Vina sudah pulang dari rumah Sena, entah lah selepas dari sana Vina hanya menatap kosong jalan di depan nya.
"Mimpi apa gue pernah jatuh cinta sama orang gila kayak Martin," batinnya.
Vina sampai di depan rumahnya, dan melihat ada beberapa motor yang terparkir di halaman rumah nya.
"Ada yang bertamu?" Tanya Vina pada dirinya sendiri. Vina masuk dan melirik siapa yang datang, dan seperti dugaannya teman-teman Abang nya yang datang. Vina hanya masuk dengan santai tanpa menyapa mereka.
"Vin.. kamu gak mau nyapa kita?" Tanya Vero dengan lembutnya. Vina tidak menggubris pertanyaan Vero, ia terus melangkah ke arah tangga.
BRUGH...
Dirinya di dorong, membuatnya tersungkur ke depan, isi plastik yang ia tenteng dari minimarket berhamburan keluar. Tangan nya mengepal kuat. Ia mendongak menatap lurus siapa yang berani mendorongnya.
"Vero udah sapa baik-baik, anjir!! Bisa-bisanya Lo sama sekali gak gubris dia!" Vina menyorot tajam orang itu, lalu menyeringai.
"Lo siapa memangnya nyuruh nyuruh gue?" Tanya Vina, sembari memungut barang belanjaan nya dan bangkit berdiri.
"Gue Abang Lo! Harusnya Lo bisa sopan!" Bentaknya.
"Abang? Abang siapa yang mendorong adiknya, Abang siap yang berani menampar adiknya, dan Abang siapa yang menghina adik sendiri!" Vina menatap tajam satu persatu orang-orang yang ada di ruang itu.
Vina menunjuk orang di depannya, "Carlos, Lo adalah orang yang paling Vina benci." Vina beralih menunjuk Calos, "Calos, Lo adalah orang yang paling hina di hadapan Vina."
Carlos dan Calos yang mendengar itu terdiam dan dalam hatinya ingin mengumpati dirinya sendiri rasanya, namun hati dengan perbuatannya sangat berbeda.
PLAK!
Vina merasakan pipi kiri nya memanas, dia menatap Carlos yang ada dihadapannya, "tangan ini, tangan ini yang dulu selalu menjaga gue. Tangan ini yang selalu mengelap air mata gue saat menangis, dan tangan ini yang selalu meninju wajah orang-orang yang nyakitin gue. Kini beralih menjadi tangan yang selalu menyakiti fisik gue dengan semena-mena."
Mata Vina berkaca-kaca, entah perasaan sakit apa ini, namun ia tahu ini adalah perasaan asli Vina. Kini ruangan itu menjadi hening. Vina mengeratkan genggaman plastik belanjaan nya. Mata nya ditutup dengan erat, membuat setitik air mata mengalir dari sudut matanya, dengan cepat ia mengelapnya.
Vina kembali berkata mencurahkan isi hati yang selalu tersakiti, "tadi Lo bilang Lo Abang gue, gue harus sopan sama Lo. Gue akan sopan dengan orang yang pantas gue sopanin dan bahkan gue hargai keberadaan nya!" Carlos terdiam, melihat wajah adiknya yang memerah. Calos maju, dalam hatinya memang kacau. Namun, kejadian dulu sangat membuat mereka marah, bahkan benci.
PLAK!
Lagi. Vina merasakan pipi nya memanas, pipi kanannya yang sekarang menjadi korban.
Vero dan temannya Laura hanya tersenyum sinis memandang itu. Gue tunggu kehancuran Lo Vin!
"Perkataan gue juga berlaku buat Lo Calos! Dan, ah, iya, kalian sendiri yang sudah mengaku kalau gue bukan adik kalian, jadi jangan sok panggil gue dengan adik, dan Lo berdua sebagai kakak!" Setelah itu Vina meninggalkan ruang tamu, meninggalkan kedua abangnya yang termenung.
Satu lagi orang yang memperhatikan mereka juga ikut terdiam, selain Vero dan Laura.
"Lo berdua benar-benar bodoh Carlos, Calos!" Umpatnya, orang itu Avrenzo. Avrenzo mendelik kesal pada Vero yang selalu menempel dengannya.
Karena.. dia lah yang membuat hubungan nya dengan Vina kandas.
...🥀🥀🥀...
"Maaf Nyonya. Mereka bertengkar lagi." Adu salah satu bodyguard.
"Masalahnya apa?"
"Nona Vero menjadi salah satu alasan mereka bertengkar Nyonya. Dan Tuan muda Carlos juga tuan muda Calos mengungkit masa lalu mengenai Vina, Nyonya." Jelas nya. "Ba.. bahkan mereka menampar Nona Vina." Bodyguard itu benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain hal ini, untuk melindungi Vina.
