"Terakhir. Apa boleh gue minta sesuatu?" Tanya Vina.
"Apa itu?"
"Gue boleh tau alamat rumah Sasya?"
Sena mengangguk, dan mengambil handphone nya, "alamat nya udah gue kirim."
Vina membuka handphone nya dan membaca alamat rumah Sasya.
"Itu rumah Om sama Tante nya Sasya, karena Sasya bareng mereka. Dan gue gak tau mereka masih di situ atau gak." ujar Sena.
"Thanks Sena." Vina melebarkan matanya.
"Alamat nya sama kayak Pak Krisna!"
"Sena. Nama om nya Sasya itu, Krisna bukan?" Tanya Vina dengan ragu, sembari mengangkat wajah nya.
Sena sedikit terkejut, "iya bener. Tau dari mana Lo?"
Vina terdiam dan meremas handphone yang ada di tangannya, "gue mau ngomong sesuatu ke Lo, Sena."
"Dari tadi kan udah ngomong."
"Lama-lama gue pecahin pala Lo, Na." Kata Vina memelototkan matanya.
"Iya jangan dong, bisa-bisa isdet gue. Cepet ngomong apa? Udah mau masuk nih!"
Vina mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Lo percaya.. kalau Sasya masih hidup?" Vina memejamkan matanya dan kembali membukanya sembari menolehkan kepalanya pada Sena untuk melihat reaksi temannya.
Benar saja, Sena seperti menahan tawanya. Lalu dia terbatuk kecil.
"Gak mungkin lah."
"Tapi.."
"Udah lah. Kita lebih baik masuk ke kelas aja." Sena mengalihkan topik, dan beranjak dari tempat duduk nya.
"Iya. Tapi gue mau ke kamar mandi dulu." Vina bangkit dan berjalan keluar, disusul Sena.
Vina meninggalkan Sena saat menyelesaikan pertanyaan terakhir nya, untuk pergi ke toilet. Dirinya frustasi, banyak teka-teki yang dibuat oleh pembuat novel ini.
"Sasya Langit Aprilia. Lo udah kibarin bendera perang ke gue. Gue tau, gue salah karena pernah bully Lo, gue minta maaf. Tapi perbuatan Lo juga salah saat ini, karena ngebalas ke orang-orang yang gak bersalah."
"Gue gak pernah salah, Rissa." Sahut seseorang dari balik bilik kamar mandi, namun orang itu langsung menutup mulutnya.
"Ih.. bodohnya aku!" Batin orang itu.
Vina menoleh ke belakang, "siapa disana?!"
Bilik kamar mandi semua tertutup, orang yang ada di balik salah satu kamar mandi menepuk pelan mulutnya yang reflek berbicara.
"Sial! Masa ada hantu nya si Sasya? Tapi penasaran sih." Vina mulai membuka satu persatu pintu kamar mandi itu dengan perlahan.
Pintu pertama, kosong. Pintu kedua dan ketiga, juga kosong. Tapi, tinggal dua pintu lagi tersisa, ada seseorang yang masuk ke kamar mandi. Orang yang ada di salah satu bilik itu sepertinya sudah pasrah, jika dirinya ketahuan oleh Vina.
"Set dah lama bener. Katanya mau cuci tangan Lo doang, Vin." Vina menghela nafasnya, melihat Sena yang masuk.
"Sena. Kaget gue! Udah kok, udah selesai." Vina melirik sisa pintu yang masih tertutup. "Udah yok." Vina menghampiri Sena yang masih berdiri dan bersandar pada pintu.
Pintu tersebut tertutup. Orang yang ada di bilik itu, keluar dari tempat nya, lalu memperbaiki penampilan nya, dan memasangkan kembali kacamatanya.
"Untung gak ketauan!"
...🥀🥀🥀...
Kantin sekolah kembali ramai. Banyak murid-murid yang mengantri, dua gadis menunggu pesanan mereka.
"Oh iya. Audi kok gak keliatan?" Tanya Sena, memperhatikan sekitar.
