Rissa, ah ralat Vina tersenyum senang karena hari ini ia sudah diperbolehkan untuk bersekolah, setelah dua hari membujuk orang tua nya. Ia memoles tipis bibirnya, dan sedikit berdandan .
"Pagi, mah, pah!" Sapa nya dengan ceria, saat sampai di meja makan. Ia tidak melirik kedua abangnya yang tentu saja belum terbiasa melihat perubahan sang adik. Kedua Abang nya terpana melihat kecantikan dan keimutan sang adik.
Adik? Bahkan mereka tidak pernah menganggap Vina adik.
"Kamu mau pakai selai apa Vina? Mama siapin."
"Makasih mah, aku mau selai coklat aja mah," pinta Vina. Mama nya mengangguk, lalu menyiapkan roti milik Vina, milik Raditya, dan milik nya.
"Oh ya, Vin. Motor yang kamu mau udah di depan, ya." Ucap Raditya pada Vina. Kedua Abang nya menatap heran Raditya.
"Pah.. bukannya Vina gak bisa naik motor?" Tanya Calos. Carlos membenarkan. Raditya tersenyum miring.
"Tau apa kalian tentang adik kalian?" Tanya nya menusuk. Vina hanya menikmati sarapannya, sembari melihat drama keluarga di depannya ini.
"Pah.. mah.. aku udah selesai, aku duluan pergi ya." Pamit Vina, beranjak dari tempat duduk nya, setelah menyelesaikan sarapannya. Lalu mencium pipi mama dan papa nya.
"Ini kuncinya ya, hati-hati sayang." Vina mengacungkan jempol nya.
"Dadah Sayang," lambai Maya pada Vina.
Dari kamar dia sudah memakai celana yang ditimpa rok sekolahnya. Dia memandang puas motor miliknya.
"Sepertinya yang kuinginkan," batinnya tersenyum senang. Lalu Vina menaiki motor barunya, dan memasang helm full face nya.
"Sejak kapan Lo bisa bawa motor?" Tanya Carlos yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Vina hanya melirik nya dari balik helm nya. Tanpa aba-aba ia meninggalkan Carlos dan Calos yang menganga atas kelakuan adiknya.
"Dia cuman caper paling," ujar Carlos dengan nada dingin.
"Kita liat aja," kata Calos menatap tajam pagar yang dilewati oleh Vina tadi.
...🥀🥀🥀...
Vina mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang, menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota itu. Dengan bantuan ingatan Vina, yang membuat nya sampai ke sekolah tanpa tersesat.
Saat motornya melewati gerbang sekolah nya. Ia menjadi pusat perhatian, membuat nya tersenyum miring.
"Gue akan buat perubahan besar." Ia tertawa keras dalam hatinya.
Ckitt...
Ia memarkirkan motornya.
Siapa itu? Anak baru?
Cowok kah?
Udah liat aja si!
Vina membuka helm nya, lalu menyugar rambutnya, meletakkan helm nya di kaca spion, mematikan mesin motor nya, dan turun dari motornya.
Siapa itu?!
Byuset, cantik bener..
Wah itu si Clarissa Woi!
Wih si pembully Vero itu?
Serasa ngaca gua.
Bangun begok, cantikan dia daripada Lo pada!
Ouch! Ucapan mu sangat menyakitkan.
Vina berjalan masuk ke sekolah itu tanpa menghiraukan perkataan-perkataan anak-anak sekolah itu. Sekolah Menengah Atas Williamson, ia sadar sekolah ini ternyata milik keluarga nya.
"Cih! Kakek gak liat apa ya anak anak sekolah sini gak ada ahlak semua!" Ia berdecih pelan.
Di ingatan nya, Vina kini duduk di kelas 11 MIPA 3. Ia berjalan menaiki tangga, dan sampai di lantai kelas 11. Ia melihat ada anak-anak geng motor, ia mengetahui nya karena ada Vero, gadis yang pada hari itu ada di rumahnya.
"Kalau ngobrol, jangan di jalan" peringat Vina dengan dingin, menatap satu persatu orang-orang yang menutupi jalan lorong itu.
"Loh. Lo ngapain kesini?! Gak ada gunanya juga Lo sekolah!! Bikin malu keluarga doang!" Cerca pemuda dengan rambut cepak. Vina menatap penuh amarah pada pemuda itu, lalu maju mendekati pemuda itu.bIa melirik name-tag milik pemuda itu.
"Vinsensius. Jangan coba-coba hina gue." Nada nya terdengar tajam, dan bahkan aura Vina sekarang sangat menyeramkan.
"Udah berani ya, Lo sekarang?!" Tunjuk pemuda yang bernama Vinsensius itu. Vina menghempaskan jari Vinsensius yang menunjuknya.
"Tangan Lo banyak dosa. Gak usah sok nunjuk," balas Vina.
Vinsensius naik darah, tangannya terangkat dan melayang untuk menampar Vina. Gerakan Vina lebih cepat, ia menangkap tangan itu dan mengunci nya, menabrakkan badan Vinsensius ke dinding.
"Gue bilang sekali lagi, jangan coba-coba nyentuh gue bahkan setitik pun," bisik nya dingin.
Krek...
Bunyi dari tangan kiri Vinsensius yang ditekan, membuat Vinsensius berteriak kesakitan. Melihat itu, teman dari Vinsensius ingin maju.
"Maju sedikit lagi. Tangan nya akan benar benar patah." Ujar Vina tajam. Membuat yang lain bergidik ngeri.
