Vina berjalan memasuki rumah milik keluarga Callandra, tapi dirinya merasa ada yang berbeda.
"Pah. Mama mana?" Tanya Vina pada Papa nya yang ada di sampingnya.
"Mu.. mungkin di kamar," jawab Raditya sembari menggaruk tengkuknya.
Vina bingung, apa yang terjadi sekarang.
"Tapi pah, kok suasana rumah kayak beda?"
"Si duo Ca juga kek nya gak ada."
Raditya terdiam, "lebih baik kamu masuk kamar ya. Papa capek, mau tidur."
"I.. iya pah." Setelah itu Raditya pergi ke kamar nya, meninggalkan Vina tertegun di ruang tamu.
"Selama di rumah sakit ada apaan dah? Gak tau apa-apa dah."
Vina melangkah masuk, dan naik ke lantai atas pergi ke kamarnya. Meletakkan barang-barang yang dibawa di samping tempat tidur.
Duduk di kursi putar di depan meja belajarnya, membuka laptopnya.
"SkyHigh_League. Sasya sudah mati? Terus sekarang hidup lagi? Sebenarnya dia masih hidup atau.. dia ada di tubuh yang lain?" Pikirnya. Tangannya mengepal.
"Dia bertransmigrasi!" Vina memukul lengan kursi, dengan wajah mengeras.
"Bukan gue satu-satunya!"
...🥀🥀🥀...
Burung berkicau, sinar mentari menyambut. Vina merasa berbeda dengan suasana ruang makan hari ini, tidak ada keceriaan dari orangtuanya, bahkan Carlos juga sama dingin nya.
"Carlos duluan." Carlos pergi begitu saja, meninggalkan ruang makan, bahkan makanannya hanya habis seperempatnya. Vina hanya memandang cengo pada Carlos.
"Lebih baik gue pergi deh. Ini papa, sama mama biasa nya gak gini. Disini gue menjadi asing lagi."
"Vina juga berangkat ya." Pamit Vina. Vina beranjak.
"Iya." Vina tersenyum sendu, mendengar suara orangtuanya itu. Dirasa nya kehangatan di keluarga ini sudah menghilang.
"Mereka seperti menutupi sesuatu Vina."
Vina mendengar suara itu, dirinya terkejut. Memakai helm nya dan menghidupkan mesin motor nya, Vina tidak ingin mendengarkan suara aneh-aneh itu lagi pun menjalankan motornya.
Butuh dua puluh lima menit untuk sampai di sekolah nya, benaknya saat dipenuhi pertanyaan mengenai Sasya. Vina butuh Sena saat ini.
BRMM...
Ada seseorang yang menyalipnya dan menghentikan dirinya. Refleks tangan nya mengerem, untung saja jalanan sepi, karena masih berada di dalam komplek perumahan nya.
Vina menatap lurus pada orang itu. Motor mereka saling berhadapan. Vina menatap penampilan orang yang dihadapannya ini, pakaian serba hitam, memakai helm full face agar menutupi wajahnya.
"Hai Vina." sapa orang itu.
Vina menyernyit, dirinya memakai helm full face juga bahkan Vina tidak mengenal orang itu, kenapa seseorang di hadapannya kenal dengannya.
"Siapa Lo?" Tanya Vina, Vina menegakkan tubuhnya yang tadinya sedikit membungkuk.
"Gak perlu tau. Gue kesini cuman mau ngobrol bentar sama..." Orang itu berpangku tangan. "Seorang pembully." Orang itu tertawa.
"Lo.." Nafas Vina tercekat. "Sasya?"
"Lo ingat?" Orang itu tertawa. "Tapi gak semudah itu Lo dapetin gue Rissa. Lo udah buat gue dibully terus-menerus, bahkan sekarang Lo baru ingat siapa gue."
"Rissa, diantara Lo, Keyla, sama adek Lo satu lagi. Lo adalah yang paling kejam! Bahkan sampai sekarang Lo gak punya hati!"
"Lo ngebully orang tanpa alasan yang jelas!" Seru nya.
"Apa maksud Lo?! Adek satu lagi? Gue cuman punya Keyla. Gue inget memang, Lo yang pernah gue bully. Tapi gue udah sadar! Gue gak pernah bully lagi, bahkan gue cari Lo, buat gue minta maaf sama Lo." Ujar Vina, Vina menunduk menggaruk helm nya.