Vina mengendikkan bahunya, "gue juga bingung. Gak ada kontak nya juga sih."
Sena mencari-cari orang yang dicari, dan ketemu, "WOI AUDI!!"
Vina reflek menutup telinganya. "Telinga gue!!"
Orang yang dipanggil menoleh, lalu berjalan mendekati Sena dan Vina. Audi menghampiri mereka sembari membawa nampan makanan nya, duduk di tempat mereka.
"H.. hai." Sapa Audi.
"Santai aja, sama kita. Ya gak, Vin?"
Vina tersenyum, "iyap bener. Kita kan temen Lo."
Sena cemberut, "ralat! Sahabat!"
Audi tersenyum tipis, "Udah lama gak kayak gini." Batinnya.
"Makanan kalian mana?"
"Eh iya ya. Nah, itu dia." Pesanan mereka sampai di meja.
"Terima kasih bang."
"Iyo, sama-sama neng." Penjual itu kembali ke tempatnya.
"Audi, kenapa kelas kita beda?" Tanya Vina sembari mengaduk makanannya.
Audi mendongak menatap Vina dengan polos, "kan karena dari pihak sekolah udah buat kayak gini."
Sena tertawa, "bener. Masuk logika, njir!"
"Mirip Sasya." Batin Sena, menatap lurus Audi. "Gue harap bisa melindungi orang-orang yang dibully. Gue gak mau menyesal lagi."
Vina menyeruput minumannya, "Audi, kalau ada orang-orang yang gangguin Lo, tinggal bilang ke gue sama Vina aja ya. Biar kita basmi!" Sena mengangguk membenarkan ucapan Vina.
Audi tersenyum lembut, "makasih."
BYURR...
"Akh.." Vina memegang tangan nya yang perih, lalu dengan cepat menoleh ke samping nya, siapa yang menumpahkan kuah panas itu.
"Vina. Lo gak papa?!" Panik Sena.
"Vero. Apa-apaan Lo?!" Teriak Vina. Vero hanya menangis sesenggukan, dan menunduk.
"Ma.. maaf Vina. Aku gak sengaja, ma.. maaf, " ujar nya terbata-bata karena sesenggukan.
Seisi kantin menjadi hening, menonton mereka.
Sena mengepalkan tangannya, "cewek kayak Lo kenapa hidup di dunia sih?! Yang kena kuah panas Vina sampe melepuh kayak gitu, kenapa malah Lo yang nangis?! Lemah banget sih jadi orang?!"
"Ma...maaf." Vero memegang ujung seragam Vina, dalam hatinya berharap aktingnya berhasil membuat orang-orang sekitar menjadi benci pada Vina.
Vina menepis pelan tangan Vero, membuat Vero jatuh terduduk.
"Padahal pelan loh!? Dasar Medusa?!"
"Gak usah akting Lo, Vero! Tadi Vina
"VINA?!" Teriak seorang pemuda.
Vina menoleh pada orang itu, menatap tajamnya. "Calos," desisnya.
"Oh, hai berandalan." Sarkas Vina. Audi dan Sena hanya diam melihat itu.
Wajahnya Calos memerah, "Vin. Lo gak papa? Tangan Lo merah." Calos hendak menyentuh tangan Vina, namun langsung di sentak oleh pemilik tangan.
"Gak usah sentuh-sentuh gue?! Menjijikkan." Desis Vina, menatap Calos.
Wajah Calos menggeram pelan, dan berbisik pelan di depan wajah Vina, "Vina. Adek gue yang paling gue cinta. Lo cuman punya gue dan selama nya begitu."
Perkataan itu membuat Vina mematung. Calos menoleh dan mendekati Vero yang terlihat tidak berdaya. Berjongkok di hadapannya.
"Dan Lo! Jangan pernah ganggu adek gue?!" Calos menunjuk pada Vero yang masih menunduk dan menangis.
"Dia selalu bully aku kak. Kenapa kakak jadi belain dia?!" Sentak Vero, sembari mendongak menatap lurus Calos. Mata nya yang berkaca-kaca.
