"Wattsup bro!" Sapa seorang pemuda pada seorang perempuan yang sedang duduk. "Buset dah, tuh wajah bisa gak sih jangan murung terus," kata nya sembari duduk di samping perempuan itu.
"Gak bisa.. Gue gak bisa," jawab perempuan itu tertunduk.
"Keyla, percaya sama gua.. Rissa udah tenang di sana," ujar pemuda itu, pada Keyla. Meskipun begitu, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tak terima akan hal yang terjadi pada Rissa, ia merasa itu kesalahan nya karenanya lalai menjaga Rissa dan Keyla, janji nya pada orang tua Rissa dan Keyla, tidak bisa ditepati olehnya.
"Lo pikir semudah itu, buat lupain seorang kakak yang paling Lo sayang, lupain segala kenangan yang udah bertahun-tahun lamanya, lupain segala kehadiran nya, cuman dalam satu, dua hari? Gak! Gue gak bisa lupain Kak Rissa semudah itu.. dia satu-satunya keluarga yang gue punya, selain kakek! Siapa lagi yang bakal peluk gue, saat gue terpuruk. Gak ada lagi yang bakal nenangin gue kalau gue nangis, abis nonton film Acha Acha Nehi Nehi?! Siapaa!!? Siapa lagi!?" Keyla tertunduk, tangannya mengelap matanya yang terus menerus mengeluarkan air mata.
Rissa, kakak yang sangat sempurna baginya. Kini sudah hampir seminggu, kepergian kakaknya. Itu semua karena dirinya. Salah dirinya!
"Ini salah gue! Kalau gue ikutin perkataan kakak, pasti kakak gak dibawa pergi sama Malaikat!" Keyla menangis, Gio membiarkan Keyla menangis. Karena menurutnya, menangis dapat membuat dada sedikit lega, walau hanya sedikit. Gio menatap sendu Keyla yang masih menangis, tangannya terangkat mengelus rambut Keyla.
"Kakak Lo pasti sakit.. kalau liat Lo nangis terus. Bukan. Bukan ini yang kakak Lo mau Key, dia mau Lo bahagia, dan bisa lebih tegar dari sebelumnya. Lagipula, Lo gak sendirian di sini, Lo punya gue, Lo punya Roby, Lo punya sahabat-sahabat Lo, dan juga Lo punya Red Blood. Kakak Lo pasti bahagia kalau liat Lo bahagia, Key."
...🥀🥀🥀...
Sekarang Vina sedang uring-uringan, karena jam pelajaran pertama sampai kedua ternyata tidak ada guru. Ia hanya melamun dan melihat keluar jendela.
"Gue harus ngapain ya? Gak mungkin kan kalau gue tiba-tiba datang ke Bogor, terus bilang, 'Key kakak mu datang, tenang saja ini real bukan hantu'. Idih bisa-bisa gue dianggap orgil sama mereka." Vina terus melamun dan bergumam di dalam hatinya, tanpa tahu ada yang menatap dirinya terus menerus.
"Woi! Edward!" Orang yang terus menerus menatap wajah Vina, menoleh ke arah orang yang memanggil nya.
"Apa?" Tanya Edward datar. Kutil badak ini gak bisa apa gak ganggu dulu, pikirnya.
Orang yang memanggil Edward hanya menyengir melihat wajah datar Edward. "Tadi Anwar cuman mau nawarin buat main basket bareng, tapi kayaknya Lo lagi sibuk ya. Jadi Anwar main sen—" Mulut Anwar yang sedang berbicara tiba-tiba dicapit oleh Edward dengan dua jarinya.
"Diem. Lama-lama gue jadiin Lo makanannya si Pira di rumah. Udah ayo ke lapangan."
Anwar bergidik saat Edward ingin membuat dirinya menjadi santapan ikan piranha miliknya. Lalu menyusul Edward yang telah berada di tengah lapangan.
"Perasaan gue apa gimana ya? Kok dari tadi kayak ada yang liatin?" Vina menoleh ke sana kemari, namun hal yang tidak mengenakkan terjadi. Mata Vina melotot, melihat seseorang, bukan, lebih tepatnya hantu yang berada di pojokan dengan wajah yang tersenyum seram. Vina langsung mengalihkan pandangannya, lalu dengan cepat ia berdiri dan keluar dari kelas.
"WOI, VINA! LO MAU KEMANA?! JANGAN BOLOS!" Teriak Rendy, sebagai Ketua Kelas.
"GUE MAU KE KAMAR MANDI, NANTI GUE BALIK, GAK JANJI," Teriak Vina dari luar kelas.
"HEH! JANGAN TERIAK-TERIAK KALIAN. MENGGANGGU KELAS ORANG TAU!" Teriak salah satu guru yang berada di dalam kelas yang berbeda.
"BAPAK JUGA TERIAK-TERIAK!"
"KURANG AJAR KAMU!"
"TUHKAN TERIAK LAGI!"
"VINA!!!"
Vina berlari ke arah kamar mandi, menghindari amukan guru botak, dengan kumis lebat itu.
