Vina berjalan santai di koridor sekolah nya, dengan earpod di telinga nya. Vina masih merasa risih dengan pandangan orang-orang yang menatapnya berbeda-beda. Ada yang kagum, ada yang iri, ada yang sinis, bahkan ada yang menjauh darinya.
Sesampainya Vina di depan pintu kelasnya, ia membuka pintu itu.
Byursh....
Sontak mata nya menutup kala ada sebuah air menyiramnya, seisi kelas tertawa puas melihat Vina yang sedang terguyur itu. Vina menatap ke bawah melihat ember yang tadi mengguyur nya, lalu menatap sekeliling nya, yang sedang menertawakan nya, bahkan tidak ada yang membantu nya.
Sena? Tempat duduknya masih kosong, tidak ada juga tas pemilik nya. Jadi bisa dipastikan kalau Sena belum datang.
Vina menatap tajam, mencari siapa yang berani-beraninya mengerjainya.
"SI... A... LAN..." Batinnya menahan amarah. Vina berbalik dan dengan tergesa-gesa pergi ke arah kamar mandi. Dirinya masuk, dan menutup pintu itu.
"Badan gue basah semua!" Pekik nya tertahan, ia menopang kedua tangannya di sisi wastafel, memandang dirinya yang basah kuyup di cermin depannya.
"Mana gak punya ganti lagi," gumam nya, dia menunduk, memejamkan mata nya.
"Tau gini gue pake jaket dari rumah, kelupaan gue kan," kesal nya.
Kriettt...
Suara dari salah satu bilik dalam kamar mandi itu yang membuat Vina menoleh ke belakang. Seorang perempuan berkacamata yang waktu itu ia bantu perempuan itu menyodorkan sesuatu.
Vina menatap benda itu, "itu.. gue pake?"
Perempuan berkacamata itu mengangguk, "iya pinjam aja jaket milik aku."
Vina tersentak mendengar perempuan itu berbicara, "Lo serius?" Sekali lagi pertanyaannya dibalas anggukan tanpa ragu.
Vina tersenyum, "terima kasih." Perempuan itu tertegun lalu membalas senyuman itu walau sedikit kaku.
Sebelum Vina, berjalan masuk ke salah satu bilik, Vina menatap perempuan berkacamata itu yang dari awal membuatnya penasaran.
"Apa boleh gue tau, siapa nama Lo?" Tanya Vina. Perempuan itu yang tadi nya sedikit menunduk, mendongakan kepalanya menatap Vina.
"Nama aku Claudia Scarlett, panggil aja yang kamu mau," ujarnya tersenyum tipis. Vina mengangguk.
"Nama Lo bagus," puji Vina. "Gue panggil yang beda aja boleh, Audi?" Tanya Vina. Perempuan itu, Claudia, mengangguk. Vina tersenyum, lalu dengan segera berbalik, karena badannya mulai sedikit menggigil karena kedinginan, namun terhenti karena sebuah pertanyaan.
"Boleh kita berteman?" Vina berbalik menatap Claudia.
"Sangat boleh," ucap Vina. Lalu ia pamit untuk berganti pakaian, dan Claudia yang kembali ke kelasnya.
"Teman.. gue akhirnya dapat teman lagi!" Seru nya dalam hati, dengan antusias.
...🥀🥀🥀...
Setelah berganti pakaian, Vina tengah sedang membolos pelajaran pertama. Dirinya kini berada di taman sekolah, yang menurut anak-anak sekolah disini banyak penunggunya. Dia mulai terbiasa dengan penglihatan nya itu, walaupun wajah-wajah hantu yang berkeliaran selalu membuat nya sedikit bergidik.
Vina menyandarkan tubuhnya pada kursi yang berada di taman itu, merilekskan otot tubuh nya. Menutup matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajah mulus nya. Namun, ia tiba-tiba merasakan ada seseorang yang sedang duduk di sampingnya, tanpa repot-repot membuka mata ia tahu siapa yang duduk dengannya itu.