Orang itu tertawa sinis, "adek Lo. Clarissa Davina Callandra, ah bukan seharusnya Clarissa Davina William." Orang itu menyeringai di balik helmnya.
"A.. apa?" Vina tertawa keras, dan menggeleng. "Gak mungkin! Gue sama Vina aja gak saling kenal, Vina juga punya keluarga nya sendiri!"
Orang itu turun, dan mendekati Vina. "Bahkan papah Lo sendiri yang bunuh orang tua Lo, Rissa."
Vina menggeleng, menutup telinganya.
"Pembunuh!"
"Gak! Gak mungkin!!" Teriak nya.
"GAK!!"
Vina terbangun, dan terduduk. Wajahnya basah karena keringat nya bercucuran, dengan nafas terengah-engah.
"Mimpi, itu cuman mimpi." Vina tertawa kosong, mengusap keningnya dengan punggung tangannya.
"Gak mungkin kan. Semua itu gak mungkin."
"Vina! Bangun, Nak! Kamu mau sekolah kan?"
"Iya pah!"
Vina melirik jam dinding. Mengambil handuknya bergegas menuju kamar mandi.
...🥀🥀🥀...
Vina sampai di sekolah dengan selamat. Keadaan ruang makan sama seperti di mimpi nya kehangatan yang ada hilang. Namun dirinya bersyukur hal yang dimimpi nya bukan nyata.
Mimpinya tadi pagi itu bukan seperti biasanya. Biasanya hanya ingatan nya yang muncul jika tidur, tapi ini beda. Apa ini yang dimaksudkan oleh Vina asli? Entahlah Vina masih ragu.
"Woi Vin!" Vina tersadar dari lamunannya, dan menoleh pada seseorang yang memanggilnya.
"Sena." Gumam nya.
"Lo kok bengong?" Tanya Sena, sembari merangkul pundak Vina, melangkah beriringan. "Itu kepala Lo juga kenapa Munaroh?" Panik Sena.
"Gue gak papa, Na. Kepala gue kepentok tangga doang." Vina menyentuh plester yang ada di keningnya. "Udah sembuh kok."
"Pa.. pantesan Lo sehari gak masuk. Tapi, anjirlah! Lo kepentok, tapi udah sehat gini?! Gak kayak nenek gue, kepleset, abis itu kepentok tangga, langsung koit!" Oceh Sena.
"Kok jadi gelap gini, ***?"
Vina mengusap wajahnya, "Udah-udah. Ocehan Lo bikin pala gue puyeng."
Sena merengut, "iya dah. Lo gak bisa diajak ngomong."
Vina hanya memandang datar pada Sena, dan teringat sesuatu.
"Sena. Boleh gue tanya-tanya tentang Sasya?" Tanya Vina sedikit ragu.
Sena menatap Vina, "Lo kenapa tanya tentang Sasya terus? Gue curiga. Jangan-jangan Lo... Vin, Lo jangan ngadi-ngadi! Lo perempuan, Sasya juga udah meninggoy!"
"Gak usah aneh-aneh deh, semak belukar! Gue normal Jubaedah! Gue bener-bener penasaran sama Sasya, gue pengen tau." Tekan Vina.
"Iya iya. Santai dong, muka Lo sangar banget dah. Udah ayo!"
"Kemana?"
"Ke perpus, gue ceritain apa aja yang pengen Lo tau."
Vina tersenyum, "thanks."
Mereka melanjutkan jalannya ke arah perpustakaan sekolah, dan duduk dipojokkan.
"Sebenarnya agak trauma sih sama perpus, tapi untungnya pas itu ada si ganteng."
"Oke. Jadi mau tanyain apa aja?" Tanya Sena dengan serius.
Vina menunduk, "pertama, siapa aja orang yang pernah bully Sasya?"
Sena menghela nafasnya, "gue gak tau pastinya. Yang gue inget pas kelas 6 aja. Ada dua anak yang paling gue ingat."
"Siapa namanya?" Vina menatap gelisah Sena.
"Rissa sama Keyla. Gue udah gak hafal wajah nya."
Vina terkejut, langsung menetralkan wajahnya. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ada lagi?"
