Suasana ruang tamu hening bahkan tidak ada yang berani bersuara.
"Papa, mau menjelaskan tentang hal ini. Papa mohon." Raditya kembali membuka suara, walaupun tidak mendapat respon dari orang-orang yang di depannya itu.
"Papa saat itu pulang dari cafe saat reunian, saat itu mama gak bisa ikut kan karena ada urusan sama tetangga. Jadi, Papa sama sahabat Papa pergi bersama. Papa naik mobil, kami bersebelahan." Raditya melirik mereka semua.
"Saat itu, entah kenapa mobil Papa sama sekali gak bisa direm. Mobil Papa hilang kendali. Rem nya blong. Di depan Papa ada yang ingin menyebrang, papa banting setir, dan tidak melihat mobil di sebelah Papa adalah sahabat papa. Orang tua dari Vina. Tabrakan beruntun terjadi di antara kita, dan mobil miliknya, juga beberapa pengendara lain." Jelas Raditya.
"Sahabat ku dengan istrinya sempat di bawa ke rumah sakit. Dan pesan terakhir nya itu adalah tolong rawat anak-anaknya." Raditya bersandar pada sofa.
"Kenapa, Mama gak tau soal ini? Atau Carlos? Atau Calos?" Tanya Maya.
Raditya terdiam, "karena Papa takut dengan reaksi kalian. Dan papa gak mau itu membuat papa semakin terpuruk."
Maya menghela nafasnya, "siapa anak-anaknya, selain Vina, Raditya?"
"Papa masih mencari-cari mereka."
...🥀🥀🥀...
Pagi ini, Vina terbangun dari tidurnya dengan murung.
"Ingatannya, kenapa gak ada? Padahal setiap gue tidur, ingatan dari Vina datang. Tapi kali ini gak ada sama sekali." Vina beranjak dari tempat tidur.
"Kemarin jantung kenapa berdebar-debar ya." Vina menggaruk tengkuknya, sembari tersenyum gila.
Vina mengendikkan bahunya, dirinya berjalan keluar dari kamar. "Kangen rumah. Kabur boleh gak ya?"
"Kamu mau kemana, Vina?"
Vina berhenti berjalan saat ada seseorang yang ia kenal bersuara. Berbalik dan menyengir pada orang itu.
"Papa! Aku mau pulang." Pinta Vina. Raditya mengangguk, pikiran nya sedang kacau setelah pertengkaran kemarin malam.
Calos pergi dari rumah lagi, Carlos menjadi dingin dengan nya, dan Maya hanya menatap kosong ke arahnya jika Raditya mengajaknya bicara. Raditya kesepian.
"YEAY!" Pekikan tertahan dari Vina.
"Gue pengen cari tau lebih lanjut, kalau di rumah sakit gue gak bakal bisa lama-lama disini!"
Raditya mengelus kepala Vina, "Papa, kangen kamu ada di rumah, Vin."
Vina mengangguk, "aku juga, Pah!"
"Maafin papa, Papa tega ngebohongin kamu tentang orang tua kamu."
...🥀🥀🥀...
"So, kamu masih belum mau cerita kenapa kamu bisa kayak gini?" Tanya Krisna pada keponakannya itu.
Perempuan yang sedang mengetik memberhentikan kegiatannya, lalu mengalihkan perhatian nya pada Krisna.
"Kalau Paman benar-benar penasaran. Aku akan cerita dari awal, dan bagaimana aku bisa ada di tubuh ini, setelah aku mati bunuh diri."
...💤💤💤...
"Oi, Sena-su!" Panggil seorang anak perempuan memakai seragam sekolah dasar. Anak perempuan yang berambut pirang itu menengok.
"Itu nama aku, Sasya! Jangan diganti-ganti dong," ujar Sena dengan cemberut, yang hanya dibalas tertawaan.
"Udah yuk, kita masuk! Nanti telat, aku salahin kamu!" Perempuan bernama Sasya itu menarik tangan Sena.
"Jangan cepet-cepet, nanti sakit nya kamu kambuh lagi," kata Sena mengkhawatirkan keadaan Sasya. Karena dirinya pernah sekali mendapati Sasya tengah kesakitan memegang dadanya, dan dirinya diberi tahu untuk menjaga Sasya, agar tidak terjadi lagi hal seperti itu.
"Sakit aku udah sembuh! Jangan bahas itu lagi, ih Sena."
"I.. iya, maafin aku, Sya." Sena menatap Sasya dengan sendu.
