Seorang pemuda berjalan dengan tergesa-gesa menuju parkiran rumah sakit. Dirinya kalut, mendengar orangtuanya lebih membela adik bahkan yang tidak dia anggap. Menaiki motor nya, dan pergi ke arah yang berlawanan dengan rumah nya.
Tidak lama kemudian, dirinya memasuki area parkir apartemen megah. Memarkirkan motornya, lalu pergi masuk ke gedung apartemen.
Dan menaiki lift, dan memasuki sebuah kamar apartemen.
"SIALL!!!" Teriak nya sembari melempar barang-barang yang ada di sekitar nya. Setitik air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
Di apartemen itu, memiliki fasilitas yang lengkap. Terlihat ada tiga kamar di dalam apartemen pemuda itu, pemuda itu berjalan ke arah salah satu ruangan.
Merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kunci. Membuka pintu, dan berlalu masuk ke dalam kamar itu, dan mengunci nya dari dalam.
Dalam kamar itu banyak sekali lukisan-lukisan serta foto-foto dari seorang perempuan, bahkan di dekat nakas tempat tidur pun ada.
"Vina.." Pemuda itu meraih foto yang berada di nakas.
"Gue tau perasaan ini salah. Maka dari itu, gue selalu berusaha menjauh dari Lo! Cinta terlarang yang muncul tiba-tiba, saat Lo selalu tersenyum, menenangkan gue! Gara-gara itu!" Pemuda itu mengusap fotonya.
"Cinta itu muncul dan mulai membuat gue menjadi gak sadar. Tapi saat gue tau kalau Lo bukan anak kandung papa dan mama, disitu harapan gue datang. Tapi nyatanya, Lo malah suka dan pacaran sama sahabat gue sendiri!" Tangannya mengepal, lalu memperhatikan sekeliling dinding.
"Vin. Waktu itu, saat kecelakaan Vaness. Gue berharap Lo cerita ke kita semua, Lo bilang semua apa yang terjadi. Tapi Lo diam, bahkan gak ngomong sama kita!" Pemuda itu beranjak, lalu mendekati sebuah lukisan yang dibuatnya.
"Itu buat gue merasa, Lo benar-benar bersalah bahkan Carlos juga. Ngebuat gue sama Carlos benci sama Lo. Karena ngebuat adik kandung gue sebenarnya, mati!" Pemuda itu, Calos meraba lukisan itu.
"Gue semakin benci! Saat Lo bisa tertawa dengan orang lain!" Calos melempar asal foto itu, lalu duduk dekat dengan lukisan itu.
"Gue.. Cinta sama Lo, Vin." Ucap nya lirih sembari menyandarkan pelan kepalanya ke lukisan.
...🥀🥀🥀...
Vina tersenyum sendu, menatap wajah pucat nya di cermin dalam kamar mandi. Menopang kedua tangan nya pada sisi wastafel. Dia memegang kepalanya yang diperban.
"Sasya. Cuman Sena yang tahu tentang dia. Gue tau, bukan Sasya yang datang ke Pak Krisna itu! Kan gak mungkin orang yang udah mati hidup lagi," monolog Vina. Jarinya mengetuk sisi wastafel beberapa kali, wajah nya tiba-tiba terkejut melihat pantulan dirinya di cermin.
Vina meraba kelopak matanya, "Mata gue! Ini kenapa bisa gini?"
"Gak mungkin kan dia ikut ke dalam tubuh ini!" Alis Vina menukik tajam, dan menggeram.
Vina menenangkan diri nya sendiri, menghilangkan ketegangan, "Lo belum saat nya muncul, Willy."
Vina kembali ke luar kamar mandi, berjalan ke arah ranjang rumah sakit itu. Matanya mengedar, mencari keberadaan semua orang.
Vina mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur, "Udah hilang aja semua orang. Lebih baik gue telpon Sena."
Vina mengambil handphone nya yang ada di nakas sebelah ranjang. Handphone nya berdering beberapa kali. Akhirnya di angkat oleh Sena.
"Halo, Sena."
"..." Yang ditelpon hanya diam.
"Sena? Lo disana?"
"..." Masih diam tidak ada balasan.
"Kok diam sih, njir!?"
"Vina?" Tanya seseorang dari seberang, suara serak dan berat mengalun di telinga Vina.
"Ma.. Martin."
"K.. kok Lo yang jawab?" Tanya Vina sedikit gugup.
"Sena sedang mandi di kamar nya, handphone nya tinggal di meja makan," jawab Martin dengan datar.
"O.. oh oke. Kalau Sena nya udah selesai, tolong bilang ya ke dia." Vina buru-buru ingin mematikan sambungan telepon.
