"So.. ada apa anda kemari? Bahkan kita tidak saling kenal," tanya Keyla menatap tajam pada orang yang ada di hadapannya itu. Kini mereka berada di ruang tamu.
Vina tersenyum dan berkata, "adik gue yang manis.. ternyata Lo waspada juga ya orang nya."
"To the point!" Geram Keyla. Vina menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Gue Rissa, kakak Lo. Rissa Arabella William," ungkapnya. Keyla terkekeh sinis.
"Kakak gue? Halo... siapa sebenarnya Lo!? Jangan bawa-bawa kakak gue!" Gertak Keyla, dengan rahang mengeras.
"Keyla.. Keyla.. perlu bukti untuk tau gue siapa?"
"Gue gak suka orang yang bertele-tele!"
"Oke oke," ujar Vina tersenyum geli. "Keyla, Lo tuh pasti sampe sekarang masih suka film aca aca nehi-nehi kan? Oiya Lo juga kalau tidur harus minum susu, sama diminyakin pake minyak telon kan di lengan. Lo juga kalau nonton televisi suka banget film yang emak-emak tonton. Abis itu Lo ju—" Omongan nya terpotong.
Bruk...
Vina terkejut, Keyla langsung menghantam nya dengan pelukan, untung saja dirinya masih terduduk di sofa.
"Kakak~~ Gue kira Lo udah mati.." Tangis Keyla yang memeluk nya dari samping. Vina tersenyum geli melihat adiknya yang menangis seperti anak kecil.
Buktinya gue ada disini dek..
"Gue kesini mau kangen-kangenan sama Lo dek, bukan buat nangis bombay." Keyla melepas pelukannya dan mengerucutkan bibirnya.
"Gak ilang-ilang ih nyebelin nya," kata Keyla sembari mengelap air mata nya. Vina terkekeh.
"Terus, kok Lo bisa sih ada di tubuh orang lain?" Tanya Keyla. Vina hany menggeleng.
"Gue.. juga gak tau kenapa bisa," ucap Vina. Keyla kembali memeluk kakaknya.
"Yang penting kakak udah ada di sini, itu cukup buat gue." Vina tersenyum mendengar itu.
Satu setengah jam berlalu, Keyla sedang bermain handphone milik nya di samping kakaknya, ia bersandar pada bahu sang kakak. Vina mengelus kepala adiknya, dan memperhatikannya.
"Baca apa? Kok keliatannya serius banget?" Tanya Vina kepo. Keyla mendongakan kepalanya.
"Ini kak, novel online." Vina mengangkat sebelah alisnya.
"Oohh, novel."
"Iya, kakak pernah baca loh padahal, malah bakal diterbitkan kalau udah di revisi." Keyla kini menegakkan tubuhnya, dan menoleh pada kakaknya.
"Oh ya gue pernah baca?"
"Iya, udah pernah."
"Mana coba liat," pinta Vina. Keyla memberikan handphone milik nya pada Vina, Vina membacanya. Episode yang ada baru beberapa, namun ceritanya dapat membuatnya membelalakkan matanya.
"Ini persis dengan apa yang gue lakuin beberapa hari ini. Dan.. nama-namanya sama persis! Bedanya tidak menceritakan transmigrasi yang gue alamin." Jantung Vina berdegup kencang, memikirkan siapa penulis dari novel ini sebenarnya. Apakah selama ini kehidupan nya sedang diawasi.
"Oiya kak, ini tuh cerita nya bener-bener berbanding terbalik ya, gak kayak yang dulu kakak baca! Walaupun kakak bacanya cuman pas kekejamannya doang," ujar Keyla, namun saat kalimat terakhir, ia mengecilkan suaranya.
"Maksudnya?" Vina yang sedari tadi memperhatikan handphone Keyla.
"Iya, jadi tuh author yang buatnya tuh, ngebuat revisi besar-besaran! Baru beberapa hari yang lalu dia lanjutin lagi, dengan cerita berbanding terbalik."
