Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa sekolah telah selesai.
"Mau pada nongkrong dulu gak? Lo bisa ga, Di?" Tanya Sena, mereka bertiga tengah berjalan beriringan.
"Umm.. bisa."
"Lo gimana, Vin?"
Vina menatap lurus, "dulu, gue gak sering nongkrong sama temen-temen kuliah, ya. Kangen juga sama mereka."
"Woi, Vina!" Vina tersadar.
"Oh iya, boleh. Kemana?"
"Biasa, cafe deket sini. Tuh cafe Glovic."
Vina hanya mengangguk. "Audi, gue bonceng ya."
"Makasih." Audi tersenyum lembut, kemudian mengalihkan pandangannya.
Mereka sampai di parkiran, tapi sebuah panggilan membuat mereka menoleh. Yang dipanggil satu orang, yang menoleh semua nya.
"Vina."
Vina menatap datar seorang pemuda yang memanggilnya, "kenapa, setan?"
Pemuda itu hanya tersenyum kecil, "gue mau ngajak Lo pulang bareng."
"Gue bawa motor."
"Tinggalin aja, bonceng sama gue, biar gue telpon orang buat bawain."
"Gua mau nongkrong."
"Vina, kamu mau jadi berandalan ya? Kok nongkrong nongkrong?" Celetuk seseorang dari belakang pemuda itu.
Vina tertawa hambar, "gak usah ikut campur urusan gue."
"Vin, pulang bareng gue!" Sentak Calos.
Sena dan Audi bertatapan, dan kembali memperhatikan orang-orang di depannya.
"Perasaan mereka gak ada hari tanpa debat," gumam Sena, yang dibalas anggukan kepala oleh Audi.
"Tapi ini kayak sinetron-sinetron gak sih, Na?" Jawab Audi dengan berbisik.
"Vrenzo, Lo juga bukannya anterin Vero, malah ke Vina!" Vina menatap pemuda yang tangannya pernah ia buat retak.
"Diam Lo, Vinsen!" Bentak Avrenzo, pemuda yang mengajak Vina tadi. Vina menyilangkan tangan nya di dada.
"TINGGAL BAKU HANTAM, SUSAH AMAT!" Vina kesal, kesal karena waktunya terbuang sia-sia.
"DIAM LO! GAK ADA RASA BERSALAH NYA YA, TANGAN GUE HARUS KAYAK GINI! INI GARA-GARA LO!" Teriak Vinsen pada Vina.
Bugh...
Pukulan dilayangkan pada wajah Vinsen, amarahnya tidak tertahankan, karena sang adik selalu di salahkan. Pukulan itu, membuat Vinsen tersungkur, jatuh.
"Ca.. Calos."
"Mulut Lo jaga ya. Gue bisa gunting tuh mulut," ujar Calos dengan dingin, mampu membuat pemuda yang tersungkur itu merinding, merasakan aura yang berbeda dari seseorang di hadapannya.
"Kalian jangan berantem. Gak baik," ujar Vero dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gak usah ikut campur Lo, Medusa." Kata Vina.
Calos berbalik dan melangkah ke arah Vina, menangkup wajah Vina.
"Adikku sayang. Kamu bareng kakak ya," ujar Calos dengan lembut.
Gadis itu bergidik jijik dan menghempaskan tangan Calos dari wajahnya, "gak usah sok lembut. Jijik gue."
Calos mengerucutkan bibirnya, dan merengek, "maafin abang ya. Abang udah banyak salah." Pemuda itu menjatuhkan kepalanya di pundak Vina.
Vina mendorong Calos, dan memukul pelipis Calos.
"Gak Lo, gak Carlos, gak Avrenzo. Bikin gue kesel. Telat Lo semua minta maaf!" Vina berbalik untuk pergi meninggalkan mereka semua.
"Tunggu, Vin." Cekal Carlos. Vina yang sudah marah, mengambil tangan Carlos dan memelintir nya.
"Awhh!!"
Sena dan Audi menyernyit, "itu pasti sakit."
"Bilang ke adek Lo itu, jangan pernah suka ataupun cinta sama gue. Jijik gue dengernya," sarkas Vina. Vina melepaskan cekalan itu, dan berlalu diikuti Sena juga Audi.
"Ayo kita nongkrong." Motor milik Vina yang membonceng Audi, dan juga motor Sena menjauh dari mereka, dan menghilang di balik pagar.
"Kemarin masa depan Lo, sekarang tangan Lo, Carlos." Ledek Avrenzo.
Avrenzo juga kaget dengan apa yang dikatakan Vina mengenai Calos barusan, "Lo juga, Calos. Suka kok sama adik sendiri."
Calos menggelatukkan giginya, berusaha bangkit. "Gue gak bakal lepasin Lo, Vina!"
...🥀🥀🥀...