"Tunggu." Balas Martin dari seberang sana.
"Y.. ya?"
"Gue tertarik sama Lo. Boleh gue deketin Lo?" Tanya Martin dengan suara beratnya. Vina menahan nafasnya saat Martin mengatakan itu.
Vina menggeleng, tapi dirinya tahu itu tidak bisa dilihat oleh Martin. Vina benar-benar tidak ingin masuk ke dalam kehidupan Martin lagi, bisa gila dia sama laki-laki seperti psikopat begitu.
"Udah dulu ya, gue dipanggil mama gue. Bye!!" Setelah itu Vina langsung mematikan sambungan telepon.
"Dia hanyalah seorang cecunguk yang dengan berani membunuh seorang pemimpin dari 'Red Blood'!"
...🥀🥀🥀...
Pria paruh baya dan wanita paruh baya beserta anak laki-lakinya sampai di mansion milik mereka.
"Cepat cari Calos sampai dapat!" Perintahnya pada Bodyguard nya.
"Baik tuan!" Jawab serempak para bodyguard itu sembari memberi hormat, mereka berbalik dan berjalan menjauh.
"Mas Radit, kamu tenang ya. Calos pasti bisa ditemuin, jangan marah-marah." Wanita paruh baya itu, Maya menenangkan Raditya dari amarahnya.
"Pah. Papa tenang aja, biar Carlos bantu cari Calos." Raditya langsung menahan Carlos yang hendak pergi dari rumah.
"Gak usah. Kamu disini, jangan kemana-mana! Kamu mau papa hukum juga!" Seru Raditya. Carlos bergidik ngeri, laku menurut pada Raditya, dirinya kembali duduk di sofa.
Raditya menopang kedua tangan nya di pahanya, tangan saling meremas gelisah, "masalah ini gak ada boleh yang tau, Carlos. Jadi papa harap kamu jaga rahasia."
Carlos menatap Raditya yang terlihat gelisah, "jadi benar, Vina bukan adik aku, pah?"
Raditya langsung menatap tajam wajah Carlos, "dia adik kamu!"
Carlos menghela nafas lalu mengangguk, "Vina adik aku."
"Jangan sekali-kali papa dengar kamu menghina nya, Carlos." Raditya menatap Carlos.
Raditya menundukkan kepalanya, "Karena orang tua Vina menitipkan Vina pada Papa. Dan itu terakhir kalinya papa lihat mereka, setelah itu mereka benar-benar hilang bak ditelan bumi."
...🥀🥀🥀...
"Kamu ngapain?" Tanya laki-laki yang tidak terlalu tua, namun tidak muda juga.
"Biasalah," jawab seorang perempuan yang berkutat di depan laptop nya.
Laki-laki itu tersenyum sembari mendudukkan dirinya di ujung meja, "mengetik novel kamu lagi."
"Betul sekali paman Krisna!"
"Ah, iya. Paman penasaran, kamu ingin buat ending nya seperti apa memang?" Tanya pamannya, Krisna.
Perempuan itu tersenyum miring, "aku ingin membuat mereka semua menderita! Seperti diriku dulu."
Perempuan itu menatap puas dengan ketikannya, "mereka akan ku buat pecah, karena adu domba yang ku buat!"
Krisna menatap sendu keponakannya, yang sangat semangat mengetik.
"Walaupun begitu, kamu tetap salah kalau melakukan ini. Mereka orang-orang yang tidak bersalah."
...🥀🥀🥀...
Sena berjalan ke arah balkon kamarnya, menatap lampu-lampu kota yang indah karena gelapnya malam.
"Malam ini, tanggal ini dan pada waktu yang sama. Lo pergi dari dunia ini Sya. Lo ninggalin orang-orang yang anggap Lo berharga, Lo ninggalin om dan tante lo, Lo ninggalin gue, Lo juga ninggalin semuanya. Pilihan Lo saat itu, salah!" Monolog Sena.
"Gue salah! Gue salah gak habisin waktu sama Lo, waktu Lo telepon gue buat ajak bareng. Gue gak peka sama keadaan Lo yang bahkan lagi menderita, bahkan sakit Lo juga kambuh!"
Sena tertawa lirih, "gue udah bales mereka, Sya. Bales perbuatan mereka yang kejam! Mereka udah gue bunuh. Gue harap Lo bisa balik lagi," harap nya.
Sena masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci pintu balkonnya.
PRANG...
"MAS! KAMU APA-APAAN SIH!? DATANG-DATANG MALAH LEMPARIN BARANG!" Teriak seorang perempuan dari luar kamar.