"Mau apa Lo kesini?" Tanya Vina, dia masih memejamkan matanya malas. Orang yang di sebelah nya terkekeh.
"Segitu cinta nya Lo ke gue ya, sampe kenal ini gua," ujar pemuda itu dengan percaya diri.
"Segitu bodohnya gue, sampe pernah suka sama banci macam Lo, Avrenzo." Vina membuka matanya, lalu menegakkan tubuhnya, menatap lurus pohon-pohon di sekitar mereka. Tidak memedulikan bahwa pemuda di sampingnya, yaitu Avrenzo sedang menahan amarah akibat perkataan Vina.
"Cih.. Gue tau ini cuman akal-akalan Lo doang kan, biar buat gue sadar!" Tuduh Avrenzo pada Vina, membuat Vina menoleh tidak percaya pada Avrenzo.
"Percaya diri Lo harusnya kurangin deh. Biar gak malu!" Sarkas Vina menatap tajam Avrenzo.
Avrenzo menyeringai, lalu mendekat ke arah Vina, membuat Vina mundur dan terkurung di antara kukungan Avrenzo.
"Walaupun gitu, Lo berhasil Vin. Lo berhasil membuat gue sadar, sadar kalau gue jatuh, jatuh lagi pada orang yang sama." Vina membeku, karena jarak antara dirinya dengan Avrenzo hanya tinggal beberapa senti lagi.
Avrenzo lalu mendekatkan mulutnya pada telinga Vina, dan berbisik dengan suara serak nya, "Lo berhasil membuat gue jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi, Vina."
Cup...
Avrenzo mencium pipi Vina, hampir mengenai ujung bibirnya. Perlakuan Avrenzo itu membuat nya tersadar, lalu dengan pukulan telak di perut Avrenzo, membuat Avrenzo mengerang, memegang perutnya. Kesempatan emas, ia dengan cepat bangkit dan pergi dari sana.
Avrenzo tertawa puas, sesekali sedikit meringis sakit.
"Lo milik gue Vin. Dan selalu milik gue, gak akan ada yang berani ambil Lo dari gue!" Batinnya.
...🥀🥀🥀...
Vina berlari menjauh dari taman, wajahnya merah padam, merambat ke daerah telinga. Tangan nya mengusap kasar pipinya yang tadi Avrenzo cium. Untung saja baru pipi, kalau tepat di bibir, ia akan pastikan nyawa Avrenzo sudah ia buat melayang.
"****! Bisa-bisanya tuh cowok ngambil kesempatan!"
Vina berjalan ke arah perpustakaan sekolahnya, ia mengedarkan pandangannya melihat sekitar nya, dirasa aman Vina segera masuk.
Vina memilih beberapa buku yang menurut nya menarik. Lalu ia bawa dan mencari kursi kosong paling pojok.
"Gue harap gak ada yang ganggu lagi," ujar Vina dalam hati.
Vina menopang dagunya dengan tangan kirinya, tangan kanannya sibuk membolak-balik halaman buku yang dibaca olehnya.
Vina berjengit kaget, melihat ada seseorang yang menduduki kursi di seberang nya. Vina mengerjap.
Kalau dia yang ganggu gak papa deh, saya ini ikhlas. Ganteng nya naujubilah!
"Gue boleh duduk disini kan?" Tanya pemuda itu.
"Bu.. bukannya banyak tempat lain. Lagi.. lagipula kenapa Lo bolos, Edward?" Tanya Vina tidak percaya seorang Edward bisa membolos.
Edward tersenyum tipis, "gue mau temenin Lo. Gue juga gak bolos, gue dapat dispensasi karena harus latihan basket." Vina mengangguk mengerti.
Edward menatap intens Vina, membuat Vina sedikit bergidik. Tangan Edward terulur, merapihkan anak rambut Vina, sembari terkekeh membuat jantung Vina berdegup kencang.