"Ceritain ke gue. Apa maksudnya?" Desak Vina pada Keyla.
"Iya iya. Jadi tuh dulu ceritanya si Veronica itu jadi protagonis dalam cerita itu, terus si Clarissa Davina itu yang jadi antagonis nya. Terus, ini malah kebalikannya. Clarissa nya jadi protagonis, si Veronica itu jadi antagonis," jelas Keyla.
Vina membelalakkan matanya, ia kembali memperhatikan handphone Keyla. Ia ingat bahwa dirinya pernah membaca novel ini.
'It's Mine'
Itu adalah judul cerita nya dulu. Namun, sekarang judulnya berubah, bahkan ceritanya juga.
'You are mine!'
Vina bergeming. Keyla kembali melanjutkan ceritanya.
"Lo tau gak kak.. di cerita sekarang Avrenzo jadi kayak keliatan terobsesi gitu ya sama Clarissa, abis itu si Vero malah semakin menjadi-jadi. Padahal dulu ceritanya Avrenzo yang terobsesi ke Vero, dan Clarissa yang ngejar-ngejar Avrenzo. Apa nanti ending bakal beda ya? Padahal dulu yang mati kan Clarissa." Cerita Keyla. Vina melebarkan matanya, bola matanya bergetar.
Vina melihat ada notifikasi bahwa novel yang ada di dalam handphone Keyla telah update. Dan dengan cepat ia membacanya. Ia terduduk lemas. Sama persis dengan kejadian hari ini.
"Key," Panggil Vina, menatap lurus pada Keyla. Keyla berdeham.
"Gu.. gue pulang dulu ya, udah mau sore," pamit Vina. Lalu segera bangkit dan berjalan ke arah pintu. Keyla mengikuti nya dari belakang.
"Loh kak? Gak nginep? Kakak tinggal di mana sekarang? Terus nanti kita bisa ketemu lagi kan? Oh iya gue mau minta nomor telepon Lo kak, boleh ya?" Tanya Keyla beruntun. Vina memberhentikan langkahnya. Memberikan nomor telepon nya.
"Apapun yang terjadi, siapapun itu jangan ada yang tau siapa gue ya, Key. Termasuk Red Blood. Dan, biarin semuanya berjalan sesuai alur yang ada," pinta Vina. Lalu Vina berbalik, dan melanjutkan jalannya ke arah mobil. Keyla menatap sendu mobil kakaknya yang perlahan menghilang di balik pintu gerbang.
"Gue gak akan bilang siapapun kak," lirih nya. "Gue harap kita bisa ketemu lagi." Keyla berbalik dan masuk kembali dalam rumah.
...🥀🥀🥀...
Vina menyetir pulang ke arah hotel penginapan. Vina terlihat gelisah, dia tidak berhenti memikirkan apa yang terjadi pada novel itu.
Walaupun ia membaca novelnya sekilas, namun saat ending cerita itu dia baca. Pembunuhan yang sangat sadis terjadi padanya, bukan lebih tepatnya pada Clarissa Davina Callandra, tubuh yang ditempati nya.
"Gue bisa mati muda kalau kayak gini terus," gumam Vina. Ia membelokkan setiran, memasuki kawasan parkiran hotel.
"Selama gue hidup, baru kali ini gue disuruh mikir terus. Untung pinter," batinnya. Kepala nya kembali merasa pusing, ia meremas kepalanya.
"Vin, tolong bantu gue untuk inget semua nya!" Geram Vina. Ia turun dari mobil nya dan masuk ke lift, berjalan naik ke lantai kamar milik nya berada.
Handphone nya berdering, saat dia sampai di depan kamar nya. Tertera nama ayahnya disana.
"Halo Pah." Jawab Vina sembari membuka pintu kamar nya menggunakan kartu akses.
