Vina telah menyelesaikan hukuman hormat bendera nya, setelah itu mengambil tas nya yang ditaruh dekat tiang bendera. Vina misuh-misuh tidak jelas.
"Argh... masih kepikiran siapa sebenarnya penulis itu."
Sampailah Vina dalam kelasnya, ternyata guru nya belum datang. Sena menatap teman sebangkunya itu dengan tajam, heran kenapa baru sekarang ia masuk.
"Vina.. Lo darimana dah, kok gak masuk tadi?" Tanya Sena saat Vina telah duduk di kursinya.
"Gue cape, Na. Dihukum gara-gara telat," keluh Vina. Sena menghela nafasnya.
"Salah sendiri! Ngapain pake telat," kata Sena.
"Sena," panggil Vina yang sedang bersandar malas di kursinya.
"Hm," jawab Sena.
"Lo suka novel?" Tanya Vina tiba-tiba.
"Lah ngapa lu tiba-tiba nanya?"
Vina hanya menyengir, "Gak papa sih, cuman penasaran."
"Cih, gak jelas," Sena berdecih pelan.
Vina hanya menopang dagunya.
...🥀🥀🥀...
Ketikan sebuah laptop terdengar dari hening nya ruangan. Seorang perempuan, dia Vina. Sedang berusaha mencari novel yang sama seperti yang Keyla tunjukkan.
Vina meregangkan otot-otot tubuhnya, menatap setiap kode-kode yang tertera di laptopnya. Meretasnya.
Dapat!
"Nama pena, Skyhigh_League. Judul novel nya You Are Mine. Nama asli belum pernah diketahui, bahkan editor yang membantu nya tidak pernah mengumumkan siapa pemilik akun itu, dan perjanjiannya mereka lakukan hitam di atas putih agar tidak ada satupun yang menemukan siapa dirinya. Nama editor nya adalah, Krisna Klatan. M." Vina membaca sesuatu yang berada di laptopnya. "Memang siapa sih orang nya? Emang segitu pentingnya orang itu?" Gumamnya.
"Oke, mari kita cari tau tentang Krisna. Tapi sebelum itu, gue mau beli sesuatu dulu ah, biar fresh." Ujar Vina.
Vina keluar dari kamarnya dan berjalan kaki menuju minimarket yang berada dalam kompleks perumahan nya. Sembari bersenandung kecil.
Tringggg...
Vina masuk ke minimarket dekat dengan rumahnya, memilih beberapa mie instan yang biasanya ia beli saat menjadi Rissa.
Brukk...
Saat Vina berbalik ternyata ia tidak sengaja menabrak dada bidang seseorang. Ia mendongak dan melotot.
Ah... Indah sekali pemandangan ini Tuhan...
"Loh, Vin. Lo gak papa?" Tanya pemuda yang ditabrak oleh nya. Vina tersadar.
"Eh Edward, gak papa kok. Soalnya abis ngeliat si ganteng ciptaan Tuhan. Eh!" Vina langsung merapatkan mulutnya terkejut dengan yang ia katakan. Wajah pemuda itu, Edward memerah atas perkataan Vina.
Vina terbatuk kecil, menghilangkan ketegangan di antara mereka. "Edward.. gue duluan ya," pamit Vina buru-buru.
"Loh, Vin." Saat Edward ingin berbicara, Vina langsung pergi karena malu.
Di depan kasir, Vina membayar apapun yang ia beli.
"Pulsa nya kakak?" Tanya sang kasir.
"Gak usah kak," tolak Vina sembari tersenyum.
"Ini kak roti nya lagi diskon, beli 1 dapet mobil," tawar sang kasir.
"Gak usah kak, di rumah saya udah banyak," tolak Vina lagi.
"Kalau ini kak, ice cream nya gratis kak, nanti pas keluar nya baru bayar kak," tawar si mbak kasir lagi.
"Udah mbak, segitu aja," tolak Vina lagi dan lagi sembari tersenyum terpaksa.