Sena mengunci pintu kamar nya, lalu bersandar pada pintu kamarnya, perlahan turun. Sena memeluk kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya ke lutut nya, terisak pelan, juga menutup kedua telinganya.
"LIAT INI! INI KAMU KAN, NGAPAIN KAMU SELINGKUH?! MAU JADI WANITA PENGGODA KAMU!?" Balas seorang laki-laki dengan berteriak juga, dia melemparkan lembaran-lembaran foto di lantai.
Salah satu nya diambil oleh perempuan itu, "kalau aku selingkuh memang nya kenapa!? Aku juga bukan Wanita penggoda seperti yang kamu bilang! Kamu juga suka bermain-main di luar sana!"
Sena tersenyum sendu, mendongakan kepalanya menatap pintu balkon kamarnya, "Sya. Lo pergi kenapa gak ajak-ajak sih. Disini gue juga menderita."
...🥀🥀🥀...
Vina berjalan-jalan di area taman rumah sakit, menghilangkan kebosanan. Duduk di salah satu bangku di taman, menikmati angin malam, dan bintang yang bersinar di langit.
"Ayah... Bunda.. kalian sedang apa disana? Rissa kangen, Keyla juga pasti kangen sama kalian! Kenapa harus pergi secepat ini sih?!" Batinnya.
Vina menutup matanya, semilir angin malam membuat pikiran nya tenang walau sejenak. Tiba-tiba dia merasakan seseorang menduduki bangku sebelah nya yang kosong.
"Vina, kenapa kamu disini? Dan kepala kamu kenapa?" Tanya seseorang yang ada di sebelah nya dengan khawatir. Suara nya sangat merdu, membuat Vina terhipnotis oleh suara itu, suara yang dirinya kenal.
Vina membuka matanya perlahan dan menoleh ke sebelah, "Edward."
"Iya. Lo kenapa? Kenapa kepala Lo diperban?" Tanya Edward, dirinya terlihat khawatir pada keadaan Vina saat ini.
Vina bisa melihat kekhawatiran dari pemuda di sebelahnya ini, "Lo se khawatir itu sama gue?"
"Iyalah! Gue tuh khawatir!" Jawab Edward.
Vina tersenyum, "makasih udah khawatirin gue, Ward."
"Edward."
"Ya?"
"Gue peluk Lo boleh?" Tanya Vina menatap lurus pada langit, lalu kembali menoleh pada Edward yang mematung. Dengan cepat Edward mengangguk.
Perlahan Edward membawa Vina kepelukkannya, Vina dengan nyaman membalas pelukannya itu, bersandar pada dada bidang Edward. Edward benar-benar panas dingin karena Vina.
"Edward, pelukan Lo bikin gue nyaman. Lain kali, gue boleh minta lagi?" Vina menggeliat nyaman di dalam pelukan Edward.
Edward tersenyum, "boleh. Karena pelukan ini hanya untuk orang special kayak Lo, Vin."
Vina tersenyum mendengar itu, dia juga semakin tersenyum senang saat mendengar suara detak jantung Edward yang sangat cepat.
"Gue suka suara jantung Lo. Kayak lagu yang merdu di telinga gue."
Telinga Edward merah padam, dagunya ada di kepala atas Vina.
"V.. Vin." Edward ingin melepaskan pelukannya karena malu akan suara jantung nya yang tidak bisa diajak kompromi.
Namun, Vina mengeratkan pelukannya, "biarin kayak gini dulu. Gue lagi capek akan semua ini. Biarin gue istirahat bentar aja, Ward."
Akhirnya, Edward membiarkan Vina, walaupun dirinya malu karena suara detakkan itu.
Mereka tidak mengetahui, bahwa ada seseorang di balik pohon sedang melihat mereka, dirinya mengepalkan tangannya, wajahnya memerah. Dengan cepat dirinya itu berbalik, pergi menjauh dari tempat itu.
"Kalau gue gak bisa bikin Vina cinta sama gue. Maka orang lain pun juga!"
Ia berjalan keluar dari rumah sakit, dia menjadi buron keluarga nya sendiri.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
T o R a 21
sembraut..gw baca'y 🤦
2023-03-25
2
Maîra⊰⊹
Mak, tolong! Banyak red flagnyaa!😩
2022-12-26
1
Ida Blado
cinta kok kasar,dan anehnya ortunya gk tahu menahu perbuatan carlos dn calos pda vina,,,, ck
dn aq harap gk ada cerita ater ego alter egonan ya,,, menurutku jdi merusak cerita
2022-06-16
1