"Kok bisa berantakan sih? Terus agak basah, Lo habis keramas?" Tanya Edward, sedikit khawatir. Sedikit? Bahkan dirinya sangat khawatir, saat ia berada di lapangan, dan melihat Vina sedang berjalan ke arah kelas, ia sadar ada yang tidak beres.
Dan, benar saja dugaannya Vina kena jebakan yang dipasang itu. Hal itu membuat nya khawatir, dia melangkah keluar lapangan untuk memastikan keadaan Vina, namun dirinya di tahan oleh pelatih, jadi baru sekarang ia bisa memastikan keadaan Vina, saat jam istirahat tim basket nya.
"I.. iya tadi pagi gue keramas," jawab Vina sedikit gugup. Sebenarnya Edward merasa gemas akan sikap Vina, yang sudah berubah itu. Ingin rasanya menyentuh pipi itu, mencubit dengan gemas pipi itu.
Woilahh hari ini banyak bener cogan yang deket deket gue!! Batin Vina berteriak-teriak. Menurut nya pemuda-pemuda yang berada di dalam Novel ini sangat tidak manusiawi, lihatlah orang di depannya ini, gantengnya kemana-mana.
"Oh, gitu," balas Edward, ia tahu bahwa Vina sedang berbohong. Namun, ia tidak mau memaksakan Vina.
Cukup lama mereka terdiam, Edward kembali membuka suaranya.
"Gue boleh minta nomor telepon Lo gak?" Tanya Edward secara tiba-tiba, Edward yang reflek mengatakan itu langsung mengatupkan mulutnya, mengalihkan pandangannya.
Pertanyaan itu memang membuat Vina menyernyit, namun tak ayal ia memberikan nya. Edward dengan sangat senang hati, bertukar nomor telepon.
"Thanks," ucap Edward dengan singkat. Hanya dibalas anggukan Vina.
"Gue udah dipanggil coach, gue pergi dulu ya," pamit Edward.
Vina mengangguk, "oke. Yang semangat ya." Edward tersenyum lalu berjalan keluar dari perpustakaan, dia mengangkat tangannya yang terkepal, menyemangati diri nya.
"Jadi semangat. Karena disemangatin ayang. AMIN JADI AYANG," Edward tidak bisa menahan bahagia, bahagia karena diberi semangat, dan juga bahagia dikasih nomor telepon nya.
Edward berlari kencang ke arah lapangan, sembari bersenandung kecil.
...🥀🥀🥀...
Vina tersenyum tipis, menyentuh rambutnya yang tadi Edward perbaiki.
"Lama-lama jadi orang gila gue. Rambut gue yang dipegang, jantung gue yang berantakan, kek lagi disko jir!"
Vina meremas tangan nya, pandangan nya beralih ke sekitar dan merasa sedikit merinding, lalu dengan cepat ia merapihkan buku-buku yang tadi dibawa olehnya, dan pergi dari tempat sunyi itu.
"Dahlah, cabut gue dari sini. Sekarang waktunya ke kelas."
Vina menaruh buku-buku itu di tempat asal karena suasana hatinya sedang tidak karuan. Antara takut karena keadaan perpustakaan, kesal karena Avrenzo mengganggu ketenangan nya, dan berbunga-bunga karena kedatangan pemuda yang sangat tampan itu.
"Gue berharap cerita ini mempunyai happy ending. Gue gak mau.. hidup gue jadi Sad ending." Gumam Vina sembari berjalan kembali ke kelasnya, dengan menenteng tas miliknya.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Maîra⊰⊹
Gila! Red flag semua!😶🌫️
2022-12-26
1
Ida Blado
masa mafia di deketin banci afrezo kok kicep,,,ngecewain bgt
2022-06-16
3
itha Nurhayati 😎
lanjut Kaka 🥰🥰 semangat terus..
2022-04-12
3