"Idih gak nyadar apa ya, dia juga kan teriak," kata Vina mendengus sebal. Arah langkahnya memang membawa nya ke arah kamar mandi, namun berhenti karena di hadapannya ada seseorang yang sangat ia kenal.
Vina menyeringai, "Wah apa ini? Kok Lo bertiga hadang jalan gue?" Tanya Vina dengan santai, dan berpangku tangan.
"Ini pasti gara-gara Lo kan!! Vero sakit, dan lagi di rawat di UKS, gara-gara Lo bully dia lagi kan?!" Tunjuk Calos pada Vina.
"Cih. Walaupun bukan gue pun Lo pada pasti gak percaya."
"Itu karena memang Lo yang udah bikin dia kayak gitu!!" Bentak Carlos. Salah satu dari mereka hanya berdiam diri, ia sebenarnya heran apa yang terjadi dengan Vina, terlihat berbeda seperti yang dulu. Dulu, style Vina sangat lah berlebihan, namun, sekarang stylenya sudah berubah lebih menggambarkan seorang bad girl.
Perpaduan warna hitam dari jaket kulit milik Vina, dengan seragam, dan dengan dandanan yang tidak berlebihan, polesan tipis itu membuatnya ingin sekali membuat perempuan yang berada di depan Calos menjadi miliknya lagi. Lagi.
"Tidak! Dan tidak akan Mungkin!"
"Lo itu gak ada berubah berubah nya ya jadi orang!" Kata Calos dengan dingin.
"Dia bukan orang, tapi setan!" Mata Carlos menghunus tajam, bagaikan pedang. Membuat hati Vina mencelos.
"Anjir sakit euyy. Kenapa ya? Apa karena perasaan Vina masih ada?" Vina hanya tersenyum sinis.
"Emang Lo semua ada bukti kalau gue yang udah bully Vero?" Tanya Vina, aura di sekelilingnya menjadi mencekam. Tangan Vina mengepal, buku-buku jarinya memutih. Tiga pemuda itu terdiam.
"Gak ada kan, jadi jangan sok tahu deh!" Sarkas Vina.
Buukk...
Tanpa aba-aba, Carlos memukul pelipis adiknya. Vina membelalakkan matanya, sebelum dirinya kembali siap, Carlos kembali menyerang nya dengan mencengkeram erat leher Vina. Carlos mengangkat Vina, dan membuat kaki nya terhuyung-huyung.
Sialan. Dia mau main main sama seorang mafia rupanya.
Dengan tidak kalah cepat, Vina menendang sekuat tenaga, milik pusaka abangnya.
Krek...
Ada yang pecah namun bukan gelas~~
"ARGHHH... PUNYA GUE!!" Carlos menjerit kesakitan, memegang miliknya. Calos dan satu temannya meringis sambil menutupi milik mereka sendiri.
"Ups... sakit ya? Makanya, harus gue bilang berapa kali sih, gak ada yang boleh sentuh gue walau setitik pun. Udah ah, males gue deket-deket sama orang-orang bego kayak lu semua, yang percaya sama ular Medusa kayak Vero. Bhay!" Vina berjalan meninggalkan ke tiganya, yang masih ngilu, padahal hanya Carlos yang terkena tendangan itu, namun yang melihat itu tentu ikut ngilu.
...🥀🥀🥀...
Pulang sekolah, Vina berjalan sendiri menuruni tangga, dan melangkah ke arah parkiran. Ia dapat melihat, jika Vero dan temannya, Laura kini sedang berada di antara abang-abang nya. Ia hanya memutar bola matanya.
Berjalan dengan santai melewati mereka, namun satu kalimat dari salah satu dari geng mereka membuat Vina mengehentikan langkah nya.
"Liat tuh, gak ada rasa bersalah nya dia, padahal dia yang nyakitin Vero, udah gitu buat tangan Vinsen retak lagi" celetuk nya. Vina berbalik, menatap tajam ke arah orang yang berbicara itu.
"Vinsen harus masuk rumah sakit gara-gara Lo bikin tangan nya retak!"
"Loh! Retak doang? Gue kira udah patah, kenapa gak sekalian aja ya gue patahin tangan nya," ujar Vina sambil mengorek telinga nya menggunakan jari kelingking nya, dan memasang wajah songongnya.
Mereka melotot, tidak terlihat rasa bersalah karena sudah menyakiti salah satu dari mereka.
"Tangan nya kasar sih, suka sakitin cewek, sekalian gue buat patah aja kali yah... Oiya, kalian juga ya. Mau gak gue patahin juga, biar itu tangan jangan buat semena-mena, lebih baik pake yang lebih bermanfaat deh," ucap Vina sembari terkekeh.
"Sialan. Memang kejam Lo!"
"Udah tau kejam, masih mau berurusan sama gue?"
"Udah ya kak, tenang, jangan kebawa emosi," kata Vero menenangkan Calos, mengusap bahunya dengan lembut.
