"Brakk." Bram menutup pintu mobil mewah yang terparkir di basement apartemen yang ia tinggali bersama calon istrinya Amber.
Ia menatap nyalang pada sosok pria yang duduk disampingnya dengan wajah tenang dan santai.
Bram hanya bisa menahan geramnya dalam hati. Ia paling benci kehidupan pribadinya di usik oleh orang suruhan keluarganya. Dia hanya menginginkan hidup sederhana bersama sang kekasih yang begitu ia cintai.
Bram membuang pandangannya keluar mobil. Ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk melayani pria yang menyebalkan di sampingnya. Pria utusan sang ibu tentunya. Ia tidak akan mau meninggalkan kekasihnya sendiri diatas unit apartemen mereka.
Mereka baru saja berbaikan, ia tidak ingin membuat wanitanya merajuk kembali.
"Katakan." Ucap Bram dingin dan wajah datar.
"Pulanglah, pangeran.!" Sahut pria yang kira-kira berusia 40 tahun.
"Yang mulai ratu, menginginkan anda kembali, pangeran." Sahut pria yang merupakan ajudan pribadi sang ibu.
"Pangeran.!" Sahutnya penuh penghormatan.
"Aku tidak akan pernah kembali kesana, jadi pulanglah." Jawab Bram datar.
"Kerajaan memerlukan anda, pangeran Griffin.?"
"Aku tidak perduli dan tidak mau peduli. Jadi kembali lah." Tolak Bram.
"Kalau begitu anda, membuat wanita itu dalam bahaya, pangeran.!" Ucap pria itu lagi. Tapi kali ini dengan aura serius dan menakutkan.
"Jangan coba-coba menyentuhnya, walaupun seujung kuku sedikitpun." Bentak Bram.
"Maka kembali lah, pangeran? Apa anda lupa, siapa ibu ratu, pangeran? Pasti anda mengenal baik watak ibu ratu." Ucap pria itu penuh tekanan dan ancaman.
"Aku tidak perduli." Sahut Bram dan iapun segera menggapai tuas pintu mobil, membukanya dan keluar dari mobil tersebut yang membuat pasokan nafasnya sesak. Bram kembali menutup pintu mobil itu kasar.
"Brak."
Bram pun melangkah meninggalkan mobil hitam mengkilat tersebut. Ia menghentikan langkahnya saat mendengar nada sarkas ajudan pribadi ibunya itu.
"Ingat lah, pangeran. Kalau anda menolak maka nyawa wanita itu dalam masalah."
"Mungkin malam ini dia sedang bermimpi buruk."
"PERGILAH, SIALAN.!!!
Setelah memberi umpatan kepada orang suruhan ibunya, Bram berlari cepat untuk menuju unit apartemen miliknya dan sang wanita.
Bram berlari dengan tergesa-gesa, ia tidak memperdulikan makian seseorang yang ia tabrak tadi. Kini pikirannya hanya tertuju pada sang kekasih.
"Cepatlah.!! Teriaknya didepan lift yang akan membawanya ke lantai 6 di mana letak unit apartemen mereka.
"Sial." Umpatnya saat lift itu tidak bergerak sedikitpun. Bram berlari kearah tangga darurat. Berlari di setiap anak tangga. Ia tidak menghiraukan rasa lelah dan pegal di kakinya. Ia ingin segera sampai dan menemui puja hatinya itu.
Bram mengatur nafasnya dan juga menyeka keringat yang membasahi wajah tampannya itu. Bram membuka pintu apartemen mereka dengan tergesa-gesa dan sedikit kasar.
Ia terhenyak, saat melihat wanita yang ia cintai itu kini meringkuk di atas sofa dengan isakan yang memilukan. Segera saja Bram berjalan cepat kearah Amber.
"Sayang? Panggilannya saat berada di depan sang kekasih. Tanpa banyak berkata-kata Bram meraup tubuh bergetar Amber dan membawanya kepelukan hangatnya.
"Dear." Lirih Amber dengan isakan pilu.
"Aku disini, sayang." Sahut Bram sambil mempererat pelukannya.
"Dear, … kau dari mana? A-aku takut k-kau meninggalkan ku. Aku bermimpi, mereka membawamu pergi dan mereka memisahkan kita. Aku tidak mau kehilangan mu, dear. Tidak mau. Kenapa kau pergi dan kau darimana? Apa kau tau aku mencari mu. Please jangan pernah tinggalkan aku." Racauan Amber membuat hati Bram mencolos ngilu. Hal paling ia benci adalah Melih wanitanya bersedih dan menangis pilu.
"Shut. Itu tidak akan terjadi, sayang. Aku tidak akan meninggalkan mu. Kau adalah hidup ku dan kematianku. Kau adalah kesedihan ku dan kebahagiaan ku. Jadi jangan berfikir kalau aku akan meninggalkan mu, sayang. Karena itu tidak akan pernah terjadi. Benci dan bunuh aku kalau suatu saat aku meninggalkan mu atau mengkhianati mu, honey." Bram ikut terisak bersama kekasihnya. Ia tidak mengerti malam ini terasa aneh. Ia seakan terjadi sesuatu pada hubungan mereka. Bram sebisa mungkin menghilangkan pikiran buruk itu.
Yang harus Bram pikirkan adalah hari istimewanya bersama kekasih esok hari. Ia sangat yakin tidak ada yang bisa mengacaukan pernikahannya besok. Ia akan melawan keluarga bangsawannya sendiri demi sang pemilik hatinya.
"Diamlah, sayang. Kau membuatku sakit dengan tangisan mu ini." Bram menghapus jejak air mata di pipi mulus wanitanya itu.
Amber menatap lama pria tampannya itu penuh cinta.
"Aku mencintaimu, dear." Lirih Amber.
Bram membingkai wajah sembab wanitanya dan memberi kecupan hangat di puncak kepala Amber.
"Aku lebih mencintaimu, sayang."
Amber mengangkuk dan merapatkan tubuhnya kembali kedalam pelukan Bram.
"Sekarang ayo kita tidur. Bukankah besok kita akan menyambut hari baru untuk hubungan kita, honey." Kekeh Bram. Ia berdiri dari duduknya, segera saja ia mengangkat tubuh indah sang kekasih kedalam gendongannya. Ia membawa wanitanya masuk kedalam kamar. Amber menyelipkan kepalanya kedalam ceruk leher pria tampannya, ia menghirup wangi maskulin pria-nya itu.
Bram menurunkan tubuh kekasihnya hati-hati. Membantunya berbaring dan membungkus tubuh wanitanya dengan selimut tebal berbulu.
Setelah yakin posisi wanitanya sudah nyaman, ia lalu berdiri dan membuka kaos yang ia kenakan dan setelah itu dia bergabung dengan Amber di atas ranjang.
"Kemarilah.!" Panggilannya seperti biasa, Amber akan tidur di pelukan kekasihnya sepanjang malam.
"Cup! Tidurlah, sayang."
"Selamat malam.!"
"Selamat malam juga, dear.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Jane
perasaan dari awal ceritanya begitu trs? jgn tinggalkan aku, i love you, i love you too. abis itu ngambek. lalu aku sayang kmu.. kpn menegangkannya??
2023-11-12
1
Muhammad Iqbal
oh.... begitu ceritanya
2022-12-31
0
Yuni
ngenes jg kisah amberrrr nyesekkkk
2022-12-27
0