"Kenapa kakak gak bela aku lagi?!" Teriak Vero. Calos menyeringai, dan mendekatkan mulutnya pada telinga Vero.
"Karena Lo udah gak berguna lagi, Veronica." Bisiknya.
...🥀🥀🥀...
"Ada apa kakek memanggil Keyla, kek?"
"Boleh Kakek minta sesuatu?" Kakek itu menatap sang cucu, menautkan tangannya.
"Apa itu kek?" Keyla menautkan alisnya.
"Sekolah milik William. Kakek banyak laporan disana ada kasus pembullyan, kakek mau minta tolong, kamu gantiin kepala sekolah disana. Untuk kuliah kamu kan, cuman tinggal kelulusan. Kamu mau kan?"
"Tapi Kek.."
"Cuman kamu harapan Kakek satu-satunya." Kakek itu menundukkan kepalanya, "karena Rissa sudah tidak ada."
"Adik kalian juga, kakek gak tau keberadaan nya." batinnya.
Keyla menghembuskan nafasnya, "kalau begitu, Keyla mau Kek. Untuk kuliah hanya menunggu waktu kelulusan."
Kakek tua itu hanya tersenyum puas, "besok. Kakek akan perkenalkan kamu sebagai kepala sekolah terbaru."
"Tapi, apa aku gak terlalu muda untuk menjabat?"
"Tidak. Kakek tau kepala sekolah itu tidak becus mengurus sekolah, maka lebih baik saya mempercayai mu, Keyla."
Keyla tersenyum sendu.
Kak Rissa, aku harap kita bisa ketemu. Apa kakak gak kangen aku ya?
...🥀🥀🥀...
Calos menarik tangan Vina menjauh dari kantin, Vina rasanya ingin memberontak, tapi ucapan Calos kala itu membuatnya tak berkutik. Sena dan Audi mengikuti mereka dari belakang.
"Calos, cinta sama Vina? Lah kan mereka kakak adek?!"
Calos masuk ke dalam UKS, diikuti Vina, Sena dan Audi.
"Lo berdua ngapain disini?" Tanya Calos dengan datar.
"Gue sama Audi mau obatin Vina lah!" Seru Sena.
"Gue lebih berhak. Kalian lebih baik pergi."
"Lo yang harus nya pergi, Calos," ujar Vina dengan dingin. Dirinya memukul keras tangan Calos yang memegang nya, membuat Calos meringis dan melepaskan genggamannya.
"Pergi. Atau gue bunuh Lo disini, Calos."
Sena dan Audi bertatapan. "Mbak, tolong ya. Lo lebih ngerti soalnya tentang P3K." Cengir Sena.
Audi terkekeh, "aku udah duga." Audi mencari obat merah yang ada di P3K untuk membersihkan luka di tangan Vina.
"Sini Vin, tangan kamu." Vina hendak memberikan lengan nya, Calos langsung merampas obat merah di tangan Audi, dan menarik tangan Vina.
"Gue aja."
Sena mendekati Audi. Berbisik, "Sabar Audi. Gue tau dalam hati Lo pasti mau hajar si Calos kan."
Audi menoleh dan tersenyum kesal, "tangan aku gatel."
"Lo benar-benar gak tau diri ya Calos." Desis Vina. Vina memukul keras wajah Calos, membuat Calos melepaskan tangan Vina dan obat merah itu.
"Awhhss?!" Calos memegangi hidungnya, karena pukulan Vina yang keras itu. Meringis, menopang tangannya pada nakas sebelah ranjang.
"Sena, Audi. Ayo kita pergi dari sini!" Ajak Vina.
"Tangan Lo, Vin?" Tanya Audi khawatir.
"Gak papa, Audi. Tangan nya gue bersihin pake air aja."
Mereka keluar dari sana, meninggalkan Calos yang masih meringis.
Sena menggandeng tangan Vina dan Audi.
"Gue harap, pertemanan kita selamanya ya."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Oka Derza
Claudia kan?
2025-02-07
1
~|•∆•|~Yuji❤️£™
fixs audi itu syasya
2022-04-30
6