Di rumah sakit, terlihat empat orang sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
"Kenapa Vina bisa kayak gitu, Calos?" Tanyanya dengan dingin.
"Ak.. aku gak sengaja dorong dia pah," jawab Calos dengan terbata-bata, wajah Calos memerah menahan tangis, dan matanya berkaca-kaca.
Mata Raditya menajam, dia menatap Calos, "gak sengaja kamu bilang?" Raditya mendekati Calos, lalu menarik kerah baju anak nya itu.
"Ke tidak sengajaan kamu, membuat celaka!" Geram Raditya.
"Papa kenapa belain dia terus?!" Teriak Calos si depan wajah Raditya. "Papa selalu bela dia. Dia bukan anak papa!"
"Dia. Anak. Saya. Calos," tekan Raditya. Maya mengusap bahu sang suami agar bisa menenangkan Raditya.
"Dia cuman anak pungut pah!"
PLAKK...
Raditya menampar pipi Calos, "jangan sekalipun kamu bilang seperti itu pada adik mu!"
Calos memegang wajahnya yang tertampar, dan tertawa hampa, "tapi itu kebenaran nya, pah." Dirinya menyorot tajam pada Raditya.
"Dia hanyalah anak pungut! Dan gara-gara dia, adik kandung aku yang sebenarnya meninggal." Carlos hanya menatap datar, tidak ingin ikut campur dalam perdebatan itu.
"KAMU!!"
"Pah, tenang. Kita lagi di rumah sakit. Kalau kamu mau sadarin anak kamu nanti aja ya. Kita harus tau keadaan Vina," jelas Maya. Maya masih berusaha menenangkan kemarahan sang suami.
Raditya mengatur nafasnya, "di rumah, kamu harus dihukum."
"Apaan! Kok—"
"Udah ya Calos, kita lagi di rumah sakit. Tolong hargai," ujar Maya dengan lembut. Calos menatap mama nya, lalu mengganguk pelan.
"Vina.. bertahan ya. Jangan buat papa sama Mama khawatir."
...🥀🥀🥀...
"Vina, Vaness, sini sayang," panggil seorang wanita paruh baya. Lalu dua anak kecil yang berumur kira-kira lima tahun lari mendatangi wanita itu.
"Iyah mah?" Tanya Vina dan Vaness serentak.
"Kamu sama Vaness jangan main jauh-jauh ya. Bahaya. Ntar diculik loh!"
Vina dan Vaness bergidik takut, "ih ngeri."
"Makanya. Jangan ikut orang yang gak dikenal ya sayang."
"Okey mah," Vina mengangguk, sedangkan Vaness hanya menatap jalanan.
"Mah. Itu apaan?" Tanya Vaness sembari menunjuk salah satu mobil yang berhenti di seberang jalan.
"Itu mobil, sayang. Jangan ke sana ya, bahaya." Vaness mengangguk mengerti. Vina menatap lurus pada mobil itu.
"Mah, mobil nya bagus, boleh gak diambil buat mainan?" Tanya Vina dengan polos.
Mama nya hanya tertawa, "gak bisa, sayang. Mobil itu gede, yang di kamar kamu kecil, itu baru bisa dimainin."
Vina mengangguk mengerti.
...💤💤💤...
"Ayo tangkap aku kalau bisa Van!" Teriak seorang anak perempuan berseragam sekolah dasar sedang berlarian.
"Aku bisa tangkap kamu!" Teriak satunya.
Mereka berlarian, dan tidak melihat jalan. Perempuan itu berlari ke tengah jalan. Dan tidak melihat jika ada pengendara motor yang menghampiri dirinya.
"VINA!! AWAS!" Perempuan yang berteriak itu langsung berlari ke tengah jalan, dan mendorong adiknya.
Vina terdorong, dan mematung melihat sang kakak nya terlempar karena menolong dirinya. Orang-orang berkumpul mengerumuni tubuh Vaness, dirinya berdiri dan mendekat dengan langkah sedikit lunglai.
"Kak Vaness.. jangan pergi." Vina terus memanggil lirih sang kakak yang sudah tergeletak, dengan darah mengucur deras dari kepala Vaness.
Sirene ambulans terdengar, karena salah satu warga sekitar sudah menelepon ambulans.
Vina hanya menangis dan termangu menatap tubuh kakak nya yang perlahan diangkat ke atas ranjang dan di dorong ke dalam mobil.
Dirinya pun digendong dan dibawa ke dalam ambulans.
"Kak, bertahanlah. Kumohon."
...💤💤💤...
Seminggu sudah berlalu, sejak kematian sang kakak. Vina menjadi lebih pendiam, membuat Raditya dan Maya menjadi sedih karena perubahan itu.
Apalagi kedua anak laki-laki nya juga. Mereka tidak pandai berekspresif lagi. Bahkan sering membentak juga menyalahkan Vina atas semua yang terjadi.
"Itu bukan kesalahan mu. Jadi jangan seperti ini lagi, Vina. Demi papa dan mama."
...🥀🥀🥀...
Vina membuka kelopak matanya perlahan, mengerjap untuk menyesuaikan pencahayaan. Diri nya meringis memegangi kepalanya yang diperban itu.
Vina termenung memikirkan apa yang terjadi, "itu ingatan Vina?"
"Kenapa penulis cerita ini, terlalu kejam pada tokoh Vina sang antagonis. Latar belakang nya bahkan kayak gitu," gumamnya.
"Sasya. Gue pengen banget ketemu Lo. Gue benar-benar penasaran dengan semua cerita ini." Vina kembali meringis, ketika dirinya berusaha duduk.
