Vina termangu, memandangi kertas-kertas lukisan. Lukisan yang benar-benar abstrak, namun indah dan menakjubkan.
"Pak Krisna. Boleh saya berbicara sebentar dengan teman saya?" Vina menatap Krisna.
Krisna tersenyum ramah, "Oh.. silahkan."
Vina beranjak pergi ke teras rumah milik Krisna itu. Telepon itu berdering beberapa kali, dan akhirnya dijawab.
"Oi. Semak belukar!" Panggil Vina.
"Heh! Jangan asal ganti nama orang!"
"Iya iya. Gue cuman mau nanya sesuatu hal yang penting."
"Apa itu?" Tanya Sena yang ada di seberang telepon.
"Kalau gue boleh tau, siapa nama panjang Sasya yang Lo ceritain?" Tanya Vina menatap langit yang ada di luar.
"Buat apa Lo tanya itu?" Nada ucapan Sena sedikit berubah.
"Ini penting, Sena. Ada seseorang yang mengenal Sasya, tapi gue gak tau benar apa gak nya. Jadi tolong kasih tau gue," desak Vina.
"Sasya Aprilia. Itu nama panjangnya."
Vina mengeraskan rahangnya, memejamkan matanya, lalu membukanya kembali.
"Masalahnya masa hantu yang datang ke sini!" pikir Vina.
"Kalau Langit? Itu juga nama dia atau bukan?" Vina gelisah, mengepalkan tangannya.
"Gue harap bukan orang yang sama!" batinnya Vina.
"Ah, iya. Si Sasya ada nama langit di tengah-tengah nama dia. Katanya sih karena suka langit, makanya dia bikin nama tengah Langit. Gak jelas emang anaknya." Sena tertawa lirih di seberang sana, Vina mengerti.
Vina menunduk, dan menatap sepatunya, "Sori, kalau udah buat Lo inget lagi ya, Sena. Gue ada satu permintaan lagi, boleh?"
"Apa lagi?"
"Lo punya foto Sasya? Kalau punya gue minta."
Sena berdecih pelan, "Buat apa? Gue gak tau, kalau topik Sasya ini semenarik itu buat Lo, Vin."
Vina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Gue penasaran aja. Soalnya kayak familiar sama namanya, terus mau cocokin."
"Terserah, gue kasih dah. Gue mau makan."
"Maka—"
Tut!
Sena langsung menutup sambungan telepon, Vina hanya menatap datar handphone nya yang menampilkan kontak Sena.
"Mood nya bener-bener jelek kalau udah omongin Sasya."
Sena sudah mengirimkan sebuah foto Sasya, tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Sena. Lalu Vina berbalik masuk ke dalam rumah Krisna kembali.
Vina tersenyum kaku, "Maaf lama pak Krisna."
"Tidak apa-apa." Krisna tersenyum.
Vina menunjukkan sebuah foto yang ada di handphone nya pada Krisna, "Pak Krisna. Saya ingin bertanya mengenai wajah Sasya itu. Apakah wajahnya seperti ini?"
Krisna menatap lurus pada handphone itu, dan menggeleng, "bukan. Bukan dia orangnya, saya sangat yakin! Karena dia rajin ke sini, jadi saya tidak melupakan wajah nya. Tapi entah sekarang di mana, sebulan ini dia tidak pernah datang."
Vina tampak termenung, "kalau begitu, apakah Pak Krisna bisa mendeskripsikan orangnya?"
Krisna berpikir, "dia langsing, dan rambutnya hitam."
Vina tersenyum kesal, "maaf pak. Saya juga langsing, juga mempunyai rambut hitam. Bahkan teman saya juga."
Krisna terkekeh, "maaf, yang saya ingat dia mempunyai lesung pipi di sebelah kiri. Dan ada luka lebam di tangan nya."
Vina mengangguk, dirinya melirik jam tangannya, seperti nya harus pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat.
"Pak Krisna, boleh saya meminta nomor telepon Anda? Saya ingin menghubungi anda sewaktu-waktu jika saya ingin menanyakan sesuatu," ujar Vina dengan formal.
"Seperti nya waktu mu untuk bertanya sedikit ya, nak." Mereka saling bertukar nomor, Vina beranjak yang diikuti oleh Krisna.
Tapi dirinya berhenti melangkah saat berada di teras rumah milik Krisna itu.
"Pertanyaan terakhir untuk Anda pak Krisna. Jika anda sudah menandatangani surat perjanjian itu, untuk menutup mulut, kenapa Anda mengatakan semuanya pada saya?" Vina menatap dingin pada Krisna.
Krisna tertawa, "anak yang pintar."
"Saya memberitahu semua itu, karena Anda lah peran utama dalam novel ini. Rissa," kata Krisna yang tersenyum seram. Krisna berbalik masuk ke dalam rumah nya, mengunci pintu nya, meninggalkan Vina yang mematung.
"Dia tau!" Gumam Vina.
...🥀🥀🥀...
"Kau berhasil paman." Ucap seorang perempuan.
"Seorang Krisna, seperti ku hanya mengikuti alur. Biarkan dirinya bisa menemukan mu, yang bahkan berada di dekatnya."
Perempuan itu tertawa dan menyeringai, "aku hanya bermain-main dengan ciptaan ku sendiri, paman. Ciptaan seorang Sasya Langit Aprilia."
Krisna memasukkan tangannya ke saku, "apa dirimu hanya menunggu? Hingga mereka mengetahui diri mu?"