Motor Vina mengikuti laju kendaraan milik Sena, ini pertama kali nya dirinya jalan bersama teman-teman sekolah nya. Dia sangat senang karena misi pertamanya selesai, mendapatkan sahabat. Dan ia berharap tidak ada pengkhianatan di antara mereka.
Mata Vina terfokus pada jalanan, dan matanya tertuju pada papan nama cafe itu, Vina memegang kepalanya yang kembali berputar. "Ada sesuatu muncul."
"Vrenzo! Apa yang kamu lakuin sama Cewek ini?! Bisa-bisanya kalian mesra-mesraan!" Ujar seorang gadis yang terlihat marah pada pemuda yang bahkan hanya santai menghadapi kondisi ini.
"Lo bisa liat sendiri kan? Gak perlu gue jelasin, dia itu pacar baru gue." Kata pemuda itu dengan sinis. Gadis yang tengah marah itu menatap murka, seseorang yang ada di sebelah sang pacar. Ah, bukan baginya sekarang sudah mantan.
"Lo! Vrenzo. Gue bakal buat Lo nyesel karrna udah permaluin gue!" Bentak gadis itu. Gadis itu juga menunjuk orang yang di sebelah Avrenzo, "Lo bakal kena karma atas segala yang Lo perbuat sama gue!"
"Cukup Icha! Mulai sekarang kita udahan!"
"Kalau itu mau Lo, silahkan! Selama ini juga Lo gak ada sama sekali ngedukung gue. Bahkan Lo ikut-ikutan ngejek dan ngehina penampilan gue!" Icha atau nama lainnya adalah Vina itu mengambil minuman yang berada di atas meja.
BYURR...
Gelas yang berisi air minum berwarna oranye kekuningan, yang bisa dipastikan jika minuman itu adalah sebuah jus jeruk, di lemparkan pada wajah orang yang ada di sebelah Avrenzo.
"Ini peringatan pertama buat Lo!"
"VINA! Vero, kamu gak papa-kan?"
"Cih. drama!"
Vina kembali ke kesadaran nya, untung saja sebelum dirinya mendapat itu, ia sudah menepikan motornya.
"Vina. Kamu gak papa?" Tanya Audi yang masih berada di bonceng Vina. Vina yang memegang kepalanya seketika menoleh ke belakang.
"Maaf, gue gak papa kok. Sena, ayo lanjut jalan," ujar Vina. Audi menatap khawatir pada Vina, tapi ia hanya bisa diam.
"Vrenzo, ternyata Lo lebih buruk dari kelihatannya."
Vina dan Sena serta Audi sampai di parkiran cafe Glovic itu. Cafe dengan nuansa remaja modern, dengan cat berwarna biru gelap, dan spot foto yang tampak aesthetic.
"Ini cafe nya kawan-kawan ku sekalian."Sena tersenyum puas, melihat teman-temannya kagum dengan dekorasi cafe yang cukup berwarna.
"Ayo ke Rooftop, disana pemandangan nya asik!" Ajak Sena.
"Ayo! Aku suka pemandangan, apalagi langit!" Seru Audi dengan antusias. Sena mengangguk semangat, lalu menggandeng tangan Audi juga Vina untuk masuk.
"Tunggu dia bilang suka langit? Kok kayak gak asing?" Batin Vina.
...🥀🥀🥀...
"Wah, bener! Pemandangan nya bagus, apalagi langit nya, jadi kelihatan indah!"
Sena membusungkan dadanya bangga dan melipat kedua tangannya di depan dada, "iya dong, requestan gue!"
Vina tersenyum tipis sembari menatap lurus pada Audi. "Gue belum tau banyak tentang Lo berdua. Apa perlu ya, gue cari tau tentang kalian?"
Vina duduk di salah satu meja yang memiliki tiga bangku, pas untuk mereka bertiga. Mata nya sibuk memperhatikan kedua temannya, yang seperti anak kecil. Tidak menyadari ada seseorang yang duduk di bangku samping nya.
"Lo kenapa liat sepupu gue kayak gitu banget?" Tanya seorang pemuda yang duduk di samping Vina, membuat Vina kaget dan menoleh pada orang itu.
"Martin!"
"Sepupu? Oh iya, Sena ya. Lo si cowok yang kemarin itu ya," tebak Vina sedikit kikuk.
"Gak perlu basa-basi, apa yang Lo mau dari sepupu gue?" Tanya Martin dengan dingin, tangannya membuka bungkus rokok.
"Apa maksud Lo?" Vina bertanya balik pada Martin.
"Sena memang bodoh. Tapi dia gak akan asal percaya sama orang, apalagi kayak Lo. Jadi apa yang Lo mau dari dia?" Martin menyulut api pada rokok, membuat Vina terbatuk kecil, dan mengipasi asap rokok yang berada di sekitar nya.