"Gue lupa kalau kepala gue kebentur." Monolog nya.
CKLEK...
Seorang dokter bersamaan dengan suster masuk ke dalam kamar, membuat Vina menoleh ke arah dokter serta suster itu.
"Alhamdulillah, nak. Kamu sudah sadar. Bagaimana kondisi kamu sekarang? Apa ada yang sakit? Atau luka jahitan kamu sakit?" Tanya dokter itu. Vina menggeleng.
"Saya periksa dulu ya keadaan kamu." Vina mengangguk.
Beberapa menit dokter itu memeriksa Vina. Mulai dari infus, bahkan tekanan jantung nya.
"Semua normal. Ini ajaib, seharusnya orang-orang yang kepalanya terbentur lumayan keras dengan suatu benda yang tidak terlalu tumpul, akan merasakan sakit atau bahkan ada yang sampai koma," jelas dokter itu.
Vina menatap datar pada dokter yang berbicara itu, "dokter doain saya?"
Dokter itu terkekeh pelan, "tidak. Saya memuji kamu, tubuh kamu pulih begitu cepat, bahkan sudah normal."
Vina memang merasakan aneh pada tubuhnya, dan itu pernah terjadi pada dirinya yang asli, waktu menjadi Rissa.
"Terima kasih Dok."
Dokter laki-laki itu tersenyum, "saya panggilkan keluarga kamu ya. Mereka pasti bahagia karena kamu sudah sadar." Vina mengangguk singkat. Lalu dokter itu pergi bersama dengan suster.
"Vina. Masih banyak ingatan yang belom Lo kasih ke gue. Kenapa gak langsung semua?!" Geramnya.
...🥀🥀🥀...
"Gio." Panggil seorang perempuan pada pemuda yang sedang berkutat dengan laptop nya.
"Ya, Key?"
"Lo.. Lo pernah liat seseorang yang mirip yang mirip sama temen Lo gak atau gak saudara gitu?" Tanya Keyla.
Gio menyernyit bingung, lalu memutar kursinya menghadap ke Keyla.
"Maksudnya?"
"Ya.. kayak misalkan orang itu sikap nya, atau gak wajah mirip dengan seseorang yang Lo kenal." Jelas Keyla.
Gio nampak berfikir dan menatap Keyla dengan curiga, "kenapa tiba-tiba Lo tanyain pertanyaan aneh kayak gitu?"
Keyla mengalihkan pandangannya, gugup, "gue cuman mau tau, pendapat Lo."
Gio tahu Keyla sedang berbohong, tapi dirinya tidak ingin memaksakan, "gue gak pernah."
Keyla mengangguk.
Gio menelisik, "Lo pernah, Key?" Keyla secara tidak sadar mengangguk.
"Siapa?" Gio bertanya penasaran, dan Keyla gelagapan panik.
"Belom. Belom pernah gue," jawab Keyla sedikit panik, berusaha menenangkan diri.
"Lo ingat? Gue gak pernah bisa dibohongin, Key."
Keyla menghembuskan nafas frustasi, dan bergumam, "Sial!"
"Oke.. oke.. gue jawab." Keyla menatap Gio.
"Dia kak Rissa."
Gio menahan tawanya, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak, "Lo udah gila ya, Key!"
"Terserah sih, kalau gak percaya," acuh Keyla. Gio memberhentikan tawanya.
"Gue gak percaya sebenarnya, sebelum tau kebenarannya," ujar Gio serius. "Apa Lo punya buktinya?"
...🥀🥀🥀...
"Nak. Kamu gak papa, kan? Kamu gak bakal nambah amnesia lagi kan? Kamu gak lupain mama sama papa kan?" Tanya Maya beruntun pada sang anak.
"Mah. Aku udah gak papa, udah baik-baik aja. Aku juga gak bakal amnesia lagi, mama tenang ya." Hati Vina menghangat, melihat kekhawatiran orang tuanya. Orang tua Vina sebenarnya.
"Udah papa bilang. Kalau kamu kenapa-kenapa, tinggal bilang! Jangan pendam sendiri, sayang," kata Raditya, tangannya mengelus rambut Vina.
"Apalagi kedua kakak mu itu selalu mengganggu mu!" Vina menoleh pada Calos dan Carlos yang hanya diam duduk di sofa kamar itu.
"Udah puas nyakitin aku, bang Calos?" Tanya Vina datar dan dingin pada Abang nya itu. Membuat Calos membulatkan matanya.
"Kalau begitu cara mainnya. Gue akan lebih keras lagi."
"Abang tega hina aku. Padahal aku gak ngerti apa yang abang bicarain, aku gak sekotor yang abang pikir, jangan hina aku terus bang. Aku lelah," lirih Vina, bahkan matanya sudah ia buat berkaca-kaca.
Raditya menggeram, dan mengepalkan tangannya.
"Kenapa kami gak bilang? Kakak kamu itu sampe berani bicara seperti itu?!" Raditya berbalik menghadap Calos.
"Mulai hari ini, semua fasilitas kamu papa sita, motor kamu juga!"
Calos membulat kan mata, menatap papa nya dengan tidak percaya.
Vina tersenyum miring, dengan cepat dihilangkan kembali.
"Liat aja Calos. Gak cuman ini yang bakal gue buka. Semuanya! Semuanya akan gue buka, sampai Lo benar-benar tidak dianggap lagi dari keluarga Callandra."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Wanda Wanda i
good vina kasih pelajaran tuh buat Abang laknat
2023-03-24
1
Delima
semangat terus
2022-06-17
2
Ida Blado
nah gitu dong bales
2022-06-16
1