"Vin.. kamu sudah sampai?" Tanya Raditya dari seberang sana.
"Iya udah pah." Vina masuk, dan menutup pintu kamar nya.
"Kamu bersihin badan kamu, abis itu turun ya, kita makan."
"Okeh pah." Setelah itu Vina menutup panggilan nya.
...🥀🥀🥀...
Hari Senin, adalah hari dimana upacara dilaksanakan, dan Vina terlambat datang ke sekolah.
"UWAA! TELAT!! MATI GUE!" Vina menancap gas motor miliknya, mempercepat laju kendaraan. Membuat orang-orang yang berlalu lintas memaki nya karena ugal-ugalan.
Sampai di depan gerbang, ternyata gerbangnya sudah ditutup. Vina melihat satpam dan guru yang berjaga, hendak lari dari sana, namun sialnya ternyata mereka sudah menangkap nya.
"Mau lari ke mana kamu! Ikut saya! Jangan bolos walaupun telat," kata Pak guru yang menangkap nya.
"Ampun pak," cengir Vina, sembari menunjukkan tanda peace.
"Upacara udah selesai, kamu baru datang! Hormat ke bendera sampai jam pelajaran ke tiga selesai!" Perintah pak guru.
"Tapi pak.."
"Gak ada tapi tapian, mau hukuman nya bapak tambah sampe jam istirahat!"
"Jangan pak, bisa pingsan saya." Vina cemberut.
"Udah sana!" Vina masuk dengan motor miliknya. Lalu berlari kecil ke arah lapangan yang sudah sepi, dikarenakan pelajaran pertama sudah dimulai.
"Tau gini jangan dulu bergadang semalaman buat nyari tau tuh penulis." Batin Vina. Ia hormat pada bendera.
...🥀🥀🥀...
Sudah sejam Vina berdiri di lapangan, sekarang dirinya sudah kepanasan karena matahari yang berada di langit.
"Gila bisa-bisa gue mati karena dehidrasi dah nih," gumamnya.
Tuk...
"Apaan tuh!" Vina kaget karena ada sebuah botol yang mendarat di pipinya.
"Minum," ujar seseorang di belakang nya. Suara serak nan berat itu, membuat Vina sedikit merinding. Vina berbalik dengan cepat, melihat siapa yang berada di belakang nya.
"Hai Vina.." Ujar pemuda tersebut. Vina melirik name-tag orang tersebut.
Edward Narendra R.
"Ganteng juga... sabilah jadi pacar," batin Vina menatap ciptaan Tuhan di hadapannya.
Edward merasa gugup pun, berdeham. "I.. ini Lo minum, pasti seret kan itu lidah Lo," ucap Edward, lalu kembali menyodorkan botol yang berada di tangannya. Vina tersadar, lalu mengambil botol nya.
"Makasih," ucap Vina sembari tersenyum. Edward terpana, Edward pun mengalihkan pandangannya.
"Sama-sama." Vina meminum air putih itu setengah.
"By the way, kita udah saling kenal?" Tanya Vina, sembari menutup botol itu. Edward menatap Vina.
"Belum terlalu kenal sih," kata Edward.
"Kalau gitu, kenalan ulang." Vina menatap lurus ke arah Edward.
Menjulurkan tangannya, dan berkata, "Gue Clarissa Davina, salam kenal." Edward membalas senyuman itu dengan senyuman tipis, dan menyambut tangan Vina.
"Gue Edward Narendra. Salam kenal juga," balas nya.
"Walaupun baru pertama kita kenalan dengan benar, tapi gue udah lama nyimpan perasaan ini dari pandangan pertama kita, Icha." Batin Edward.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Maîra⊰⊹
Semoga g NT!
2022-12-26
3
Ida Blado
nah aq harap jodohnya edward aja yg gk pernah jahatin vina,di bandin avrezo yg udah jahat gk ketulungan
2022-06-16
7
23
p
2022-06-07
0