"Gue gak mau apa-apa dari dia!" Geram Vina, tapi dirinya tetap tenang.
Martin terkekeh sinis, "Lo orang yang langka. Orang-orang pasti bakal manfaatin kepolosan anak itu, tapi Lo gak." Martin beranjak kursi nya, mendekati Vina dari belakang duduknya.
"Gue harap, Lo bukan pengkhianat, Clarissa Davina Callandra." Setelah mengatakan itu, Martin meniup asap rokok dari samping telinga Vina ke depan, lalu pergi dari tempat itu.
"Sial. Martin si pencabut nyawa gak main-main tingkat ke pekaan nya. Tapi apa guna nya coba ngekhianatin orang?" Gumam gadis itu.
Vina menatap pintu rooftop yang sudah tertutup, "Martin, gue mati gara-gara kelompok Lo. Tapi gak ada raut bersalah atau apapun itu yang Lo tunjukkin. Lo terlalu tertutup."
"Wih! Vin. Lo ngerokok ya? Kok ada bau rokok sih!" Celetuk Sena yang mendekat bersama Audi, mereka tertawa lucu. Gadis yang sedang duduk itu hanya mendatarkan wajahnya.
"Gue gak ngerokok, tapi tuh sepupu Lo, dateng-dateng ngerokok di sini."
"Udah biasa dia mah." Sena duduk di kursi, dan Audi juga duduk di kursi samping nya.
"By the way. Udah pesan?"
"Belom." Vina menyengir.
Sena menatap kesal pada Vina. "Biar gua aja dah! Kalian pesen apa?"
"Aku mau jus jeruk aja, sama makanannya nasi goreng." Ujar Audi dengan antusias.
"Ini kan Cafe. Bukan restoran. Tapi ada juga sih makanan berat kayak gitu." Batin Vina
"Oke! Kalau Lo, Vin?"
"Gue, minumannya samain sama Audi. Makanannya burger aja."
"Oke. Gue ke bawah ya." Sena keluar dari rooftop menuju ke arah kasir.
Vina dan Audi hanya berdiam diri. Vina sedang asik dengan handphonenya, Audi sedang asik memandangi langit. Vina mematikan handphone nya dan meletakkannya di meja.
"Lo suka langit, Audi?" Tanya Vina sembari menopang kepala nya memakai sebelah kiri tangannya.
"Iya suka banget!"
"Kenapa? Kenapa bisa suka banget?"
"Karena indah. Dan juga kata ibu ku, langit itu tempat berkeluh kesah kita. Waktu kecil aku sering liat ibu sering ngobrol bareng langit. Katanya, langit itu bisa bikin harapan kita terkabul." Jelas Audi, matanya sejak tadi tidak memutuskan tatapannya pada langit.
Vina mendengar kan dengan seksama, menjadi pendengar yang baik lebih baik, dari pada banyak bicara namun tidak bisa menyelesaikan permasalahannya.
"Aku pernah satu kali berharap pada langit, supaya penyakit ibu hilang. Langit mendengar kan, sakit ibuku menghilang selama-lamanya." Audi mulai mengeluarkan air matanya, Vina beranjak dan memeluk Audi, mengelus rambutnya menenangkan, dan di balas oleh Audi.
"Gue tau, Lo sebenarnya kuat, Di. Gue juga jadi pengen berharap sama langit. Agar seseorang kembali seperti dulu, dan selalu bersama teman-teman nya."
Vina menyadari jika seseorang dihadapannya ini, orang yang sungguh dicari-cari selama ini olehnya.
"Sasya nya Sena. Jangan nangis ya, aku sama Sena, selalu jagain kamu kok. Walaupun kamu, bukan di tubuh asli mu lagi." Ungkap Vina pada Audi.
Mendengar hal itu, membuat tubuh Audi membeku di pelukan sahabatnya ini.
"Sya, aku harap kamu bisa maafin kesalahan-kesalahan aku. Yang udah buat kamu menderita. Vina mengelus kepala Audi. Bisa Vina rasakan, jika gadis yang ada di dekapan nya ini mematung, dan perlahan melepaskan pelukannya.
"Ternyata secepat itu, aku ketauan." Audi tersenyum miring.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Wanda Wanda i
tuh kan apa ku bilang cewek kacamata itu penulis nya
2023-03-24
1
Ida Blado
kok gk ada balas dendamnya sih,cuma ngubek masalalu si dalang doang,,,,
2022-06-16
1
𝐛𝐚𝐛𝐲𝐲𝐲𝐧𝐚𝐧𝐚𝐚𝐚
yoo ngegantung nih cerita nyaa.. 😭🤣, ad ap dengan senyum miring Audi atau Sasya? 😌😆🤭
2022-04-24
3