat Sena berjalan berputar putar seperti setrika, wajah nya kusut.
"Kenapa gak di sana, gak di sini banyak banget kasus pembullyan. Apa gak ada sekolah yang benar-benar saling menghargai?" Monolog nya. Sena mendekati salah satu tembok, memukul tembok itu menuntaskan amarahnya yang tertahan.
"Tangan gue gatal."
"Semua nya sama aja! Bully ngebuat Sasya mati! Dan gue gak akan maafin mereka semua gitu aja. Gue harus bermain cantik, dan ngebuat mereka membuka topeng asli, atas wajah mereka!" Sena hanya menggigit kukunya gelisah.
"Gue udah bunuh beberapa dari mereka. Ternyata masih banyak yang lainnya, gue bakal bunuh mereka! Gak peduli siapa itu," geram Sena. Menatap lurus ke depan.
"MATI.. BUNUH.. DAN MATI.."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
kriwil
padahal si cupu itu penjahat sejatinya
2025-01-02
1
Wanda Wanda i
gue curiga cewek yg make kacamata itu penulis novelnya
2023-03-24
5