Seorang gadis cantik nan imut, sedang tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Perlahan mata indahnya terbuka.
"Ukh... Dimana ini?" Desis nya pelan dengan suara serak, gadis itu mengangkat tangan nya mengelus dada nya dan sedikit menekan nya, yang terkena timah panas itu. "Kok? Gak sakit ya?" Tanya nya pada diri sendiri. Gadis itu menatap seluruh sudut kamar, dan mata nya membelalak saat melihat cairan infus.
CKLEEK...
Pintu kamar terbuka, dan seorang suster masuk. "Dok! Dokter!! Pasien sudah sadar," kata suster tersebut memanggil Dokter.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar, nak. Apa yang kamu rasakan, apa ada yang sakit?" Tanya Dokter itu.
Gadis itu, Rissa menyernyitkan dahi nya. "Say.. saya baik-baik saja, boleh tolong ambilkan air, Dokter?" Tanya Rissa dengan terbata-bata.
"Oh iya, Silahkan, Nak Vina." Dokter itu membantu Rissa meminum air putih itu. Namun, Rissa heran nama nya bukan Vina, tapi mengapa ia dipanggil Vina.
"Terima kasih Dok. Tapi, maaf nama saya Rissa bukan Vina, Dok." Jawab nya.
"Tapi itu nama kamu Nak Vina."
"Tap—" Omongan Rissa terpotong, karena ada sepasang suami istri yang masuk ke dalam kamarnya, wajah mereka sungguh asing di matanya.
"SAYANG! KAMU SUDAH SADAR!" Pekik wanita paruh baya, yang mendekati sang anak.
"Mah, tenang mah, jangan teriak, ini rumah sakit." Suaminya berusaha menenangkan sang istri, dan ikut menyusul sang istri yang sudah memeluk anaknya.
"Ma.. maaf, tapi kalian siapa ya?" Tanya Rissa masih bingung, siapa orang-orang yang di hadapan nya ini. Pertanyaan itu membuat hati sepasang suami istri itu mencelos.
"Vina... gak ingat mama?" Tanya wanita itu. Rissa menjawabnya dengan gelengan.
"Ka.. kalau Papah?" Tanya laki-laki paruh baya itu.
"Maaf." Lagi Rissa menggelengkan kepalanya kembali, apa ini maksudnya, kenapa ia di tempat yang asing, bahkan orang-orangnya tidak pernah ia kenal.
"Dok!! Anak saya kenapa?!" Ujar Laki-laki itu pada Dokter yang masih berada di tempat tersebut.
"Saya cek lagi ya, Nak Vina. Kamu tahu siapa yang di depan kamu?" Rissa hanya menggeleng, "enggak dok," jawabnya. Dokter menghela nafas nya.
"Kamu tau, nama panjang kamu?" Tanya Dokter lagi.
Rissa mengangguk dan menjawab tanpa ragu, "Rissa Arabella." Wanita paruh baya menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Mungkin akibat kecelakaan itu, kepala Nak Vina terbentur, dan membuat nya hilang ingatan sementara. Mohon bantu Nak Vina, agar ingatan nya kembali, perlahan saja jangan langsung dipaksakan." Jelas sang Dokter. Wanita itu sudah menangis, dan suaminya membalas dokter dengan mengangguk pasti. Lalu Dokter dan suster itu pamit undur diri, dan keluar dari kamar itu.
"Maaf ini dimana ya?" Tanya Rissa, atau lebih tepatnya Vina yang yang diisi jiwa Rissa.
"Ini di rumah sakit sayang."
"Vina." Panggil Laki-laki yang berada di samping nya.
"Ya om?"
"Jangan panggil Om ya. Papa aja."
"Iya pah." Hanya dibalas senyuman. "Oiya lah, boleh aku tau siapa-siapa saja keluarga ku?" Tanya Vina, sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal. Halus juga kulit nya.
"Kenalin kami ya, nama Papah, Raditya Rafa Callandra. Dan, nama mamah, Maya Praduta Laoranz. Ingat ya. Oiya kamu juga punya dua kakak, yang pertama nama nya Carlos Tevez Callandra, dan yang kedua Calos Vonasi Callandra. Dan nama kamu Clarissa Davina Callandra." Jelas Raditya.
Vina mengganguk, dan ber-oh ria. "Mah, pah, aku di rumah sakit karena apa?"
"Kamu.. kecelakaan karena mobil, kamu di tabrak." Maya mengelus-elus rambut anaknya. Dan Vina merasa hatinya menghangat, karena usapan itu.