Aku cuman mau lindungin kamu, Sya. Itu udah janji aku.
...💤💤💤...
"Jangan!! Jangan apa-apain Sasya! Kenapa kalian malah gangguin dia!?" Teriak Sena. Sena sedang izin ke toilet pada jam pelajaran, dan melihat Sasya sudah tergeletak, wajah nya berantakan, badannya basah, juga seragamnya kotor.
"Udah deh, gak usah ikut campur! Ini urusan gue sama anak cebol ini!" Bentak salah satu anak dari kedua orang di hadapan Sena.
Sena menggeram, "apa-apaan. Kalian itu masih kecil, jangan sok iya bikin orang kayak gini! Masih SD udah belagu, apalagi kalau udah gede, dijadiin babu kali ya, lagian memang kalian lebih kakak kelas, tapi gak patut dicontoh!"
Ketiga anak perempuan itu menatap tajam Sena, "hidup kalian gak akan tenang di sini! Karena apa, karena ini milik kakek gue! Jadi, kalian yang gak usah sok!" Setelah itu mereka berdua pergi.
Sena dengan cepat membantu Sasya berdiri, "Sya.. sekali-kali lawan mereka ya. Aku gak mungkin selalu ada buat kamu."
Dari dulu, Sasya hanya bergantung pada Sena. Setiap dirinya dibully atau diganggu dan dihina, Sena selalu menjadi tamengnya. Melindungi nya, membuat Sasya semakin menjadi-jadi.
"Rissa, Keyla. Mereka berdua cucu dari pemilik sekolah William. Berbuat seenaknya pada ku terus menerus!"
...💤💤💤...
"Aku memang berjanji untuk jagain kamu, tapi aku tetap gak bisa jagain kamu tiap jam, tiap hari, atau setiap detiknya. Aku berusaha, itu janji aku ke orang tua kamu, memang. Aku berusaha tapi, kamu gak anggap itu semua."
Saat ini Sasya dan Sena sudah kelas 10. Sena dan Sasya tidak sekelas seperti biasanya mereka selalu sekelas. Sasya meminta Sena untuk pindah ke kelasnya, tapi ditolak Sena. Sena ingin Sasya bisa menghadapi semua masalah, jika dirinya tidak ada.
Sena selalu mengajarkan Sasya bela diri, namun disambut dengan ogah-ogahan oleh Sasya.
"Aku.. aku udah bergantung sama kamu, Na. Aku gak bisa.. aku gak bisa kalau kamu gak bantu aku."
"Kalau gitu, berusaha. Aku berusaha ngebuat kamu berani."
Sasya memandang datar pada Sena, "kalau kamu udah capek bantu aku, lebih baik gak usah lagi!" Sasya berbalik menjauh dari Sena, yang memanggil nya.
Sena mengigit kuku jarinya, "entah kenapa firasat ku gak enak."
Firasat yang Sena rasakan terjadi, malamnya, sakit Sasya kambuh. Penyakit yang dideritanya yang awalnya tidak parah, lama-lama separah sekarang. Bahkan Sasya sampai sesak nafas.
Sasya mengambil obat miliknya, menghirup nya perlahan, dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan, beberapa kali ia dilakukan.
"Aku.. gak kuat."
...💤💤💤...
Sena sedang berada di tempat karaoke bersama beberapa teman sekelasnya, ini sudah seminggu dari kejadian pertengkaran itu. Dirinya tidak benar-benar bisa santai, Sena selalu mengkhawatirkan keadaan Sasya.
Dia ingin Sasya bisa menghadapi semua masalah ini dengan tegar, dan kuat. Semua waktu yang ia keluarkan untuk Sasya sia-sia setelah Sasya memilih untuk pergi, pergi selamanya dari dunia.
Di malam yang sama, di bar. Sasya diajak bersenang-senang oleh beberapa perempuan dan laki-laki yang lebih dewasa darinya. Kali ini bukan Rissa ataupun Keyla yang membully nya. Tapi yang lain, kakak senior di sekolah nya.
Sasya memberontak saat dirinya dipaksa ikut, "sialan kalian! Apa sebenarnya mau kalian!" Sasya terisak, saat tubuhnya dibawa ke sebuah kamar.
"Tentu menikmati mu, gadis manis. Mereka sudah menjual mu pada kami." Sasya menangis dengan keras, dirinya terus memberontak dari kukungan para lelaki biadab itu.