Maya orang yang berada di seberang sana hanya bisa memijit pelipisnya, dan menghembuskan nafas lelah.
"Lain kali, kalau mereka bertengkar lagi langsung pisahkan. Tapi saya harap tidak ada lain kali lagi." Balas Maya.
"Baik Nyonya." Panggilan terputus. Bodyguard itu kembali melihat Carlos dan Calos yang masih mematung.
"Dua orang bodoh!"
...🥀🥀🥀...
Seorang pemuda mendekati sang adik yang sedang sibuk dengan makanan-makanan. Sang adik hanya melirik.
"Tadi siapa?" Tanya nya dengan datar. Adiknya melirik.
"Teman gue."
"Gue tau! Namanya siapa?!" Tanya pemuda itu semakin memaksa.
"Nama atau apapun itu gak ada urusannya sama Lo, Martin!" Kesal adik sepupunya.
"Sena.. jangan buat gue marah! Cepet bilang siapa nama dia?!" Gertak Martin. Sena hanya memutar bola matanya malas.
"Memang nya harus banget gue kasih tau?" Tanya Sena yang sekarang menyorot tajam pada Martin.
"Mau tau kenapa harus? Karena dia buat gue tertarik, Sena." Martin membalas tatapan adiknya, sembari menyeringai.
"Udah gue duga," jawab Sena. "Sampai kapanpun gue gak mau kasih tau," ujar Sena dengan santai.
"Argh! Sialan!" Umpat Martin sembari berbalik dan menjauh dari Sena. Sena menatap punggung sepupunya.
"Harusnya gue gak kenalin Lo ke Martin. Gue gak tau kalau ada dia di sini," batin Sena.
Gue harap Lo baik-baik aja Vin.
...🥀🥀🥀...
Di kamarnya, Vin merebahkan tubuhnya lelah, akan pertengkaran yang tadi terjadi. Berusaha memejamkan mata nya berharap langsung tertidur. Tidak lama kemudian ia terdengar dengkuran halus darinya.
Vina membuka matanya, dan terkaget bahwa di sekelilingnya hanya lah ruang kosong, berwarna putih. Ia melayang, dan tidak seorangpun ada disana.
"GUE DIMANA!!"
Vina memutar badannya, ia mencubit dirinya. Sakit. Ia melihat tangannya, dan meraba wajahnya dengan panik.
"Ini kulit gue kembali seperti semula?!" Pekiknya.
"Jangan takut Vin." Vina mendengar suara.
"Lu hantu ya? Sumpah jangan hantu lah, bosen gue tiap hari liat hantu melulu." Rengeknya.
Seseorang itu terkekeh, suaranya semakin mendekat.
"Rissa," panggil nya. Vina menoleh dan mendapati orang yang mirip dengannya, ah, bukan, orang itu mirip dengan Vina.
"L.. Lo?" ucap Rissa terbata-bata.
"Iya benar. Gue Vina. Clarissa Davina Callandra," jawab Vina sambil tersenyum.
"Gi.. gimana gue ada disini??" Tanya Rissa. "Terus kenapa ada Lo?"
"Kita sedang berada di alam bawah sadar Lo, Rissa."
"Alam bawah sadar?" Vina mengangguk.
"Ke.. kenapa bisa?" Tanya Rissa.
Wajah Vina menunjukkan bahwa ia ingin berkata serius, "Di sini ada hal yang penting gue pengen bilang, karena gue gak bakal bisa lama-lama."
"Apa?" Rissa menyadarkan dirinya agar tetap tenang.
"Pertama, gue berterima kasih karena sejauh ini Lo mampu bertahan. Dan, Kedua, gue pengen Lo berhati-hati dengan cowok yang berada di sekitar Lo. Lalu, ketiga, ada akan hal besar yang akan datang Rissa. Gue gak tau kapan pastinya, tapi gue harap Lo akan mempersiapkan diri." Jelas Vina panjang lebar.
Rissa menatap lurus pada Vina, "apa gak ada petunjuk lain? Biar gue tau apa alasan atau bahkan pelakunya?"
Vina menggeleng, "gue cuman tau itu. Gue gak bisa lama-lama, Ris. Sampai ketemu lagi ya, gue cuman mau memperingatkan Lo aja." Vina perlahan melangkah menjauh, dan sedikit demi sedikit menghilang. Namun, Rissa seperti mengingat sesuatu.
"TUNGGU! TENTANG KECELAKAAN LO, INGATAN LO, DAN SEMUA TENTANG LO, APA GAK BISA LO KASIH TAU?! SEDIKIT AJA!" Teriak Rissa. Vina memberhentikan langkahnya sebentar.
"Gue harap Lo bisa menemukan sendiri jawabannya Rissa, karena gue gak bisa kasih tau itu satu persatu. Karena waktu gue gak banyak." Vina kembali berjalan, dan benar-benar menghilang. Mata Rissa memberat. Lalu semua menggelap.