Akhirnya Vina bisa lepas dari kasir minimarket yang menawarkan ini dan itu, hampir saja kepala sang kasir ia belah manjadi dua. Untung ia masih ingat kalau ini tempat umum. Vina hanya misuh-misuh sendiri.
"Gadis manis, gak mau main nih sama kita?"
Vina berhenti mendengar orang sedang berbicara, sedikit mengintip di balik dinding, melihat ke gang yang terdapat orang-orang yang mengerumuni seorang perempuan, yang memakai jaket kulit.
"Jangan sentuh gue, bahkan setitik pun," kata perempuan itu. Vina membelalakkan matanya, itu yang sering ia katakan jikalau ada yang berani menyentuh nya.
"Dia bukan Author nya kan?" Tanya Vina pada dirinya sendiri.
Perempuan yang dikerumuni itu, langsung menghajar satu persatu orang-orang itu. Pukulan demi pukulan tidak terelakkan lagi oleh si preman preman itu, semua babak belur dibuat satu perempuan.
"Sena?" Batinnya.
"Udah gue bilang kan? Jangan sentuh gue walau setitik pun, gue kutip.dari novel yang gue suka baca," cengir Sena kepada orang-orang yang sudah pingsan. Ada empat orang jika dihitung.
"Hebat.."
...🥀🥀🥀...
Vina tidak berkutik, saat perempuan itu mendekat ke arahnya. Perempuan itu tersenyum manis.
"Lo kenapa?" Tanya nya.
"Sen, Lo bisa beladiri?" Tanya Vina yang masih termangu.
"Seperti yang Lo liat," jawab Sena ia bersandar pada dinding.
"O-oh.."
"Apa yang Lo liat, jangan sampe kesebar ya," ujar Sena. Vina mengangkat sebelah alisnya.
"Why?"
"Karena gue gak mau ada yang tau," jawabnya.
"Cih, alasan yang gak masuk akal," decih Vina. Sena terkekeh.
"Oh iya, karena Lo udah jadi sahabat gue, berarti gue boleh bawa Lo ke markas gue, dong?" Tanya Sena tersenyum senang. Vina menyernyit.
"Apa yang—" Vina langsung ditarik karena Sena menariknya untuk mengikuti nya.
"WOI LAH! MAU DIAJAK KEMANA GUE!" Pekiknya.
Sena berlari dan diikuti Vina karena tarikannya, "gak usah teriak! Ntar gue dikira penculik lagi."
"Lah, emang bener kan," balas Vina.
Sena mendatarkan wajahnya, "udah gak usah banyak cing-cong, ikutin aja gue."
Vina hanya menurut dan mengikuti jalan Sena.
...🥀🥀🥀...
Setelah berjalan kaki beberapa blok, mereka sampai di tempat rumah minimalis.
"Sen, ini rumah siapa? Lu gak niat jual gue ke om-om hidung belang kan?" Tanya Vina sedikit bergidik.
"Lah, ngapa gue takut dah?"
"Gue sumpel lama-lama tuh mulut pake sendal jepit, gak bakal lah ***," kesal Sena.
"Jangan galak-galak, ntar banyak keriput," celetuk Vina.
Sena ingin rasanya mengumpati Vina, Sena hanya bisa bergumam, "Untung sabar, untung cantik."
"Sen.." Panggil Vina saat Sena ingin membunyikan bel rumah itu. Sena hanya berdeham.
"Percaya gak, kalau gue bilang rumah ini ada hantu nya?" Tanya Vina sedikit merinding.
"Udah biasa kok, banyak yang bilang gitu. Gue juga," ungkap Sena.
Sena membunyikan bel nya, tidak lama kemudian seorang pemuda yang dikenal Vina membuka pintu tersebut.
"Martin!" Vina termangu menatap seseorang yang berada di hadapannya itu.
"Kenapa?" Tanya orang yang bernama Martin itu, raut wajahnya datar dan dingin.
Sena tersenyum, "bang! Gue mau nongkrong nih, boleh lah berbagi tempat." Vina berdengus.
"Kalau disini ada Martin berarti... Sena termasuk kelompok Shadow Legion?"