Malam itu, adalah malam terburuk bagi Sasya. Membuat trauma nya meningkat, bahkan saat sampai rumah dirinya benar-benar kacau. Membuat akal nya bahkan hilang.
...💤💤💤...
"Lagu yang lain! Masa korea mulu Lo! Sini gue, lagu barat nih."
"Hilih. Kayak bisa aja bahasa Enggres."
"Ntar kayak yang pernah viral lagi. 'ndak bisa bahasa enggres bang'."
Sena tidak ikut-ikutan bernyanyi, dirinya sedang asik melamun, malam ini Sena benar-benar gelisah.
"Sya.. aku takut.. aku takut firasat ku terjadi!"
Deringan handphone milik Sena, membuyarkan lamunan Sena.
"Guys. Gue angkat telepon dulu ya."
"Oh, okeii. Balik lagi kan kesini?"
"Iya kok."
Sena keluar dari tempat karaoke itu, dan mengangkat teleponnya, melihat nama yang tertera 'Sasya'.
"Hal—"
"Sena.."
"Sya! Lo kenapa!? Lo nangis!? Aku kesana ya! Kamu dimana sekarang!?" Sena panik setelah mendengar suara serak Sasya, dan isak tangis itu. Bulu kuduk Sena merinding.
"Maafin aku, Na. Aku banyak salah sama kamu. Terima kasih juga, selalu ada buat aku. Ini mungkin yang terakhir kalinya kita bisa bicara. Selamat tinggal. Sekali lagi maaf dan terimakasih." Sasya mengucapkan itu dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Sya! Ka.. kamu ngomong apa sih. Jangan kayak gini dong," kata Sena, matanya berkaca-kaca, dadanya sesak mendengar ringisan dan tangisan Sasya.
"Selamat Tinggal untuk selamanya, my only best friend." Setelah itu Sasya mematikan teleponnya.
Sena panik, kembali menelpon Sasya, tapi tidak bisa handphone milik Sasya tidak aktif.
...💤💤💤...
"Aku.. Kotor..! Aku kotor! Menjijikkan!" Raung Sasya. Pintu Sasya diketuk terus menerus dari luar, om dan tante nya selalu memanggil nya, bahkan ingin mendobrak pintu kamar itu.
"GAK! JANGAN DIDOBRAK! AKU KOTOR! AKU BENCI DIRIKU SENDIRI. AKU MENJIJIKKAN," Tangis Sasya. Sasya memeluk lututnya, dan menenggelamkan wajahnya di lututnya.
Wajahnya basah karena air mata dan keringat. Bajunya juga sudah berantakan, dirinya mendongakan dan beranjak menghampiri meja belajar nya. Mengambil sebuah gunting.
"Lebih baik aku mati, dari pada hidup dengan menjijikkan kayak gini!!" Dengan menangis sesenggukan, Sasya mengarahkan gunting itu ke arah titik lehernya.
Om dan Tante nya yang mendengar teriakkan Sasya, dengan cepat mendobrak pintu kamar Sasya.
BRAK...
BRAK...
BRAK...
Pintu itu berhasil didobrak. Tapi mereka berdua langsung terkejut melihat Sasya yang sudah tergeletak bersimbah darah ternyata bukan hanya di titik leher di nadinya pun juga.
"SASYA! KENAPA HARUS PILIH JALAN KAYAK GINI!"
...💤💤💤...
Pada malam itu, Sena ingin pergi ke rumah Sasya, namun ibunya menelponnya untuk cepat pulang karena ada masalah di rumah. Jadi pada pagi hari Sena pergi ke rumah Sasya, ingin melihat keadaan Sasya.
Sena bingung, setelah sampai di rumah Sasya, kenapa ada bendera kuning di depan pagar nya.
"Permisi om. Apa Sasya nya ada?" Tanya Sena.
Om, atau yang bisa dipanggil Krisna, memandang sendu pada Sena.
"Sena. Sa.. Sasya.. Sasya udah meninggal." Krisna menggenggam bahu Sena, dan meremasnya. Air mata Krisna mengalir.
"A.. APA?!"
...💤💤💤...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
🦆 Wega kwek kwek 🦆
balas dendam nih ceritanya,,,,yg GK bersalah ikutan kena ,
2024-07-31
1
ARA
Katanya "my only best friend" Knapa Reinkarnasi Malah mo nyakitin Sena??? Sasya sakit jiwa😒
2023-09-21
2
Querido🦋
dri awal emng nih orang ngelunjak ajg
2022-07-23
2