"Ada. Pertanyaan kedua, Sasya pernah gak buat sesuatu gitu untuk Lo? Semacam gambar atau kayak cerpen?"
Sena terkekeh, "pertanyaan aneh. Tapi gue jawab kok. Dia gak pernah ngasih sih, tapi ada gambar, yang dia tunjukkin benar-benar buat gue ngeri."
"Boleh gue minta?" Pinta Vina dengan reflek.
Sena menatap Vina, "ada tapi di rumah. Oh iya, ini gue foto satu yang paling bikin gue ngeri." Sena memberikan handphone milik nya pada Vina.
Vina melihat gambaran yang ada di foto. Mengamati foto yang aneh itu.
Seperti moobil yang saling bertabrakan. Dengan dua orang yang mencoba keluar, orang itu seorang wanita dan juga seorang pria. Juga seorang pria di mobil satunya. Dan ada tulisan yang berwarna merah gelap, tidak terlalu jelas.
'He did it!' Terka Vina pada tulisan itu.
"Kirim ke gue."
"Oke." Sena mengirimkan foto itu pada Vina. "Terus, ada lagi?"
"Boleh cerita tentang, Sasya? Yang belom Lo ceritain."
Sebenarnya Sena benar-benar aneh dengan Vina, sejak Sena pertama kali menceritakan tentang Sasya, Vina selalu ingin tahu.
"Sasya, dia punya penyakit asma akut, dan penyakit jantung bawaan dari ibu nya. Sewaktu-waktu akan kambuh, gak menentu. Bukan hanya pelecehan yang terjadi, namun dia benar-benar kehilangan bagian yang paling berharga dalam hidup, setelah dia jaga selama belasan tahun." Vina terkejut mendengar itu.
"Dia orang yang menyenangkan, bahkan bisa bijak. Tapi tidak, saat sendiri. Dia pasti kehilangan akal, karena banyak tekanan dari banyak pihak. Terutama dari luar, juga dari keluarganya. Ayahnya, selalu menyalahkan ibunya yang penyakitan itu. Sasya juga suka ngomong sendiri, bahkan disangka gila." Sena menggeleng, dan menutup mata nya.
"Dan satu lagi, Lo bisa kan rahasiain hal ini?"
Vina terdiam, "bisa."
Sena menyeringai, "orang-orang yang buat Sasya terpuruk udah gue buat mati."
Vina membulatkan matanya, "a.. apa ayah—" Perkataan nya terpotong oleh Sena.
Sena mengangguk, "benar. Dia juga!"
"A.. Apa?! Sial, dasar psikopat!!"
"Lo gila?!" Seru Vina, dia masih menahan suaranya karena sadar di mana tempat mereka.
"Gue gak gila. Tapi, gue akui gue itu. Gue khilaf. Tapi, Sasya dia belum tau, kalau ayahnya dibunuh gue. Dia pasti bener-bener marah." Sena meremas rambut nya frustasi.
"Dari kecil, bahkan gue gak tau perbuatan gue itu salah atau gak."
"Perbuatan Lo salah total, Na."
"Begitu pun Lo, Rissa! Perbuatan Lo, salah!"
"Gue, gak sengaja. Ada dorong gue dari belakang, ngebuat gue ngedorong ayah Sasya, yang memang dari awal gue pengen dorong ayahnya dari tangga, tapi gue ragu untuk berbuat itu. Seseorang itu berhasil. Berhasil ngebuat gue ngerasa bersalah seumur hidup."
"Siapa lagi itu!?"
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
🦆 Wega kwek kwek 🦆
sasya belum ikhlas mati ,,,, kayak nya dia indigo,dia GK bisa menerima takdirnya, dia jadi iblis buat balas dendam,mungkin dia bersekutu dengan iblis /Smirk/, sejelek jeleknya pendosa masih jelek orang yg GK pernah mengikhlaskan dan memaafkan ,,,,✌️
2024-07-31
1
Wanda Wanda i
pelik penuh rahasia ga bisa d tebak
2023-03-24
1
Ida Blado
riweuh ih,,,, semuanya berada di lingkaran yg sama,ubak ubek2 jauh2 kesana kemari,,,masalahnya cuma satu org
2022-06-16
1