"Ini ya rasanya kasih sayang orang tua?" Batinnya.
"Em... Aku mau ke kamar mandi dulu ya, mah, pah." Vina hendak turun dari tempat yang ia tiduri, tapi ada yang menahannya.
"Biar mama bantu," ucap Maya.
"Gak usah mah. Aku bisa sendiri." Setelah mengucapkan itu, Vina turun dan masuk ke kamar mandi. Kedua orang tuanya hanya dapat menatap punggung Vina.
...🌺🌺🌺...
Di dalam kamar mandi, Rissa yang kini berada di raga Vina sedang mondar-mandir tidak jelas. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin.
Cermin oh cermin siapa yang paling cantik di dunia. Eh salah.
"Muka gue kok glowing banget, mana halus lagi!" Vina mengelus wajahnya. "Ini kalo Keyla tau, diketawain gak ya, gue jadi putih gini?" Seakan sadar Vina membelalakkan matanya.
"Keyla. Dia baik-baik aja kan?!" Pekik nya tertahan. Menghirup, dan menghembuskan nafas nya, mencoba menenangkan diri.
"Lo harus hati-hati Ris! Disini sangat asing, kamu harus sabar, dan bisa dapetin ingatan raga ini." Rissa sadar, saat ini dirinya sedang bertransmigrasi menjadi seorang Vina, dari keluarga Callandra.
Rissa memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit, dan berputar putar. Apa ini!
Adik sialan! Lo udah diperingatin jangan ganggu Vero!
Kapan sih Lo pergi dari dunia! Jahat mulu di otak Lo!
Siapa yang bilang Lo boleh duduk sini?! Sana! Lo bukan adik gue! Gue gak punya adek kayak Lo!
Rissa meringis, meremas rambut nya, ingatan ingatan menyakitkan membuatnya menjadi limbung.
Mati aja Lo!!
Cih menjijikkan!
AHAHAHAHA!! LO DAPAT GANJARANNYA CLARISSA DAVINA!
Tepat saat Vina membuka pintu kamar mandi, ia limbung, lalu tak sadarkan diri, mambuat Raditya dan Maya, langsung menghampiri nya. Lalu semua gelap.
...🌺🌺🌺...
"Gimana dok keadaan anak saya? Kenapa dia pingsan? Cepet dok jawab?" Samar-samar Vina mendengar suara itu, sangat sulit untuk membuka matanya, rasanya kepala nya berputar, dada nya merasa sesak.
"Tenang Bu, pak. Vina hanya kelelahan, dia butuh istirahat, karena ia baru sadar." Jelas Dokter, sambil menenangkan orang tua pasiennya.
"Gue akan balas perbuatan mereka! Lo tenang aja Clarissa, mereka akan dapat ganjaran nya!" Wajah Vina mengeras. Memaksakan diri untuk membuka matanya.
Perlahan mata indahnya terbuka, nafas nya terengah-engah merasakan dada nya sesak karena ingatan-ingatan yang mengalir dengan lancar.
"Mahh.. Pahh." Raditya dan Maya menoleh ke arah anaknya yang perlahan membuka matanya. Dokter yang memeriksa nya sudah pamit undur diri.
"Nak, kamu baik-baik aja? Jangan buat mama khawatir," ujar Maya dengan nada bergetar. Vina tersenyum manis kepada orang tua nya.
"Mah.. Pah.. Sedikit banyak nya, ingatan ku perlahan kembali," jawab nya. "Tapi ingatan itu menyakitkan ya." Vina menyentuh kening nya dan berkata lirih.
"Mereka jahat ya. Aku salah apa?" lanjutnya. Maya dan Raditya menggeleng, "kamu gak salah apa-apa, Vina. mereka yang salah, salah mereka yang berani-beraninya nyakitin anak mama ini."
Raditya menggeram pelan, mata nya memerah menahan amarah. Siapa yang sudah membuat anak nya terlihat kesakitan, tangannya mengepal, "Nak, siapapun mereka, papa akan membalas mereka atas perbuatan keji mereka."
Vina tersenyum, "Ingin menyerang? Tentu. Dan ini salah satu rencana gue. Gue harus bermain cantik." Vina tersenyum miring sekilas.
"Vina mau pulang ya pah, mah." Pinta Vina.
"Gak! Kamu masih sakit! Tadi aja pingsan," kata Raditya.