"Hiks... Vina.. kasian Kak Vinsen. Lepasin.. Hiks... tangan dia... dia kesakitan hiks.." pinta Vero dengan menangis. Vina yang melihat itu merasa menyernyit jijik.
Tiba-tiba dari belakang nya, tangan besar menarik kasar bahunya. Membuat Vinsensius bisa terlepas.
Plak...
Pipi kiri Vina terasa panas, ia yakin tamparan itu pasti berbekas. Orang-orang berkumpul melihat drama apa lagi yang terjadi.
"Lo benar-benar ngajak ribut Mulu ya, Vina!" Bentak Carlos yang ternyata sudah sampai bersama Calos.
Vina mengusap pipinya yang terkena tamparan, "Lo nampar gue?"
"Iya! Kenapa?!"
Vina langsung menendang perut Carlos dan memukul pelipis Carlos dengan sangat keras, membuat Carlos terhuyung jatuh ke lantai. Anak-anak sekitar situ terkejut melihat perubahan Vina. Bukan hanya penampilan, kini Vina berubah menjadi badass sekali.
"Gue udah bilang, jangan sentuh gue, walau setitik." Vina pergi masuk ke dalam kelas. Melihat itu orang-orang yang berkumpul disana juga ikut membubarkan diri.
Vina duduk di pojok kelas, sesuai ingatan nya. Ia melihat sekeliling, benar-benar tidak ada yang melirik nya sedikit pun. Vina hanya tersenyum miris.
"Segitu nya kah, sampai-sampai raga ini gak punya teman satupun? Miris banget sumpah Vin." Vina menghela nafas, ia menelungkupkan wajahnya. Namun, terbangun lagi untuk membuka celana nya di kamar mandi.
...🥀🥀🥀...
Vina berjalan santai ke arah kamar mandi untuk mengganti celananya. Tepat saat membuka pintu, Vina dapat mendengar seseorang sedang menangis sambil meringis pelan.
"Sumpah gak lucu. Gak mungkin kan disini ada hantu."
Dia melangkah masuk dengan perlahan, dan menemukan seseorang perempuan berkacamata sedang membersihkan tubuhnya yang penuh dengan tepung. Vina membekap mulutnya, terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia melihat jaket yang sedang ia pakai, lalu melepaskan nya.
"Lo pake punya gua aja." Ujar nya sambil memberikan jaketnya pada perempuan itu. Perempuan itu terkejut akan kedatangan Vina.
"Maaf... gak usah. A.. aku permisi" Setelah mengatakan itu, perempuan itu pergi dari hadapan Vina, dan keluar dari kamar mandi. Vina hanya bisa menatap punggung yang menjauh itu.
"Susah banget cari temen," ujar nya lirih tertunduk. Lalu dia mengganti celananya dan keluar dari kamar mandi.
Vina menghela nafas pelan, "anak tadi.. kenapa ya? Kayak nya dia habis dibully, tapi siapa?" Gumamnya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Gue gabut, pengen bolos," pikir Vina. Vina menggeleng pelan, "gak ah, mau tobat." Vina mengerucutkan bibirnya.
"Bacot!! Mending lakuin aja sih!"
"Cepetan Bersihin sepatu gue!!"
"Ayo! Jangan bisanya nangis!"
Vina mendengar samar-samar cacian tersebut, lalu bersembunyi di balik dinding. Matanya mengintip, dan ia menyernyit.
"Bukannya itu yang di kamar mandi?" Batinnya.
Perempuan berkacamata itu hanya menggeleng, dan sedikit memberontak. "Maaf aku gak sengaja." Perempuan itu tertunduk, dengan keadaan yang berantakan.
Vina merasa iba.
"Mana sifat gue yang gak pernah berbelas kasihan!" Vina mengepalkan tangannya, lalu ia keluar dari tempat persembunyiannya.
"Bangun. Mereka gak berhak ngebuat Lo kayak gini." Vina membantu perempuan berkacamata itu berdiri, tapi ketiga gadis di depannya tidak terima karena Vina mencampuri urusan mereka.
"Lo! Lo siapa!? Jangan ikut ikut campur!
"Gue? Gue siapa?" Vina menyeringai.
"Gue Clarissa Davina Callandra. Pencabut nyawa para kaum pembully. Seperti anda, nona." Jawab Vina tajam, menyeringai, dan menaikkan sebelah alisnya. Membuat orang-orang sekitaran mereka bergidik, dan tidak ikut campur akan urusan mereka.
Matanya bergetar. Ketiga perempuan itu berbalik, "AWAS LO! HIDUP LO GAK AKAN TENANG!"
Dari dulu kok, hidup gue gak tenang.
Vina berbalik menghadap perempuan berkacamata itu, "Lo gak papa?" Yang hanya dibalas gelengan.
"Terima kasih udah bantu aku, aku balik dulu," tanpa menunggu jawaban Vina, perempuan itu dnegan tergesa-gesa pergi dari hadapan Vina. Vina tidak sempat menahannya.
Vina hanya terdiam. Dia tahu, orang yang dibully, bukan hanya fisik nya yang dirusak mental nya juga. Miris sekali anak-anak zaman sekarang.
"Hidup mereka gak akan tenang." Geram Vina, matanya memerah menahan amarah.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
simp4_fiyy
keren alur nya
2022-11-04
2
Ida Blado
aq harap ceritanya gk sama yg pernah kubaca,di mana nanti si kakak nyesel lalu minta maaf dan di maafin dn bermanja3
2022-06-16
9
KooKie💜🐰
lanjut lagi thor
ttp semangat
2022-04-06
5