"Ewh.. jijiq banget gue liatnya," desis Vina dalam hati. Vina memperhatikan luka-luka yang berada di wajah Vero dengan seksama, membuat Vero keringat dingin.
"Dia ngapain liatin gue gitu banget, ini gak bakal ketahuan kan," batin Vero. Vina menyeringai, dia membuka tasnya dan mengambil botol minumnya yang tersisa seperempat, lalu menyiram nya tepat di wajah Vero.
BRUSSHH...
"AAA!!" Pekik Veronica.
"VINA!! APA-APAAN INI?!" Jerit pemuda yang sedari tadi tidak Vina ketahui namanya.
"Make up? Dah gue duga, cara murahan yang Lo pake gampang banget ketahuan. Udah kebiasa sih, akting mulu Lo, jadi dah cocok lah bawa film ya kan," cerca Vina. Vina meraup wajah Vero yang masih basah.
"Liat luntur kan? Makanya jangan mudah diboongin, pura-pura merasa tersakiti, ntar beneran loh!!"
Sontak Carlos, Calos, dan dua pemuda yang Vina tidak kenali terbelalak melihat lebam lebam yang berada di wajah Vero memudar, bahkan luka goresannya juga.
"Siapa sih yang make up-in Lo? Sumpah bagus banget bikinnya, kek beneran. Gimana Avrenzo, hadiah dari gue?" Tanya Vina, sambil melirik salah satu dari pemuda yang ia gumamkan saat itu.
"Vero!" Dengan cepat Avrenzo menarik lengan Vero, lalu membawa nya pergi dari hadapan mereka.
"So.. kenapa kalian masih disini? Gih, sana, ketua kalian udah pergi tuh." Tunjuk Vina. "Oiya, sekali lagi gue ingetin, jangan sentuh Vina bahkan setitik pun," lanjut nya. Lalu Vina berbalik, menaiki motor miliknya, dan menjalankan nya menjauhi sekolah.
"Ini benar-benar gila.."
"Arghh... ini semua gara-gara Lo Vina, jadi gagal rencana gue sama Vero!" Batin Laura.
...🥀🥀🥀...
Kini, Vina sudah selesai membersihkan tubuhnya, dan duduk di meja belajar nya. Mengamati sekitar, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi putar itu.
Vina membuka tas nya, mengeluarkan sebuah buku. Dirinya ingin membuat catatan, mengenai keinginan-keinginan nya.
"Pertama.. apa ya?" Pikir Vina.
"Oh iya bener. Pertama, cari temen di sekolah. Kedua? Kedua, pergi ke Bogor ketemu Keyla, lalu melindungi nya. Jangan terlalu dekat, pastiin para musuh tau kalau pemimpin Red Blood telah tewas, dan setelah itu baru gue kasih tau deh identitas gue. Ketiga? Hm, Ketiga membasmi para virus." Terus menulis apa-apa saja yang ingin ia lakukan.
"Gue harap, gue bisa nyelesein semua ini, ayah.. bunda.. aku juga ingin mencari tau siapa dalang dibalik kecelakaan kalian." Setelah menulis semua itu, Vina menyimpan bukunya dan berbaring di tempat tidur. Kepala nya terasa pusing, rasa nya sama seperti waktu di rumah sakit.
"Tidur aja deh, mungkin nanti akan lebih baik." Vina tertidur tak lama setelah itu. Dan, semua ingatan nya kembali menyengat kepalanya.
Zo.. liat aku dong, gimana? Bagus gak?
Wih... sayang ku Icha bagus! Cocok sama kamu.
Thank you! Aku mau beli ini deh.
Penampilan kamu kayak gini jauh lebih bagus, daripada dandanan dan pakaian kamu yang kayak emak-emak.
Aku berusaha sederhana Vrenzo~~
Tapi kamu memang nya gak mau nunjukin apa? Kamu itu bisa berubah, and you know, mereka pasti mau deket sama kamu..
Hm.. Clarissa atau biasa dipanggil Icha oleh kesayangan nya hanya tersenyum miring. "Aku mau berteman dengan orang-orang yang tulus, bukan karena kecantikan atau kepopuleran aku, bahkan harta ku."
Tapi..
Sudah Vrenzo~~ Kita jalan-jalan lagi aja yuk. Daripada ntar berantem. Icha mengerucutkan bibirnya.
Iya iya ayok! Avrenzo terkekeh, lalu menggandeng Icha untuk jalan berdampingan dengan nya.
Vina membuka matanya kembali, dan terduduk.
"Itu beneran Avrenzo, kan!?" Gumam nya. Matanya mengkilat tajam, masih merangkai serpihan serpihan ingatan yang sudah tersambung beberapa, namun masih banyak yang terasa kosong.
"Apapun itu, sekecil apapun ingatan Lo, Vin. Gue bakal berusaha mengumpulkan semua, sampai gue bener-bener berhasil!"
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
azka aldric Pratama
ini masuk novel ap transmigrasi pindah jiwa doang 🤔🤔🤔
2022-09-03
3
el*__
vero itu laki ato cewe
2022-07-05
1