"Vin. Kenalin ini sepupu gue, Martin!" Vina menatap Sena dan Martin.
Martin Garrix Wizard, mantan sekaligus orang yang mengetahui bahwa Rissa adalah pemimpin dari 'Red Blood'. Dan juga ketua geng kelompok Shadow Legion, yang ia dan kelompok nya basmi karena dengan berani menculik adiknya, Keyla.
Martin tidak terima karena Rissa memutuskan hubungan dengan nya, dan itu penyebab nya Martin melakukan segala cara agar Rissa menjadi miliknya. Obsesi. Martin memanfaatkan kekuasaan Rissa untuk menguasai 'Red Blood'. Dan Rissa mengetahui hal itu.
"Hai," sapa Vina kaku. Martin hanya menatap dingin dirinya, lalu berbalik masuk.
"Sepupu gue memang kayak gitu Vin, sori ya." Sena merasa tidak enak, karena sang sepupu tidak menggubris sapaan Vina.
"Gak papa kok," jawab Vina.
"Udah biasa soalnya."
"Ya udah, yuk masuk." Vina pun akhirnya masuk ke dalam rumah itu, dan ikut masuk ke dalam kamar yang Sena masuki.
"Bro.." Martin menoleh pada seseorang yang memanggil nya, dan menaikkan sebelah alisnya.
"Gue udah dapet info, kalau itu benar jasad Rissa," ujarnya. Martin menyeringai.
"Sayang sekali, bapak tua yang telah membunuh Rissa telah dibunuh. Padahal aku ingin memberi nya satu permintaan," kata Martin, sembari melirik pintu kamar Sena. "Ah.. Rissa itu memang harus mati! Kalau gue gak bisa dapetin dia, maka orang lain juga gak bisa!"
Martin menopang kakinya, dan bersandar pada sofa, bak raja yang berkuasa.
"Siapapun yang mengusik gue, bakal kena akibatnya," gumam Martin menatap lurus ke arah televisi yang mati.
Dari dalam kamar Vina mendengar itu semua, walau samar-samar. Vina gelisah, dia tidak pernah segelisah ini.
"Mimpi apa gue, bisa dapet pacar eh mantan deng.. yang sikopat begitu," rutuk nya dalam hati.
"Well, setidaknya Lo bisa tau siapa penjahat nya Vin." Vina terperanjat, bahu nya ditepuk, dia mendongak lalu menatap datar pelakunya.
"Lo orang nya kagetan ya? Lagi melamun Lo ya?" Sena terkekeh, ia duduk di samping Vina dan mulai memainkan Joystick nya yang terhubung pada televisi.
"Gue gak melamun, gue tungguin Lo dari tadi, lagian lama banget di kamar mandi." Dengus Vina.
Sena hanya terfokus pada permainannya, hanya bisa tertawa.
"Sen," panggil Vina. Vina juga memainkan Joystick nya, dan memperhatikan lawannya.
"Hm?"
"Ini.. sebenarnya tempat apa?"
"Kok jadi Lo sekarang yang kepo?" Tanya Sena yang hanya dibalas wajah kesal Vina.
"Gak jadi deh," kata Vina.
"Ini markas," jawab Sena. Vina menoleh pada Sena, dan kembali memperhatikan televisi. "Sepupu gue yang tadi Lo liat, itu ketua nya." Jelas Sena.
"Ketua?" Tanya Vina semakin penasaran.
"Iya, ketua dari Shadow Legion." Sena kembali memperjelas.
"Kata Lo gak boleh ngomong ke siapa pun, tapi Lo kok ngomongin ke gue?" Tanya Vina, yang tadinya ia bersandar malas sekarang sudah menegakkan tubuhnya semakin tertarik lebih dalam mengenai 'Shadow Legion'.
Sena tersenyum dan menoleh ke arah Vina, "Karena.. gue tau, Lo gak akan mungkin kan bocor."
"Ini orang bener-bener polos, apa pura-pura sih?"
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Aneebi
gw malah tkt di auhtor 'novel' itu sena
2022-12-27
2