"Ya. Tinggal menunggu. Dan mereka akan terdiam melihat ku!"
...🥀🥀🥀...
Vina sampai di rumah nya, masuk dengan santai. Namun saat sampai di depan tangga, ucapan seseorang menghentikan nya.
"Lo dari mana?" Tanya seseorang yang ada di belakang Vina. Suara serak menyapa gendang telinga Vina. Vina berbalik menatap lawan bicaranya.
"Oh. Calos, apa pedulimu?" Tanya Vina dengan nada mengejek. Calos menggeram.
"Gue tanya baik-baik. Jangan sampe gue main tangan! Cepet jawab, Lo habis dari mana?!" Bentak nya.
"Uuu.. takut," ejek Vina. Mata Calos memerah, tangannya mengepal, lalu mendorong Vina dengan keras.
Vina membelalakkan matanya, dia ingat kalau dirinya ingin menaiki tangga. Tangan nya ingin menahan di pegangan tangan, namun dirinya terpleset.
BODOH! Gue bakal bunuh Lo duluan, Calos! Ceroboh banget gue!
BRUKH...
Kepala Vina terbentur ujung tangga, membuat darah merembes. Dan saat itu juga kesadaran Vina menghilang.
Calos bergetar dan berkata dengan terbata-bata, "v... Vin. Lo gak papa?"
Calos menggoyangkan badan adik nya, seluruh badannya bergetar, keringat dingin mengucur membasahi kening. Calos memangku kepala adiknya, dan merasakan ada sesuatu yang basah dan amis.
Darah.
Calos benci darah. Bahkan dari dulu.
"Pah! Mah! Bang Carlos!" Teriak Calos dengan bergetar dan panik.
Semuanya keluar dari kamar, dan langsung menghampiri Calos yang terlihat panik.
"Ada apa, ada apa. Calos!?"
"ASTAGA! VINA! APA YANG TERJADI!"
"AMBULANS PANGGIL AMBULANS."
"Jangan lagi, Vin! Jangan sakit lagi! GUE MOHON!"
...🥀🥀🥀...
"Akh.." Jari Keyla tersayat pisau belati milik nya, saat dirinya ingin membersihkan pisau itu.
"Key. Tangan Lo!" Gio menghampiri Keyla, yang meringis.
Keyla menatap luka irisan itu, "Apaan ini. Perasaan gue gak enak. Kak, Lo gak"papa kan?"
"Gue bantu sini." Gio menarik tangan Keyla dengan pelan, lalu membersihkan luka yang ada di jari Keyla.
Keyla tersadar, melihat Gio mengemut jari nya. "Eh lu ngapain!"
Gio menatap Keyla, "Gue bersihin jarinya, ntar infeksi. Lu duduk, gue ambil obat merah dulu." Gio pergi dari depan Keyla, mencari obat merah dan sebuah pembalut luka.
"Sini tangan Lo." Keyla mengulurkan tangannya. Gio mengoleskan obat merah, membuat Keyla meringis.
"Selesai." Gio menggenggam tangan Keyla, meniup jari Keyla, "biar cepet sembuh."
Cup...
Gio mengecup jadi Keyla tepat di pembalut luka itu,. tindakan itu berhasil membuat wajah Keyla memanas.
"Gio.. gue panggang Lo. Selalu aja berhasil buat gue baper. Tanggung jawab!!" Batin Keyla berteriak-teriak.
Gio tersenyum imut, "gue suka ngeliat wajah Lo yang kayak gini. Imut." Gio mengelus pipi Keyla lembut.
Gio mendekati wajah Keyla, membuat Keyla memejamkan matanya.
Beberapa detik tidak ada pergerakan, Keyla membuka matanya kesal. Menatap wajah Gio dari dekat.
Pemuda itu menahan tawanya, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak, "muka Lo!"
Keyla kesal karena telah dipermainkan.
BUGH...
Keyla memukul kepala Gio. "Aduh sakit!!"
"Lagian. Salah Lo sendiri."
Sialan.. nih orang bikin baper, tapi bikin kesel.
...🥀🥀🥀...
Sena menatap langit-langit kamar nya, menoleh ke arah pigura foto yang dari dulu selalu disimpan di nakas sebelah ranjang. Mengambilnya dan meratapinya.
"Lo tau Sya. Gue bener-bener merasa bersalah karena gak bisa ngelindungin Lo dari bahaya. Padahal itu janjinya gue ke Lo. Gue kangen Lo, apa Lo gak kangen gue Sya?"
"Gue harap Lo balik, tapi gue sadar, itu udah gak bisa. Udah berapa tahun coba kita sahabatan, padahal Lo yang dulu janji biar kita saling membantu, tapi Lo yang ingkarin."
Sena mengembalikan pigura foto di tempat nya kembali.
"Gue harap Lo tenang di sana. Tapi yang paling gue harap, gue dikasih kesempatan kedua." Sena meringkuk dan berusaha tidur.
Di sisi lain, seorang perempuan tersenyum sendu.
"Sena. Gue bakal datang, dengan diri gue sendiri. Gak kayak gini, karena Lo gak bakal percaya." Dia meminum air putih dalam cangkir sebelahnya, dan melanjutkan ketikannya.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Oka Derza
kok aku mikir di Audi yahh
2025-02-07
1
Marlialeeya
sena? audi? atau yang lain lagi????
2023-12-29
0
Nanik Lestari
Oon bener kena pukul terus, banyak omong
2023-07-26
1