...🥀🥀🥀...
Rissa membuka matanya tiba-tiba, dan terduduk, nafasnya tersengal-sengal. Ia menatap meja belajar nya, lalu dengan segera mencatat peringatan yang Vina beri pada nya saat di alam bawah sadar.
"Semuanya teracak bagaikan sebuah pecahan-pecahan yang sangat sulit disatukan. Gue harus cari satu persatu kepingan-kepingan memori ingatan!" Monolog nya.
Vina mengacak-acak rambut nya. "Vin.. mereka benar-benar jahat. Terlebih Abang-abang Lo yang gak mempercayai Lo."
Vina melihat langit-langit kamar nya, lalu tersenyum pedih.
...🥀🥀🥀...
Keesokan harinya, terlihat Vina masih tertidur pulas, setelah semalam memikirkan jalan cerita dari novel ini, dan juga memikirkan masalah yang terjadi.
"Dimana Vina, mah?" Tanya Raditya pada Maya. Carlos dan Calos juga ingin menanyakan hal yang sama, namun mereka hanya dapat menelannya.
"Kayaknya masih tidur, pah. Aku bangunin dulu ya." Saat hendak berdiri, Maya ditahan oleh Carlos.
"Em.. mah," tahan Carlos.
Maya menatap anaknya, "ya?"
"Biar Carlos aja ya, Mah yang panggil," ujar Carlos sembari menunduk, sedikit malu dengan ucapannya. Calos menganga menatap sang kakak tertua. Raditya menatap aneh sang anak.
"Kesurupan apaan sih, si Carlos. Kudu cepet-cepet di ruqyah kayaknya," Batin Raditya.
Maya tersenyum, "ya udah gih." Carlos dengan cepat berdiri dan berjalan menaiki tangga.
"Anak kamu kesurupan apaan, mah?" Tanya Raditya pada Maya, namun tatapannya masih terfokus pada makanan nya.
"Kesurupan Lenong Betawi kali, pah," jawab Maya dengan asal.
Raditya terkekeh, lalu berkata dengan sedikit menyindir, "aku harap, Carlos benar-benar sadar dengan perlakuan nya selama ini pada Vina. Gak kayak yang satunya, hati nya keras, dan kayaknya gak akan pernah sadar."
Maya tersenyum, "kamu benar pah."
Yang tersindir hanya diam, menatap punggung Carlos yang telah menghilang. Calos mencoba memfokuskan diri pada makanan miliknya.
...🥀🥀🥀...
Carlos mengetuk pintu kamar sang adik, beberapa kali.
Do you want to build a snowman~~
"Haish... bukan waktu nya bercanda Carlos."
"Vin.. bangun dek! Udah jam segini!" Panggil Carlos. Beberapa menit kemudian, Carlos menunggu dan beberapa kali ia kembali memanggil Vina.
Pintu terbuka, menampakkan Vina yang sudah siap dengan seragam nya, walau dasinya tidak terpasang dengan rapi, wajah nya tetap menggemaskan di mata Carlos. Carlos mengangkat tangan nya, untuk membetulkan posisi dasi milik Vina. Namun, tindakan itu terhenti atas perkataan Vina yang sangat dingin padanya.
"Ngapain Lo di depan kamar gua? Carlos?" Tanya Vina memandang datar Carlos. Carlos gelagapan.
"Gu.. gue mau manggil Lo turun."
Vina tidak mengindahkan Carlos, ia melangkah dan menuruni tangga.
"Gue minta maaf sama Lo," ujar Carlos pada Vina yang berjalan di depannya. Vina memberhentikan langkahnya, masih sedikit jauh dengan meja makan.
"Apa aja yang Lo minta buat dimaafin?" tanya Vina. Carlos menahan tangan Vina. Sebanyak itukah kesalahan nya, sampai Vina menanyakan apa saja hal itu.
"Semua, semua hal, tolong maafin gue Vin," mohon Carlos. Vina terdiam memandang dingin wajah Carlos.
"Apapun itu gue gak bisa maafin Lo," ujar Vina.
"Gue mohon. Apa aja bakal gue lakuin buat dapet maaf dari Lo."
Vina menyeringai, "Kalau begitu, anggap aja gue dan Lo gak saling kenal. Itu aja cukup buat gue." Vina berbalik, dan melanjutkan jalannya ke arah meja makan.
Carlos terdiam membeku.
Maaf.. maaf.. maaf!!
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Oka Derza
sena penulis nya kah?
2025-02-07
1
Arhieva Jimshoneysruwen
aku harap ini ga kaya novel yang lainnya yang dengan mudah memaafkan
2023-03-30
2
Wanda Wanda i
jangan mudah luluh Vin kasih mereka semua pelajaran biar nyahooo
2023-03-24
1