"Please!! Tadi aku cuman berusaha mengingat, Mah.. Pah.." mohon nya pada Raditya dan Maya. Raditya dan Maya saling pandang, lalu menghela nafas mereka.
"Baiklah, papa tanya dulu ya ke Dokter."
"Tapi kalau Dokter nya belom bolehin gak pa-pa ya, sayang." Vina mengerucutkan bibirnya, lalu membalas perkataan Papa nya, "gak! Pokoknya mau pulang. Titik, gak pake koma!"
"Oke oke," ujar sang papa yang terlihat tertekan. Lalu pamit pergi ke ruangan Dokter.
...🌺🌺🌺...
Esoknya, Vina dibolehkan pulang, karena ia memohon kepada papa nya untuk kembali ke ruangan Dokter agar diperbolehkan pulang. Karena pada awalnya Dokter belum memperbolehkan nya untuk pulang.
"Vin? Lo jangan khawatir ya, gue bakal bales orang yang nyakitin Lo. Gue lakuin ini, karena gak mau ada orang yang terbully! Siapapun itu!"
Vina menatap keluar jendela mobilnya, kendaraan yang berlalulintas cukup ramai. Dia lupa menanyakan sesuatu, walaupun ada ingatan Vina, namun itu baru beberapa, belum semua ingatan Vina diberikan padanya.
"Pah, mah. Kita di kota mana?" Tanya nya tiba-tiba. Membuat Raditya dan Maya terkekeh lirih.
"Kita di Jakarta, sayang." Jawab Maya. Vina hanya ber-oh ria.
"Lumayan jauh dari kota gue, Kota Bogor." Batin Vina.
Beberapa kilometer telah ditempuh, akhirnya sampai di kediaman keluarga Callandra. Vina sudah mewanti-wanti besarnya rumah keluarga Callandra.
"Lumayan lah, Besar. Kek istana," batinnya sambil tersenyum kaku.
"Ayo masuk nak." Vina mengangguk, dan mengikuti Raditya dan juga Maya yang melangkah masuk melewati beberapa Bodyguard dan Maid yang menunduk.
"Muke gile! Maid sama bodyguard nya banyak bener. Eh, tapi gue lebih banyak sih.. Mwehehehe," ujar nya dalam hati, sedikit menyombongkan diri tidak apa-apalah. Yang penting sedikit. Sedikit.
Orang-orang yang berada di ruang tamu, menoleh pada mereka bertiga yang baru saja masuk. Menatap Vina dengan pandangan yang menusuk.
"Cih! Gue kira, Lo udah mati," sarkas seorang pemuda.
Vina menatap bingung, pada pemuda itu, "Dia siapa, mah? Pah?" Tanya Vina sambil menunjuk ke arah pemuda itu. Seisi ruang tamu itu menganga heran, terkecuali Raditya dan Maya.
"Gue amnesia, jangan sok heran Lo pada!" Desis Vina.
"Yang sopan Lo! Sama Abang Lo, Vina!" Bentak pemuda lainnya. Vina menunjuk nya.
"Lo? Abang gue? Cih, Abang macam apa yang menghina adik nya sendiri!" Tunjuk Vina pada nya.
"Dia Abang kamu yang pertama dan kedua, Vin. Yang sopan ya," ujar Veronica dengan lembut, dan tersenyum manis. Yang dibalas anggukan sahabatnya, Laura.
Membuat Vina ingin muntah, melihat wajahnya. "Kalian berdua, kenapa membawa kedua perempuan itu?" Tanya Raditya dengan nada tajamnya, mata nya melotot.
"Kan udah biasa, pah," jawab santai pemuda yang tadi menghina Vina.
"Papah berapa kali bilang jangan bawa mereka lagi, Carlos!" Bentak Papa nya pada Carlos.
"Pah, udahlah, biarin mereka." Maya menarik Raditya dan Vina untuk pergi dari ruang tamu itu. Vina menyernyit.
"Avrenzo."
...🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Osie
aku mampir nih..setiap baca cerita transmigrasi suka bgt apalagi MC mya sosok wanita tangguh n smart..cuma rada rada kalau berbau mafia n lokasinya dinegeri tercinta..g masuk bgt menurutku backgroud negaranya/Pray/
2024-12-03
1
atulyaas
itumah deket thor
2024-01-22
1
Nda Qrey
agak² aneh, sikap kakanya sama adiknya kasar . terus orang tuanya diam aja....
2023-10-27
2